
Doain yahh biar karya author bisa melejit kayak karya pertama 🤗
Like nya jangan lupa guys 🥰
************
Tampan melangkah kan kedua kakinya masuk kedalam restoran Bintang tempatnya bekerja, selama hampir setahun ini.
Dia yang dulunya bekerja sebagai tenaga bantu dalam hal kebersihan, kini bisa naik pangkat menjadi pelayan di restoran ini. Setidaknya begitulah pikiran Tampan, dan dia bangga dengan salah satu pencapaian nya itu.
Tampan dibantu masuk kesana melalui satu teman angkatannya waktu SMA, yang kebetulan adalah ponakan dari yang punya restoran mewah dengan harga diatas ratusan ribu itu.
Biasanya Tampan masuk pukul empat sore dan jika weekend (akhir pekan), dia masuk pukul tiga sore sampai tengah malam.
Setiap hari kegiatan Tampan kalau bukan kuliah, bekerja. Karena sekarang semua tempat menimba ilmu sedang dirumahkan, lelaki itu bisa masuk seharian penuh. Namun jika ada kuliah online tiba-tiba, dia akan meminta izin pada Manager restoran.
"Tam.. ada tamu di meja nomor sepuluh", ucap rekan kerja Tampan.
"Ok.."
Tampan mengambil buku menu dan note kecil yang biasa restoran mereka gunakan untuk menulis pesanan pelanggan.
"Selamat siang tuan dan nona.. Selamat datang di restoran Bintang. Silahkan buku menu nya.." ucap Tampan sopan.
Seorang wanita muda dengan pria yang mungkin adalah pacarnya, duduk saling berhadapan. Si wanita terlihat tidak nyaman berada satu meja dengan prianya, begitu yang ditangkap oleh Tampan.
"Mau makan apa kamu?", tanya si pria.
"Gue udah bilang kalo gue nggak laper! Maksa banget sih Lo!", jawab si wanita ngegas.
Oh.. lagi marahan kayaknya mereka ini, pikir Tampan. Dia jadi nggak enak dan serba salah berdiri di dekat meja mereka, yang ingin menuliskan pesanan kedua tamu yang baru datang.
"Ngomong aja langsung kenapa sih.. Jangan buang-buang waktu gue disini! Kalo mau putus, ya putus aja. Nggak usah sok-sokan mau traktir gue makan dulu baru Lo ninggalin gue!", sambung wanita itu lagi.
"Siapa juga yang mau putusin kamu Vi.. Sekalipun kamu maksa aku buat mutusin kamu, aku nggak akan pernah dan nggak akan mau mutusin kamu! Inget itu!."
Si pria terlihat mulai terpancing emosi karena wanita yang sepertinya adalah pacarnya, berbicara dengan nada sedikit berteriak membuat tamu lain melirik ke arah mereka.
Belum lagi dengan kehadiran Tampan di dekat mereka, membuat si pria lebih tidak enak lagi.
__ADS_1
"Mm.. Maaf jika saya menyela, tapi jika sudah mau memesan bisa nanti panggil saya lagi. Permisi.." ujar Tampan ragu-ragu.
"Tunggu.. ngggak perlu, kami sudah mau memesan. Tolong bawakan minuman dingin lemon tea dua, dan udang goreng tepung satu serta iga bakar satu", jawab si pria lantang.
"Baik.. Mohon ditunggu sebentar."
Tampan pun berlalu meninggalkan dua pasangan muda mudi yang masih perang dingin.
Entah mengapa dia jadi sedikit penasaran dengan masalah keduanya, sampai si wanita berkata ingin putus pria itu.
Sepertinya mereka bukan orang sini, dari logat mereka pun Tampan tahu kalau mereka pasti wisatawan dari Ibukota Indonesia yang memang sering mampir kesini.
Braaaakkkkkk....
Tiba-tiba bunyi meja di gebrak terdengar, membuat pelanggan dan pegawai restoran terkejut.
Sepertinya si pria mulai kehabisan kesabaran menghadapi pacarnya yang sejak tadi terus mengoceh ingin putus dengannya. Si pria lalu berdiri dan mencengkram mulut wanita itu dengan kuat.
Kekasaran nya pada wanita yang berstatus sebagai pacarnya langsung menjadi perhatian pelanggan direstoran yang mulai risih, karena terganggu dengan keributan yang dibuat pasangan itu.
Tampan yang melihatnya seketika geram, dia paling tidak suka melihat seorang wanita diperlakukan dengan kasar oleh seorang pria yang katanya adalah pacarnya sendiri.
