
Like kalian sangat membantu untuk kelangsungan cerita ini....
*************
"Ya astaga Tampan.." Teriak Cantik histeris mendapati adiknya yang sudah babak belur dengan lengan kanannya yang berdarah.
Sepertinya lengan Tampan terkena benda tajam hingga meninggalkan bekas luka yang cukup panjang dengan darah yang masih mengalir dari sana.
Lelaki berlesung Pipit itu terduduk lesu di trotoar jalan dekat motor butut mereka, dan tengah ditemani oleh temannya Tomtom yang siang ini keluar bersamanya untuk ke pasar mengambil pesanan ikan yang biasa restoran mereka pesan.
Saat Tampan keluar dari parkiran restoran bersama Tomtom, sebuah mobil mengikuti mereka dari belakang dan dengan cepat mencegat motornya di sebuah lorong sepi yang memang sengaja dipilih Tampan agar bisa cepat sampai kepasar.
Glen dan dua orang temannya turun dari dalam mobil mewah itu dan langsung mengerubungi Tampan dan temannya Tomtom.
Tomtom yang tidak tahu bela diri hanya bisa terduduk di trotoar saat seorang teman Glen mengancam akan memukulinya sampai mati jika lelaki itu bergerak dari tempat dia berada.
Jadilah Tampan dikeroyok oleh Glen dan satu orang temannya sampai lelaki itu jatuh tersungkur dijalan aspal.
Glen yang masih marah dan kesal pada Tampan karena menganggap telah merebut Viola darinya, mengambil pisau lipat yang sengaja dia bawa di saku celana lalu menyayat lengan tangan kanan lelaki yang sudah tidak berdaya itu.
"Ini peringatan buat elo brengsek! Kalo elo masih mau hidup, jauhin Viola!", teriak Glen dan segera berlalu meninggalkan tempat tersebut sebelum ada orang yang lewat.
Tomtom yang ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa, buru-buru mendekati rekan sekerjanya dan membantu Tampan duduk di trotoar jalan.
"Oh Tuhan Tampan, kiapa ngana kong so bagini dang?", (Oh Tuhan Tampan, kenapa kamu sampai jadi kayak gini?), Cantik masih histeris melihat keadaan adik semata wayangnya itu.
"Ca, udah.. Kita bawa Tampan kerumah sakit dulu", ujar Dodo berusaha menenangkan wanitanya yang sudah menangis sesegukan di samping Tampan adiknya.
"Ayo, bantu aku papah dia ke mobil", ucapnya pada Tomtom yang masih syok dengan kejadian tadi.
Mereka pun membawa Tampan naik ke mobil Dodo, dengan Cantik yang sudah duduk dikursi belakang samping adiknya.
Cantik merobek ujung terusan yang dia pakai lalu mengikatkannya di lengan tangan Tampan, untuk menghentikan darah yang masih terus mengalir keluar dari luka sayatan itu.
Dodo sampai harus menelan salivanya dengan susah payah karena melihat paha mulus wanita berdarah Manado itu, pikirannya langsung berkelana kesana kemari karenanya.
"Sam, ayo buruan!", sentak Cantik karena melihat lelaki itu malah bengong di belakang kemudinya.
"Eh iya Ca", jawab Dodo salah tingkah.
Diapun langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, meninggalkan Tomtom yang akan ikut dengan mereka menaiki motor peninggalan Papa Cantik.
__ADS_1
Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah tiba di rumah sakit, Tampan langsung dibawa keruang UGD untuk mendapatkan penanganan dari dokter.
Cantik terlihat mondar mandir di depan pintu ruangan UGD karena tidak diperbolehkan masuk, dia takut kalau adiknya terluka dalam karena pukulan yang diterimanya.
Sesekali dia mengusap pipinya karena airmata yang sejak tadi mengucur tidak mau berhenti.
"Ca.. Duduk dulu," ajak Dodo setelah dia menyelesaikan administrasi Tampan di depan.
Cantik menatap lemah Dodo yang sudah mengenggam tangannya dan menarik dia untuk duduk di kursi tunggu UGD.
"Minum dulu Ca, wajah kamu udah pucat gitu", ucap Dodo lalu menyerahkan sebotol air mineral yang sempat dia ambil di mobil tadi.
Cantik menerima botol minuman itu dan menghabiskannya hanya dalam beberapa kali tegukan. Rasa khawatir yang dirasakan olehnya membuat Cantik seketika merasa tenggorokannya perlu dialiri air yang banyak.
