Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Swalayan


__ADS_3

Hanya satu pinta ku, semoga Tuhan memberikan ku jalan yang terbaik.


.


.


.


.


Rasa begitu senang saat ia mendapatkan motor walaupun bekas, tapi hasil jerih payahnya sendiri. Ralat, sebagian uangnya hasil malak dari seorang cowok yang membayarnya untuk menjadi pacar sewaan.


Tapi jika tidak begitu mana bisa Mawar membeli motor dan ingin membuka usaha kecil-kecilan.


Motor matic seharga enam juga, masih bagus dan bisa di gunakan kini resmi milik Mawar saat ayah Lisa sudah bernego dengan penjual.


Berterima kasih banyak pada Ayah Lisa, sudah membantu mencarikan motor bekas untuknya.


" Gak jadi nich beli pinsel." tanya Lisa


" Besok saja ya lis pulang sekolah, cowok resek itu sudah ngasih kabar." jawab Mawar dengan cemberut.


" Oke, kalau gitu." ucap Lisa.


" Aku pulang dulu ya, makasih banyak lho sudah di bantuin." kata Mawar tersenyum senang.


" Gaya mu, seperti siapa saja." cibik Lisa, mengangguk serta tertawa bersama.


Berpamitan pulang pada ke dua orang tua Lisa dan bergegas menuju apartemen Kevin yang sudah terkenal akan nama apartemen di kotanya. Apartemen Elit di huni dengan orang-orang kaya.


Perjalanan yang lumayan dari rumah Mawar sekitar satu jam dirinya sampai di parkiran apartemen Kevin.


Tidak terlalu lugu karena hidupnya juga pernah tau bagaimana fasilitas apartemen orang kaya. Berjalan menuju lift menekan angka untuk naik ke lantai dua puluh empat, lantai teratas dimana apartemen mewah berada di atas sana.


Mengingat pasword yang Kevin kirimkan, menekan angka-angka dengan telunjuk manisnya dan membuka pintu apartemen yang begitu luas namun sedikit berantakan saat melihat di meja tamu.


" Apa dia tidak punya Art untuk membersikan apartemennya.?" gumam Mawar dengan menggelengkan kepala, melihat kaleng-kaleng yang berserakan di atas meja serta baju kotor yang tersampir di sofa.


" Gila, aku harus jadi pembantu dan pacar bayaran dia." gerutunya, menaruh tas sekolah di atad kursi melepas jaket, dan mulai membersihkan ruang tamu.

__ADS_1


Kaleng yang berserakan di atas meja ia buang ke tong sampah kertas-kertas yang berserakan ia tata rapi, baju yang tersampir di sofa ia bawa untuk menuju ruang laundry, sempat bingung mencari ruangan itu dimana hingga dirinya menyusuri satu per satu ruangan.


menemukan ruangan yang tidak terlaku lebar, terdapat mesin cuci, beberapa baju yang menggantung seperti sudah kering dan ranjang kotor yang sedikit penuh dengan baju kerja Kevin


Sungguh ia menjadi seorang pembantu sekarang karena sudah mau menandatangai kontrak dengan Kevin. Meminjam kaos oblong Kevin saat dirinya lupa tidak membawa baju ganti.


Baju yang terlalu besar saat di bakai oleh Mawar, tidak membuatnya risih ia pun merasa senang.


Mencoba ke dapur kala perutnya berkeroncong untuk minta di isi, dapur yang bersih seperti tidak pernah di pakai. Membuka kulkas hanya menemukan beberapa kaleng bir, serta beberapa telur saja.


" Tidak ada makanan!" gerutu Mawar menutup kembali kulkas.


Mencoba mencari di lemari penyimpanan, hanya menemukan beberapa mie instan dan bumbu makanan cepat saji.


" Apa dia selalu pesan makan di luar.!" gumamnya dengan terpaksa mengambil mie instan kuah dan memasaknya dengan telur setangah matang.


Merogoh benda pipinya yang ada di dalam tas dan mengirim pesan pada Kevin sebelum dirinya makan.


" Numpang makan ya, hanya ngambil mie sama telur saja." tulis pesan Mawar dan mengirimkannya pada Kevin.


" Memang masih ada?" Balas Kevin selang beberapa menit.


" Bukan pelit, hanya mubazir jika di buang kalau akunya sibuk terus." jawab Kevin, sebenarnya ia mengelak karena memang dirinya tidak pernah membeli bahan makanan, hanya membeli beberapa cemilan dan minuman kaleng.


" Kau bisa belanja di minimarket dekat situ." perintah Kevin.


