
Ingat di setiap doa, kau sebut namaku pada yang pencipta.
.
.
.
.
Tidak ada yang berubah, satu hari pun masih sama dengan dia yang masih terbaring di ranjang pasien. Wajah pucat, mata yang terpejam dan suara detak jantung masih normal, tapi tak pernah tubuhnya bergerak sedikitpun.
Dua orang tua yang masih setia menemani putri tunggalnya, yang ada di dalam ruang ICU dan hanya ada satu saja yang boleh masuk ke dalam ruangan itu, tapi hanya sebentar dan tidak boleh lama.
Pagi hari duduk berdua di bangku panjang dengan bapak Lisa membawakan istrinya makanan.
" Makan dulu Buk?" Perintah suaminya, memberikan wadah styrofoam berisi makanan untuknya.
" Ibu tidak lapar pak." Lirih istrinya, masih menatap ruang ICU putrinya dengan wajah sendu dan mata kurang tidur.
" Kalau begitu ibu pulang saja, bapak enggak ingin ibu sakit." Tegas bapak, membuat ibu Lisa menatap suaminya berubah wajah yang menahan tangis dan mengambil makanan yang ada di tangan suaminya.
Membuka makanan dengan terpaksa, dimana suaminya menyuruhnya untuk pulang jika tidak ingin makan. Makanan yang terasa hampar, sulit untuk di telan dan berubah tangis yang mulai membanjiri pipinya. Sungguh sulit sekali menerima makanan kala melihat sang anak berbaring koma di ruangan segitu banyak alat dan berbau obat.
Tujuh tahun mereka baru di karuniai anak, delapan belas tahun mereka merawatnya dengan kasih sayang, setiap sakit mereka merawatnya dengan penuh perhatian dengan penuh perjuangan dan dengan penuh doa untuk kesembuhan anaknya. Setiap luka kecilpun, mereka juga akan merawatnya. tidak pernah tertinggal sedikitpun masa pertumbuhan putti semata wayangnya.
Tak menyangka luka itu begitu besar hingga putrinya harus di operasi dan koma entah kapan anaknya akan membuka mata. Takut, sangat takut jika sang pencipta mengambil putrinya, sangat takut dan tidak ingin membayangkan bagaimana ia harus menjalani semuanya tanpa seorang anak.
__ADS_1
Jika boleh memilih, biarkan ia yang menggantikan putrinya di dalam ruangan itu. Biarkan ia yang sakit berbulan-bulan asal tetap bersama sang putri, meskipun dalam hati ia tak ingin sakit, tidak ingin membuat beban anaknya.
" Jangan menangis buk." Ucap suaminya, mengusap punggung istrinya yng mulai menangis di atas makanannya.
" Bapak yakin, putri kita akan sembuh, putri kita akan kembali pada kita." Imbuhnya lagi, keyakinan hati nurani seorang ayah untuk putrinya yang berjuang hidup. Dan doa yang selalu di ucapkan setiap beribadah meminta pada sang Tuhan untuk kesembuhan anaknya.
" Ibu juga yakin pak, yakin putri kita akan sembuh." Ucap istrinya, dan juga yakin serta berharap pada Tuhan untuk kesembuhan putrinya.
Tersenyum dan setia mengusap punggung istrinya serta memberikan kesabaran untuk ujian yang di berikan.
" Om, tante?" Sapa wanita duduk di kursi roda bersama dengan pria yang mendorong kursinya. dua orang tua menatap sumber suara dan sedikit terhenyak dalam apa yang di lihat.
" Mawar?" Ucap ibu Lisa.
" Nak Mawar?" Ucap bapak Lisa, Mawar pun menghampirinya dengan rasa takut dan wajah yang pucat. Karena dirinyalah Lisa koma.
Suami istri saling menatap, sebelum sang ibu mengusap lembut bahu Mawar dan menyentuh tangannya.
