Ojek Cantik

Ojek Cantik
Usaha Tampan


__ADS_3

Seminggu setelah pertemuan tidak menyenangkan antara Tampan dan Om Wellem, lelaki itu tidak kunjung mendapatkan kabar dari Viola.


Viola hanya sekali mengirimi dia pesan singkat dan berkata kalau dia baik-baik saja. Tapi saat Tampan mencoba menghubungi Viola, nomor ponsel miliknya tidak bisa tersambung sampai sekarang.


"Kamu kenapa Tu?," tanya Cantik melihat Tampan sering melamun akhir-akhir ini.


"Kenapa apanya Ka?."


"Kamu lagi mikirin apaan sih? Viola kok udah nggak pernah kesini lagi? Kalian ada masalah?," tanya Cantik lagi ingin tahu.


Tampan menghembuskan nafas panjang, "Nggak ada masalah apa-apa Ka, aku sama Viola baik-baik aja cuma.." sahutnya menggantungkan ucapannya.


"Cuma apa?."


"Cuma.. Orangtua Viola nggak suka sama aku Ka," jawab Tampan sedih.


"Kamu emang udah ketemu sama orangtua Viola?."


"Satu kali itupun gak sengaja ketemu waktu itu di cafe, ayahnya langsung ngomong buat jauhin Viola. Dia bahkan nggak ngasih aku kesempatan untuk bicara Ka.." Terang Tampan.


Cantik menepuk-nepuk lembut bahu adiknya, "Trus Viola dimana sekarang? Kalian masih berhubungan kan?."


"Nggak tahu, terakhir dia kirimin aku pesan doang. Sampe sekarang aku nggak bisa hubungin dia."


"Kamu udah kerumahnya?." Tampan menggeleng. "Kenapa nggak coba kerumahnya aja Tu, siapa tahu Viola ada disana," usul Cantik.


"Gimana nanti kalo aku diusir Ka?."


"Yah setidaknya kamu kesana dulu Tu, jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Kamu nggak mungkin diusir kalo nggak bikin keributan disana," ujar Cantik memberi semangat pada adiknya.


"Ayo aku anter Tu.." Sahut Dodo baru saja tiba dirumah mereka.


Setelah mengantarkan Cantik kerumahnya, Dodo pulang mandi dan kembali lagi kesini untuk makan malam bersama keluarga tunangannya seperti biasa.


"Eh Sam, udah lama?," tanya Cantik terkejut melihat lelakinya sudah berdiri di belakang mereka berdua.


"Lumayan terakhir denger kalo Tampan gak disukai ayahnya Viola," sahut Dodo mendekati Cantik dan mendaratkan kecupan di dahi.


Kebiasaan Dodo setiap kali mereka bertemu ataupun mau berpisah.


"Gimana, aku anter aja yah Tu?," tanya Dodo lagi.


"Udah pergi aja Tu, jangan kebanyakan mikir. Kalo ada apa-apa, ada Ka Sam yang bakal jagain kamu disana," timpal Cantik masih memberi semangat untuk adiknya.


"Yaudah, aku ganti baju dulu bentar.." Jawab Tampan dan berlalu masuk kedalam rumah mereka.


Tidak sampai lima menit lelaki berambut sedikit gondrong dengan lesung pipit dipipinya itu sudah selesai berganti pakaian, yang petang ini memakai setelan rapi karena akan bertemu dengan calon mertuanya.


"Ayo Ka Sam," ajak Tampan.


"Cepet banget, udah nggak sabar yah mau ketemu Viola?," goda Dodo pada calon adik iparnya.


"Tahu aja Ka Sam," kekeh Tampan berusaha terlihat santai padahal dalam hatinya sedang berkecamuk.


"Yaudah, aku pergi bentar yah Beby," pamit Dodo pada Cantik.

__ADS_1


"Iya, hati-hati.." Sahut Cantik menatap bergantian dua orang lelaki yang punya tempat khusus dihatinya itu.


"Jangan gugup!," ujar Dodo pada Tampan saat keduanya sudah berada dalam mobil menuju rumah Viola. "Kalo satpam nanya kamu mau apa kesana, bilang kalo kamu pengen ketemu dengan orangtuanya Viola!," ujarnya lagi.


"Tapi, gimana kalo mereka nggak izinin aku masuk Ka Sam?."


"Ada, mereka pasti izinin kamu masuk."


"Yakin?."


"Iya, yakin banget aku. Bilang kalo kamu ada keperluan mendadak dan penting! Nanti setelah kamu berhasil ketemu orangtua Viola, bicara baik-baik dan kenalin diri kamu. Katakan kalo kamu cinta sama Viola dan tulus padanya, meski kalian jauh berbeda tapi yakinkan mereka kalau kamu pasti bisa membahagiakan Viola dan mau berjuang untuknya," ujar Dodo panjang lebar.


Tampan menghembuskan nafas untuk menetralkan kegugupan yang dia rasa sembari mencoba menghubungi ponsel Viola, namun nomornya masih saja tidak bisa dihubungi.


"Perlu aku temenin Tu?," tanya Dodo setelah mereka tiba di pintu pagar rumah Viola.


"Nggak usah, kakak mending pulang aja. Nanti aku bisa naik mikro pulang dari sini, Kakak aku pasti nungguin Ka Sam juga dirumah. Aku sendiri aja kedalem, makasih udah anterin aku yah.."


Dodo mengangguk, "Iya sama-sama. Jangan lupa ucapan aku tadi, semangat Tu!," ujarnya memukul pelan pundak Tampan.


