
" Bagaimana keadaan putri saya dok?" Tanya Mama mertua, kala dokter telah selesai memeriksa menantunya.
" Saya tidak bisa memastikan lebih lanjut buk?" Jawabnya dengan senyum.
" Maksud dokter apa!" Timpal Kevin dengan cepat, tidak tau maksud dokter apa hingga dirinya sedikit emosi.
" Kevin!" Tegur mama Kevin dengan anaknya yang sedikit tidak sopan pada dokter.
" Sebaiknya putri ibu segera di bawa ke dokter kandungan, untuk hasil yang lebih lanjut." Jawab Dokter. " Karena kemungkinan, putri ibu sedang hamil." Imbuhnya dengan senyum, membuat Mama, Kevin dan Mawar terkejut.
" Hamil?" Ucap Kevin dan Mama mertua bersamaan.
" Aku hamil." Lirih Mawar, mendengar jawaban dokter yang sangat mengembirakan bagi para istri.
" Kemungkinan Mbak?" Jawab Dokter yang bukan dokter kandungan. " Mangka dari itu saya sarakan untuk segera ke dokter kandungan, agar jelas dan akurat." terangnya kembali, karena itu semua bukan keahliannya dan dokter pun takut jika ucapannya salah akan membuat keluarga pasien kecewa.
" Baik dok?" Kata Mama Kevin dengan senyum saat dirinya juga benar yakin, jika menantunya itu hamil. Dan tidak ada keraguan lagi kala dokter harus menyarankan Mawar untuk di bawa ke dokter kandungan.
Sungguh, ini sangat kabar yang mengembirakan jika Mawar benar hamil dan keluarga Kevin akan mendapatkan cucu kembali dari anak pertamanya.
" Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter laki-laki muda, di mana Kevin terlihat jelas sangat cemburu saat melihat dokter yang akan memeriksa istrinya laki-laki.
Tapi, rasa cemburunya sedikit menghilang saat mendengar dari dokter muda itu mengatakan jika istrinya hamil, hingga membuatnya senang dan melupakan rasa cemburu itu dan tergantikan dengan kebahagiaan.
" Mari saya antar?" Ramah Kevin, membuat dokter muda itu tersenyum menggelengkan kepala dan mengangguk. Bagaimana tidak menahan tawa saat dokter muda itu tau jika suami dari pasiennya cemburu karena memeriksanya. Sungguh suami yang posesif.
" Mama?" Lirih Mawar, membuat mama mertua menghampirinya, menggenggam tangan menantunya dan tersenyun hangat padanya.
" Kita ke rumah sakit sekarang." Ajak Mama mertua sangat jelas ketara bahagia dan juga semangat.
" Aku takut Ma? Takut jika itu ti-,"
__ADS_1
"Husstt.!" Cegah Mama mertua, untuk Mawar tak bilang sesuatu.
" Mama yakin? Sangat yakin, percayalah nak." Ucap Mama mertua, meyakinkannya untuk yakin dan tidak perlu takut untuk memeriksanya ke dokter.
Hanya mengangguk dan tersenyum untuk mertuanya yang sudah menyemangati dan meyakinkannya.
" Sekarang mandi, dan siap-siap Ar? Mama tunggu di bawa." Ucap Mama mertua, mengusap punggung tangan menantunya sebelum keluar dari kamar menantunya.
Menatap punggung mertua yang begitu semangat dan juga bahagia, membuat dirinya ragu dan juga semakin takut jika itu tidak kenyataan akan membuat mertuanya kecewa dan sedih. Bukan itu saja, dirinya juga akan sangat sedih dan mulai mengingat kembali tentang calon bayinya.
Setetes air mata jatuh dari pipinya dan membuka mata saat ia mendapatkan usapan lembut dari tangan sang suami yang duduk di hadapannya.
" Mas?" Lirih Mawar, menghambur dalam pelukan suaminya mencurahkan rasa takut dengan menangis di dada suamiya.
" Kita coba ke dokter ya, jika belum rejekinya enggak papa jangan sedih. Kita bisa berusaha lagi." Ucap Kevin, menenangkan sekaligus menghibur istrinya untuk tidak mudah putus asa dan juga takut memeriksa ke dokter kandungan.
Bukan Mawar saja yang takut, dirinya pun juga takut tapi rasa takut itu bisa ia sembunyikan saat melihat istrinya termenung dan meneteskan air mata.