Tampan meringis tidak tega saat si pria mendorong wajah pacarnya yang memerah akibat di cengkram kuat olehnya.
"Maaf.. Maafkan kami, tolong dibungkus saja makanannya. Kami tidak jadi makan disini", ucap pria itu bersikap tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
"Anda baik-baik saja nona?."
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Tampan, dia jadi membayangkan kalau itu adalah kakak perempuannya Cantik.
Si pria mengernyit tidak suka melihat seorang pelayan restoran yang memberi perhatian pada kekasihnya, padahal Tampan sama sekali tidak bermaksud apa-apa dengan pertanyaan nya itu.
Dia hanya.. kasihan..
Iya, kasihan dengan wanita yang kini telah menangis karena sudah diperlakukan kasar oleh pacarnya sendiri di depan umum.
"Aku tidak apa-apa.. terima kasih", ucap wanita itu sambil berusaha menahan Isak tangisnya.
"Tolong makanan nya dipercepat pelayan!", ucap si pria menekankan kata pelayan. Sengaja agar Tampan sadar dengan statusnya.
__ADS_1
Si pria mulai risih melihat tatapan mata Tampan yang sedari tadi tidak lepas memandangi kekasihnya.
"Ah.. iya, tunggu sebentar."
Tampan pun mengangguk, melirik sekilas wanita cantik berambut panjang hitam dengan kulit putihnya yang tampak mengkilap di bawah cahaya lampu restoran, dan berlalu menuju pantry untuk menyampaikan pesanan kedua pasangan itu yang ingin dibungkus dibawa pulang.
Pria dan wanita yang sempat bersitegang tadi, kini saling diam namun tidak ingin memandang satu sama lain.
Tampan terus memperhatikan keduanya dari kejauhan di ujung pintu menuju pantry dimana dia berdiri saat ini.
"Kiapa ngana dari tadi haga-haga pa dorang dua turus ha?", suara rekan sekerjanya yang bernama Thomas atau biasa dipanggil Tomtom, mengagetkan Tampan.
(Kenapa kau sejak tadi liatin mereka berdua terus ha?).
"Beking kage ngana eh Tomtom! Kita ja Lia karena kasiang katu tu cewek.. Nda tega kita ba Lia kalo orang ja ba kasar akang pa cewek!", jawab Tampan tanpa melepaskan pandangan matanya pada si wanita tadi, pelanggan di restoran mereka.
(Bikin kaget aja kamu Tomtom! Aku liatin mereka dari tadi karena aku kasihan sama tu cewek.. Aku nggak tega liat ada orang kasarin cewek kayak cowonya itu!).
"Ya illah Tam.. Nda usah urus orang pe pusing ee. Dorang mo baku tumbu malintuang le, itu bukang ngana pe urusan! Kerja Jo dari bos sadiki le somo kasi ba sidak ini", kata Tomtom mengingatkan rekan kerjanya yang di nilainya sangat baik dan terlalu peduli dengan masalah orang lain, sedangkan dia sendiri punya banyak masalah.
(Ya illah Tam.. Nggak usah ngurusin masalah orang lain. Mereka mau beradu tinju terperosok disana, itu bukan urusan kamu! Kerja sana bentar lagi bos mau sidak kita ini!).
Tomtom pun meninggalkan Tampan yang masih setia mengamati kedua pasangan di meja nomor sepuluh.
Lelaki berlesung Pipit dengan kumis tipis diatas bibir dan dagunya itu, merasa ada yang berbeda dengan sosok yang baru saja dia lihat hari ini.
Ingin rasanya Tampan menarik wanita itu dan berkata untuk tinggalkan saja pacar kasarnya, tanpa harus meminta persetujuan kekasihnya.
Bukankah sebuah hubungan harus berdasarkan kesepakatan bersama yang dilandasi oleh cinta yang tulus? Lalu untuk apa mempertahankan hubungan yang salah satunya sudah merasa tidak nyaman dengan hubungan mereka sendiri, pikir Tampan.
Dia bingung dengan wanita yang masih mau menerima dan bertahan dengan laki-laki kasar yang suka main tangan. Apalagi jelas-jelas ini di tempat umum, dan mereka sudah jadi tontonan pelanggan yang lain.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Eh.. Siapa sih tu Cewek..
Jadi penasaran author hehehe ðŸ¤
Jangan lupa disebar hadiah bunga dan kopinya untuk menemani pagi Author yang mendung mendung dingin ini.. 😆
__ADS_1
Terima kasih 🌹🌹🌹 🌹🌹