" Uangnya mana.?" kata Mawar, yang membuat di sebrangnya mengerutkan kening.


" Pakai uang kamu dulu maimunah!! Nanti aku ganti." jawab Kevin, menatap tulisan Kevin yang menyuruh untuk pakai uangnya terlebih dulu, serta tidak mengenakkan panggilan namanya berubah menjadi maimunah.


" Awas kalau enggak di kembalikan, aku obrak-abrik rumah mu." ancam Mawar, dan yang di sebrang sana tersenyum dan menggelengkan kepala.


" Iya, bawel." jawab Kevin, dan tidak di balas oleh Mawar karena pulsa pesannya sudah habis, Maklum ponsel jadulnya tidak memakai paketan data, hanya memakai pulsa dengan sekali mengirim pesan harus memakai prabayar. Bukannya mengirit malah jatuh miskin.


Selesai dengan makan ia pun beranjak mengambil dompet di tasnya dan bergegas keluar apartemen menuju swalayan terdekat.


Memilih swalayan karena di sana banyak sayuran, buah, daging, bumbu, yang masih fres dan bisa di simpan di dalam kulkas lebih lama.


Mendorong trolly menuju bahan sayuran, memilih beberapa sayuran yang terbilang cukup mahal jika di bandingkan dengan harga di pasar.

__ADS_1


Andai pasar sore hari masih buka mungkin dirinya akan berbelanja di pasar lebih murah dan walaupun kualitasnya sedikit tidak sama, tapi jika bisa memilih sayuran di pasar akan sama seperti di swalayan.


Berapapun harganya tidak masalah to bukan dirinya yang bayar, yang membayarnya adalah Kevin meskipun masih memakai uangnya! yang terpenting nanti di ganti.


Beberapa sayur yang tidak ada di pasar ia jumpai di swalayan dan mengambilnya untuk mencoba memasaknya dengan nanti ia meminjam ponsel Kevin untuk mencari resep makanan.


Menyelusuri tempat buah dan membeli berbagai macam buah, beralih membeli beberapa bahan bumbu, daging serta ikan yang masih segar.


Tidak lupa ia juga mencoba membeli beberapa cemilan, memilihnya di rak yang terpampang banyak pilihan hingga terkejut saat ada seorang yang menepuk bahunya dari belakang.


" Fahmi?" sapanya dengan terkejut.


" Ternyata benar ini kamu Mawar?" ucapnya dengan tersenyum, dan mengerutkan kening saat melihat trolly Mawar yang penuh dengan bahan makanan.


" Ini, buat kamu?" tanya Fahmi dengan lirih.


" Bukan? punya bos ku, dia menyuruhku untuk membeli bahan makanan." jawabnya dengan tersenyum kaku.


" Oh?" ucapnya dengan menganggukkan kepala.


" Aku duluan ya Fam.?" pamit Mawar dengan tersenyum dan berjalan pergi dahulu untuk menghindari Fahmi.


Menatap kepergian Mawar hingga tidak terlihat, membuatnya menghembuskan nafas panjang.


" Kamu selalu saja menghindar Ar? meskipun bukan di sekolah." gumam Fahmi dengan wajah yang lesu karena Mawar selalu menghindarinya.


Mawar yang sudah merasa aman dan bisa menghembuskan nafasnya untuk menetralkan detak jantung yang berdebar tak karuan saat berhadapan dengan Fahmi satu sekolah beda kelas.


Dua tahun ia menghindar dari Fahmi saat ada cewek satu kelas dengan Fahmi datang di kelasnya waktu jam istirahat, memperingatkannya untuk menjauhi Fahmi karena dia sudah menjadi pacar Fahmi dan tidak akan segan-segan untuk membuat Mawar mempermalukan di sekolah jika melihatnya berbicara dengan Fahmi.


Cewek cantik tapi sombong dan banyak sekali yang tidak suka dengannya, meskipun mereka tidak berani untuk mengungkapkannya, hanya diam dan malas bertengkar dengan cewek yang bilang dirinya pacar fahmi. Mungkin karena latar belakang cewek itu orang kaya dan sebagian donatur di sekolah hingga semua murid yang berkelahi dengannya akan terkena skors atau di keluarkan dari sekolah, lantaran ayahnya yang selalu mengancam pihak sekolah.


Mau tidak mau Mawar pun harus menjauhi Fahmi meskipun Fahmi beberapa kali selalu mencoba mendekatinya lagi. Ia tidak ingin di keluarkan dari sekolah dan tidak ingin di skors hanya karena seorang cowok.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2