
Berjalan bersama, saling bergandengan tangan dengan satu koper dan ransel berada di punggung.
Keluar dari bandara, memesan taksi menuju ke rumah wanita yang di antar pulang ke rumah keluarganya. Serta ingin bertemu dengan ke dua orang tua wanita teman spesial di hatinya, bermaksud untuk mengungkapkan ke inginan yang sudah di pendam lama sekali oleh Bima.
Memasuki rumah yang dan halaman yang luas, masuk ke dalam rumah dengan Bima yang berada di belakang sang wanita.
" Kau menolak perjodohan, pergi dari rumah hanya karena pria itu! Memalukan." Seru wanita tua, turun dari tangga dengan suaminya.
" Mama?" Sapa Zellin, tersentak kecil mendengar suara mamanya yang turun dari lantai dua tanpa basa-basi menanyai kabar atau menyapanya terlebih dulu, langsung menegur serta memarahinya dan juga mencaci pria yang mengantarnya pulang.
Sungguh, sangat pedas akan cibiran yang di lontarkan mamanya pada Bima. Takut jika Bima tersinggung dan juga tidak ingin Bima marah ataupun mengurungkan niatnya yang sudah di bilang sebelum mereka berangkat.
Mendapat sambutan tak mengenakkan dan juga cibiran pedas dari ibu wanita yang di cintainya.
Hanya tersenyum dan bersabar untuk memulai menghadapi keluarga Zellin. Dan dirinya tak akan mundur untuk mengungkapkan keinginannya. Keinginan yang sudah terlebih dulu diungkapkannya pada Zellin.
" Papa?" Sapa Zellin, tersenyum mencium tangan papanya dam memeluknya. Menerima sambutan hangat dari papanya yang juga membalas pelukannya.
" Dari mana saja kamu Zellin!" Tanya papa Zellin. Ada rasa khawatir dan juga sedikit marah dari wajah pria tua, yang masih terlihat menawan.
Putrinya kesayangannya, kabur di saat calon jodohnya menolak perjodohan dan tidak ingin di nikah paksakan, membuat keluarganya ada rasa malu dan juga marah. Ada rasa syukur dari papa Zellin anaknya tidak bersedih ataupun menangis, justru sang papa melihat Zellin merasa senang dan lega di tolak oleh calon jodohnya. Tak memusingkan perjodohan yang membuatnya bisa gila dan juga menyesal.
Di hadapannya kini, terlihat jelas di wajah putrinya yang bahagia dan juga berseri. Dari sudut pandangnya jika putrinya lebih nyaman dengan pria yang mengantarnya pulang ke rumah.
" Seperti biasa, anak kamu ini kabur kalau ada masalah." Sahut mamanya yang masih kesal akan kelakuan putrinya. Kabur dari rumah tanpa, memblokir nomer keluarga dan jika sudah merasa tenang putrinya akan menelpon sendiri tanpa harus di paksa untuk pulang.
" Hanya menenangkan diri saja ma!" Elak Zellin, lebih suka menyendiri jauh dari keluarga sementara waktu, agar tidak terlalu lebih lanjut akan pertengkaran yang entah kapan berakhirnya.
" Menenangkan diri atau malu di tolak sama pria yang mama jodohkan."
" Ma!" Tegur Papa Zellin, membuat istrinya diam dan melengos karena suaminya menegurnya di saat dirinya belum puas memarahi putrinya.
" Siapa Lin?" Tanyan Papa, menatap pria yang ada di belakang anaknya.
__ADS_1
" Kenalin pa?" Sambil tersenyum menatap Bima. " Dia Bima?" Ujarnya lagi.
" Bima, Om." Mengulurkan tangan ke hadapan Papa Zellin dan di sambut baik oleh papanya yang menerima jabatan tangannya.
" Tante?" Sapa hangat Bima, tapi tak mendapatkan respon baik dari mama Zellin. Hanya memasang muka datar dan angkuh.
" Mari duduk." Ajak papa Zellin, hanya mengangguk dan tersenyum.
Duduk di ruang tamu, menghadap ke dua orang tua Zellin, Hanya Mama Zellin yang tidak bersahabat dengannya. Pandangan sangat meremehkan dan juga terang-terangan menyukainya.
" Tidak usah basa-basi, apa tujuan kamu ke sini." Tanya Mama Zellin to the poin.
