
"Vi.." Panggil Tampan saat melihat Viola berdiri di depan pintu pagar berkarat mereka.
"Hei Tam, maaf aku telat. Udah selesai yah acaranya?," tanya Viola tidak enak karena terlambat hampir sejam dari waktu yang ditentukan.
"Nggak apa-apa, mereka juga baru pada makan. Kamu sendirian?."
Viola menggeleng, "Aku bareng ayah sama bunda Tam."
"Hah?," kaget Tampan. "Ayah kamu juga ikut dateng Vi?."
"Iya, ayah maksa pengen ikut. Maaf yah Tam, mudah-mudahan aja ayah nggak bertingkah aneh-aneh di dalem," bisik Viola tidak mau terdengar Om Wellem yang baru turun dari dalam mobil mewah milik mereka bersama dengan Tante Wina.
Om Wellem tampak mengarahkan pandangannya keseluruh penjuru depan rumah Tampan, entah apa yang diinginkan lelaki paruh baya ini ikut datang kerumah mereka malam ini.
"Maaf yah kami telat Tam, tadi nunggu ayah Viola dulu.." Ujar Tante Wina ketika berada didepan Tampan yang sedang menatap dia dan Om Wellem bergantian.
Om Wellem memakai setelan rapi seperti ayah mempelai calon wanita, mungkin lelaki paruh baya ini ingin menunjukkan dia termasuk orang 'berada' disini.
"Nggak apa-apa Tante, mari masuk.." Ajak Tampan mempersilahkan keluarga wanita yang dia cintai itu masuk kedalam rumah sederhana mereka.
Om Wellem berjalan beriringan dengan istrinya yang tampak begitu bersemangat ingin berkenalan dengan keluarga Tampan.
Masih dalam pandangan mata yang menelisik, Om Wellem melangkahkan kaki menuju teras rumah dimana Cantik dan eyang masih duduk bercengkrama disana.
"Ka, ini keluarga Viola dateng.." Ujar Tampan memperkenalkan wanita paruh baya yang terlihat necis dari atas sampai kebawah kakinya, menenteng sebuah bungkusan kecil ditangan.
"Halo Tante, om.. Saya Cantik, kakaknya Tampan. Mari masuk dulu," sapa Cantik hangat.
"Selamat yah Cantik, ini ada hadiah kecil dari kami," sahut Tante Wina menyodorkan sesuatu yang dia genggam ketangan Cantik.
"Eh, nggak perlu repot-repot Tante."
"Nggak ada yang direpotin, anggap aja permintaan maaf kami karena terlambat datang ke acara maso minta kamu."
"Yaudah, masuk yuk kedalam. Oh iya, ini eyang calon suami aku," ujar Cantik yang hampir melupakan eyang Dodo yang sejak tadi ikut berdiri disampingnya.
Merekapun bersalaman dan masuk kedalam rumah bertepatan dengan tamu lain yang ingin pulang.
"Cantik, Torang pulang dulu ne. Semoga lancar-lancar sampe hari H ne Ca.." (Cantik, kami pulang dulu yah. Semoga semuanya lancar yah Ca sampai hari H..), ujar beberapa tetangga yang bergerombol keluar dari dalam rumah mendekati dia.
"Iyo, makase ne samua so datang.." (Iya, makasih udah dateng yah), Sahut Cantik membalas salaman dari tetangganya.
Sekilas Om Wellem berdecak karena merasa risih melihat tetangga-tetangga Cantik, yang dirasanya kampungan.
"Mari om, Tante, Vi.. Masuk dulu, maaf yah tetangga kami memang suka rame begitu," ujar Cantik merasa tidak enak karena harus menunggu dia selesai bersalaman baru mereka bisa masuk kedalam.
__ADS_1
Merekapun lalu masuk kedalam rumah sederhana yang besarnya tidak lebih dari kamar Om Wellem dan Tante Wina. Lelaki paruh baya itu menatap remeh keadaan rumah Tampan yang mengaku mencintai anaknya dengan tulus itu.
"Silahkan duduk.." Ujar Cantik sopan.
"Duduk dimana? Kecil begini tempatnya, sempit nggak muat buat kita." Sarkas Om Wellem yang langsung menjadi pusat perhatian karena suaranya yang cukup keras bersuara.
"Yah, jangan gitu! Nggak malu kamu sama yang lain!," sentak Tante Wina merasa malu dengan ucapan tajam sang suami.
Ternyata ini alasannya Om Wellem memaksa untuk ikut kerumah Tampan tadi, dia ingin melihat langsung bagaimana kehidupan sebenarnya pria yang menjadi pilihan hati Viola ini.
"Maaf yah Om, tempat kami memang sempit.." Sahut Cantik merasa yakin kalau galaunya Tampan waktu itu pasti disebabkan oleh lelaki paruh baya yang terlihat tidak menyukai keluarga mereka yang hidup berkecukupan.
