Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
kepergian nenek


__ADS_3

Dunia ku seakan gelap, segelap langit hitam menjatuhkan air hujan dengan deras.


.


.


.


Suasana rumah sakit yang sangat tagang, menguras air mata dengan kesedihan yang mendalam.


Sempat terbangun sebentar, menyapa penghuni yang tertidur berdua dengan duduk di sofa dan saling menyandarkan kepala serta tangan saling menggenggam. Menandakan mereka benar-benar saling menguatkan dan peduli satu sama lain.


Terdengar suara pintu ruangan terbuka, dengan suster pagi hari memeriksa pasien yang terbangun menatap dua insan masih tertidur pulas akibat kelelahan menunggunya semalaman.


Dengan perlahan suster membangunkan sepasang kekasih bohongan, karena pasien sudah sadarkan diri dan ingin berbicara pada cucunya.


Tersenyum dan bersyukur Nenek yang di sayang telah bangun, meskipun wajah masih pucat dan lemah.


Menghampiri Nenek dengan tangis bahagia kala sang kuasa mendengarkan doanya untuk memberikan kesembuhan pada orang yang di sayang.


Berbicara dengan lirih, menyapa cucu dan pria yang dekat dengan Mawar. Sebelum akhirnya ada pengganggu pagi-pagi datang dengan wajah menunjukkan empati pada ibu dan ponakan.


Siapa lagi jika bukan Bibik dan Paman.


Dengan memanfaatkan ibunya, mungkin sang anak bisa kembali bekerja di perusahaan yang mengaku sebagai suami Mawar.


Sempat adu mulut, antara Mawar dan Bibik, kala dirinya tau jika Bibiknya hanya bersandiwara menyesal atas perbuatannya.


Nenek tau akan watak dari anak perempuannya dan itu pelajaran bagi putrinya karena telah serakah mengambil hak lebih dari yang di wariskan pada almarhum suaminya. Mengambil warisan cucunya kala ke dua orang tuanya telah meninggal.


Bukan merasa bersalah, justru anak perempuannya menuduh ayah Mawar yang telah membuatnya serakah karena warisan yang banyak jatuh pada ayah Mawar.


Dan dirinya menyalahkan ibunya yang tidak adil dalam pembagian warisan, hingga membuatnya seperti ini. Benci pada ke dua orang tua dan kakaknya, serta pada keponakannya.


Bukan tidak adil, semuanya adil, sama rata. Hanya saja almarhum suaminya pernah memergoki suami bibik yang suka berjudi dan menggadaikan emas milik putrinya.


Demi keselamatan putrinya agar suatu saat putrinya menyerah dengan kelakuan suaminya dan memilih berpisah, putrinya tidak akan merasa cemas akan biaya hidupnya yang menjanda nanti, karena dirinya akan memberikan setengah warisannya lagi pada putrinya.

__ADS_1


Kata benci yang terlontar dari bibir sang anak membut dirinya kembali syock dan kembali sesak dan sulit bernafas.


Panik, semua yang ada di ruangan begitu panik dengan cepat Kevin memencet tombol yang ada di sebelah branka untuk memanggil suster dan dokter hingga berkali-kali.


Semua yang ada di dalam ruangan di usir oleh suster untuk keluar dari ruangan dan tidak boleh mengganggu konsentrasi dokter serta suster.


Mawar yang menangis, Bibik yang juga ikut panik dan menangis pun merasa bersalah akan ucapannya yang membuat ibunya kembali drop.


Menenangkan Mawar dalam pelukannya saat Mawar menatap dari kaca pintu kamar dengan dokter dan suster memberikan penanganan pada Neneknya.


Pintu yang terbuka, membuat semua orang dengan cepat menatapnya dan membrondong semua pertanyaan pada dokter.


Menghembuskan nafas berat, dengan wajah pias dan juga ikut sedih ia pun menyampaikan dengan penuh kehati-hatian dan mengucapkan kata maaf. Sebab, pasien tidak bisa di selamatkan.


Terkejut, hingga Mawar tanpa sadar mendorong dokter pria itu untuk minggir dari jalannya dan berlari menuju branka dengan pasien yang telah di lepaskan semua alatnya.


Sempat meronta-ronta meminta suster untuk tidak melepaskan alat bantu pada Neneknya dan mencoba membangunkan Neneknya. Tapi sayang, tubuh yang sudah dingin dan wajah yang pucat tidak bisa kembali untuk bangun lagi hingga membuat dirinya menangis memeluknya dengan kencang.


