Ojek Cantik

Ojek Cantik
Rumah Cantik


__ADS_3

Like dulu biar Author makin sayang..


*********


"Mau kemana lagi Do? Udah mau malam ini.."


"Mau ke rumah cewek yang aku tabrak waktu itu eyang.."


"Oh.. udah ketemu?."


"Belum eyang, ini juga baru mau ketemu. Aku baru dapet alamat nya dari Pak Gio, manager di resto nya Momo."


Eyang mengernyit, "Pak Gio? emang hubungannya apa?."


"Panjang ceritanya eyang, nanti aku cerita deh. Aku harus kesana dulu sebelum lebih malem lagi. Jalanan pasti macet ini karena orang-orang pada pulang kantor kan, aku pergi yaa eyang. Doain biar aku gak digebukin ayahnya karena udah nelantarin anaknya di rumah sakit.." ujar Dodo meminta dukungan dari sang eyang.


Ucapan Tante Mince tadi pagi masih terngiang-ngiang di telinganya, mau mundur karena takut digebukin ayah Cantik. Tapi hati nuraninya berkata kalau mau bagaimana pun dia mengelak, rasa bersalah itu akan terus ada membebani hatinya.


"Ya itu udah jadi konsekuensi kamu lah Do.. Siapa suruh gak bertanggung jawab gitu jadi orang, udah sana buruan jangan nunda-nunda lagi. Telpon Opa mu kalo kamu gak bisa pulang dari rumah mereka karena udah babak belur", tawa eyang menggoda cucu bungsunya.


"Ish.. eyang kok jadi kayak Momo sih nakut-nakutin Dodo juga! Nggak asik nih eyang.." kesal Dodo.


"Nggak.. eyang cuma becanda, mudah-mudahan aja mereka bukan kayak keluarga lain yang seenaknya minta ganti rugi karena tahu kamu orang 'berada'.."


"Nggaklah eyang.. Cantik nggak keliatan kayak gitu. Kalo dia emang mau malakin aku, dia udah hubungin aku pas dapet kartu nama yang aku tinggalin di warung Om Beng waktu itu.." bela Dodo.


"Wah.. segitunya kamu belain dia Do, udah kayak kenal lama aja kamu sama tu cewek", goda eyang lagi.


"Udah ah.. Dodo pergi dulu eyang, bye.."


Dodo mencium pipi eyangnya dan pergi meninggalkan wanita tua itu, yang duduk di kursi tamu menunggu Opanya yang masih dalam perjalanan pulang dari rumah temannya.


Menuju rumah Cantik, sebenarnya jarak dari rumah eyang dan opanya menuju kesana hanya membutuhkan waktu selama setengah jam saja. Tapi karena kemacetan di kota Manado yang mirip-mirip dengan Jakarta jika sudah pulang kantor seperti ini, membuat Dodo baru tiba disana setelah satu jam di jalan.


Dodo sempat singgah sebentar di sebuah warung dekat lokasi rumah Cantik, untuk memastikan kalau betul rumah wanita yang dia tabrak itu ada di sekitaran sini.


"Oh.. Cantik pe rumah.. Iyo ada disana. Ngana trus Jo Kong nanti mo dapa Lia tu pagar besi mar so ba karat, kong Depe halaman luas so itu no Depe rumah. Cuma dorang pe rumah kwa yang ada halaman luas bagitu disini cowok!."

__ADS_1


(Oh.. rumahnya Cantik.. Iya ada disebelah sana. Kamu trus saja lalu nanti ada pagar besi yang udah berkarat, trus halamannya luas.. itu dia rumahnya. Cuman mereka yang punya rumah dengan halaman yang luas disini cowok!).


Begitu kata pemilik warung yang tadi memandangi Dodo dari atas sampai ke bawah. Mungkin si pemilik kepo mau tahu, kenapa udah mau malam gini ada orang yang nyariin Cantik, pikirnya.


Dodo lalu menghentikan mobil dealer yang dia bawa seharian ini, di depan pintu pagar besi yang berkarat dengan halaman luas namun terlihat rapi dengan bunga berwarna-warni.


Tampak pintu sudah tertutup rapat dengan lampu teras yang telah dinyalakan. Entah ada orang atau tidak, tapi Dodo nekat saja untuk bertemu dengan Cantik.


Dia harus bertemu dengan Cantik pokoknya malam ini, meski harus pulang babak belur atau dengan saku koceknya yang tergerus banyak, kayak kata eyang Dodo tadi.


Sebelum yakin masuk ke dalam Dodo berinisiatif untuk menghubungi Tampan lebih dulu, karena kata Pak Gio adik Cantik itu sudah pulang dari tadi sore karena ada jadwal kuliah online.


