Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
kembali


__ADS_3

Jika aku tidak memberi kabar, bukan berarti aku pergi darimu. Jadi, tolong jangan tinggalkan aku!


.


.


.


.


" Sudah semua mbak?" Tanya sopir pribadi Bu Eni di ruang tamu menjemput Mawar di rumahnya. Kala Mawar memberi kabar jika ia sudah pulang dari sekolahnya dan berada di rumah bersama Angga.


" Sebentar pak?" Jawab Mawar, menaruh dua tas besar di lantai dan menatap seisi rumah yang akan di tinggalkan.


" Kalau begitu saya tunggu di depan mbak." Kata sopir, membuat Mawar mengangguk.


Membawa dua tas besar milik Angga dan Mawar, menunggunya di depan teras untuk memberi ruang pada Mawar sebelum dia meninggalkan rumah kenangannya.


Masuk ke dalam kamar Nenek. Sunyi, rapi dan bersih. Dengan dirinya yang selalu merapikannya. Di ikuti Angga dari belakang, saat melihat kakaknya masuk ke dalam kamar Neneknya.


Duduk di tempat tidur, mengusap lembut kasur yang selalu di tiduri Nenek dengan dirinya yang juga pernah tidur Bersama Nenek kala ia merasa lelah dan merindukan ke dua orang tuanya.


" Bisa nggak sih Ga, hidup kita di putar kembali. Aku ingin keluarga kita kembali! Ada ayah, ibu, nenek, aku dan kamu." Ucapnya dengan suara serak menahan tangis.


" Aku ingin seperti dulu, makan sederhana yang terpenting bisa kumpul keluarga. Pagi hari, ribut dengan kamar mandi, ribut dengan kita yang ingin di layani ibu, ribut dengan makanan yang kita suka dan di marahi ayah. Malam kita ngumpul bersama, nonton tv selalu gonta ganti saat yang di suka beda chanel. Aku kangen semua itu Ga!!" Ucapnya, mengingat kembali kebersamaan dulu bersama keluarganya saat orang tua dan Neneknya masih ada.


Menangis, air mata tidak bisa di tahan lagi. Mengingat kenangan indah bersama keluarga di rumah sederhana dengan banyaknya cerita. Suka duka selalu mereka lewati bersama, dan selalu saling memberi perhatian serta kehangatan.


Ia merindukan semua itu, sangat merindukannya. Dan buka cuma dirinya saja yang rindu akan kebersamaan dengan keluarganya. Angga pun juga rindu dengan mata yang berkaca-kaca, masih menahan air mata yang akan turun.


Mendekati kakaknya, duduk di sampingnya dan memeluknya dari belakang. Membenamkan kepalanya di punggung kakaknya dan mulai menangis kala ia membutuhkan sandaran nyaman untuk meluapkan kesedihan dan kerinduan.

__ADS_1


" Aku juga kangen bapak, ibu, dan nenek Mbak?" Ucap Angga dengan suara serak, menangis di punggung kakaknya.


Mengusap lembut tangan Angga, merasakan hal yang sama sepertinya. Dan dirinya tak akan bisa setegar itu untuk melaluinya sendiri tanpa sosok adik yang ada di belakangnya.


Hanya dia yang sekarang dirinya punya, hanya dia yang bisa menguatkannya dan bisa untuk melaluinya bersama.


" Aku gak mau ninggalin rumah ini Ga!! Aku enggak mau!" Ucapnya menangis bergetar menundukkan kepala.


" Angga juga enggak mau mbak! Tapi ini demi mbak, demi anak mbak Mawar, demi ponakanku mbak!" Ujarnya, semakin kencang memeluk kakaknya dari belakang.


Seakan dirinya juga takut, takut akan cemooh tetangga tanpa adanya orang dewasa di sampingnya. Takut akan kakaknya hakimi, takut akan di usir dan takut tidak bisa membelanya, menghadapinya.


" Bisa enggak Ga, aku tidak membuat kesalahan sebesar ini! Agar kita tidak perlu lagi untuk pergi dari rumah ini. Aku tidak menginginkan dia." Ucap Mawar, tidak sanggup dengan semuanya, menyerah dengan keadaan dan rasa ingin kembali untuk menggugurkannya.


