
Jangan tanya tentang kepastian, tapi tanyalah, kapan aku akan datang untuk melamar kamu.
.
.
.
.
Mengendarai motor dengan Mawar yang berada di boncengannya, sedangkan Angga di antar pulang oleh asistennya dengan mobil.
Setelah perdebatan dan penyesalan atas perlakuan paman dan bibik Mawar, yang memperlakukan keponakannya dengan kasar. Membuat putrinya menanggung malu dan di pecat sadis secara langsung tanpa ampun, dan akan di blacklist dari perusahaan besar yang bekerja sama dengannya untuk tidak menerima karyawan yang bernama Nita.
Walaupun sudah meminta maaf atas apa yang di perbuat olehnya dan ke dua orang tuanya pada Mawar, tapi tetap saja. Kevin tidak memberinya maaf, dan tidak mau berdamai dengan paman dan bibik Mawar yang bersujud padanya dan mengembalikan uangnya padanya serta berjanji tidak akan memperlakukan ponakan serta Nenek dengan kasar.
Percaya dengan ucapan paman dan bibik, tidak. Jika dirinya percaya, maka Kevin adalah orang bodah, yang terpengaruh dengan ucapan penyesalan saat mereka tau jika Kevin adalah orang kaya dan bos dari anaknya yang bekerja di perusahaannya dengan gaji yang sangat besar.
Dirinya di remehkan oleh paman dan di pandang sebelah mata oleh bibik dengan penampilan yang sederhana saat membantu Mawar untuk mengambil haknya.
Tidak terima akan perlakuan paman pada Mawar yang kasar dan tidak terima akan perlakuan bibik yang membuat nenek Mawar harus di larikan ke rumah sakit. Karenanya dirinya akan melakukan apapun untuk membuat Mawar dan keluarganya aman.
Jika saja dirinya tidak datang, mungkin bisa lebih sadis paman akan memperlakukan Mawar.
Tapi dirinya salut dengan Mawar, karena dia gadis yang tidak takut akan siapapun jika dirinya benar. Mempunyai hak atas apa yang dia punya dan akan mengambilnya walaupun banyak rintangan.
Mengusap tangan Mawar yang melingkar di perutnya saat berkendara, dengan Mawar yang menyandarkan dagunya di bahu Kevin.
Hal seperti ini yang Kevin selalu ingin kan, dari pada menaiki mobil yang tidak bisa membuatnya untuk lebih berdekatan dengan Mawar.
Modus!
Bilang saja ingin di peluk Mawar dari belakang! Meskipun dengan sedikit pemaksaan darinya, yang melingkarkan ke dua tangan Mawar terlebih dulu ke perutnya.
Sandaran ternyaman selain keluarga adalah orang yang di cintai dalam diam, tidak berani mengungkapkan perasaan kala dirinya takut di tolak lantaran statusnya yang berbeda jauh.
Antara langit dan bumi.
Tapi bisa memberi warna biru dan hitam, serta kuning dan putih dengan cahaya yang begitu terang. Dengan kedamaian yang selalu ada, berharap akan menyatu dengan perasaan.
__ADS_1
" Kita kerumah sakit." Ucap Kevin, membuat Mawar mengerutkan kening menatapnya begitu dekat tanpa jarak. Dengan Kevin yang bisa merasakan hembusan nafas Mawar.
" Kenapa ke rumah sakit." Tanya Mawar, membuatnya harus menetipan motornya sebentar dan menatap Mawar yang masih menyandarkan di bahunya.
" Nenek masuk rumah sakit." Jawab Kevin, dengan Mawar yang membulatkan mata, melepaskan pelukannya.
" Nenek, masuk rumah sakit." Lirihnya dengan menatap Kevin yang membalikkan badan padanya.
" I-,"
" Kenapa bisa masuk rumah sakit. Kapan! Kenapa enggak bilang ke aku dan kenapa Angga enggak bilang jug-,"
" Husst tenang?" Ucap Kevin.
" Gimana aku bisa tenang Mas! Itu Nenek aku masuk rumah sakit!" Jawab Mawar mulai menitikan air mata, terkejut mendengar Neneknya masuk rumah sakit dan tidak ada yang memberitahunya.
Bukan tidak ada yang mau memberi tau, tapi memang keadaan sedang kacau dan tegang saat Mawar datang ke rumah Bibiknya untuk mengambil sertifikat rumah. Dan urusan selesai kala Kevin datang, memberi uang serta pelajaran pada Bibiknya yang sombong dan pelit.