"Siapa By?," tanya Dodo mendekat kearah mereka pura-pura tidak tahu.
"Ini keluarganya Viola dateng Sam."
"Oh.. Halo Tante, Om.." Sapa Dodo mengulurkan tangannya bersalaman. "Saya Sam, calon suami Cantik."
Tante Wina mengangguk dan menyambut jabatan tangan Dodo dengan hangat, sedangkan Om Wellem menatap Dodo dari atas hingga kebawah, orang kaya pikirnya.
Terlihat dari semua yang dipakai Dodo adalah barang-barang mewah berlabel, dengan harga ada yang diatas satu juta.
Om Wellem, Tante Wina dan Viola pun duduk berhadapan dengan keluarga Dodo.
Om Wellem biasa memakai jasa pengiriman Om Marlon untuk mengirim hasil kopranya ke Jakarta, untuk diolah di perusahaan disana.
"Halo pak Wellem," sapa Om Marlon.
"Disini juga Pak? Ngapain?."
"Bawa anak saya..."
"Anak? Anak bapak yang laki-laki itukan? Mana? Dia disini juga.." Sergah Om Wellem cepat.
Kesempatan untuknya mengenalkan Viola pada salah satu anak orang 'berada' dan terkenal di Jakarta.
Keluarga Dodo geleng-geleng kepala melihat satu orang yang dicap keluarga mereka sebagai seorang penjilat, mereka paling tidak suka bertemu apalagi dekat dengan orang model tipe seperti ini.
"Dia siapa sih Ma?," bisik Om Steven pada Tanta Mince.
"Nggak tahu, mungkin kenalan kakak kali. Kayaknya dia orangtua pacarnya Tampan, kan wanita itu sering ke restoran kita Pa.." Tunjuk Tanta Mince dengan dagunya kearah Viola.
Om Steven mengangguk dan kembali mendengarkan pembicaraan kakak ipar dan seorang pria paruh baya yang datang dengan setelan rapi bak mau ke kondangan resmi.
"Iya Pak, anak saya laki-laki. Dia yang akan menikah dengan Cantik bulan depan.." Tunjuk Om Marlon pada Dodo yang kini sudah duduk disamping Cantik.
__ADS_1
"Oh, sayang sekali. Padahal saya ingin sekali mengenalkan anak perempuan saya sejak dulu sama Pak Marlon, siapa tahu berjodohkan.." Sahut Om Wellem tanpa rasa malu.
"Ayah..!," sela Viola yang sejak tadi sudah geram dengan kelakukan ayah kandungnya ini.
Viola benar-benar malu dengan keluarga besar calon kakak iparnya, dan juga keluarga lelaki yang dia cintai.
Tanta Mar yang baru saja keluar dari dapur membawa piring untuk keluarga Viola hanya bisa menghembuskan nafas panjang mendengar ucapan Om Wellem.
Sepertinya kisah cinta rumit dia dulu akan menurun pada Tampan, anak laki-laki penerus marga dikeluarga mereka.
"Mari makan dulu Pak, Bu.." Ujar Tanta Mar menengahi pembicaraan dua keluarga calon besannya.
"Tidak perlu, kami tidak terbiasa makan diacara seperti ini!," ujar Om Wellem dengan tatapan meremehkannya memperhatikan Tanta Mar yang memang selalu berpakaian seadanya itu.
"Ayah, Cukup!," sentak Viola meninggikan suaranya. "Ayah sengaja ingin mempermalukan aku didepan semua orang yah, apa mau ayah sebenarnya memaksa datang dan merusak acara keluarga kakak Tampan yang notabene kita hanyalah tamu undangan saja disini!."
"Vi, udah nggak apa-apa. Jangan begitu, dia ayah kamu Vi.." Sela Tampan menenangkan kekasih hatinya.
Dia juga sakit hati mendengar perkataan Om Wellem yang sejak tadi sengaja ingin memanas manasi keluarga mereka, kalau tidak berpikir dia sangat mencintai Viola dan menghormati lelaki paruh baya itu. Sudah lama dia mengusir mereka keluar dari rumahnya.
"Haduh, ini kok acara keluarga kita malah jadi rusuh begini sih.." Ujar eyang memijit pelipisnya sengaja menyindir Om Wellem.
Tante Wina yang sudah terlanjur malu dengan tingkah suaminya ini pamit undur diri lebih dulu, dia hanya sempat berpamitan pada Tanta Mar dan meminta maaf atas ucapan dan tingkah Om Wellem yang secara tidak langsung sudah merusak acara maso minta anak perempuannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆∆...
Hadeh,,
Minta diulek tuh Om Wellem yahh.. 😤
__ADS_1