Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
tak terpengaruh


__ADS_3

Dan sampai sekarang, aku tidak tau rasa ini untuk siapa.


.


.


.


.


" Ar?" Sapa Lisa, saat dirinya sedang sibuk dengan menulis pr yang belum selesai. Dimana pelajaran pertama dan kedua telah usai.


Memilih menyibukkan diri, untuk mengurangi rasa marah, sedih dan tak ingin lemah di hadapan semua orang. Saat dimana semua siswa siswi satu sekolah mencibir, menghina dan menatapnya dengan pandangan jijik.


Memang dirinya marah, dihina dan di pandang jijik seolah-olah dirinya memang perebut suami orang, perusak rumah tangga orang. Karena mereka hanya terpengaruh dengan gosip murahan dan belum tau kenyataannya.


Mereka tidak tau yang sebenarnya, percuma saja dirinya menjelaskan, berteriak-teriak jika dirinya bukan pelakor. Rasanya percuma saja, toh mereka masih saja tetap menggunjingnya.


Dan kuncinya hanya satu, sabar dan menyelesaikan masalah dengan tenang. Toh nantinya mereka akan tau sendiri mana yang fitnah dan mana yang nyata sesungguhnya. Karena di dalam perutnya ada janin yang harus di jaga dan tidak ingin janinnya dalam bahaya jika harus memikirkan hal yang berat lagi.


" Hmm?" Hanya gumaman Mawar dan menatap Lisa dengan senyum.


" Kamu enggak papa?" Tanyanya, begitu khawatir melihat sahabatnya yang di gunjing hebat oleh semua siswa-siswi di sekolah.


" Enggak papa?" Jawabnya dengan senyum. " Lagian mereka juga enggak tau yang sebenarnya!" Imbuhnya.


" Siapa yang berbuat gosip seperti itu! Rasanya aku ingin membunuhnya." Geram Lisa, tidak terima akan apa yang di beritakan tentang Mawar seorang pelakor. Hanya Lisa dan Fahmi yang tau sebenarnya, jika Mawar bukan pelakor.


" Entahlah, aku juga enggak tau." Mengedikkan bahunya kembali menatap buku.


" Apa ini ada hubungannya dengan mantan pacar suami Ar?" Tebak Lisa, membuat Mawar sedikit terkejut dan menatap kembali ke arah Lisa.

__ADS_1


Dan dirinya baru mengingat, jika pastinya gosib itu ada kaitannya dengan para mantan Kevin.


" Ar!" Seru teman Mawar datang menghampirinya di meja sekolah. " di panggil tu sama kepala sekolah." Ujarnya lagi, membuat Lisa dan Mawar saling menatap hingga mereka tau apa yang harus di hadapinya.


" Aku ikut Ar?" Kata Lisa, hanya mengangguk tersenyum dan berjalan bersama beriringan ke ruang kepala sekolah. dan tidak mempedulikan lagi tatapan siswi.


Melangkah masuk ke dalam ruangan bersama Lisa yang memaksa ingin ikut. Berdiri di hadapan kepala sekolah dengan dirinya yang sudah siap akan tatapan kepala sekolah serta beberapa guru dengan menyelidik.


" Apa ini!" melempar foto di mejanya dengan keras tepat di hadapan Mawar dan Lisa yang terpelonjak.


" Siswi yang merebut suami orang dan hamil di luar nikah!" Tekan kepala sekolah. " Apa benar itu Mawar!" Ujarnya lagi.


" Maaf pak itu semua salah. Saya tidak pernah merebut suami orang." Kata Mawar.


" Dan ini!" Menunjuk foto Mawar ke klinik kandungang. " Apa ini benar." Imbuhnya dengan tajam.


Menutup mata dengan Lisa yang menggenggam tangan Mawar erat, seakan dia melarang untuk tak berkata jujur.


" Panggil walinya sekarang." Perintah dingin kepala sekolah pada guru bk dengan sigap ia pun meminta Mawar nomer telepon orang tuanya untuk menghubunginya.


