Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Si gembul


__ADS_3

Rasa sedikit canggung, duduk di meja makan, suasana sangat hangat dengan keluarga besar Kevin. Ada ke dua orang tua Kevin, Intan bersama suami dan membawa putranya yang di gendong ibu mertuanya. meja makan sangat penuh, mengingatkannya seperti pertama kali Kevin datang ke rumahnya, makan bersama nenek, adik dan dirinya.


Ah! Apa kabar dengan Angga.


Padalal belum sehari ia meninggalkan Angga, dirinya begitu memikirkan adiknya. sesayang itukah pada adiknya. Jawabannya pasti tentu sayang, karena hanya Angga yang di milikinya, saudara satu-satunya.


Ternyata adik iparnya sudah mempunyai putra yang ganteng nan gembul berusia dua tahun. Melihat interaksi antara ibu mertua dengan cucunya, dirinya hanya bisa tersenyum dan membayangkan jika nanti dirinya mempunyai anak apa mertuanya juga sayang seperti cucu putrinya.


" Mama tidak membedakan siapa pun, Mama dan Papa akan sama adil dengan cucunya nanti." Bisik Kevin, seakan dia tau isi hatinya. hanya tersenyum dan mencoba menahan air mata.


" Mawar?" Sapa Mama Kevin.


" I-ya, tante?"


" Kok tante sih sayang?" Protes Mama Kevin, sama dengan suaminya yang mengerutkan kening mendengar Mawar memanggil mamanya tante. " Panggil Mama dong?" Imbuhnya lagi.


Bibir sedikit kaku, antara sulit, takut dan ragu untuk memanggil mertuanya mama. Bukan tidak percaya jika ia sudah di terima keluarga Kevin, hanya saja ia masih tidak menyangka, jika keluarga Kevin bisa menerimanya dengan baik tanpa membedakan status di antara mereka. Kadang sulit sekali, di terima baik oleh keluarga kekasih yang lebih tinggi dari kita.


Perbedaan sosial yang sangat membuat kalangan menengah selalu minder dan tidak percaya diri berbaur dengan kalangan atas.


Kadang kita ingin sekali menghindar, tapi nyatanya kita semakin terbelenggu dalam pusaran yang sudah di takdirkan untuk tetap bersamanya.


" Mau gendong gak Arsya sayang?" Tawar Mama Kevin, memberikan kesempatan menantu baru untuk menggendong cucunya.


" Boleh?" Jawab ragu-ragu Mawar, di saat mama Kevin memberinya kesempatan untuk menggendong keponakannya.


" Boleh dong sayang? Sini." Kata Mama Kevin.


Berjalan mendekat ke tempat duduk Mama mertuanya, mengambil Arsya dari gendongan mertuanya, bayi kecil tampan dan gimbul yang langsung nemplok padanya tanpa ada drama menangis atau malu-malu kucing.


" Ih, tau saja kalau ada tante cantik langsung mau di gendong." Ucap Intan.


" Iya, biasanya sama orang baru kenal enggak mau kalau enggak di bujuk dulu." Tambah Mama Kevin.


" Sama kayak Omnya, tau mana yang cantik langsung nemplok." Cibir Intan.

__ADS_1


" Iyalah, biar bibitnya nanti oke." Jawab Kevin, hingga Mawar menepuk paha suaminya, mulai lagi dengan kata yang bisa membuatnya malu.


Hey boy, istriku cantik kan?" Tanya Kevin, mentoel pipi gembul ponakannya di pangkuan istrinya yang sudah duduk di sampingnya.


Tertawa dan juga mengangguk-anggukkan kepala, membuat semua orang gemas dan ikut tertawa melihat tingkah laku Arsya.


" Nginap di sini ya Ar? Beberapa hari saja." Pinta Mama Kevin, dirinya ingin mengenal lebih dalam istri Kevin, karena waktu itu berkunjung di apartemen putranya dirinya sudah suka dengan Mawar. Gadis mandiri, tidak malu dengan pekerjaannya dan gadis yang sopan.


" Mawar tidak bawa baju Ma." Jawab Kevin, bukan Mawar.


" Bajuku banyak di kamar Kak?" Saut Intan.


" Sebaiknya kalian nginap, besok baru kalian pulang." Perintah Papa Kevin, Mau tidak mau Kevin lun mengangguk akan perkataan Papanya.