Mengusap air mata Mawar dan menggenggam tangannya yang mulai bergetar.
" Nenek sudah di tangani oleh dokter, Nenek tidak apa-apa. Kamu tenang ya."
" Aku tadi yang antar Nenek, meminta bantuan tetangga kamu." Jawabnya.
Ya, dirinya memutuskan untuk datang ke rumah Mawar kala teringat ucapan mamanya dan pergi meninggalkan apartemen saat mamanya sudah tidak ada di apartemennya.
Tidak jauh dari rumah Mawar, ia melihat Angga yang berteriak memanggil Mawar dan masuk ke dalam rumah dengan berlari cepat. Ingin dirinya mengejar Mawar, tapi melihat Angga yang berlari menangis dirinya pun memutuskan ke rumah terlebih dulu untuk melihat Angga.
Tepat ketika Angga keluar dengan tergesa dan menangis ia pun menghadang Angga, hingga Angga memberitahukannya jika Nenek tidak sadarkan diri.
Menyuruh Angga untuk meminta bantuan pada tetangga dan dirinya yang akan menggendong nenek keluar rumah untuk menuju ke rumah sakit terdekat.
Beruntung suster dan dokter dengan sigap menangani Nenek yang tak sadarkan diri, memberikan alat pernafasan dan alat detak jantung dengan kondisi nenek yang lemah.
" Aku takut!" Lirih Mawar, menyandarkan kepala di bahu Kevin menumpahkan tangisannya di sana.
" Jangan takut, ada aku." Jawabnya dengan lirih mengusap lembut punggung Mawar. " Kita ke rumah sakit ya." Ujarnya lagi, dengan Mawar yang sudah tenang dan menegakkan kepalanya menatap Kevin.
Hanya mengangguk dan mengusap air matanya. " Makasih?" Ucap Mawar tulus.
__ADS_1
" Aku akan selalu ada untuk kamu." Kata Kevin mengusap lembut pipi Mawar dengan tersenyum, membuat Mawar juga ikut tersenyum.
Menjalankan kembali motornya dengan kecepatan sedang, mengusap tangan Mawar yang melingkar kembali di perutnya tanpa dirinya meminta dan memaksanya. Dirinya tau jika Mawar rapuh dan membutuhkan sandaran untuk menumpahkan tangisannya.
Parkiran rumah sakit.
Memasuki lorong rumah sakit, memencet tombol lift menuju lantai empat dengan mereka berjalan tanpa sadar bergandengan. Dimana ruang inap vip sudah ia sewa untuk Nenek Mawar.
Membuka pintu cat putih dengan pelan, melihat brankar terisi dengan wanita tua yang terbaring lemah dengan infus, selang hidung dan beberapa alat medis di dadanya.
Sesak, pemandangan yang sangat menyedihkan. Dimana melihat orang yang di sayangi berbaring lemah di rumah sakit dengan seluruh alat medis di tubuhnya.
Berjalan pelan menuju brankar dengan air mata yang menggenang, di dampingi Kevin yang ada di belakangnya.
" Nek?" Lirih Mawar, mengusap lembut tangan keriput yang tertancap infus.
" Nek .. Ini Mawar Nek? Bangun Nek?" Ujarnya lagi dengan menangis yang tidak bisa di tahan.
" Bangun Nek.. Mawar sudah mendapatkan sertifikat rumah Nenek? Bangun ya Nek, Mawar sayang sama Nenek?" Pintanya lagi menciumi tangan Neneknya dan menatap wajah pucat Neneknya.
Mengusap lembut bahu Mawar " Jangan menangis." Ujar Kevin, menenangkan Mawar yang menangis kesenggukan.
Menuntunnya untuk duduk di sofa dan memberikan air minum pada Mawar yang sudah tidak menangis lagi.
" Makasih." Ucap Mawar menerima air minum dari tangan Kevin, dan meneguknya dengan pelan.
" Nenek pasti sembuh, yakinlah itu." Ucap Kevin dengan tersenyum.
" Ini semua karena aku!"
" Tidak, ini semua bukan salah kamu." Kata Kevin, memeluk Mawar untuk kembali menenangkannya. sungguh Kevin tidak suka melihat Mawar menangis, hatinya pun ikut sakit jika Mawar menangis.
Menenangkannya dalam pelukannya, mengusap lembut kepalanya dan ciumnya dengan hangat. Hingga Mawar merasa lelah dan tertidur di pelukannya.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