" Niat saya hanya ingin mengantarkan Zellin pulang tente, dan saya ingin melamar putri tante." Kata Bima, karena mama Zellin sudah tau akan maksud dirinya datang ke rumah Zellin.
" Punya apa kamu bisa membahagiakan putriku, pekerjaan hanya asisten. Tidak mempunyai perusahaan, bisnis, property, maunya nglamar anak saya yang kelasnya jauh beda jauh sama keluarga kamu." Terang dan pedas ucapan Mama Zellin membuat Zellin dan suaminya terkejut.
" Mama!" Tegur Zellin dan suaminya bersamaan.
Bima pun sudah tau jika akan mendapatkan hinaan dari mama Zellin untuk yang ke dua kali. Karena pertama kali mereka sudah pernah bertemu dan hal yang sama terucap kembali dari bibir wanita tua yang sombong.
Bertemu di cafe negara Zellin, duduk berdua berhadapan di tempat tidak terlalu ramai akan pengunjung. Mama Zellin yang menelpon dan meminta bertemu dengannya, menerima ajakan bertemu dan juga membahas tentang Zellin.
" Jika saya menyukai anak tante!"
" Jangan mimpi terlalu tinggi, karena saya tidak sudi mempunyai menantu seperti kamu."
" Seharusnya kamu pergi dari kehidupan anak saya, kami keluarga terpandang terhormat dan juga dari kalangan pebisnis, tidak seperti kamu. Yang bekerja sebagai asisten."
" Tinggalkan Zellin, jika kamu ingin melihat Zellin hidup bahagia."
Menyesakan di hati, hinaan dari bibir orang tua Zellin sangat di ingat dan sangat menyakitkan baginya. Walaupun begitu, dirinya tak pernah mundur jika Zellin masih ingin tetap bersamanya, masih ingin melaju bersama menghadapi rintangan yang akan datang. Dirinya akan tetap mencoba untuk membuktikan pada orang tua Zellin jika dirinya pantas bersama putrinya, meskipun kasta berbeda.
" Apa perlu aku ulang untuk dua kalinya tentang kita pernah bertemu, membahas putriku!" Kata Mama Zellin, mengingatkan kembali pada Bima.
__ADS_1
" Mama pernah bertemu dengan Bima?" Terkejut Zellin tidak mengetahui semuanya, dan Bima tidak pernah menceritakannya.
" Iya. Apa Pria itu tidak menceritakan semuanya Zellin." Tanyanya, memicingkan mata.
" Kenapa kamu tidak bilang Bim?" Tanya Zellin, menatap dalam Bima.
" Pantas saja anak itu tidak marah denganku." Gumam Mama Zellin, menatap Bima yang masih tenang di hadapannya.
" Mama bilang apa saja Bima." Tanya Papa Zellin, tidak mungkin istrinya itu tidak memaki orang.
" Sama seperti tadi yang mama bilang pa! Jika pria ini tak pantas dengan putriku. Apa lagi statusnya yang tidak jelas." Cibir Mama Zellin, membuat Bima mengerutkan kening
" Ma!"
" Memang iya kan. Dia anak yang enggak jelas asal-usulnya. Ayahnya pengedar narkoba, ibu meninggal karena penyakit menular, sering menjajakan diri pada pria hidung belang! Dan mama yakin jika dia bukan anak dari pengedar narkoba."
" Cukup tante!" Suara dingin dari Bima, menatap tajam Mama Zellin menghina orang tuanya.
" Kenapa! Apa saya salah, memang kenyataankan." Tantang Mama Zellin.
" Anda boleh menghina saya, tapi tidak dengan ke dua orang tua saya." Menahan Amarah meskipun sangat susah saat ke dua orang tuanya di hina oleh orang yang tidak tau kenyataannya.
" Bim?" Lirih Zellin merasa bersalah karena cacian Mamanya yang sudah mengetahui latar belakang Bima tanpa di beritahu.
" Mama tidak sudi dan tidak akan mau mempunyai menantu dari keluarga yang sangat menjijikan. Dan kamu Zellin, jika masih memilih itu jangan pernah lagi menginjakkan rumah ini dan jangan pernah anggap mama dan papa sebagai orang tua kamu lagi." Ancam Mama Zellin, membuat Zellin terkejut dan tertekan akan dua pilihan di depannya saat ini.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1