"Kamu harus tetap tenang yah Ca, kasian nanti Mama kamu kalau sampai tahu Tampan di pukuli orang. Kamu harus bisa kendaliin diri kamu sendiri.." ujar Dodo lagi sambil mengusap bahu Cantik dengan lembut.
Lelaki itu sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan perhatiannya untuk sang gadis yang dia cintai.
Cantik tersenyum tipis dan mengangguk, dia juga sedang berusaha sekuat tenaga untuk bisa tenang. Rasa marah dan kekesalannya seakan mau meledak saat ini juga.
Ingin sekali dia menyalahkan wanita bernama Viola, karena secara tidak langsung dia sudah menyebabkan adik laki-lakinya terluka cukup parah hari ini.
"Masih di periksa dokter di dalam, kamu ikut dipukulin juga?", tanya Dodo memperhatikan dari atas ke bawah rekan kerja Tampan itu untuk mengecek keadaanya.
Tomtom menggeleng, "Nyanda. Dorang cuma da ba remong akang pa Tampan." (Enggak. Mereka cuma mukulin Tampan tadi).
"Dorang? Ada banyak orang dang tu da ba dola pa ngoni tadi?", (Mereka? Ada berapa banyak orang yang menghadang kalian tadi di jalan?), tanya Cantik menimpali.
"Ada tiga orang Ka, dua tu da ba pukul pa Tampan, satu da ba jaga pa kita. Dorang da ancam mo pukul pa kita Deng Tampan sampe mati kalo kita lari dari sana", (Ada tiga orang Ka, dua orang yang mukulin Tampan, dan satunya lagi jagain aku. Mereka ngancam bakal mukulin aku sama Tampan sampe mati kalo aku kabur dari sana), terang Tomtom.
Rekan kerja Tampan itu pun menceritakan kronologi kejadian penghadangan motor mereka, dan juga pemukulan adik Cantik tadi.
Cantik yang mendengar penjelasan Tomtom benar-benar marah dan kembali menangis karenanya.
Dodo sampai kelabakan mencoba menenangkan wanita yang matanya sudah sembab karena terlalu banyak menangis.
"Tenang Ca, kita lapor polisi aja masalah ini.." usul Dodo pada wanitanya.
"Nggak segampang itu Sam, kami hanya orang kecil. Untuk menangkap orang-orang seperti mereka tidak semudah itu, jika ada jaminan mereka pasti bisa bebas dari jeratan hukum", ucap Cantik putus asa.
Hukum di negara mereka masih tumpul ke atas dan tajam kebawah, sudah banyak contoh yang selama ini dia lihat sendiri yang terjadi di sekitar mereka.
__ADS_1
Cantik yakin saat pelaku pemukulan itu bebas, mereka pasti akan kembali mengganggu Tampan adiknya. Dan bisa saja mereka malah akan melakukan hal yang lebih keji dari perbuatan mereka hari ini.
"Kamu tenang aja Ca, aku akan bantuin Tampan sampai masalah ini selesai. Aku pastikan kalau pelaku pemukulan adik kamu akan mendekam di penjara nanti!."
"Makasih Sam, tapi aku gak mau repotin kamu", ujar Cantik tidak enak.
"Nggak ada yang merasa di repotin Ca, kamu tinggal percaya sama aku aja. Tampan sudah seperti adik aku sendiri, kalau ada yang mencari masalah dengan salah satu diantara keluarga kalian.. Aku yang akan maju lebih dulu untuk membuat perhitungan dengan mereka!."
Mendengar ucapan Dodo padanya sontak membuat Cantik merasa terlindungi, lelaki yang duduk di sampingnya ini benar-benar tahu bagaimana cara yang tepat untuk menenangkan hati dan perasaannya yang sedang dilanda keputusasaan karena masalah yang menimpa Tampan adiknya.
"Butul Kakak pe cowok da bilang, kita siap jadi saksi di kantor polisi sabantar", (Benar yang dikatakan pacar kakak ini, aku siap jadi saksi di kantor polisi nanti), ujar Tomtom ikut menimpali pembicaraan keduanya.
Dodo tersenyum sumringah mendengar ucapan Tomtom yang berkata kalau dia adalah pacarnya Cantik, dan menatap wanita yang duduk disampingnya sudah tersipu malu karenanya.
Bahkan orang lain saja bisa melihat kalau kita seperti orang yang berpacaran Ca, gumam Dodo dengan hati yang membuncah bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆∆...
Kasian si Tampan,, baru juga rasain punya pacar udah dapet cobaan kayak gitu..
Eh tapi,,
Pacar boongan kan yahh?
Entahlah..
Author pun masih meraba-raba hingga detik ini 🤭
__ADS_1