Memberikan nomer Kevin pada guru bk, saat dirinya merasa tersudut dan harus bersiap dengan resiko yang bisa kemungkinan Mawar akan di keluarkan dari sekolahnya. Lantaran sudah mencoreng nama baik sekolahnya.


dua kali terhubung dua kali tidak di jawab, membuat Mawar mendesah. Mungkin Kevin sedang sibuk dan tidak bisa mengangkat telponnya hingga dengan terpaksa ia memberikan nomer Asisten Kevin dan berdoa semoga Asisten Kevin mengangkatnya.


" Hallo?" Sapa dari sebrang sana, dengan Guru Bk yang mulai menjelaskan dan menyampaikan kepada asisten Kevin untuk datang ke sekolah. Dan telpon itu tertutup dengan Mawar yang masih berdiri di depan kepala sekolah.


" Kamu?" Menunjuk Lisa di samping Mawar. " Masuk ke dalam kelas." Perintah kepala sekolah.


" Tap-," Belum sempat menjawab Mawar sudah kembali mencengkram tangan Lisa untuk tidak membantah dan menurut perintah kepala sekolah agar Lisa aman dan tidak mendapatkan sangsi dari sekolah.


Menunggu cukup lama dengan kakinya yang mulai terasa pegal, hingga kepala sekolah menyuruhnya untuk duduk walaupun dengan wajah yang masih marah dan tidak terlalu lama Asisten Kevin datang sendiri tanpa Kevin yang sedang memimpin rapat penting.

__ADS_1


" Bapak salah, Mbak Mawar ini istri dari donatur sekolah ini." Ucap Bima, membuat kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru bk terkejut mendengarnya.


" Mbak Mawar memang hamil dan sudah menikah. Tapi tidak dengan pria yang beristri. Bos saya masih lajang dan memperistri mbak Mawar yang masih sekolah."


" Bos saya tidak menyembunyikannya!" Elak Bima. "Tapi karena masih sibuk dan jadwal ujian kelulusan mbak Mawar sebentar lagi hingga dari itu mereka sepakat untuk menundanya. Tapi jika mbak Mawar sudah lulus, Pak Kevin akan mengumumkannya pada semua pubrik dan mengadakan pernikahan secara besar-besaran." Terang Bima dengan tegas agar kepala sekolah percaya.


" Dan satu, Hanya kalian yang tau soal ini. Jika bapak dan ibu masih ingin tetap berada di sekolah ini, jangan menyebarkannya dan tutup kasus ini dengan cepat agar istri pak Kevin bisa tenang di sekolah." Ancam Bima dengan tatapan tajam, membuat ke tiga guru sedikit takut lantaran mereka baru mengerti jika Mawar istri dari donatur tinggi dan tetap di sekolahnya.


" Mari mbak, saya antar pulang." Kata Bima dengan sopan membuat Mawar mengangguk berdiri dari duduknya dan berjalan beriringan dengan Bima menuju ruang kelas, meminta ijin mengambil tas dengan Lisa yang masih khawatir dengan.


" Semuanya beres, aku tidak papa." Lirih Mawar, menata buku ke dalan tas.


" Aku pulang dulu."


" Hati-hati, pulang sekolah aku ke rumah kamu." Kata Lisa hanya mengangguk dan tersenyum.


Di dalam mobil, Mawar duduk di belakang sedangkan Bima di depan dengan mengemudikan mobil.


" Makasih pak? Maaf sudah merepotkan pak Bima." Kata Mawar.


" Tidak apa-apa mbak?" Jawab Bima, menatap istri bosnya dari balik spion gantung. " Pak Kevin sedang ada rapat penting dan saya tidak bisa menyampaikannya. Dan nanti saya akan bilang semuanya selesai mengantarkan mbak Mawar pulang." imbuhnya lagi.


" Tidak usah bilang ke Mas Kevin Pak? semuanya sudah beres dan saya tidak ingin nanti Mas Kevin terbebani masalah ini. Kasihan pekerjaannya banyak sekali?" Larang Mawar, dimana semuanya sudah selesai dan tidak perlu lagi untuk di bahas ataupun Kevin tau, karena dirinya tau, jika Kevin tau pasti dia akan marah dan akan mencari semua penyebar foto dan gosib murahan.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2