
Hanya satu kata yang ingin aku dengar, Cinta dari bibir manismu.!
.
.
.
.
" Ar kamu telpon, ada apa?" Pesan dari Fahmi beberapa jam yang lalu saat dirinya sudah tidak lagi membutuhkannya. Bukan tidak membutuhkan, hanya saja malu karena dirinya baru saja berbaikan padanya dan tak mungkin untuk meminta bantuannya.
" Maaf, tadi tidak sengaja kepencet." Balas Mawar, membuat cowok yang sedang menunggu pesannya merasa senang untuk pertama kalinya Mawar membalas pesannya, walaupun dengan kata yang sedikit membuat hatinya kecewa.
" Oh.. Kamu lagi apa? Sudah belajar." Tanya Fahmi.
Ingin rasanya Mawar tidak mau membalas pesan Fahmi, dirinya takut jika Fahmi masih mengharapkannya dan akan membuatnya kecewa lagi. Walaupun sebenarnya memang Fahmi masih mengharapkan cintanya.
" Hmm, sudah." Balas Mawar, tidak ingin bertanya kembali. Lebih baik begini saja, menjaga jarak untuk tidak terlalu bertanya.
" Sudah malam, selamat tidur semoga mimpi indah." Pesan Fahmi, yang masih perhatian dengannya dan mengucapkan selamat tidur padanya.
" Iya, semoga mimpi indah juga." Balas Mawar walaupun enggan untuk mengucapkannya.
" Iya.:)" Dengan emote senyum. Dan Mawar tak lagi membalas, meskipun Fahmi masih menunggu balasan pesannya. Sambil memandang foto profil Mawar yang tersenyum manis dan melihat Mawar yang masih Online.
" Kamu masih online, tapi tidak mau membalas pesanku lagi." Gumam Fahmi, senyum kecewa memandang chatnya dengan Mawar yang hanya sedikit.
Mawar yang memang masih online, bukan membalas chat Fahmi. Melainkan melihat foto profil milik Kevin, memandangnya dengan tersenyum cukup lama.
Mengingat dirinya yang memeluk Kevin dengan manangis kesenggukan, dan Kevin yang menenangkannya dengan usapan lembut serta dia yang tidak melupakan dirinya, berkali-kali dia meminta maaf padanya dan tak pernah sedikit pun melepas genggaman tangannya saat berjalan bersama.
Manisnya perlakuan Kevin membuatnya terharu dan mulai ada sedikit rasa walaupun sebenarnya ia membantah hatinya untuk tidak mencintai pria yang menyewanya.
Teringat bagaimana ia melihat Kevin yang seperti masih ada rasa cinta pada mantan kekasihnya. Tapi dia lebih memilih bersama dirinya untuk menelampiaskan rasa cintanya yang dihianati oleh mantan kekasihnya. Sebagai kata untuk melupakan mantan kekasihnya.
Tersenyum kecut menatap kembali foto profil Kevin, hingga dirinya sedikit terkejut saat ponselnya berbunyi panggilan dari foto yang dirinya lihat.
" Mas Kevin?" Gumam Mawar hingga dirinya mulai mengangkat telpon yang masih berdering.
__ADS_1
" Kenapa belum tidur?" Tanya dari sebrang sana, dengan Mawar menggigit bibir bawah dan berpikir keras dari mana dia tau dirinya belum tidur.
" Hhmm, kenapa?" Ulangnya lagi.
" Tau dari mana aku belum tidur?" Tanya balik Mawar.
" Dari tadi online, chat sama siapa?" Ucap Kevin.
" Enggak chat sama siapa-siapa, Mas sendiri kenapa belum tidur." Tanya Mawar yang mulai merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling. Tersenyum sedang menelpon dengan Kevin yang sedari tadi ia pikirkan.
" Belum mengantuk, masih banyak pekerjaan." Jawab Kevin, yang di sebrang sana sama seperti Mawar tersenyum sendiri mendapatkan perhatian dari gadis pacar sewaannya dan panggilan 'Mas' dari Mawar membuatnya merasa senang.
" Besok kan hari libur, kenapa masih mengerjakan pekerjaan."
" Dari pada nganggur gak ada yang mau di ajak jalan." Ucap Kevin.
