Ojek Cantik

Ojek Cantik
Restu Tante Wina


__ADS_3

Like jangan lupa yahh...


************


"Ayah kok ngomong gitu sih sama Tampan, dia baik ayah.. Dia nggak kayak Glen!," ujar Viola setelah mereka keluar dari parkiran cafe.


Sekilas dia melihat Tampan sedang berdiri memandangi mobil mereka yang berlalu meninggalkan dia sendiri disana.


"Ngapain kamu bandingin Glen sama pacar kamu itu, dari segi manapun jelas mereka berbeda jauh meski dia sedang berada di penjara sekarang!," sentak Om Wellem tidak suka calon menantu kebanggaannya dulu dibandingkan dengan Tampan yang bukan dari kalangan 'berada' seperti keluarga mereka.


"Ayah selalu begitu, selalu membela lelaki brengsek itu dibanding aku yang anak ayah sendiri. Ayah nggak tahu gimana tersiksanya aku dulu kan sama dia, ayah cuma tahu bisnis dan bisnis saja selama ini. Aku benci ayah!," sarkas Viola dikursi samping Om Wellem.


Wanita itu mulai menangis meratapi kehidupan percintaan dia yang kelam bersama Glen dulu, lelaki yang katanya sangat mencintai dia dengan tulus malah dengan tega memukuli bahkan menendang dia jika sedang marah.


Hubungan bebas yang dijalani oleh keduanya membuat Viola berusaha bersabar dengan setiap perlakuan Glen padanya.


Iya, Viola dan Glen layaknya pasangan kekasih jaman sekarang yang biasa melakukan hubungan s*eks diluar nikah. Glen adalah lelaki pertama yang menyentuhnya dan berjanji akan menikahi dia nanti.


Tapi semakin lama, pria yang mewarisi bisnis usaha milik Ayahnya itu makin kasar dan bahkan tidak segan main tangan pada Viola. Dia yang awalnya begitu mencintai Glen, berubah menjadi sangat membencinya hingga saat ini.


"Sudah tidak usah membahas Glen lagi, dia sudah dipenjara karena kebodohan dan keserakahannya sendiri. Papanya bahkan sampai sekarang masih menghubungi ayah karena ingin meminta tolong untuk bisa ikut menjadi penjamin anak bodohnya itu" ujar Om Wellem berusaha mengalah.


"Tapi, bukan berarti ayah akan mendukung hubungan kamu dengan pria miskin itu. Dia tidak selevel dengan kita Vi, kamu harus ngerti itu! Ayah akan mencarikan suami yang baik dan sederajat dengan keluarga kita untuk kamu!," sambung Om Wellem lagi pada anaknya.


"Ayah kenapa jadi matre begini sih sekarang? Apa karena bisnis ayah udah makin maju sampe ayah bisa merendahkan orang lain? Apa ayah lupa kalau ayah dulu juga pernah berada di posisi seperti mereka? Jangan sombong Yah, semua yang ada pada kita sekarang cuma titipan dari Tuhan. Dia bisa ambil itu kapan aja dari kita!," sahut Viola tidak terima lelaki sebaik Tampan dihina oleh ayah kandungnya sendiri.


"Diem kamu! Kamu tahu apa soal itu! Semua yang ayah lakuin untuk kamu anak ayah, Viola. Kamu tidak pantas mengajari ayah!," bentak Om Wellem marah.


"Susah ngomong sama orang yang sudah dibutakan oleh harta dunia!," sahut Viola lalu turun dari dalam mobil mewah Om Wellem setelah mereka tiba dirumah.


Selama hampir seminggu Viola tidak diizinkan keluar oleh Om Wellem, dia bahkan tidak diizinkan menggunakan ponsel selama dia sedang dikurung.


Viola hanya sempat satu kali mencuri kesempatan untuk bisa menghubungi Tampan, itupun hanya melalui sebuah pesan singkat. Dia memberitahukan kalau dirinya dalam keadaan yang baik-baik saja, agar lelaki itu tidak khawatir.


Dan hari ini, secara tiba-tiba Tampan datang kerumahnya untuk bertemu dengan ayah dan bundanya.

__ADS_1


Viola terkejut namun sekaligus bahagia, lelaki yang selama seminggu ini tidak bisa dia lihat dan dia sentuh kini sedang berdiri di depan rumah mereka.


Tampan berkata ingin bertemu dengan kedua orangtuanya dan bermaksud meminta izin untuk berhubungan dengan dia.


"Jangan bermimpi!," sahut Om Wellem lantang. "Sudah saya katakan untuk jauhi anak saya waktu itu pada kamu bukan, sampai kapan pun saya tidak akan menyetujui hubungan kalian berdua!."


