Ojek Cantik

Ojek Cantik
Pesta Lajang


__ADS_3

Likenya jangan lupa guys 🤗


***************


Tiga hari menjelang pernikahan Dodo dan Cantik, wanita bernama lengkap Cantika Hidayat itu dipingit tidak boleh bertemu dengan Dodo maupun keluar rumah sampai hari pernikahan mereka tiba, begitu juga sebaliknya dengan Dodo.


Kepercayaan orang-orang jaman dulu mengatakan, pamali kalau calon pengantin yang akan segera menikah keluar dan bolak balik dijalan.


Kepercayaan ini masih dipegang teguh oleh eyang, dia yang meminta agar kedua pasangan itu diam dirumah sampai hari H mereka tiba.


Semua persiapan pernikahan Cantik dan Dodo sudah rampung 99%, undangan pernikahan juga sudah disebar seminggu sebelum acara.


Bahkan sebagai rasa syukurnya untuk pernikahan dia dan Cantik, Dodo memberikan diskon sebesar dua puluh persen untuk setiap pembelian mobil. Serta diskon sepuluh persen untuk pembelian motor di dealer barunya.


Mendengar berita ini, sontak dealer mobil dan motor milik Dodo langsung ramai. Bahkan media setempat ikut memberitakan kabar bahagia ini.


"What's up (Apa kabar) bro.." Sapa Roman yang sengaja datang ke Manado tiga hari sebelum pernikahan sahabatnya ini.


"Baik gue, baik banget malah.. Lagi seger-segernya ini," kekeh Dodo memeluk Roman yang baru tiba dirumah eyangnya.


Roman dijemput oleh supir sesaat setelah pesawat komersil yang dia tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado.


"Iya, iya tau.. Orang kalo mau nikah tuh auranya emang beda!," sahut Roman melepaskan pelukan mereka.


"Nah itu tau, makanya Lo cepet nyusul juga! Jangan kelamaan maen, kasian burung lo bakal keriput duluan.."


"Eh Anjrittt, Lo ngomong suka asal yahh. Sombong banget mentang-mentang udah mau nikah! Kencengin tuh lutut sama pinggang Lo!."


Dodo tertawa terbahak melihat wajah Roman yang cemberut karena digoda olehnya.


"Kalian ini baru ketemu aja udah ribut!," sergah Mama Cici yang baru turun dari lantai dua mendekati anak dan sahabatnya itu.


"Eh.. Halo mama Cici.." Sapa Roman mendekat dan langsung memeluk wanita paruh baya yang selalu tampak cantik itu.


"Ih astaga, dari dulu emang suka nyosor lo sama nyokap gue!."


"Kan aku juga anaknya mama Cici, iyakan Ma?."


Mama Cici tertawa melihat lelaki yang seumuran dengan Dodo dengan tubuh tinggi yang sama, sedang merengek menggoyangkan lengannya.


"Iya, iya.. Roman udah seperti anak mama juga," sahut Mama Cici mengusap lembut kepala Roman yang kini telah bersandar manja di pundaknya.


Roman memang sudah bersahabat lama dengan Dodo, dia yang tidak sempat merasakan kasih sayang seorang ibu menganggap Mama Cici sebagai pengganti sosok ibu dihidupnya.


Mama Cici pun menyayangi Roman layaknya anak sendiri seperti Dodo.


Ibu Roman adalah salah satu kenalan mama Cici dulu, wanita itu meninggal karena sakit yang dideritanya saat Roman baru berumur tiga tahun.


"Ish, mo sampe kapan Lo manja-manja gitu sama nyokap gue? Sadar umur woi!," dengus Dodo.


"Biarin.. Bilang aja Lo ngiri sama gue!."


"Ish, na*jis gue iri sama Lo! Nggak penting and nggak level banget tau!."


"Udah, kalian dari dulu emang nggak pernah akur kalo mengenai bini aku!."


Papa Marlon yang juga baru turun dari lantai dua, mendekati dua orang lelaki dewasa yang sedang berdebat karena mencari perhatian istrinya.

__ADS_1


"Sana, sana.. Kamu kalo mau meluk, cari bini sendiri! Jangan bini aku yang dipeluk-peluk!," usir Papa Marlon menarik Mama Cici kedekatnya.


"Eh ya ampun, baru juga mau mesra-mesraan sama mama Cici. Pelit amat si tuan besar.." Goda Roman yang dengan cepat bersembunyi di belakang Dodo sebelum ditendang oleh Papa Marlon.


"Haduh.. Sudah, aku mau siapin makan siang dulu," ujar Mama Cici geleng-geleng kepala dan berlalu meninggalkan tiga pria didepannya.


"Eh, tunggu ma.. Papakan mau dipeluk juga, masa cuma Roman yang boleh."


Papa Marlon ikut berlalu mengikuti Mama Cici dari belakang sambil merengek minta dipeluk.


"Dasar lebay!," teriak Dodo sengaja menggoda papanya.


Lelaki paruh baya itu berbalik dan menjulurkan lidah persis seperti anak kecil lima tahun.