"Halo.." suara Tampan terdengar di ponsel mahal Dodo.


"Tampan, ini aku..."


Belum sempat mengatakan maksud tujuannya menghubungi Tampan, lelaki itu sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Iya.. Kakak aku nggak mau ketemu sama Bapak. Katanya Bapak nggak perlu repot-repot minta maaf trus tanggung jawab bayarin pengobatan lanjutannya nanti."


"Eh.. Tapi aku udah di depan rumah kalian ini, gimana dong?", tanya Dodo bingung. Masa dia harus pulang sedangkan dia sudah jauh-jauh datang kesini dan terjebak macet juga tadi.


"Iya.. Aku udah di depan rumah kalian ini. Kakakmu ada kan?", tanya Dodo lagi.


Sekilas dia melihat gorden yang menutupi kaca tembus pandang rumah Cantik bergerak dari dalam, sepertinya wanita dan adiknya itu sedang ada di dalam rumah pikir Dodo.


"Halo.. Tampan..?."


"Eh iya Pak.. ada kok ini. Tapi Kakak aku tetep gak mau ketemu sama Bapak. Mending Bapak pulang aja deh.." tawar Tampan, dia tidak ingin memaksa Kakak perempuan nya yang sudah menatapnya tajam karena tidak mau bertemu dengan Dodo


"Jangan gitu dong, aku jauh-jauh loh Dateng kesini. Mana kakakmu, biar aku yang ngomong langsung sama dia.."


Terdengar dari seberang sana kedua kakak beradik itu berbisik-bisik, mungkin Tampan sedang mencoba membujuk kakaknya untuk mau bertemu dengan Dodo.


Hampir sepuluh menit Dodo menunggu di depan pagar besi berkarat dengan ponsel yang masih terhubung, terdengar bunyi pintu di buka.


Seorang pria dengan rambut sedikit gondrong yang tingginya mungkin sampai di bahu Dodo, berjalan mendekati si penabrak yang mulai resah karena tidak kunjung mendapati izin Cantik untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


"Maaf Pak.. Lama yah nunggunya, mari masuk pak.." ucap Tampan tak enak hati.


Dia lalu membuka pintu pagar dengan suaranya yang nyaring membuat Dodo berjengkit kaget. Tiba-tiba saja dia langsung membayangkan kalau ayah Cantik sedang menunggu dirinya di dalam dengan sebuah pentongan kayu.


"Mm.. Tampan," panggil Dodo setelah lelaki itu berjalan bersisian dengannya.


"Panggil Utu saja Pak, saya biasa dipanggil begitu sama keluarga saya."


"Oh.. Ok. Mmm Utu, apa Papa kamu ada didalam juga?", tanya Dodo ragu-ragu.


"Papa memang ada di dalam Pak.."


Deg...


Jantung Dodo semakin berdetak tidak karuan, mampus gue.


Badannya mendadak panas dingin karena takut dengan pikirannya sendiri yang membayangkan kalau Ayah Cantik dan Tampan, akan memukulinya sampai babak belur.


"Selalu ada di dalam hati kami Pak. Ayah saya sudah meninggal beberapa tahun lalu", sambung Tampan sengaja mengerjai pemilik dealer ini karena wajahnya yang langsung pucat saat mendengar ucapan dia tadi.


"Ha? Apa?."


"Ayah saya sudah meninggal Pak, jadi Bapak tidak perlu khawatir kalo Bapak akan digebukin ayah saya karena sudah mencelakai anak perempuan kesayangan nya. Tapi yang perlu bapak khawatirkan sekarang adalah menghadapi Kakak saya, dia lebih galak dari Ayah kami soalnya.." terang Tampan panjang lebar.


Dodo langsung menelan salivanya dalam-dalam, wanita berparas cantik sesuai dengan namanya itu memang sangat galak. Terakhir dia marah-marah padanya, saat Dodo memberikan alasan dirinya menabrak motor Cantik dari belakang.


"Dan sekedar informasi buat Bapak, kakak saya paling gak suka dipaksa. Kalo dia udah ngomong enggak, jangan berani deh di ganggu gugat.. dan ini pun dia juga terpaksa mau bertemu dengan bapak, karena aku bilang ke dia kalo bapak nggak akan pulang sebelum bertemu dengannya.."


Dodo langsung mematung seketika di tempatnya, sembari mencoba menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


...∆∆∆∆∆∆∆...


Jahil juga si Tampan..


Liat nanti gimana tingkah Cantik yang marah-marah pada Dodo yahh guys hehehe 😁


*******

__ADS_1


Jejaknya jangan lupa yahh kesayangan author semua...


Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2