Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
papan pengumuman


__ADS_3

Aku tidak ingin berharap, karena aku takut itu akan mengecewakan.


.


.


.


.


" Makasih?" Ucapnya, menerima satu cangkir coklat hangat di tangan Bima dengan dia yang mulai duduk di sampingnya. Menikmati angin malam di balkon apartemen tak terlalu besar dan bisa melihat pemandangan lampu-lampu rumah serta gedung yang berjulang sama tinggi.


Duduk berdua dengan diam menikmati minuman hangat terlebih dulu sebelum mereka memulai untuk mengobrol.


" Yakin mau netap di sini?" Tanya Bima sekali lagi, dan kesekian kali Zellin harus menjawab dengan nada sangat bo san.


" Gue enggak mau ngulangi lagi ya Bim!" Seru Zellin. " Enggak ada pembahasan yang lain apa? Yang kamu tanya itu... saja." Ujarnya lagi sambil mengerucutkan bibir.


" Aku beneran pengen cium itu dech Lin?" Spontan Bima, membuat Zellin melototkan mata dan memukul keras lengan Bima hingga Bima tertawa tidak bisa menyembunyikannya kala ia sangat senang menggoda wanita di sampingnya.


" Bima!! Loe mau gue cium. Sini!!" Tantang Zellin, mendekatkan bibirnya yang monyong ke hadapan Bima, dengan bima memundurkan tubuhnya dan membungkam bibir Zellin dengan koran di meja. Menghalang Zellin untuk tak berbuat mesum.


" Bar-bar banget sih!!" Kata Bima, setelah Zellin merebut koran dari tangannya, membuangnya ke sembarang tempat dan berbalik lagi dengan posisi duduk yang semula.


" Loe sih!! Dari tadi ciam, cium, ciam, cium Enek Gue." Cibik Zellin. " Giliran di cium beneran malah ogah. Maunya gimana cobak." Imbuhnya menatap sebal Bima yang tersenyum memandangnya.


" Lagian ya kalau lihat bibir kamu seperti ini." mencontohkan bibir Zellin yang mengerucut panjang dan Zellin geli sendiri. " Seperti moncong babi hutan." Ledek Bima, lagi-lagi Zellin melototkan mata dan memukulnya dengan bantal.


" Loe selalu dech Bim!! Sukanya buat aku naik darah terus!" Kata Zellin yang mulai mendrama dengan mimik wajah yang sedih.


" Ulu-ulu!! Anak Babi hutan mau nangis?" Ejek Bima lagi.


" Bima!!" Seru Zellin yang mulai menangis akan godaan Bima yang tak kunjung abisnya, hingga Bima pun merengkuh bahu Zellin dan mengusap rambutnya dengan lembut. Dengan Zellin melingkarkan ke dua tangannya di pinggang Bima menyembunyikan wajahnya di dadanya.


" Aku suka jika kamu di sini? Aku enggak kesepian lagi." Ucap Bima. " Tapi aku enggak ingin kamu seperti ini, kabur dari rumah dan tidak memberitahu keluarga kamu, dimana kamu sekarang." imbuhnya, mengingat Zellin wanita yang berpergian sendiri tanpa ada taman atau keluarga yang ikut dengannya.


Tanpa dia yang tidak memberitahu keluarganya dan kemungkinan besar jika keluarganya pasti sedang khawatir dengannya.


" Mama pasti enggak akan peduli." Kata Zellin, masih menyandarkan kepalanya di bahu Bima.

__ADS_1


" Yakin enggak peduli?" Ulang Bima. " Dari tadi ponsel kamu bunyi terus dan begitu banyak panggilan, terutama dari mama kamu."


" Mungkin suruh pulang, di paksa lagi untuk deketi itu cowok." Jawab Zellin, membuat Bima terdiam cukup lama tapi masih dengan tangan yang mengusap lembut rambut Zellin.


" Kalau begini kita seperti pasangan kekasih!" Cetus Zellin, merubah posisi untuk tidak lagi menyandar di bahu Bima dan Bima pun melepas rengkuhannya.


" Idihh!! Ngarep." Kata Bima.


" Siapa? Gue." ketus Zellin hanya mengangguk kecil untuk menjawab.


" Iihh.. ogah banget, tiap hari bakal nangis terus di ejek sama loe!" Ucap Zellin mengambil cangkir berisi coklat hangat dan berdiri meninggalkan Bima.


