Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Hal tak di inginkan


__ADS_3

Dia, sebuah kisah yang tidak pernah di mulai, namun ada rasa yang tak pernah usai.


.


.


.


.


" Pulanglah, aku tidak papa. Mungkin beliau sedang mencemaskan kamu." Ucap Mawar, menyuruh Kevin untuk pulang saat dia mendapatkan telpon berkali-kali dari mamanya tapi tidak di angkat telpon dari mamanya satu pun.


" Tidak, aku akan menemani kamu." Jawab Kevin, di mana dirinya malam ini bersama Mawar di rumahnya, dengan suasana duka dan masih ada tetangga yang bercengkrama dengan pengawal dan asistennya.


Berbicara pada pak RT serta para tetangga untuk meminta ijin menginap satu hari di rumah Mawar yang sedang berduka.


Dengan ijin rt dan tetangga, Kevin serta asistennya di perbolehkan menginap sehari di rumah Mawar yang berduka atas kepergian neneknya.


" Ada Lisa yang akan menemani aku." Ucap Mawar, seakan dirinya tak enak hati pada Mama Kevin yang masih menghubunginya.


" Angkat dulu, siapa tau penting." Ujarnya sekali lagi, membuat Kevin menghembuskan nafas berat sebelum mengangkat telpon dari mamanya.


" Hallo, Ma?" Sapa Kevin dari ponselnya.


" Mama sedang di perjalanan pulang ke singapure, cepat susul mama, Papa kamu kecelakaan." Ucapnya dari sebrang telpon dengan menangis.


" Apa! Papa kecelakaan!" Ulangnya dengan terkejut, berdiri dari duduknya begitu khawatir mendengar ucapan Mamanya.


" Aku akan ke bandara sekarang." Putus Kevin, dan akan meninggalkan Mawar sebelum dia di halang oleh Mawar.


" Ada apa?" Tanya Mawar.


" Papaku masuk rumah sakit, aku harus ke singapure sekarang." Jawab Kevin, raut wajah yang sangat khawatir akan apa yang mamanya bilang dari sambungan telpon.


" Hati-hati, semoga papa Mas baik-baik saja." Kata Mawar.


" Iya, terima kasih." Jawab Kevin. " Jika aku sampai di singapure, aku akan menghubungi kamu, dan jika ada apa-apa hubungi aku." Ujarnya lagi, dengan menyentuh pipi Mawar dan mencium kening Mawar untuk pertama kalinya begitu lama dan pergi meninggalkan Mawar yang masih menutup mata.


" Kita ke bandara sekarang!" Perintah Kevin, pada Bima yang masih berbicara pada para tetangga, dan meninggalkannya dengan dia belum sempat bertanya. Hingga mengejarnya saat berpamitan pada tetangga Mawar dan meminta para tetangga untuk menolong dan membantunya.


Berbalik dan mengejar Kevin yang sudah tidak ada lagi di dalam rumahnya dengan dirinya yang mulai menangis akan kepergian Kevin.


Dan dirinya berdoa semoga Kevin dalam lindungan Tuhan dan semoga papa Kevin baik-baik saja.


****


Pagi hari, Mawar yang bangun dari tidurnya dengan kepala begitu berat dan perut yang terasa penuh hingga dirinya berlari menuju kamar mandi, memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya mesikpun hanya berupa cairan. Dan terasa lega saat ia sudah memuntahkannya.

__ADS_1


Selama tujuh hari kepergian Nenek, dirinya sering diam dan selalu telat makan atau bisa sehari hanya sekali dirinya makan, itupun di paksa oleh Lisa atau Angga.


Mungkin karena itulah lambungnya bermasalah dan mengakibatkan dirinya sering muntah-muntah serta pusing.


Rasanya ia enggan sekali untuk sekolah, memulai ujian di semester akhir, untuk mendapatkan nilai kelulusan.


Memasak untuk dirinya dan Angga yang masih ada persedian bahan makanan di dalam kulkas. Memasak sederhana dan menyajikannya di meja makan untuk sarapan bersama sebelum dirinya dan Angga berangkat sekolah.


Menaiki motor dengan kecepatan sedang, memarkirkan motor dengan dia yang masih terasa pusing dan sedikit oleng jika tidak ada menahannya dari belakang.


" Kamu enggak papa?" Tanya Fahmi, menahan ke dua lengan Mawar dari belakang.


" Hanya sedikit pusing." Jawab Mawar, melepaskan tangan Fahmi dari lengannya dengan sedikit menjauh. " Makasih." Ucap Mawar.


" Nanti aku antar kamu ke dokter." Kata Fahmi, tidak tega melihat mawar yang sedikit pucat.


" Aku tidak apa-apa Fahm?" Kata Mawar.


" Tidak apa-apa bagaimana! Dari kemarin muka kamu pucat dan badan kamu lemah seperti ini." Tandas Fahmi.


" Tap-,"


" Tidak ada tapi-tapian, nanti pulang sekolah aku antar."Tegas Fahmi, membuat Mawae terdiam enggan lagi berdebat saat pusing kembali meyerangnya.


