Not A Paid Lover

Not A Paid Lover
Dosa


__ADS_3

Aku terbang jauh, bagai burung merpati sedang memadu kasih, terbang bersama tanpa henti.


.


.


.


.


Gelenyar aneh menggelitik perut, hati yang berdebar kencang, mata yang membulat sempurana saat merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya tanpa permisi, tanpa aba-aba dan tanpa memberitahunya terlebih dulu.


Kenyal, basah dan hangat, bisa membuatnya menegang saat ia terkejut akan serangan manis secara tiba-tiba.


Masih diam, tidak memberontak, dan tidak menolak ketika benda kenyal masih menempel di bibirnya.


Bukan hanya itu saja, tangan yang menyentuh pinggang dan lehernya dengan lembut membuatnya seakan mabuk dengan sentuhan darinya.


Saling merapatkan tubuh, dengan tidak saling bergerak ataupun memulai permainan. Hanya menempel dan belum memberikan gigitan kecil saat dia tidak ingin wanitanya menolak dan melukainya. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali melakukannya.


Mengusap lembut leher dan ujung telinganya, membuat sang wanita menggeliat, membuat celah bibir yang mulai terbuka. Hingga Kevin, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memulainya saat dia mengira Mawar mengijinkannya.


Menggigit kecil bibir bawah, memulai menyesap dan memberikan kesempatan untuk Mawar membalasnya.


Awalnya tidak membalas, membuat Kevin merasa kecewa dan saat ia akan menyudahinya, tanpa di sangka Mawar menyesap bibir bawahnya, membalasnya dan mencengkram bajunya.


Mengeratkan pelukan, saling membalas, saling memadu kasih, saling mendamba saling menginginkan tanpa adanya paksaan.


Memulai terlebih dulu, memberikan sesapan kecil di ceruk leher yang mulus. Memberikan sensasi yang sangat memabukkan, menggelitik perut yang tak kunjung henti, hingga tanpa sadar dirinya mendesah. Membuat dia semakin menginginkannya, semakin menggila dan semakin ingin menikmatinya.


Tidak mempedulikan Mawar menolaknya atau tidak, ia akan tetap memaksa untuk melakukannya, karena ia ingin memilikinya, karena dirinya terpengaruh dengan kecemburuannya


Tidak di sangka jika Mawar juga menginginkannya, juga mau di sentuh dengannya dan membuatnya semakin ingin melakukannya.


Gairah yang sama-sama memuncak, gelap akan pikiran yang sudah mulai ingin merasakan nikmat surga tanpa harus di hentikan, membuatnya tidak sadar apa yang sudah di lakukannya.

__ADS_1


Bukan dirinya saja, tapi dia yang juga menyadari akan apa yang telah ia lakukan dan mau menuruti perkataan setan untuk tetap melakukan dan tidak memberhentikannya. Sungguh beginikah rasa nikmatnya surga dunia untuk pertama kalinya.


Melakukannya pada orang yang di cintai, yang menyewanya sebagai kekasih bayaran, yang merebut mahkotanya dan merebut masa depannya.


Disinilah mereka sekarang, Ranjang yang besar, sprai yang berantakan dan selimut yang menutupi punggung mulus tanpa sehelai benang yang membelakanginya.


" Maaf?" Ucap Kevin, menyandarkan badannya yang telanjang dan penuh keringat di sandaran ranjang, sambil menatap punggung Mawar. yang telah ia jelajahi seluruh tubuhnya.


Menutup mata, menggigit bibir bawahnya, menahan suara tangis yang membasahi pipinya. Saat dirinya menyadari telah melakukan dosa besar dan perbuatan yang menjijikkan sebelum menikah. dan pastinya aib bagi keluarga.


Entah kenapa ia begitu saja mau melakukannya, entah kenapa ia bisa terbua dengan sentuhan lembut dari Kevin yang membuatnya hilang akal dan mau memberikan mahkotanya pada orang yang menyewanya.


Dirinya bukan hanya pacar sewaan, tapi juga seperti wanita malam yang mau melakukan hubungan ranjang karena uang.


