
Tidak ada bedanya antara simbol kelinci dan buaya. Semua sama, hanya saja kau kaya dan bisa di manfaatkan.
.
.
.
.
Menghempaskan tubuhnya di sofa dengan rasa panas di sekujur tubuhnya, dengan dirinya yang sudah melepaskan jas dan membuangnya ke sembarang tempat.
Mawar yang melihatnya hanya menggelengkan kepala dan berjalan ke arah dapur menaruh barangnya di sana dan mengambil minuman untuk dirinya yang merasa panas di hati dan lelah pikiran sedari tadi memikirkan adiknya.
duduk di kursi, menyandarkan kepalanya di bar mini mengingat kembali bagaimana adiknya menjajakan asongannya di lampu merah dengan teriknya matahari yang membakar tubuhnya, mengingat bagaimana ia memarahi adiknya di jalan, dan mengingat bagaimana dirinya di bohongi oleh adiknya.
Sungguh, dunia ini sangat kejam sekali. Andai saja orang tuanya masih ada, mungki ia dan adiknya tak akan seperti ini.
Dimana masa remaja yang seharusnya mereka habiskan untuk bersenang-senang dengan teman, malah mereka buat dengan sibuknya mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.
" Aku lapar, apa ada makanan?" Tanya pria dari arah belakang, membuat Mawar menegakkan tubuhnya dan berbalik menatap sumber suara.
" Aku belum masak nasi, kamu mau menunggu.?" Kata Mawar, melihat Kevin yang membuka kulkas mengambil minuman soda dan buah di sana.
" Hmm." Jawabnya, dan berjalan menuju sofa dan menyalakan tv.
Tak ingin berlama lama ia pun segera memasak nasi dan mengambil beberapa sayur serta daging untuk ia masak.
Ingin menyibukkan Mawar dengan bilang jika dirinya lapar, mungkin sedikit bisa membantunya untuk melupakan sejenak masalahnya. Sejatinya dia tau jika Mawar merasa bersalah karena tidak becus menjadi seorang kakak yang membuat adiknya ikut menderita dan menanggung beban kerasnya hidup.
Mencari informasi tentang adiknya Mawar, mencoba untuk membantu meringankan beban Mawar agar tidak terlalu keras mencari uang. Dan tak membiarkan Mawar terjerumus dalam hal dunia malam, yang begitu gampangnya mendapatkan uang banyak dengan menjajakan diri atau mungkin bisa mencari dedy sugar, atau simpanan om om yang kurang belaian dari istrinya.
Membayangkan saja Kevin sudah mulai panas dan sedikit emosi. Ia tau jika Mawar tidaklah gadis seperti itu, tapi jika terpaksa mungkin saja dia mau melakukannya.
Menyiapkan masakan yang sudah matang dan menyajikannya dalam piring, membawanya ke meja makan, membuka tudung saji, dan melihat sisa makanan yang semalam ada di meja dengan sayur yang sudah di hangatkan tadi pagi.
Menaruh masakan yang baru dan membawa sisa makanan semalam ke pantry untuk makan ia nanti.
" Makanannya sudah matang." Ucap Mawar, ketika berada di hadapannya.
__ADS_1
" Hhmm, iya." Jawabnya dan berjalan terlebih dulu menuju meja makan.
Duduk dengan tenang dan melihat meja yang sudah tersiapkan dengan berbagai makanan.
" Kamu tidak makan.?" Tanya Kevin, masih melihat Mawar berdiri di pantry.
" Nanti sa-."
" Ayo makan bersama." Ajak Kevin, terdiam memandang Kevin. " Ayo cepat, aku lapar ini!" Serunya lagi.
Membawa makanan sisa semalam dan menaruhnya di meja dengan dirinya yang mulai duduk di depan Kevin.
" Ada makanan yang baru, kenapa makan yang semalam." Kata Kevin, melihat Mawar yang mengambil sayur semalam ia buat.
" Enggak basi, masih bisa di makan." jawab Mawar, menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Melihat Mawar yang makan dengan lahap tak mementingkan masakan semalam atau sekarang dia begitu menikmatinya. Mengambil sayur semalam dan mencoba memasukkan ke dalam mulutnya.
