Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
kelulusan part 1


__ADS_3

Mencari papan pengumuman di ruang kelasnya, begitu banyak siswa siswi saling berdesakan untuk mencari nama di dalam daftar kelulusan.


Dua gadis sahabat saling berteriak dan terkejut saat melihat namanya yang tertera dalam kelulusan sekolah.


" Aku lulus!" Teriak Mawar.


" Sama! Aku juga lulus!" Kata Lisa, begitu bergembira loncat-loncat kegirangan seperti anak kecil menang lomba tarik tambang. Saling memeluk erat sahabatnya yang juga sama lulusnya.


" Nilai maksimal gak papa yang penting lulus!" Ujar Lisa, mendapat nomer urutan ke dua puluh dengan rata-rata nilai maksimal. Dan Mawar di nomor ke urutan ke sepuluh dengan nilai sedikit baik dari Lisa.


" Yes, yang penting gak harus ngulang lagi." Jawab Mawar dan di anggukkan Lisa dengan semangat.


" Fahmi gimana?" Tanya Mawar.


" Samperin yuk! Aku penasaran sama tu anak." Ajak Lisa dan di anggukkan Mawar untuk ikut menemui Fahmi di kelas lain.


Berjalan cepat menuju ruang kelas Fahmi, begitu banyak riuk suara siswa siswi yang senang akan kelulusan.


" Fahmi?" Teriak Lisa dari luar kelas Fahmi, saat melihat Fahmi yang duduk di bangkunya.


Menghampiri Lisa dan Mawar dengan wajah menekuk membuat dua gadis di hadapannya heran dan saling memandang, ada rasa cemas dan takut dengan pikiran yang sudah mulai negatif.


" Ada apa?" Tanya Fahmi.


" Kok ada apa sih Fahm!" Seru Lisa mengerutkan kening dengan pertanyaan fahmi.


" Gimana? Kamu lulus." Tanya Mawar, begitu penasaran akan Fahmi. Hanya diam dan tak menjawab untuk pertanyaan Mawar. hingga Lisa dan Mawar mulai mengerti.


" Fahm?" Lirih Lisa, merasa ikut sedih melihat wajah Fahmi yang menunduk.


" Aku lulus." Jawab Fahmi, membuat dua gadis di hadapannya melebarkan mata mendengarnya dan memukul lengan kanan kiri Fahmi bersamaan.


" Fahmi!!" Teriak bersamaan Lisa dan Mawar, merasa sebal akan bercandanya Fahmi yang membuat mereka hampir menangis karena mengira dirinya tidak lulus sekolah.


" Hahahaha. Maaf!" Tawa Fahmi begitu pecah melihat expresi sebal Lisa dan Mawar. sedikut terobati hati yang galau akan beberapa hari tidak bertemu dengan dua teman wanitanya.


" Kalian lulus?"

__ADS_1


" Jelas dong kita lulus." Bangga Lisa, meskipun tidak mendapatkan nilai terbaik. Mawar hanya bisa mengangguk dan tersenyum melihat Lisa begitu senang dan bangga.


" Tapi nilaimu masih di bawah Mawar kan!" Ejek Fahmi.


" Enggak papa, yang penting bisa lulus dari pada menetap lagi satu tahun." Sungut Lisa, sedikit sebal karena Fahmi mengejeknya. Tidak ada rasa iri dan marah pada sahabatnya yang nilainya lebih bagus darinya, karena memang kemampuannya sudah semaksimal mungkin dan bangga bisa mengerjakan sendiri tanpa menyontek.


Memang mengakui Mawar gadis yang sedikit cerdas, gigih dan wanita kuat. jika di bandingkan dirinya, ia hanya gadis manja, cengeng dan cerdasnya tidak seberapa, tapi bisa mengerjakan ujian dengan baik.


" Aku bangga sama kamu." Puji Fahmi dengan senyum tulus, membuat Lisa salah tingkah dan malu.


" Aku juga, bangga sama temanku satu ini." Puji Mawar, dan Lisa pun tersenyum mendengar pujian dari dua temannya yang begitu berarti baginya.


" Gak ada traktir-traktiran ya!! Lagi bokek." Cibir Lisa, hingga Fahmi dan Mawar tertawa.


" Oke, hari ini biar bos wanita yang traktir." Kata Fahmi, Lisa pun melebarkan senyuman menatap Mawar yang mengerucutkan bibir.