Roman yang melihat tingkah anak dan ayah itu, seketika tertawa geli bergantian menatap Dodo dan Papa Marlon.


Sejak dulu Papa Marlon dan Dodo memang dekat seperti layaknya teman satu sama lain, dia saja cemburu melihat kedekatan mereka berdua.


Ayah dia yang dingin sejak dulu, menjadi salah satu alasan kenapa dia dan ayahnya tidak dekat hingga sekarang.


Jadi setiap kali melihat Dodo dan Papa Marlon bertingkah seperti tadi, ada rasa sedih dihatinya karena tidak bisa seperti mereka berdua, antara dia dan ayah kandungnya sendiri.


"Woi! ngelamun lagi Lo!," sentak Dodo membuyarkan lamunan Roman tentang ayah dia.


"Ish, ganggu aja Lo!."


"Masih siang, kalo mau ngelamun nanti malem aja pas lagi tiduran dikamar! Jangan disini!," kekeh Dodo dan berlalu menuju lantai dua.


"Nggak perlu, kalo melamun dikamar yang ada aku malah mikir yang lain!," sahut Roman mengikuti Dodo dari belakang. "Gue tidur dimana Sam?."


"Dikandang ayam sana dibelakang rumah opa!."


"Lagian siapa suruh Lo dateng sekarang, gue nikah tiga hari lagi bukan sekarang!."


"Ya kan gue pengen temenin Lo disini Sam, kata eyang Lo kan nggak bisa keluar rumah. Padahal gue udah punya rencana mau bikin pesta lajang buat elo, tapi nggak jadi.."


Dodo tiba-tiba berhenti yang membuat Roman menabrak punggung bidang sahabatnya.


Bukkk..


"Aduh," ringisnya. "Kenapa sih Sam?," tanya Roman mengelus hidung dia yang berdenyut karena menyambar punggung Dodo.


"Lo ngomong apa tadi?," tanya Dodo berbalik menatap Roman.


"Yang mana?."


"Yang tadi.."


"Iya, yang mana bego?!," kesal Roman.


"Itu yang mau bikin pesta lajang buat gue, Lo beneran mau bikin hal kayak gitu?."


"Iya, tadinya mau bikin. Tapi nggak jadi! Gue nggak mau kualat dikatain sama eyang Lo."


"Bisa, bisa bikin Man. Lo bisa bikin pesta lajang gue!."


"Hah? Lo yakin?." Dodo mengangguk. "Kalo eyang sampe tahu gimana? Gue nggak mau yah dikutuk jadi wajan karena pesta Lo ini!."

__ADS_1


"Kagak, tapi kita emang butuh wajan juga sih.." Sahut Dodo berbalik dan kembali berjalan menuju kamar yang akan ditempati Roman yang bingung dengan maksud ucapan Dodo tadi.


Malamnya, Dodo dengan penuh semangat mengajak Roman untuk turun menuju dapur.


"Kita mo ngapain disini Sam?."


"Masak," jawab Dodo singkat.


"Masak? Lo laper?."


"Gak.."


"Trus?."


"Ya mau masak aja Man, aku pengen belajar masak biar nanti pas resmi jadi suami aku bisa masakin juga buat Cantik.." Sahut Dodo mulai membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan makanan yang baru saja dia baca dari pesan singkat yang dikirim Om Steven padanya.


"Ya ampun, jadi ini yang Lo maksud tadi siang bakal tetep bikin pesta lajang Lo!."


"Iya gimana, seru kan? Daripada kita keluar habisin duit mending kita belajar masak buat pasangan kitakan Man.."


Roman mendengus, "Pasangan elo bukan gue! Gue jomblo kalo Lo inget!."


"Iya, iya tau.. Tapi Lo kan bisa belajar dari sekarang Man, siapa tahu setelah Lo belajar masak jodoh Lo langsung nongol nanti," kekeh Dodo kembali membaca resep makanan dari Om Steven di ponsel.


Tadi sore Dodo meminta Om Steven mengirimkan satu hari satu resep makanan yang akan dia pelajari sampai masa pingit dia dan Cantik selesai.


"Ish, mana ada yang begitu! Udahlah, Lo aja yang masak, gue bagian tim penyemangat Lo aja udah.."


"Eh, nggak boleh gitu Man.. Kan elo yang ngajak duluan bikin pesta lajang buat gue, ya ini dia pesta lajang yang paling pas buat kita malam ini. Udah cepet bantuin aku dulu, aku mau bikin omelette. Kata Popo kalo mau belajar masak, bikin yang gampang-gampang dulu."


Roman mendengus pasrah saat Dodo memberikan sebuah pisau untuk memotong bawang diatas meja dapur. Ish tau gini gue nggak usah ngomong apa-apa tadi sama dia, gumamnya dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...∆∆∆∆∆∆∆∆∆...


Ada nggak yang pesta lajangnya kayak Dodo?


Hehehe

__ADS_1


Mending belajar masak buat nyenengin bini yah Do, daripada pergi keluyuran nongki-nongki dimana gitu.. 🤭😁


__ADS_2