
Like kalian sangat berarti untuk kesuksesan karya author ini..
**********
"Ayo masuk Pak.. Kenapa malah bengong diluar?", panggil Tampan yang kembali keluar dari dalam rumah karena melihat Dodo yang tidak ikut mengikutinya masuk.
"Ah.. Iya Tu.."
Dodo pun melangkahkan kaki panjangnya masuk kedalam rumah sederhana namun masih terawat dengan baik.
Meski banyak plafon rumah yang mulai bolong karena tergerus air, dan cat rumah yang sudah pudar. Namun ada rasa hangat di hati Dodo saat memasuki rumah itu.
"Duduk dulu Pak.. Kakak saya lagi ganti baju mungkin dikamar, dia nggak enak cuma pake daster tadi."
Daster? Baru sekarang Dodo mendengar ada wanita yang hidup di dunia yang sudah modern ini, masih memakai terusan dengan bahan adem dan longgar itu.
Biasanya para mantan kekasihnya ataupun wanita yang dia kenal lebih suka memakai tanktop dan hot pants kalau berada dirumah. Ada satu hal lagi yang baru diketahui Dodo tentang wanita bernama Cantik itu.
Dodo pun duduk di sebuah kursi sofa yang tadi di duduki oleh Cantik. TV ikan kembung masih menyala dengan sinetron yang entah berjudul apa.
Lelaki itu mengedarkan pandangan matanya mengamati isi dalam rumah Cantik. Rumah dengan luas yang tidak lebih dari setengah rumah eyang dan Opanya, terlihat rapi nyaman dan hangat..
Ada dua kamar saling bersebelahan dan dapur kecil di dekat ruangan tempat dia duduk saat ini, dan satu pintu yang tertutup rapat. Mungkin itu kamar mandi pikir Dodo.
"Minum dulu Pak.."
Suara Tampan mengalihkan pandangan nya dari mengamati isi dalam rumah mereka. Dia menyuguhkan secangkir teh manis yang masih mengepul.
"Maaf cuma bisa kasih Bapak minum doang.. Aku nanti tunggu di teras aja yaa Pak, biar Bapak bisa lebih leluasa ngomong sama Kakak aku."
"Eh.. nggak apa-apa Tu, kamu harusnya nggak perlu repot-repot gini. Oh iya, panggil Sam saja Tu. Aku ini belum nikah, jadi nggak pantes lah dipanggil Bapak.."
Tampan tertawa geli mendengar ucapan pria pemilik dealer top di kota ini, "Ok deh Ka Sam. Aku tinggal dulu yahh, bentar lagi pasti Kakak aku dateng kesini temuin kamu."
Dodo mengangguk dan Tampan meninggalkan dia duduk sendiri disana.
Satu menit, tiga menit, lima menit, sepuluh menit, lima belas menit menunggu, Cantik tidak juga keluar dari kamarnya.
Dodo bahkan sudah menghabiskan teh manis yang masih mengepul tadi, namun wanita berkulit sawo matang itu tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Sialan! Baru sekarang gue dikacangin gini sama cewek, batin Dodo.
"Masih disini juga kamu!."
Suara lembut namun tajam terdengar di indera pendengaran Dodo, matanya langsung menangkap sesosok wanita dengan daster batik khas ibu-ibu, dan rambut yang diikat asal ke atas.
__ADS_1
Dodo refleks berdiri dan sedikit membungkuk karena merasa tidak enak. Bukannya kata Tampan tadi kakaknya ini sedang ganti baju? Kenapa masih pakai daster juga ini?.
"Aku pikir kamu udah pulang karena aku nggak keluar dari tadi!", sengit Cantik.
Diapun duduk agak menjauh dari Dodo yang masih berdiri di dekat sofa butut mereka.
"Duduk.." Sambung Cantik memberi kode dengan matanya.
"Eh.. iya terima kasih."
"Aku kan udah ngomong sama adik aku, kalo aku nggak mau ketemu kamu! Kenapa jadinya kamu maksa banget mau ketemu aku?", tanya Cantik dengan intonasi yang sedikit meninggi.
Benar kata Tampan kalau kakaknya ini sangat galak. Belum apa-apa tapi Cantik sudah membuat seorang Dodo mati kutu sebelum berperang.
Bahkan Cantik sudah tidak memakai bahasa formal lagi berbicara dengan pria penabraknya itu, saking kesel dengan Dodo.
"Iya, aku tahu.. Aku cuma ingin minta maaf saja sama kamu Cantik. Aku juga ingin bertanggung jawab dengan membiayai pengobatan tangan kamu sampai sembuh", terang Dodo takut-takut.
Mata tajam Cantik seakan mencabik-cabik jantungnya sampai kedalaman, dan membuat dirinya tidak nyaman berada disana.
"Kamu nggak perlu minta maaf, dan sorry (maaf).. aku nggak butuh uang kamu untuk pengobatan aku! Lebih baik kamu simpan saja uang mu itu."
