
Kita di pertemukan untuk saling berkenalan, bukan malah sebaliknya.
.
.
.
.
Bandara.
Melepas kacamata dan menggeret koper saat sudah tiba di tempat tujuan. Tempat dimana dirinya lebih suka menyendiri dari keluarga dan malas dengan mamanya yang suka mengajaknya ribut tiap hari.
Sudah sering pulang pergi ke tempat persembunyiannya dan tak ada keluarga yang tau akan dimana dirinya berada. Entah keluarganya khawatir, marah atau mencarinya, dirinya pun tidak mengambil pusing.
Sudah cukup rasanya ia di atur dan di kekang oleh mamanya, di jadikan boneka untuk selalu menurut kepadanya. Tapi kini, dirinya tidak mau itu. Ia ingin bebas, seperti teman-temannya, menentukan karir dan jalan hidupnya sendiri, terutama tentang pasangan hidupnya.
Di jodohkan. Oh, No! jaman sudah canggih dan bukan jamannya lagi siti nurbaya, yang harus di jodohkan dengan pilihan orang tua.
Boleh-boleh saja orang tua menjodohkan. Tapi seorang anak perlu menolakkan jika mereka tidak mau.
Hah!! jaman modern harus di buat susah, belum dapat pasangan bisa kan mencarinya di media sosial atau perlu menulis data lengkap dan di kirimkan ke biro jodoh. Gampangkan!
Tapi sayang dirinya tidak begitu tertarik seperti itu. Menikmati kesendirian terlebih dulu, bila sudah waktunya ketemu jodoh ia pasti akan menikah. Tapi entah kapan!
Zeline prameswari, dua puluh tiga tahun. Penulis novel dan hobby traveling.
Beristirahat sebentar di cafe dalam bandara sebelum dirinya akan pergi menuju apartemennya.
Memesan kopi terkenal di kalangan anak muda. Melepas kacamata dan duduk tenang di ujung kaca sambil memperhatikan lalu lalang orang berpergian.
Menyesap cafein yang begitu menenangkan, hingga tanpa sadar menyunggingkan senyuman kala melihat seorang pria datang menghampirinya.
" Lama menunggu?" Tanya pria itu dengan senyum dan duduk di depannya.
" Enggak, baru leanding." Jawabnya. " Mau pesan apa?" Ujarnya lagi.
" Kamu sudah tau kan apa kesukaanku." Ucap pria itu, dan membuat Zelin tertawa akan cibirannya.
Pertama kali bertemu dengannya, dengan dia yang sedikit sombong dan juga sok kegantengan. Tapi memang dia ganteng, ya walaupun gantengnya tak sebesar pria yang di jodohkannya.
__ADS_1
Bertemu di bandara dengan mereka yang saling berebut tempat duduk, yang di bilang memang cukup ramai di hari libur. Dan ke dua kali bertemu dia yang ternyata satu apartemen dan parahnya dia adalah tetangga depan. Selisih emat langkah dari unitnya.
Dan yang ke tiga, dia adalah pria pemberani dan penolong saat dirinya sedang di hadang oleh perampok. Dia terluka, Zellin yang merasa berhutang budi hingga itu ia merawat pria yang sudah menolong dan menyelamatkan nyawanya. Hingga sekarang mereka berteman.
" Americano satu." Pinta Zelin, saat pelayan menghampirinya. Hanya mengangguk, tersenyum dan pergi menuju bar tander.
" Bertengkar lagi sama mama?" Tanya pria itu, tau akan kebiasaan Zellin jika datang ke indonesia itu berarti dia sedang ingin kabur atau menyendiri.
" Lebih parah." Ujarnya sambil mengaduk minumannya.
" Kenapa?" memicingkan mata melihat Zelin seperti tertekan.
" Gue di jodohkan sama mama, dan untungnya dia menolak. Kalau enggak nolak, Gue bakalan nikah sama pria itu." Jawab Zellin. " Gila kan.. Kayak gue perawan enggak laku tau nggak. Masak harus di jodoh-jodohin segala!" Sungutnya dengan wajah macam dan cemberut.
" Kamu di jodohkan!" Hanya mengangguk dan menyeruput minuman. " Ya gak papakan, itu berarti mama kamu ingin carikan jodoh yang terbaik untuk putrinya." Imbuhnya.
Diam sebentar saat pelayan datang membawa pesanannya dan mengucapkan terima kasih pada pelayan.