"Ayah, tenang.." Sela Tante Wina. "Dengarkan dulu apa yang mau dikatakan sama Tampan Yah, setidaknya kita harus kasih kesempatan untuk dia bicara," ujarnya lagi bijak.


Iya, Tante Wina sebenarnya adalah Ibu yang baik. Dulu dia sangat dekat dengan Viola, tapi karena kesibukan dia dan suami mengembangkan usaha bisnis kopra mereka, perlahan kedekatan ibu dan anak itu mulai merenggang.


Viola sempat berbicara padanya waktu lalu tentang hubungan dia dan Glen, tapi karena Om Wellem sang suami yang begitu mengidam-idamkan mempunyai menantu sederajat dengan mereka, membuat diapun akhirnya ikut-ikutan menyetujui perkataan suaminya.


Meski dia sendiri tahu kalau Glen adalah lelaki kasar dan suka memukuli anak perempuan satu-satunya ini.


"Bicara saja Tam, jangan dengarkan ucapan ayah Viola tadi.." Sambung Tante Wina tersenyum hangat menatap Tampan.


Tampan yang mendengar ucapan calon ibu mertuanya ini sangat senang, setidaknya wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan Tanta Mar itu terlihat menyukai dia.


"Terima kasih Tante, maaf jika kedatangan aku kesini begitu tiba-tiba hingga membuat Tante dan keluarga terganggu. Tapi sungguh, aku kesini hanya ingin meminta izin dan restu dari om dan juga Tante untuk hubungan kami.." Ujar Tampan menggenggam kuat tangan Viola dan melirik sekilas kearahnya.


Tante Wina terenyuh mendengar ucapan Tampan yang dinilainya memang benar mencintai Viola dengan tulus, semua itu terlihat dari bagaimana dia menatap Viola dan bahkan mau datang langsung kerumah mereka, untuk meminta izin bisa berhubungan dengan anak perempuannya.


Bagi Tante Wina, Tampan adalah sosok seorang lelaki baik dan penuh rasa tanggung jawab meski berasal dari strata yang berbeda dengan keluarga mereka.


Berbeda dengan istrinya, Om Wellem mendengus tidak suka pada Tampan. Bagi dia lelaki seperti Tampan hanya akan mempeloroti anak perempuannya yang sudah memiliki segalanya, karena orang jaman sekarang bisa berkata tulus di mulut namun tidak dihati.


"Terserah kamu mau ngomong apa, saya tetap tidak menyetujui hubungan kamu dan anak saya!," ujar Om Wellem berdiri dan meninggalkan mereka di ruang keluarga.


"Yah.." Panggil Viola.


"Udah, biarin aja Vi. Ayah kamu memang begitu, susah untuk diyakinkan.." Sahut Tante Wina. "Kalian harus pelan-pelan meyakinkan ayah untuk mau percaya dan mengizinkan kalian berhubungan," ujarnya lagi memberi saran.


Tampan menghembuskan nafas kecewa, sepertinya perjalanan untuk mendapatkan restu dari Om Wellem masih sangat panjang pikirnya.


"Tante percaya sama kamu Tam, tenang aja.. Nanti Tante bantu yakini ayah Viola."

__ADS_1


Tampan dan Viola saling menatap dan tersenyum bahagia, setidaknya ada Tante Wina yang mendukung hubungan mereka.


"Makasih Bunda.." Sahut Viola berdiri memeluk Tante Wina yang duduk didepan dia dan Tampan.


Tante Wina mengangguk dan mengusap punggung Viola, entah kapan terakhir kali mereka berpelukan hangat seperti ini.


"Semoga kalian selalu bahagia yah Vi, bunda hanya bisa mendukung dan mendoakan kebahagiaan kalian berdua. Maafin bunda karena belum bisa jadi bunda yang baik buat kamu selama ini Vi."


"Mama ngomong apa sih, udah Viola nggak apa-apa semua sudah lewat nggak perlu dibahas lagi. Viola cuma mau ucapin terima kasih karena Bunda mau percaya sama Tampan dan mengizinkan kami bersama.." Sela Viola masih memeluk wanita paruh baya dengan hati yang penuh kerinduan.


Rindu karena selama ini mereka terasa semakin jauh, karena kesibukan kedua orangtuanya.


"Semangat untuk kalian yah, Tante titip anak Tante yah Tam.." Ujar Tante Wina setelah melepaskan pelukan hangat dia dan Viola.


"Makasih Tante, aku pasti akan selalu jagain dan mencintai Viola setulus hati."


.


.


.


.


.


.


.


.


...∆∆∆∆∆∆∆∆...


Semangat terus Tam,,

__ADS_1


__ADS_2