" Jangan di makan, kalau enggak mau sisa masakan semalam.?" Ucap Mawar.
" Masih enak." ujarnya, mengambil sayur serta ikan yang baru dan memakannya dengan lahap.
Seumur hidup Kevin, dirinya tak pernah merasakan masakan kemarin yang di hangatkan untuk di makan lagi. Dirinya terbiasa makan-makanan yang masih baru dan sekali makan, makan tiga kali dalam sehari dengan menu yang berbeda. Enak sekali menjadi orang kaya makan terbiasa banyak menu dan jika masih banyak mereka begitu gampangnya membuang makanan.
" Di luar sana masih banyak yang kelaparan, jika tak ingin makan sisa kemarin kau bisa membaginya pada orang yang membutuhkan. Tapi sebelumnya kau bagi dua saja dulu, sebelum kau menyentuh dan memakannya." ucap Mawar, membuat Kevin mengerutkan kening belum mengerti apa yang di ucapkan Mawar.
" Seperti ini." kata Mawar, mencontohkan mangkok sayur penuh yang belum di sentuh Kevin, membaginya jadi dua. Satu untuk Kevin dan satu bisa di simpan atau di bagikan ke orang.
Dan dirinya baru mengerti jika lebih baik sebagian di sisihkan dulu dan jika ingin menambah lagi ia bisa mengambilnya.
Pelajaran pertama bagi Kevin saat dirinya sudah tau bagaimana menghargai makanan yang tak perlu di buang hanya karena masakan kemarin.
" Mau nambah lagi." tanya Mawar.
" Enggak, sudah kenyang." jawab Kevin dan di anggukkan oleh Mawar.
Membersihkan piring kotor dan menutup makanan dengan tudung saju.
" Kamu enggak bawa baju ganti." Tanya Kevin, melihat Mawar yang masih pakai seragam sekolah.
__ADS_1
" Bajuku ada di tas." Ketus Mawar.
" Kalau gitu pakai bajuku sana, biar seragammu enggak kotor." Perintahnya.
" Kemarin aku juga pinjam bajumu dan belum aku kembalikan."
" Kau pinjam bajuku!" ulang Kevin dan di anggukkan oleh Nawar.
" Kenapa enggak bilang.!" Bukan itu yang seharusnya dia ucapkan.
" Lupa, maaf.!" ucap Mawar dengan meringis. " Lagian aku ambil baju kamu bukan di kamar mu, tapi di tempat jemuran." ujarnya lagi, agar Kevin tidak salah paham karena dirinya tidak pernah masuk ke kamarnya.
Rasanya bersyukur jika Mawar belum masuk ke kamarnya, jika Mawar sudah masuk ke kamarnya akan di pastikan Mawar mengoloknya sepanjang hari karena di dalam lemari ada beberapa k*nd*m, yang mungkin akan membuat Mawar jijik melihatnya.
Dan semalam ia sudah membuang semua pengaman miliknya agar Hello kitty itu tak akan melihat dan berprasangka kotor terhadapnya. Entahlah kenapa dia bisa menjadi sedikit berubah dan gugup di hadapan gadis ingusan.
" Kamu enggak kerja lagi.?" tanya Mawar, saat melihat Kevin masih setia duduk di sofa. Melihat jam yang ada di tangannya menunjukkan jarum sudah di angka satu lebih tiga puluh, berdiri dari duduknya dan mengambil jasnya untuk di pakai.
" Aku kembali ke kantor dulu." Pamit Kevin.
" Iya." jawab Mawar, mengikuti Kevin dari belakang untuk mengantarnya keluar apartemen.
" Nanti sopir ku akan antar tas kamu." ujarnya dan di anggukkan kepala.
" Aku boleh pinjam laptop kamu enggak, buat ngerjain tugas." Lirih Mawar, seakan takut bila tidak bolehkan oleh Kevin
" Hmm, ambil saja di ruang kerja ku." Ucapnya, membuat Mawar tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
.
.
.
.
🍃🍃🍃
Maaf atas keterlambatannya.
__ADS_1