Tampan tersenyum lalu turun dari mobil sport keluaran terbaru milik Dodo dengan tekad yang kuat, hari ini dia harus bisa meyakinkan orang tua Viola kalau dia benar-benar mencintai anak perempuan mereka.


Setelah Dodo pergi, Tampan berjalan mendekati pintu pagar rumah Viola yang disambut oleh seorang satpam.


"Mau cari siapa pak?."


"Saya ingin bertemu dengan Om Wellem, ada hal penting yang ingin dibicarakan. Bisa saya masuk?."


Satpam itu terlihat menatap dari atas ke bawah sosok lelaki yang dulu pernah dia lihat datang kerumah ini bertemu dengan anak majikan mereka.


"Bukannya bapak ini temennya non Viola yah?."


"Kenal, saya pernah liat bapak anterin non Viola pulang waktu itu. Bapak mau ketemu siapa, Tuan Wellem atau non Viola?," tanya Satpam.


"Dua-duanya Pak, Viola adakan didalem?."


"Ada, tapi non Viola kayaknya lagi dihukum deh. Soalnya udah seminggu ini non nggak pernah keluar lagi, biasanya non Viola kalo udah nggak keluar selama ini pasti sedang dihukum sama tuan," terang satpam merasa kasihan dengan anak majikannya yang sudah sebesar itu masih saja dihukum seperti anak kecil.


"Iya, aku nggak bisa hubungin ponselnya beberapa hari ini makanya aku kesini. Aku boleh masukkan pak?," tanya Tampan lagi.


"Boleh, tentu saja boleh.." Jawab satpam dan membuka pintu pagar tinggi itu.


"Makasih yah pak, saya masuk dulu kalo gitu," ujar Tampan dan berjalan masuk menuju pintu rumah Viola yang berlantai tiga dengan tempat parkir luas berada di sisi kanan rumah.


Sesampainya di pintu, Tampan menekan bel beberapa kali hingga pintu model kebaya dengan ukiran rumit dikayunya terbuka.


"Tampan.." Suara lembut dengan mata sedikit cipit itu terkejut melihat sosok yang selama ini sangat dia rindukan. Iya, dia adalah Viola.


Viola dengan cepat memeluk tubuh Tampan penuh kerinduan, dan mencium dalam-dalam wangi aroma tubuh lelakinya bahagia. "Kamu datang Tam?," ujarnya lagi masih dalam pelukan hangat Tampan.


"Iya, aku datang karena ingin bertemu dengan kamu juga kedua orangtua kamu Vi. Aku kangen banget sama kamu, aku pikir kamu udah ninggalin aku.."


Viola melepaskan pelukan mereka dan menatap dalam manik mata cokelat tua Tampan, "Aku lagi dihukum sama ayah nggak boleh keluar rumah Tam.." Jawab Viola dengan nada suara yang sudah bergetar menahan tangis.


"Udah.. nanti kita bicarakan lagi soal itu, sekarang aku mau ketemu sama orangtua kamu dulu Vi," sahut Tampan mengusap pipi Viola lembut.

__ADS_1


"Kamu yakin Tam? Gimana nanti kalo ayah marah-marah sama kamu seperti di cafe waktu itu?."


"Aku yakin Vi.." Potong Tampan cepat. "Yakin banget malah, aku kan udah janji sama kamu ingin berjuang bersama demi hubungan kita. Kamu hanya perlu berada disamping aku, dan mendukung aku sepenuhnya. Sekarang, ayo kita pergi temui orangtua kamu.." Ujarnya memberi keyakinan pada Viola.


Wanita cantik yang hari ini memakai celana berbahan kain diatas lutut dengan kaos santai pas dibadan, mengangguk mengiyakan ucapan Tampan.


Viola pun membawa Tampan menuju ruang keluarga, dimana ayah dan bundanya sedang duduk bersama sambil menonton TV.


"Siapa yang datang Vi?," tanya bundanya tanpa menatap Viola yang berjalan mendekati mereka.


"Selamat malam om, tante.." Sapa Tampan.


Suara seorang pria dirumah mereka membuat sepasang suami istri itu mendongak menatap kearah Tampan yang berdiri disamping Viola.


"Kamu? Ngapain kamu dirumah saya!," sentak Om Wellem tidak suka melihat Tampan berada dirumahnya dan sedang menggandeng tangan Viola mesra.


"Yah, jangan begitu!," tegur Tante Wina bunda Viola. "Duduk dulu, ayo.." ajaknya memberi kode untuk duduk diruang keluarga bersama mereka.


Tampan mengangguk dan berjalan mengikuti Viola dari belakang dengan jantung yang sudah berdetak tidak karuan, antara gugup dan resah jika kedatangannya malam ini tidak bisa meyakinkan orangtua pacarnya.


Om Wellem mendengus tidak suka melihat Tampan duduk disamping Viola, yang masih saling berpegangan tangan.


"Ini siapa Vi?," tanya Tante Wina menunjuk pria disamping anak perempuannya.


"Ini Tampan bunda, pacar Viola sekarang.."


"Oh, jadi kamu yang namanya Tampan. Udah berapa lama kalian pacaran?," tanya Tante Wina yang kini dia tujukan untuk pacar anaknya Viola.


"Sudah hampir empat bulan Tante."


Tante Wina manggut-manggut mengerti, "Jadi.. Ada apa kamu kemari?."


"Saya ingin meminta izin dari om sama tante agar kami bisa berpacaran.." Jawab Tampan mengeratkan genggaman tangannya pada Viola.


"Jangan bermimpi!," sahut Om Wellem lantang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...∆∆∆∆∆∆∆∆∆...


Tungguin Next Part-nya yahh..


__ADS_2