" Awas demen!!" Goda Bima, menatap kepergian Zellin.


" Enggak akan!!" Teriaknya, sambil melambaikan tangan dan berjalan keluar dari apartemen Bima.


" Lebih baik begini Lin." Gumam Bima, kembali menyesap secangkir kopi dan menatap langit malam.


Dan di balik pintu. " Gue takut kehilangan loe bim, gue takut! " Gumam Zellin dalam hati melihat pintu apartemen Bima. sebelum berjalan masuk ke apartemennya.


****


" Ini mbak." Menunjukkan semua informasi di dalam amplop coklat, membukanya, membaca semua informasi dan foto-foto yang sedang ingin dirinya ketahui.


" Gadis ******." cibirnya, melihat foto Mawar memakai seragam sekolah, dan memperhatikan foto selanjutnya dengan dahi mengerut.


" Kenapa dia ke rumah sakit?" Tanyanya, masih menatap foto Mawar berjalan masuk ke rumah sakit bersama pria yang menutup wajahnya dengan topi.


" Saya mengikutinya sampai ke dalam, gadis itu masuk ke dalam ruang obgyn bersama pria itu." Jawabnya, membuat wanita itu terkejut dan seulas senyum licik tersemat di bibirnya.


" Ini bayaran mu." Menyerahkan uang seagai imbalan atas informasi yang telah di bawanya dengan sangat bagus dan menyenangkan.


" Terimakasih." Jawabnya, senyum mengembang menerima uang dari wanita ****.


" Kau salah bermain denganku! Dan tunggulah pembalasanku." Gumamnya dalam hati, menyesap minuman dan mulai merencanakan balas dendam untuk menghancurkan Mawar.


*****


Penulisan papan pengumuman, membuat siswa siswi berkerumun saat mendengar seruan salah satu siswi sedang ingin melihat jadwal tapi malah melihat foto dan tulisan yang mencengangkan. membaca dan melihat foto seorang siswi sedang masuk ke dalam apartemen bersama seorang pria berjas menggandeng tangan.

__ADS_1


Pelakor, ******, perusak rumah tangga orang, wanita murahan!! Tulis di bawah foto.


dan satu foto menunjukkan foto Mawar di edit ke sebuah klinik kandungan.


Anak haram!! tulisnya, hingga semua siswi saling bergosib, dan saling mencela Mawar yang sudah merebut dan merusak rumah tangga orang.


" Ada apa sih!" Seru Lisa, melihat gerumbulan siswi melihat papan pengumuman.


" Sahabat loe tu! Ternyata pelakor!!" Jawab siswi mendengar ucapan Lisa.


" Sahabat!" Mengerutkan kening.


" Siapa lagi jika bukan Mawar sang penghibur om-om!" Jawab siswi lain, hingga Lisa menatapnya tajam.


" Lihat saja tu kalau enggak percaya." Imbuhnya senyum ejek dan pergi meninggalkan Lisa yang masih menatap tajam.


" Ada apa?" Tegur Fahmi baru datang dan mendengar kasak-kusuk dari beberapa siswa yang bergosip tentang Mawar.


Tidak menghiraukan tanya Fahmi, Lisa berjalan menuju kerumunan siswi di ikuti Fahmi yang juga penasaran akan apa yang di lihatnya.


Membelah kerumunan, dan berdiri tepat di hadapan papan nama. Membaca dan melihat foto Mawar membuat darahnya mendidih, dan bukan dirinya saja yang mencoba mengambil foto dan tulisan di papan, Fahmi pun juga turut mengambil semua foto dan tulisan itu.


Meremas semua tulisan, foto dan akan berbalik ke belakang hingga Lisa dan Fahmi menjadi tegang, saat melihat teman baiknya ada di belakangnya.


" Mawar!" Lirih Lisa dan Fahmi.


Mata berkaca-kaca, mendengar, melihat dan membaca semua yang ada di papan pengumuman itu.


Banyaknya tatapan mencela dan jijik saat ia memasuki lorong sekolah, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan merasa aneh dengan semua tatapan semua mata tertuju padanya.


Melihat Lisa dan Fahmi berjalan ke arah kerumunan papan pengumuman ia pun memutuskan untuk ikut dan mencoba mencari tau apa yang sedang gempar di sekolahnya.


Dan kini dirinya mengerti, dari tatapan semua siswa-siswi padanya!


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2