" Tidak ada yang perlu di salahkan, dan tidak ada yang salah di sini." Ucap Ibu Lisa, mengerti dengan keadaan dan mengerti dengan apa yang terjadi semua itu sudah ia dengar dari Fahmi.
Jika dirinya menyalahkan Mawar itu salah, karena seorang sahabat pasti akan juga menolong sahabat di kala ada orang yang akan mencoba melukainya, dan akan saling mengerti, saling membantu dan saling melindungi dalam persahabatan. Bukannya itu yang namanya sahabat sejati! Sahabat yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Mengerti dengan keadaan dan saling menerima kekurangan. Serta sahabat yang tidak akan menghancurkan kepercayaan.
" Om dan Tante tidak menyalahkan Mawar, semua memang kecelakaan dan bukan di sebabkan oleh kamu." Ucap Bapak Lisa, sikap orang tua yang sesungguhnya. Tidak menyudutkan dan menyalahkan siapa yang sudah membuat anaknya terluka hingga koma. Karena sisi sudut pandang orang yang benar Mawar tidak salah.
Jika mereka menyalahkan Mawar, menyudutkan Mawar atas apa yang menimpa anaknya. Apakah dia bisa menyembuhkan Lisa apakah Mawar bisa membuat Lisa membuka mata. Jawabannya tidak! Dan pastinya tidak mungkin Mawar bisa menyembuhkan dan mengembalikan Lisa untuk sadar dalam komanya. Tidak mungkin dan pasti hanya khayalan semata.
Hanya pada Tuhan lah kedua orang tua Lisa berharap dan selalu berdoa padanya untuk kesembuhan putrinya.
__ADS_1
" Tante turut berduka atas kepergian calon anak kamu. Yang sabar ya Ar? " Ucap Ibu Lisa memeluk tubuh Mawar yang susah menangis bergetar, sebagai seorang wanita dirinya bisa merasakan kesedihan yang menimpa Mawar calon ibu baru yang gagal dalam melindungi buah hatinya.
" Jangan putus asa, kalian bisa berusaha lagi. Jalan kamu dan suami kamu masih panjang, Tuhan pasti akan memberikan gantinya. Asalkan kalian bisa saling menguatkan dan tidak terpengaruh omongan orang. " Imbuhnya lagi. memberi semangat, menenangkan dan memberi pengertian untuk tidak putus asa dalam berumah tangga. Jika suatu saat badai akan menerpa rumah tangga hanya karena keturunan yang belum juga ada di antara mereka.
" Terima kasih, pak, buk, atas pengertiannya." Ucap Kevin dengan senyum tulus darinya, merasa kagum dengan sikap ke dua orang tua Lisa yang tidak menyalahkan dan menyudutkan istrinya atas apa yang menimpa putrinya itu.
" Tidak perlu berterima kasih, justru kami yang harus berterima kasih karena nak Kevin sudah membayar semua pengobatan Lisa." Ucap bapak Lisa, mengetahui semua sudah di tanggung oleh suami Mawar.
" Tidak perlu berterima kasih juga pak, maafkan kami. Kami janji akan mengusahakan sebaik mungkin untuk kesembuhan putri bapak." Jawab Kevin, membalas kebaikan Lisa karena telah berkorban menyelamatkan istrinya walaupun nyawa anaknya tak tertolong.
" Terima kasih nak Kevin, terima kasih." Haru ibu Lisa, menatap Kevin dan Mawar bergantian. Dimana ada rasa pengertian dan mau membantu membiayai semua rumah sakit perawatan anaknya yang terbilang cukup mahal dari kalangan keluarga menengah.
Hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Aku ingin menemui Lisa tante." Ucap Mawar.
" Kita bilang ke dokter dulu." Sahut Kevin, membuat Mawar dan ke dua orang tua Lisa mengangguk.
Tidak berselang lama dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Lisa di pagi hari, melihat perkembangan Lisa yang masih tak membuka mata. dan di saat bersamaan keluar, Kevin bertanya pada dokter tentang kondiri Lisa dan meminta ijin untuk menjenguk Lisa ke dalam ruangan.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1