Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Di restoran jepang


__ADS_3

Dia tak cantik, tapi manis. Dia tak kaya, tapi sederhana, dan dia yang rendah hati.


.


.


.


.


Jika sudah milik berdua, mereka akan lupa dengan dunia dan akan lupa apa yang mereka lakukan sekarang.


Berjalan mengelilingi mall dengan saling bergandengan tangan sambil mencari tempat makan yang sangat pas bagi suasana yang tak terlalu ramai.


Masuk ke dalam salah satu restoran terkenal. Duduk berhadapan dan membuka buku menu, memilih makan siang yang sudah membuat mereka tak sabar untuk menyantapnya.


Memilih menu makanan yang berbeda dan minuman yang juga berbeda, dengan mereka yang saling mengobrol dan melupakan batasan antara penyewa dan yang di sewa. Sungguh manis jika di lihat, tak ada yang mengira jika sebenarnya mereka hanya rekan kerja, tidak lebih.


Makanan yang mereka pesan sudah tiba, dan mulai menyantap dengan diam.


" Kamu mau.?" Tawar Mawar dengan menyuapkan nasi serta lauknya ke hadapan Kevin.


Tismdak ada tolakan, hingga ia menerima suapan dari Mawar dengan tersenyum.


" Enak.?" Kata Mawar, hanya mengangguk dan tersenyum.


" Kapan-kapan masakin seperti ini ya." Pinta Mawar.


" Enggak keliru nich! seharusnya kamu yang masakin untuk aku." jawabnya, Mengangkat alis dan menggigit bibir bawahnya mendengar jawaban dari Kevin.


" Aku enggak bisa masak kayak gini." Ucap Mawar, dan membuat Kevin menatap insten.


" Gak percaya, ya sudah. Yang penting aku sudah jujur." Ujarnya lagi yang merasa sebal akan tatapan Kevin, seakan dirinya tau jika Kevin sedang menghinanya.


" Besok aku ajarin masak." Kata Kevin, dan membuat Mawar tersenyum serta mengangguk.


Senyuman itu sangat manis dan entah kenapa Kevin terpesona menatapnya, menepis kekagumannya terhadap anak sekolah yang tak mungkin ia mulai menyukai gadis yang masih sekolah.


Menikmati makan siangnya lagi dengan mereka yang mulai diam, sambil memikirkan seauatu di dalam isi kepalanya dan ini kembali seperti semula.


Setelah selesai makan, Kevin memilih untuk pergi ke kasir dan membayar semuanya.


" Ayo pulang." Ajak Kevin, hanya mengangguk dan kembali seperti awal, tak ada gandengan tangan serta berbicara.


Mengantarkan Mawar ke apartemennya, serta memberikan paberbag berisi ponsel itu pada Mawar.


" Mau di taruh di mana." Tanya Mawar, menerima pabebag dari Kevin.


" Buat kamu." Ucapnya.


" Eh.!" pekiknya, terkejut menatap Kevin.

__ADS_1


" Mantanku gak mau hp, maunya berlian." Jawab Kevin.


" Mantan Matrek." gerutu Mawar. " Gratis atau bayar in.?" Imbuhnya lagi.


" Enggak lah mana ada gratis, cicil." Jawabnya, yang membuat Mawar mengerucutkan bibir.


" Oke, satu bulan seratus ribu." Kata Mawar.


" Seratus! Berapa tahun itu lunasnya."


" Sepuluh tahun." jawab Mawar tersenyum. " Kalau enggak mau ya sudah, nich aku kembalikan." Ujarnya lagi, dan menaruh paberbag di pangkuan Kevin.


" Ambil, aku enggak butuh." Kata Kevin, mengembalikannya pada Mawar lagi. " Dan ingat, cicil tu setiap bulan." imbuhnya lagi.


" Oke terima kasih." Ucap Mawar dengan senyum, serta mengintip paberbag yang ada di dalamnya.


" Hmm, cepat sana masuk. Bersihin tu rumah." Perintahnya.


" Iya, Bawel." Cibir Mawar dan keluar dari mobil, berjalan riang menganyunkan paberbag yang ada di tangannya. Merasa senang karena dirinya mendapatkan ponsel baru walaupun mahal yanng terpenting bisa nyicil dengan harga murah.


Ponsel yang Kevin beli memang untuk Mawar, tapi dengan cara yang berbeda agar Mawar mau menerimanya. Gengsi jika langsung memberikannya dan tak tau harus bilang apa jika Mawar bertanya, bisa-bisa Hello kitty itu akan merasa tersinggung karena olokannya yang selalu bilang ponsel jadul dan kuper.


Melihat kepergian Mawar, seulas senyum tulus muncul di bibir Kevin hingga dirinya merasa senang bisa memberikan hadiah untuk Mawar.


Menyalakan mobilnya kembali, untuk menuju kantornya. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah ia tinggal selama dua jam lamanya bersama dengan Mawar di mall. Namanya juga bos, apa pun ia bisa lakukan tapi bukan berarti dirinya bisa semena-mena.


Mawar yang sudah berada di dalam apartemen Kevin, mengistirahatkan tubuhnya sebentar di sofa dengan duduk bersandar meluruskan kakinya yang mulai pegal.