" Bangun Nek ... Jangan tinggalin Mawar! Bangun Nek." Ucapnya dengan lirih, tak kuat akan kenyataan bahwa ia akan sendiri untuk selama-lamanya.


" Ibu?" Lirih Bibik, menangis memandang ibunya yang sudah tidak bernyawa.


Berbalik ke belakang, menatap tajam Bibik yang menangis berdiri di belakangnya.


Dengan cepat Mawar mendorong bibiknya hingga dia akan terjatuh jika tidak suaminya yang menahannya.


" Mawar!!" Hardik Paman nyaring.


" Apa!!" Tantang Mawar tak kalah nyaring. "Ini semua gara-gara bibik!! Nenek meninggal karena bibik. Semua karena bibik!!" Ujarnya lagi, dan akan memukulnya jika Kevin tidak datang menghalanginya dan memeluknya.


Ya dirinya sedang berbicara pada dokter dan meminta pada suster untuk mengurus semuanya agar jasad Nenek segera di bawa pulang. Dan mendengar teriakan Mawar membuatnya harus berlari dan menenangkan Mawar.


" Lepas!!" Berontak Mawar dalam dekapan Kevin.


" Sebaiknya kalian pergi." Perintah Kevin, membuat Paman mengangguk dan membawa istrinya keluar dengan memberontak.


" Aku tidak mau keluar Pak!! Aku mau lihat ibu!!" Kata Bibik.

__ADS_1


" Kita harus keluar buk." Ucap Paman, memaksa istrinya untuk keluar, dengan bibik yang masih menatap jasad Nenek.


" Ini semua karena Bibik!! Bibik pembunuh!! Bibik pembunuh!!" Teriaknya berkali-kali dalam dekapan Kevin.


" Husstt." Ucap Kevin pelan, memeluknya dengan erat dan menenangkannya.


" Nenek meninggal karena bibik Mas!! karena Bibik!" dengan suara pelan dan mulai tidak memberontak, terasa lemah hingga tidak sadarkan diri.


" Mawar? Suster!! Tolong!" Ucap Kevin panik memanggil suster, menggendongnya dan merebahkannya di sofa.


****


"Nenek!!" Tangis Angga melihat jasad Neneknya yang sudah di bawa pulang, setelah semuanya di urus oleh asisten Kevin.


Mawar yang sudah sadarkan diri dan di tenangkan oleh Kevin serta selalu menemaninya tidak lagi memberontak. Hanya menangis dan diam saat ia melihat jasad Neneknya.


Suanana di rumah penuh dengan duka dan tangisan dari para tetangga yang merasa iba pada Mawar dan Angga, menangis dan diam memandangi jasad Neneknya. Serta bergosib tentang Kevin yang selalu ada di samping Mawar hingga menemaninya dengan sabar dan mengurus semua tentang pemakaman Nenek.


Semua tetangga sudah sering melihat Kevin datang ke rumah Mawar dan selalu menyapanya ramah kala tetangganya sedang menatapnya dengan penuh kagum.


Ya, bagaimana tidak kagum melihat Kevin begitu tampan, ramah dan gagah. Dan di rumah Mawar yang berduka, semua tetangga mulai tau jika Kevin bukan orang yang sembarangan. Di saat Bima dan para pengawal menghormati Kevin dan melaksanakan perintahnya untuk mengurus pemakanan Nenek Mawar di bantu dengan para tetangga yang juga turut ikut membantu.


Mengikuti ke pemakaman dengan Kevin membopong keranda di ikuti bima beserta pengawal dan saling bergantian, kecuali Kevin yang tidak mau di gantikan.


Mawar yang juga turut ikut mengikutinya dari belakang, bersama tetangga yang menuntunnya dengan Angga yang ada di sampingnya.


Melihat untuk terakhir kalinya, Nenek yang sudah di masukkan dalam liat lahat dan tidak ingin menangis saat tubuh Nenek di tutup oleh kayu dan di timbun dengan tanah hingga menjulang menjadi gundukan basah berwarna merah.


Semua sudah pulang, hanya tinggal Mawar, Angga, Kevin, Bima dan para pengawal yang menjauh untuk memberikan privasi pada bos dan kekasihnya.


" Maafin Mawar Nek. Maafin Mawar." Ucapnya memeluk kayu bertuliskan nama Nenek dan binnya.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2