" Enggak mbak! Mbak Mawar enggak boleh melakukan itu!!" Jawabnya, menggelengkan kepala kuat-kuat tidak mau kakaknya semakin berbuat dosa. " Kita harus pergi mbak." Ujarnya lagi, melepaskan pelukannya, mengusap air mata berdiri dari duduknya dan memengang tangan Mawar untuk segera keluar dari kamar Nenek dan pergi meninggalkan rumah sebelum Mawar melakukan kesalahan.


" Ayo mbak?" Ajak Angga, membuat Mawar semakin kencang menangis dan semakin menundukkan kepala.


" Kita bisa mbak." Ujarnya lagi, dengan tersenyum meskipun terpaksa.


Mengusap air matanya, menatap adiknya "Kita bisa." Ucapnya tersenyum kecil dan mengangguk.


" Ayo mbak." Ajaknya, dan mereka mulai berdiri bersama menatap kamar nenek untuk terakhir kalinya sebelum pintu kamar mereka tutup daj entah kapan mereka akan melihatnya lagi.


Angga yang berjalan terlebih dulu dengan di ikuti Mawar dari belakang, seakan langkah mereka sangat berat untuk keluar dari rumah masa kecilnya.


Membulatkan mata dengan Angga yang terkejut akan kehadiran pria yang membuat hidup dirinya dan kakaknya tidak tenang untuk selama ini.


" Ga?" Sapanya dengan lirih.


Mendengar suara yang sangat ia hafal dan harapkan, membuatnya menderita serta mulai membenci ketika dia tidak ada kabar sama sekali. Ketika dia meninggalkannya dengan keadaan seperti ini.

__ADS_1


" Mawar?" Sapanya melihat Mawar ada di belakang Angga dengan mata yang bengkak dan menatapnya tajam.


Dia, Kevin.


Ya, Kevin kembali dan datang ke rumahnya dengan keadaan kacau serta wajah yang tegang dan takut.


Dirinya, baru menyalakan kembali chatnya di saat semua sudah mulai membaik, keadaan papanya yang sudah di perbolehkan pulang dan perusahaan papanya yang juga sudah stabil. Tersenyum melihat begitu banyak telpon dari seseorang yang dia rindukan dan satu pesan yang belum terbaca.


Membuka pesan dengan tersenyum dan saat ia membacanya dirinya mengerutkan kening, mencerna kata-kata Mawar. Dengan dia yang sudah hancur, kecewa dan berharap untuk tidak membuat kesalahan lagi pada wanita.


Dia yang hancur, masih mencerna ucapannya hingga dirinya terkejut akan apa ada di pikirannya.


Mencoba menelpon Mawar, tapi nomor sudah tidak aktif. Mencoba kembali menelpon, tetap nomor tidak aktif. Hingga dirinya mengeram, merutuki kebodohannya.


Menelpon Asistennya dan sialnya nomornya sedang di luar jangkauan. Hingga dirinya menyumpahi Asistennya yang kurang ajar dan akan membuat perhitungan jika bertemu dengannya nanti, serta dirinya tak akan terima jika Mawar pergi meninggalkannya.


Memesan tiket dengan penerbangan lebih awal lewat online di saat malam hari dirinya tidak bisa tidur dan membayangkan akan apa nanti jika Mawar pergi darinya. Dan bagaimana kehidupan Mawar tanpanya, tanpa adanya perlindungan dan tanggung jawabnya.


" Mawar?" Sapanya sekali lagi, berjalan menghampiri Mawar, menghindari Angga yang masing menatapnya.


Entah, dia kecewa, marah, atau senang Kevin berada di rumahnya sekarag. Menghampiri kakaknya yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca seakan siap untuk menangis dan meluapkan amarahnya. Hingga dirinya lebih memilih keluar dan membiarkan kakaknya untuk berbica berdua dengan Kevin. Yang sudah membuat hidup kakak hancur.


" Sayang?" Sapanya pada Mawar tepat di hadapannya, hingga Mawar pun menangis dan memukul dada Kevin berkali-kali. Meluapkan semua amarahnya padanya saat dirinya sendiri ketakutan.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Yuk kak kasih like, komen dan votenya buat Mas Kevin 😀😀😀


__ADS_2