" Sudah jenuh gue di atur-atur sama mama, apa lagi ngatur tentang jodoh gue, gue enggak suka!" Keluhnya, membuat pria itu menggelengkan kepala.
" Mama kamu itu ingin putrinya mendapat jod-,"
Ya, pria itu adalah Bima yang pernah menolong dan membantu, pria yang selalu membuatnya tertawa dan tersenyum saat dirinya jenuh dan marah dengan keluarganya.
Pria yang selalu ada untuknya, selalu telpon, vidio call atau jika Bima sedang mengikuti bosnya di negaranya, dia sempatkan untuk bertemu dengannya walaupun hanya sebentar.
" Oke-oke." Mengalah, saat Zellin sudah merubah wajah dan mata yang berkaca-kaca.
" Ayo kita pulang, sudah mau malam." Ajak Bima, membuat Zellin mengangguk tetap dengan wajah menekuk.
" Senyum dong!" Pinta Bima.
" Ogah."
" Aku cium nich."
" Apaan sih Bim!" Gerutunya dengan cemberut, membuat Bima tertawa dan mengacak rambut Zellin.
Keluar dari caffe Menggeret koper Zellin dan menggenggam tangannya dengan Zellin yang mulai bercerita dan Bima yang setia mendengarkannya.
***
__ADS_1
Mengusap jari manis dengan benda putih melingkar di sana, membuat dirinya tersenyum dan terharu mendapatkan hadiah dari suaminya, Kevin.
Kevin mengusap lembut kepala istrinya yang menyandar di bahunya dengan dirinya yang fokus pada tv dan kembali melihat istrinya saat film yang di tonton sedanv iklan.
Mengambil tangan Mawar, mengusapnya dan mencium tangannya begitu lama membuat wanita siapa saja pasti akan terharu, malu mendapatkan keromantisan dari suami tercintanya.
" Makasih mas." Ucap Mawar, mendongakkan kepala untuk menatap wajah Kevin.
" Maaf baru bisa belikan kamu cincin pernikahan, kita kan nikahnya mendadak." Kata Kevin.
" Itukan maunya mas sendiri nikah mendadak!" Cibir Mawar membuat Kevin tertawa.
" Habisnya kamu mau ninggalin aku yank, mangkanya aku mau langsung nikahin kamu. Enggak mau kehilangan kamu dan ini nich!" Ucap Kevin dan mengusap perut Mawar. Calon anaknya yang sudah membuat hidupnya bahagia akan kehadirannya nanti.
" Yang salah siapa! Terus yang ninggalin dulu siapa.!" Ketus Mawar, Dan di pastikan sudah mulai lagi jika suara Mawar berubah ketus padanya.
Bawaan bayi! Pikirnya.
"Mama?" Gumamnya dalam hati, ingin mengadu mamanya apa begini mood wanita saat hamil. Atau Mawar memang membencinya.
" Boleh jujur enggak sih mas! Setiap melihat wajah mas, hawanya ingin marah melulu! Pingin nangis!" Kata Mawar, yang memang jika bersama Kevin moodnya selalu berantakan ingin menangis atau ingin marah saja hawanya.
Tapi jika tidak ada Kevin di sampingnya, dirinya sangat merindukannya, selalu memakai bajunya saat tidur dan kadang memandangi fotonya.
Ketika telpon dan vidio call dirinya begitu semangat dan sangat senang jika mendengar suara Kevin.
Sangat aneh." Pikir Mawar.
Kejujuran Mawar membuatnya sedikit terkejut, pasalnya sangat gawat jika Mawar marah dan benci dengannya. Tidak masalah jika nanti sudah lahir anaknya mirip dengannya, tapi yang di permasalahkan dirinya takut selama hamil, Mawar tidak mau tidur dengannya dan menyuruhnya untuk tidur bersama Angga lagi.
Sudah cukup setiap malam tidur bersama Angga dengan Angga yang tidak bisa diam walaupun matanya sudah terpejam. Tangan yang selalu mengenai wajahnya, kadang memeluknya dan kadang bisa membuat dirinya terjatuh di lantai.
Sungguh sangat sial! Dan kini dirinya harus mulai merubah kamar milik Mawar dan Angga. Yang mempunyai ranjang sempit dan kasur yang sudah mengeras membuat punggungnya di pagi hari benar-benar sakit.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1