Mantan yang berkelas, di kasih ponsel minta berlian. Untung kaya coba kalau seperti ku! aku kasih imitasi." gumam Mawar menatap kembali ponsel yang sudah ia ambil dari dalam paberbag.


Bukan gadis kuper hingga dia tak bisa memakai ponsel canggih. Dulu pernah punya, hanya saja di jual oleh dia karena terpaksa! untuk memenuhi kebutuhan di rumahnya.


Mencoba mengotak-atik ponsel barunya membuatnya senang hingga dirinya bisa memulai belajar cara berbisnis untuk merubah hidupnya.


Menaruh ponselnya yang di atas meja, dan mulai membersihkan rumah Kevin serta memasak makan malam untuk dia.


***


" Nanti malam anda di undang colega kita di restoran jepang pak." Ucap Asistennya memberitahukan jadwal pada Kevin.


" Jam berapa.?" tanya Kevin, sambil memeriksa dokumen.


" Jam enam pak." Jawabnya, hanya mengangguk dan memberikan dokumen yang sudah di tanda tangani pada asistennya, undur diri saat asistennya sudah menerimanya.


Mengambil ponsel dan mencari kontak nomer Mawar dan akan mengirim pesan tapi ia urungkankan, Saat melihat ia kontak Mawar yang mempunyi aplikasi chat membuatnya tersenyum.


Belum ada foto profil." gumamnya, mencoba untuk mengirim pesan lewat chatnya.


" Aku pulang telat, kau bisa pulang nanti." Tulis Kevin pesan untuk Mawar. Dan melanjutkan kembali pekerjaannya hingga sore hari.


Karena Kevin tipikal orang yang kompeten dan tepat waktu, dirinya langsung menuju restoran jepang bersama dengan asistennya, dan sopir yang mengantarnya.

__ADS_1


Mendengar bunyi ponselnya yang berbunyi, membuatnya segera melihat ponselnya dan membaca chat yang baru saja di balas oleh dia.


" Aku pulang, di meja sudah aku siapkan makan malam untuk kamu." Jawab pesan Mawar.


" Iya, terima kasih." Balas Kevin, dan entah kenapa dari sebrang sana mengerutkan kening melihat pesan Kevin yang mengucapkan terima kasih, seperti bukan dia.


" Pak, kita sudah sampai." Ucap asisten yang menyadarkannya dari ponsel yang sedari tadi ia lihat.


" Hmm." jawab Kevin dan turun bersama dengan asistennya menuju dalam restoran jepang vip yang sudah di pesan oleh klaennya.


Memasuki ruang vip dengan pandangan yang langsung tertuju pada wanita yang ada di samping klaennya dan membuat dia menatap tajam.


" Selamat datang pak Kevin." Sapa ramah klaennya.


" Selamat malam Pak Marvel." Sapa kembali Kevin.


" Mari silahkan duduk pak, kita nikmati makan malam bersama." Ucapnya, hanya mengangguk tersenyum serta duduk bersama dengan asistennya di ikuti klaen serta wanita yang ada di hadapannya.


" Layani kami baby." Perintah Marvel dengan senyum nakal. Hanya mengangguk dan memerintahkan dua temannya juga untuk melayani orang-orang yang ada di ruangan itu.


" Terima kasih anda sudah mau datang kemari dan saya berterima kasih banyak pak Kevin mau bekerja sama dengan perusahaan kami." Ucapnya sambil makan.


" Sama-sama." Jawabnya, dengan sedikit tersenyum.


Awalnya berjalan dengan lancar dengan Kevin menikmati makan malamnya tanpa mempedulikan wanita yang ada di hadapannya sedang mencuri pandang dengan dirinya.


Mulai menuangkan sake ke seluruh para tamu dengan Marvel yang mulai menyuruh Babynya untuk duduk di pangkuannya. Menuruti kemauan pelanggan duduk di pangguan Marvel yang sedikit mabuk.


" Tidak." Tolak Kevin dengan tangan yang mencekram tangan wanita penghibur, saat wanita itu menyentuhnya dan ingin duduk di pangkuannya. Mendapatkan perlakuan dari Kevin Wanita penghibur itu langsung mundur ke belakang.


" Kita nikmati saja Pak Kevin, kita butuh sedikit hiburan." Kata Marvel.


" Cukup minum saja sudah membuat saya terhibur." jawabnya, dan kembali meminum sake.


" Pak, Anda sudah banyak minum." bisik Asistennya.


" Aku masih kuat." Ucapnya sambil menatap tajam wanita di hadapannya bermain manja dengan Marvel.


Dan entah kenapa dirinya sedikit marah dan jijik menatapnya, siapa lagi jika bukan Mantan pacar pertamanya, Sasa. Yang membuat dirinya mengenal dunia luar.


Masih menikmati sakenya sambil sekali kali melihat ke arah Sasa yang membuatnya semakin panas hingga dirinya mulai mabuk berat.


" Sepertinya kami harus pulang, Bosnya sudah begitu banyak minum." Ucap asistennya.


" Tap-." Belum sempat melarang, asisten Kevin sudah mengangkat tubuh Bosnya yang sempoyongan.


" Kami permisi Pak." Pamit Asisten Kevin dan berjalan meninggalkan klaen serta wanita penghibur yang menatap kepergiannya.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃


__ADS_2