Bukan, dirinya bukan wanita malam, tapi dirinya menyerahkannya karena terbuai dengan sentuhan Kevin dan dirinya juga jatuh cinta dengan dia yang bisa membuatnya nyaman dan tenang berada di sisinya.


" Maaf? Aku akan bertanggung jawab." Ucap Kevin lagi, saat Mawar tak mau membalas ucapannya ataupun berbalik menatapnya.


Sungguh, Kevin menyadari jika yang dirinya perbuat telah merenggut masa depan pacar sewaannya.


Ada rasa senang dan juga ada rasa takut.


Senang bisa mendapatkan Mawar yang masih perawan dan takut Mawar membencinya karena ulahnya.


Dirinya tidak membenci Kevin, tapi membenci pada dirinya sendiri karena tidak bisa menolak akan sentuhan dari orang yang membuatnya nyaman.


melilitkan selimut di tubuhnya, duduk di tepi ranjang, mengambil pakaian yang ada di lantai dan berjalan menuju keluar kamar dengan dirinya yang masih malu dengan Kevin.


Melihat Mawar berjalan pelan menuju keluar kamar dengan menggunakan selimut menutupi tubuhnya tanpa melihat dan berkata dengannya, membuatnya benar-benar takut jika mawar marah dengannya.


Melihat tempat yang di tiduri Mawar, bercak noda darah yang terlihat jelas membuatnya tersenyum jika dirinya memang meniduri gadis perawan.


Kevin memungut pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri dan akan menemui Mawar kembali untuk meminta maaf dan berjanji dirinya akan bertanggung jawab. Serta akan menikahinya, meskipun dia masih sekolah.


Menangis kesenggukan, menyalakan sower untuk membasahi tubuhnya yang penuh dengan tanda merah karena ulah Kevin.

__ADS_1


Ia sangat jijik dengan dirinya sendiri, sangat malu dengan perbuatannya, sangat takut akan masa depannya yang belum dirinya mulai untuk merubah nasib.


Aku akan bertanggung jawab! Ucapan Kevin selalu ada di dalam otaknya. Seakan dirinya percaya bila Kevin akan bertanggung jawab nantinya, jika apa yang tidak di harapkan terjadi dalam dirinya.


Maafin, Mawar Nek maafin Mawar ayah, ibu!" Gumam Mawar dalam hati. Dan mulai bangkit dari duduknya yang cukup lama.


Maafin Aku Tuhan, Maaf!!" Ujarnya lagi, meminta maaf pada pencipta telah melakukan dosa.


Membersihkan diri dan mulai untuk tidak menangis kembali saat apa yang sudah terjadi tak akan bisa di kembalikan lagi.


Kevin yang menunggu Mawar di samping kamar mandi saat dirinya terlebih dulu selesai mandi dan cemas akan Mawar yang tak kunjung keluar.


Saat pintu kamar mandi terbuka dengan Mawar yang terlihat segar dengan rambut basah dan saling menatap beberapa detik sebelum Mawar memutuskan kontak mata dan menundukkan kepala.


" Kita perlu bicara Ar?" Kata Kevin.


" Mas Kevin mau makan? Aku sudah menyiapkan makanan di meja makan." Alih Mawar, dengan senyum agar Kevin tidak lagi membahasnya.


Melihat Mawar yang tersenyum, dia mau berbicara padanya dan tak ingin membahas masalah ranjang dengannya, membuatnya tidak meneruskan ucapannya dan tidak lagi membahasnya.


Ia pun hanya tersenyum dan mengangguk. Mengikuti langkah Mawar yang terlebih dulu menuju meja makan, menyiapkan nasi dalam piring dan juga air putih.


" Temani aku?" Pinta Kevin memegang tangan Mawar yang akan pergi dari sampingnya.


Hanya tersenyum dan duduk menemani Kevin makan dengan lahap saat Kevin memintanya untuk makan, tapi dirinya menolak dengan alasan masih kenyang.


Tidak bisa memaksa lagi, sudah cukup menemaninya makan dan mau berbicara padanya saja, Kevin bersyukur.


Dan dirinya berjanji akan bertanggung jawab pada Mawar meskipun hal yang tidak terjadi, ia akan tetap bertanggung jawab. Karena dirinya sudah jatuh cinta pada gadis yang menjadi pacar sewaannya.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2