" Iya." Lirihnya, begitu tenang suaminya menenangkannya, mengusap punggung dan menciumnya.
" Ini untuk kamu?" Ucap pria paruhbaya duduk di depan gadis yang merasa sedikit takut dan juga bingung.
" Ini apa Om?" Tanyanya, melihat amplop coklat tebal di hadapannya. Mulai mengambilnya dan begiti terkejut mengetahui isinya.
" Itu buat kamu Lisa?" Sambung wanita paruhbaya yang juga masih cantik.
Mengerutkan kening, tak tau apa yang di maksud oleh sepasang suami istri yang ada di hadapannya ini. Di saat mereka memintanya untuk menunggu di salah satu cafe dalam bandara. Ya siapa lagi jika bukan ke dua orang tua Fahmi, yang ada di hadapan Lisa sekarang.
" Untuk aku!" Tanyanya, masih bingung dengan maksud orang tua Fahmi.
" Itu untuk kamu yang sudah mau datang ke bandara, menemui Fahmi." Jawab Mama Fahmi.
__ADS_1
" Ambillah." Imbuh Papa Fahmi.
" Terima kasih, tapi aku tidak mau menerimanya om, tante." Tolak halus Lisa, menggeser kembali amplop coklat itu tepat di hadapan ke dua orang tua Fahmi, yang kini menatapnya dengan mengerutkan kening.
" Aku menemui Fahmi memang karena sudah janji padanya. Dan itu harus aku tepati om, tante." Ujarnya kembali.
" Termasuk janji kamu untuk menunggu Fahmi kembali setelah lulus kuliah." Sahut Papa Fahmi. Membuat Lisa sedikit terkejut.
" Jangan pernah nunggu Fahmi, biarkan dia fokus dengan kuliahnya. Dan biarkan dia mengejar cita-citanya yang ingin sukses, tanpa hambatan cinta." Tekan Papa Fahmi, seakan Lisa mempengaruhi dan menghalangi cita-cita Fahmi serta menyalahkannya atas apa yang Fahmi dulu sempat menolak untuk pergi keluar negeri.
" Saya tidak menghalangi Fahmi om, saya justru mendukungnya untuk mengejar cita-citanya." Jawab Lisa, seakan dirinya tak terima akan papa Fahmi yang menyalahkan atas semuanya. Dan Mama Fahmi hanya diam tak mengucap satu kata pun.
" Saya tau, dan satu yang saya minta dari kamu. Mulai sekarang jangan pernah ganggu Fahmi. Fokuslah dengan cita-cita kamu, agar kamu bisa menyeimbangkan pasangan kamu nanti. biar keluarga pasangan kamu tidak malu mengenalkan kamu pada siapapun." Kata Papa Fahmi, yang membuat hati Lisa bergitu tertusuk mendengarnya.
Bagaimana tidak sakit hati, saat sindiran halus begiti keluar dari bibir papa Fahmi, yang jelas tidak ingin putranya mendapatkan kekasih seperti Lisa apa lagi tentang keluarganya begitu jauh dengan keluarga Lisa. Perbedaan sangat jauh dan lagi-lagi semua itu tentang kasta, martabat dan juga kedudukan.
Sangat membosankan dan sangat menyakitkan.
" Saya rasa cukup sampai di sini, ayo Ma kita pulang." Mengakhiri percakapannya pada Lisa dan mengajak istrinya untuk pulang saat ia sudah memberi larangan pada Lisa untuk tidak mendekati putranya dengan cara yang halus dan tidak kasar. Walaupun sebenarnya itu sangatlah menyakitkan.
" Tante pulang dulu Lisa?" Kata Mama Fahmi, seakan mengerti perasaan dan sakit hati seorang wanita.
tidak Menjawab, hanya menunduk serta meremas kuat tasnya untuk menahan marah dan juga emosi di depan umum agar tidak membuat keributan.
Sepeninggal ke dua orang tua Fahmi, Lisa pun mulai mengangkat kepala. Melihat amplop coklat yang masih ada di meja, Mengingatkanya kembali ucapan Papa Fahmi untuk tidak menunggu putranya, mengganggunya, menjauhinya dan juga mengingatkannya akan statusnya.
Ia pun mengambil amplop coklat itu, memasukkanya ke dalam tas, berdiri dari duduknya dan meninggalkan cafe dengan rasa yang sangat membuatnya akan ingat selalu.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