" Oh!! Belum puas nich ceritanya tadi jalan ke mall!!" Kata Mawar. " Memang siapa yang mau di ajak jalan lagi, Mantannya atau kekasih barunya." Ujarnya lagi, dengan bibir mengerucut.
" Maunya ngajak jalan sama yang aku telpon ini, tapi kasihan dia capek seharian jalan ke mall, pakai acara nangis pula." Ejeknya.
" Ya kan gara-gara kamu mas!!" Seru Mawar, " Gak bawa tas gak bawa dompet kamu tinggalin gitu aja! Apa lagi ketemu mantan, akunya di lupain." Cetus Mawar tanpa sadar dan mulai berani membuka percakapan yang lebih.
" Terus mantan Mas kemanain?" Tamya Mawar, yang baru sempat bertanya padanya.
" Aku titipin sama satpam mall."
" Ha!!" Terkejut Mawar, mendapat jawaban dari Kevin menitipkan mantannya yang pingsan pada satpam mall hanya demi dirinya.
" Sudah malam cepat sana tidur." Perintah Kevin, yang sebenarnya dia masih ingin mengobrol lebih lama, hanya saja gengsi karena dirinya hanya sebatas rekan kerja tidak lebih.
Meskipun begitu entah kenapa dirinya tiba-tiba menelpon dan selalu saja mengajak Mawar jalan. Mungkin dirinya sudah terlalu nyaman untuk bersama dengan pacar bayarannya atau sudah ada rasa dengan Mawar.
" Hmm, iya." Jawab Mawar lesu, seakan dirinya juga tak mau untuk mematikan ponselnya. Masih ingin mengobrol dengan Kevin, tapi dirinya malu untuk mengucapkannya.
" Selamat malam, have a nice drem?"
" Have a nice drem too." Jawab Mawar, mengalihkan ponsel dari telinga untuk menatapnya, tapi tak kunjung juga mematikan panggilannya.
Sama seperti Kevin yang belum mematikan panggilannya juga. Hingga beberapa menit, Kevin mematikannya terlebih dulu.
__ADS_1
Jantung yang berdebar, serta bibir yang sedari tadi senyum-senyum sendiri membuatnya tidak bisa tertidur, menggulingkan badan ke kanan ke kiri masih sulit untuk mencoba tidur.
Duduk dari tidurnya, menyandarkan tubuhnya di ranjang dan menggerutu sendiri. " Jantung ini kenapa masih dag dig dug sih!! Kan aku enggak bisa tidur!!"
" Aku enggak mau jatuh cinta dengan dia, aku takut Tuhan." Lirihnya, mengusap wajahnya yang mulai frustari dengan hatinya.
Merebahkan tubuhnya kembali, mencoba untuk tidak memejamkan mata dan tidak memikirkan pria yang menyewanya sebagai pacar bohongan.
****
" Mawar? bangun Ar?" Ketukan pintu kamar di pagi hari, suara nenek yang membangunkannya kala dirinya masih mengantuk karena tidur di jam satu malam dengan dia sulit sekali menutup mata dan menenangkan hatinya.
" Ar? Bangun?" Ucap Nenek kembali, membuat Mawar perlahan membuka mata.
" Iya Nek?" Jawabnya lirih, menggeliatkan tubuhnya, berdiri dari tidurnya dan berjalan menuju pintu yang masih di ketuk dari depan.
" Ada apa Nek, Mawar masih mengantuk?" Ucap Mawar setelah membuka pintu dan menguap.
" Ada yang nyariin kamu?" Kata Nenek, mengerutkan kening pagi-pagi sekali ada yang mencari dirinya.
" Siapa Nek, Lisa?"
" Bukan, laki-laki?" Jawab Nenek dan berjalan menuju dapur meninggalkan Mawar yang masih memikirkan laki-laki di pagi hari datang ke rumahnya.
Dan hanya satu laki-laki yang pernah datang ke rumah Mawar, hingga itu membuatnya tersenyum.
Berjalan menuju kamar mandi sebelum menemui laki-laki yang semalam menelponnya.
Membasuh muka, menggosok gigi dan membenarkan rambut yang berantakan. Berjalan menuju ke depan untuk bertemu laki-laki itu.
Dan ketika sudah sampai di depan pintu, dirinya sedikit terkejut mengerutkan kening mendapati laki-laki yang ternyata bukan dia yang membuat malamnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Dan laki-laki itu berdiri dari duduknya dan tersenyum menyapa Mawar.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