" Cih, selalu saja!" Ucap Mawar. " Ayo?" Ajaknya dengan senyum, Lisa pun semangat menggandeng tangan Mawar dan berjalan bersama di ikuti Fahmi dari belakang.


****


" Iya." Jawab Bima, sudah bosan di tanya terus menerus oleh Kevin.


" Mau balikan sama mantan kamu?


" Enggak, dia mau nikah." Kata Bima, kala mendapatkan undangan pernikahan dari wanita yang pernah ada di hatinya.


Ya, Zellin datang beberapa hari yang lalu ke apartemen Bima dengan wajah yang ceria dan juga senyum yang mengembang. Datang memberi kabar dan juga memberi satu undangan berpita emas, dengan nama Bima sebagai tamu undangan, bukan sebagai mempelai pengantin pria.


" Datang ya?" Pinta Zellin dengan senyum merekah di bibirnya. Entah itu senyum bahagia atau terpaksa yang di tunjukkan ada dirinya.


Dan Bima hanya bisa mengangguk, juga tersenyum untuk membalasnya. Ada rasa sedikit berbeda dari mereka, tidak seperti dulu yang begitu dekat, saling berpelukan dan bergandengan tangan. Kini seperti ada jarak yang membentang di tengah- tengah mereka serta kembali seperti teman yang mencoba menjauh saat ada yang sedang membutuhkan.


" Terus! Kenapa mau pindah ke singapure?" Masih penasaran akan perpindahan Bima yang terbilang sangat mengejutkan.


" Perusahaan sedang melaju pesat, harus berbuat kewaspadaan pada orang yang kita percaya, mencoba membocorkan rahasia hanya demi imbalan yang besar." Alasannya, sedikit masuk akal tap masih tetap Kevin tak mempercayainya.


" Tidak masuk akal!" Gumam Kevin, membuat Bima melengkungkan bibir.

__ADS_1


" Setelah Mawar wisuda keluargaku akan mengadakan pesta pernikahanku dengan Mawar." Kata Kevin.


" Kapan dan di mana?" Tanya Bima, dirinya tau jika Kevin dan Mawar sudah mendapat restu dari orang tuanya.


menerimanya dengan tangan terbuka, tidak mempedulikan status Mawar, tetap memberikan hak pada Mawar kala Kevin sudah membuat hidup Mawar berubah. Dan kedua orang tua Kevin menganggapnya sebagai anaknya juga, Tidak membedakan antara menantu dan anak. Tidak ada rasa malu mempunyai menantu dari kalangan bawah.


" Kapan kamu berangkat ke singapure." Tanya balik Kevin.


" Tidak sampai satu bulan. Setelah selesai dengan cabang kantor di sini." Jawab Bima, membuat Kevin mengangguk.


" Hari ini kelulusan Mawar, mungkin satu minggu lagi aku akan mengumumkannya bersama orang tuaku yang akan datang." Kata Kevin.


" Di sini?" Tanya Bima.


" Tidak, di singapure." Kata Kevin, membuat Bima mengangguk karena memang keluarga Kevin berada di sana, hanya Kevin yang memilih tinggal berbeda negara.


" Siapkan pernikahanku." Kata Kevin.


" Aku bukan asisten kamu lagi!" Seru Bima, mengingatkan Kevin jika dirinya bukan lagi asistennya melainkan rekan bisnis dan teman.


" Lupa?" Jawab Kevin dengan tertawa menyadari saat Bima bilang padanya.


" Kalau begitu pergi sana! Aku sibuk." Usir Kevin pada Bima yang datang ke kantor Kevin dengan sesuka hatinya meskipun dirinya bukan karyawan kantor Kevin. Dan semua karyawan Kevin sudah tau jika Bima teman bosnya dan tidak ada yang bisa melarangnya datang untuk berkunjung ke kantor Kevin.


" Hais!" Keluh Bima dan melihat jam tangan di pergelangannya. " Baiklah! Buat tu asisten baru betah bersama mu." Ujar Bima, berdiri dari duduknya dan merapikan pakaiannya.


" Hmm, iya!" Jawab Kevin mendongakkan kepala menatap mantan asistennya yang sekarang sudah menjadi teman bukan bawahannya lagi.


" kabari jika tidak jadi pindah rumah." Kata Kevin, berharap keputusan Bima bisa berubah dan tidak akan menetap di singapure.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2