" Jika Mawar sudah lulus, Mama dan Papa sudah sepakat untuk merayakan pesta pernikahan kalian." Begitu antusias mama Kevin membahas pesta pernikahan putra dan menantunya.


" Kamu mau kan sayang?" Tanyanya pada Mawar, merasa terkejut dan bingung harus bilang apa. Pasalnya, sebelum mertuanya bilang seperti itu, suaminya sudah terlebih dulu membahas perayaan pesta pernikahan. Dan itu dia tolak secara halus lantaran tidak percaya diri dan ada rasa minder di hadapan semua tamu keluarga besar Kevin.


Meminta pendapat pada suaminya, hanya mengedikkan bahu dan tidak mau berurusan dengan Mamanya sendiri.


" Iya Ma?" Jawabnya Lirih, menyetujui perkataan Mama mertuanya. Tidak ingin membuat mertuanya kecewa untuk pertama kali bertemu.


" Biar Arsya tidur sama aku saja Kak?" Pinta Mawar, kala Intan ingin mengambil Arsya dari gendongan Mawar dan si gembul tidak mau lepas dari gendongannya.


" Ini anak tumben banget lengket sama orang yang di baru kenal." Heran Intan.


" Enggak papa sayang biarin tidur sama omnya, biar tau rasanya gimana." Timpal suami Intan tersenyum penuh arti hingga Kevin berdecak.


" Bilang saja kalau enggak mau di ganggu!" Sinis Kevin, dan gelak tawa terdengar dari adik dan adik iparnya.


" Nitip ya kak? Kapan lagi coba." Kata Intan masih di iringi gelak tawa.


" Ayo sayang?" Ujarnya lagi, sambil menarik tangan suaminya menuju kamarnya tanpa membawa anaknya yang manja di pelukan tante barunya.


"Menyebalkan!" Gerutu Kevin. Hanya bisa menggelengkan kepala mendengar gerutuan dari suaminya untuk Intan dan adik ipar.

__ADS_1


Masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuh gembul di ranjang yang besar. Berada di tengah antara dirinya dan Kevin.


" Nanti kalau punya anak, kasih tempat tidur sendiri. Jangan seperti ini." Saran Kevin tidur miring menghadap Arsya dan Mawar sedang menepuk-nepuk pahanya.


" Jangan keras-keras kalau ngomong! Nanti Arsya bangun Mas!" Tegur Mawar, merasa sebal suaminya berbicara keras membuat Arsya sempat terkejut.


" Maaf?" Lirihnya, cengar cengir tanpa dosa. Mendapatkan teguran dari Istrinya.


" jangan di peluk terus-terusan sayang! Aku kan jadi cemburu." Kata Kevin, mulai sebal dengan bocah gembul mendapatkan pelukan dari sang istri. Dan di pastikan malam ini dirinya tidak akan mendapatkan jatah, di malam pertama di rumah keluarga besarnya.


Cih!


Padahal setiap hari di rumah Mawar, masih saja ingin menyentuhnya di rumah keluarganya.


" Cemburu kok sama anak kecil." Ledek Mawar, tersenyum melihat muka asam suaminya. Sungguh mengasyikkan kecemburuan Kevin sama ponakannya sendiri


" Ya cemburu lah, gak ada yang boleh merebut istriku meskipun itu anak kecil."


" Kalau anak kita?" Tanya Mawar.


" Terpaksa, mengalah!" Menghembuskan nafas berat, pilihan yang sulit, harus adil dan menerima pembagian perhatian dari sang istri untuk anaknya kelak.


" Ihh!! Makin cinta dech?" Goda Mawar mencolek dagu Kevin, tersenyum dan mengerlingkan mata.


" Jangan menggoda sayang! Aku takut enggak bisa mengendalikan." Ujar Kevin, dan tidak bisa menahan tawa lagi kala suaminya benar-benar menginginkannya.


" Ini anak aku taruh di sofa gimana? Atau aku taruh di bawah pakai alas selimut sementara gitu." Kata Kevin, tawa pun berhenti dengan pelototan istrinya.


" Astaga Mas!! Tahan, besok kan bisa." Kata Mawar, gemas sendiri sama tingkah Kevin. Dan si gembul kembali bergerak memiringkan tubuhnya menghadap Mawar.


" Cihh!! Favoritku di embat juga." Gerutu Kevin pada Arsya, memilih bagian ternyaman di tubuh favorit istrinya.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2