Mungkin benar kata Fahmi, dirinya harus berobat ke dokter agar sembuh dan bisa kembali beraktivitas dan kegiatan sekolahnya kembali lancar.


Sepulang sekolah, Fahmi benar-benar mengantarnya ke klinik dokter untuk berobat, dengan Lisa yang tidak bisa ikut lantaran mendapatkan piket dan beruntungnya Lisa di antar sekolah oleh ayahnya hingga dirinya bisa meminta Lisa untuk membawa motornya pulang.


" Iya dok."


" Kelas berapa."


" Kelas dua belas." Jawab Mawar. " Saya sakit apa dok?" Tanya Mawar, membuat dokter perempuan berhenti menulis dan menatapnya.


" Tidak ada sakit." Jawab Dokter, membuat Mawar mengerutkan kening.


" Tidak ada sakit! Tapi saya selalu pusing dan muntah-muntah dok."


" Itu karena kamu sedang hamil." Ucap Dokter paruhbaya, membuat Mawar membulatkan mata, terkejut dengan ucapannya.


" Ha mil." Lirih dan gugup.


Mengambil alat tes kehamilan, memberikannya pada Mawar. " Coba kamu tes terlebih dulu Nak. " Perintahnya, untuk menyakinkan jika dirinya tidak salah memeriksanya.


Melihat alat tes kehamilan yang sangat dirinya hindari tidak ingin memakainya sebelum waktunya tiba. Mengambil benda kecil itu dan terdiam cukup lama hingga dirinya hanya menggelengkan kepala untuk menolaknya.


Ia takut, sangat takut dan tidak sanggup jika itu benar dan nyata adanya.

__ADS_1


Hanya menundukkan kepala, serta menahan air yang akan turun dari matanya.


" Jangan menangis?" Ucap Dokter memahami situasi posisi Mawar, yang telah menghancurkan masa depannya.


Bendungan air mata pun tidak bisa di tahan, ia pun menumpahkan semua tangisannya. Merasa takut dan hancur.


Tidak tega melihat gadis berseragam menangis, Dokter pun berdiri dari duduknya dan mendekap Mawar untuk menenangkannya.


" Aku takut buk!" Ucap Mawar " Aku tidak sanggup." Ujarnya lagi, dalam dekapan Dokter wanita paruhbaya seakan dirinya merasakan apa yang di rasakan Mawar.


" Tenang Nak?" Ucap Dokter Eni mengusap lembut rambut yang memeluknya erat dengan bergetar dan ketakuran.


" Maaf buk." Ucapnya, menundukkan kepala setelah melepas pelukannya dari bu Eni.


Mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Mawar tanpa ada pembatas di antara mereka.


" Apa orang tua kamu sudah tau? Jika belum tau, sebaiknya kamu beri tau biar orang tua kamu bisa mencari solusinya." Nasehat Bu Eni, membuat Mawar terdiam menunduk.


" Ke dua orang tua aku sudah tidak ada." Lirih Mawar, dengan bu Eni yang terkejut mendengarnya.


" Kamu tinggal sama siapa." Tanya Bu Eni hati-hati.


" Sama Nenek, tapi beliau sudah meninggal satu minggu yang lalu." Jawab Mawar, Hingga membuat bu Eni merasa iba.


" Sekarang sama siapa?" Tanya bu Eni.


" Berdua sama Adik." Jawabnya, dengan Mawar yang masih menundukkan kepala dan Bu Eni menatapnya dengan kasihan.


Dirinya bisa merasakan bagaimana rasa takut, sesal dan bingung tercampur jadi satu dalam diri Mawar. Jiwa ke ibuan dari Dokter Eni membuatnya ingin membantu Mawar.


" Terakhir kamu datang bulan kapan?" Tanya bu Eni.


Mengingat kembali di mana bulan ini dirinya datang bulan. " Sudah tiga minggu aku tidak datang bulan." Ujar Mawar


" Itu berarti kandungan kamu baru menginjak dua minggu." Jawab Bu Eni, membuat Mawar menatapnya.


" Apa aku bisa menyembunyikan ini buk! Tinggal tiga bulan lagi aku lulus sekolah." Jawab Mawar, berharap ia tidak melakukan hal yang harus membuatnya menyesal dan bersalah seumur hidup.


" Bisa. Jika tidak ada yang tau tentang kehamilan kamu." Jawab Bu Eni. " Ibu akan membantu kamu." Ujarnya lagi pada Mawar, saat dirinya juga pernah merasakan di mana ia berada di posisi Mawar saat ini.


Tapi sayang, saat itu ia harus menelan kapahitan yang begitu dalam saat dirinya baru menyadari akan hal kehilangan darah dagingnya. Hingga saat ini dirinya tidak bisa mempunyai keturunan.


Dan dirinya akan membantu Mawar agar dia tidak melakukan hal yang salah dan tetap bisa untuk meneruskan sekolahnya hingga lulus sebelum perut Mawar membesar.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2