"Eh.. Jangan gitu lah Cantik, aku tuh tulus datang kemari ingin minta maaf dan bertanggung jawab sama kamu. Tolong kamu terima yah, kalo nggak..."
"Kalo nggak apa..?! Mau ngancem nggak mau pulang lagi.. Iya..?", potong Cantik.
Dodo pun mengibaskan tangannya di depan dada, "Enggak, bukan gitu. Maksud aku, kalo kamu nggak mau nerima permintaan tulus aku ini. Aku akan benar-benar merasa bersalah sama kamu Cantik, beban dihati aku akan semakin besar nantinya.. Kamu ngertikan maksud aku..?."
Dodo menatap Cantik penuh harap, entah kenapa dia sampai harus mati-matian meminta agar Cantik mau memaafkannya serta menerima niat baiknya.
Dia tahu kalau kehidupan wanita yang berprofesi sebagai tukang ojek ini, hidup dalam berkecukupan. Cantik pasti sengaja bekerja seperti itu demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.
Meski Tampan adiknya ikut bekerja part time di restoran Tante Mince, tapi sebagai anak tertua di keluarganya. Cantik harus ikut menanggung beban mencari nafkah demi kebutuhan mereka sehari-hari, setelah ayah mereka yang meninggal beberapa tahun yang lalu.
Cantik hanya diam dan membuang nafas kasar, dia wanita dengan pendirian yang tinggi. Pantang baginya menerima bantuan dari orang lain yang notabene sudah membuatnya celaka seperti ini.
Cantik terlalu kecewa dan kesal dengan sikap Dodo sebelumnya, meninggalkan dia sendirian di rumah sakit tanpa berkata apa-apa dan hanya meninggalkan uang untuk biaya pengobatan dirinya disana.
Seakan uang bisa membuat perbuatannya yang menabrak orang dan menyebabkan orang lain celaka, bisa di maafkan dan dimaklumi. Ah.. Cantik benci dengan orang 'berada' seperti itu!.
"Baiklah.. Aku akan memaafkan mu, tapi tidak untuk biaya pengobatan yang ingin kau berikan untuk ku. Aku masih punya uang sendiri untuk biayanya", tegas Cantik bersuara.
Dodo membuang nafas panjang, setidaknya permintaan maafnya diterima oleh Cantik pikirnya.
Dia akan memikirkan lagi bagaimana caranya agar Cantik mau menerima permintaan nya yang kedua.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu lagi. Tapi mungkin aku akan sering-sering kesini nanti, karena ada yang harus aku perbaiki bersama Tampan adikmu.."
Kali ini Dodo memakai adiknya Tampan untuk menjalankan misi permintaan keduanya pada Cantik. Biar saja nanti lelaki itu kena semprot kakak galaknya ini, biar kami satu sama pikir Dodo.
"Tampan? Perbaiki? Mau perbaiki apa kalian?", tanya Cantik penasaran.
"Ada deh.. Itu khusus kaum pria", ucap Dodo setengah menggoda.
Cantik memutar bola matanya malas, "Terserah kalian lah. Kalo sudah selesai, kamu bisa pulang sekarang!."
"Wah.. kamu ngusir aku Ca?."
"Iya.. Kenapa emangnya? Nggak suka? Kalo nggak suka mending jangan datang kesini lagi! Kalo mau ketemu sama Tampan, ketemu aja di luar jangan dirumah aku!."
"Ya ampun Ca.. Galak bener sih kamu", canda Dodo.
"Ohh.. Udah berani ngatain aku kamu yah, baru juga minta maaf. Udah mau bikin masalah baru lagi kamu..?!", geram Cantik.
"Aku cuma becanda kali Ca.. Jangan marah-marah gitu, tar Cantiknya ilang loh.." gombal Dodo.
Suasana langsung mencair saat Dodo melemparkan gombalan serta candaan nya untuk wanita yang tampak menarik dimatanya malam ini.
Dodo suka melihat wajah polos Cantik tanpa balutan make up, dan daster batik yang dipakainya. Auranya lebih keluar kalo kata eyang nya dulu setiap kali dia berhasil mendandani cucu-cucu perempuannya waktu kecil.
"Kekeeeee..." suara cempreng khas Tante Marice terdengar menggelegar di dalam rumah Cantik, yang membuat kedua manusia berbeda jenis kelamin itu terkejut setengah mati.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Hayooo loh...
Apa yang bakalan terjadi nih sama Dodo kira-kira guys..
Spoiler yuk di kolom Coment 🤭
And for your information guys..
Dodo sama Devan itu seumuran yahh tapi beda bulan lahirnya,, dan Dodo itu cucu bungsu Laki-laki..
Sedangkan untuk cucu bungsu perempuan Debo, adiknya Devan 😁
Jadi jangan salah persepsi nanti..
********
Jejak mu jangan lupa yahh 🤗
__ADS_1
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