
Setelah bolak balik kampus selama hampir dua Minggu untuk mengurus kepindahan dia ke Jakarta, Tampan akhirnya bisa bernafas lega karena semua keperluan dia sudah selesai.
Disana Tampan akan melanjutkan kuliah ke salah satu universitas ternama.
Sebelum berangkat meninggalkan kota kelahirannya, Tampan dan keluarga mengunjungi makam papa mereka dipekuburan umum yang ada di kota ini.
Dan hari ini mereka tiba di Ibukota Indonesia dengan kemacetan dimana-mana. Setelah dijemput oleh seorang supir, mereka tiba dikediaman opa dan oma Cantik serta Tampan.
Mereka disambut seorang pria berumur yang duduk diatas kursi roda dengan seorang wanita yang memakai seragam putih-putih berdiri didekatnya.
"Apa kabar Bapak?" sapa Tanta Mar mencium punggung tangan pria itu dengan sopan.
"Bapak baik Mar ... makasih sudah mau datang kesini bersama cucu-cucu Bapak dan ibu," sahutnya tersenyum hangat.
Dia adalah bapak mertua Tanta Mar yang dulu berkata tidak sudi menerima menantu seperti dirinya.
Masih jelas dalam ingatan Tanta Mar bagaimana lelaki ini mengusir dia dan suaminya saat mereka datang meminta izin untuk menikah.
"Iya Pak, ini anak perempuan kami Cantik dan anak laki-laki kami Tampan...." tunjuk Tanta Mar pada dua orang yang berdiri dibelakangnya.
Cantik dan Tampan bergantian maju ke depan untuk mencium punggung tangan opa mereka seperti yang dilakukan Tanta Mar tadi.
"Semuanya ternyata sudah sebesar ini ... maafin opa dan oma karena tidak ada disamping kalian, dan menemani kalian berdua sejak kecil."
"Jangan bicara seperti itu lagi Pak, semua sudah lama berlalu. Kami sudah disini sekarang, Bapak sama ibu bisa menghabiskan waktu yang banyak bersama cucu-cucu Bapak dan ibu...," sahut Tanta Mar dengan lapang dada.
Wanita paruh baya ini tidak lagi mau membahas masalah yang sudah lama berlalu. Baginya yang terpenting saat ini adalah menatap masa depan bersama dengan keluarganya yang kini bisa berkumpul kembali.
Bapak dan ibu mertua Tanta Mar tersenyum bahagia mendengar ucapan mertua mereka. Rasa sesal yang terus mereka rasakan sampai saat ini, sedikit banyak mulai bisa terobati setelah mereka berhasil membawa keluarga anak mereka kembali kerumah.
"Oh iya Pak, ini Sam ... suami Cantik." tunjuk Tanta Mar pada lelaki yang berdiri disamping cucu perempuannya. "Mereka baru sebulan lebih menikah," sambungnya lagi.
"Cantik sudah menikah? Astaga ... lagi-lagi kami kehilangan momen berharga cucu-cucu kami," sahut opa yang kembali merasakan penyesalan dihati.
"Halo opa, saya Sam...," sapa Dodo hangat.
"Selamat datang di keluarga Hidayat Sam."
"Makasih opa."
"Ayo kita masuk kedalam dulu...," timpal oma yang sedaritadi hanya jadi pendengar setia pertemuan keluarga mereka setelah bertahun-tahun lamanya.
...****************...
"Gimana By, kamu suka?"
"Suka ... rumahnya bagus dan luas Sam."
Dodo tersenyum puas setelah menunjukkan isi dalam rumah baru mereka yang akan menjadi awal mula kehidupan rumah tangga mereka berdua dimulai.
Rumah yang berada disalah satu kawasan perumahan elit di Jakarta, dibeli Dodo untuk istri cantiknya ini.
Meski mereka bisa tinggal dirumah orangtua Dodo, tapi dia tahu kalau ada baiknya menantu dan mertua itu tidak tinggal serumah untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan suatu hari nanti.
"Kamar kita ada diatas By ... ayo," ajak Dodo menarik tangan Cantik yang tidak pernah bosan dia genggam setiap saat.
Kamar berukuran 5x5 meter persegi itu sudah terisi dengan ranjang king zise dan meja rias disudut kiri kamar, serta ada walk in closet dengan pintu yang langsung menuju kamar mandi mereka.
Kamar yang didominasi berwarna putih itu tampak nyaman untuk dua orang yang masih terbilang pengantin baru ini.
"Gimana?" tanya Dodo yang merangkul pinggang ramping istrinya dengan kepala berada diceruk leher jenjang Cantik.
__ADS_1
"Semuanya bagus Sam, aku suka...."
"Kamu gak mau cobain kasurnya By?"
"Ish, ada-ada aja kamu ih...," sahut Cantik memukul dua tangan kekar Dodo yang masih merangkul pinggangnya mesra.
"Beneran By, kalo nggak cocok aku ganti nanti."
"Modus yang ada kamu itu!"
"Tapi senengkan dimodusin sama suami sendiri...," kekeh Dodo.
"Udah ah, aku mau liat dapur kita dulu sekalian masak. Aku udah laper banget daritadi!" sahut Cantik melepaskan rangkulan Dodo di pinggangnya.
"Aku juga laper By...."
"Yaudah aku masak dulu."
"Tapi aku lapernya kamu!" sahut Dodo yang tiba-tiba menggendong tubuh Cantik dan menjatuhkannya keatas ranjang.
Pasangan suami istri yang sedang mesra-mesranya itu kembali merengkuh nikmat bersama hingga matahari terbenam di ufuk barat.
"Sam...."
"Iya By, sabar bentar lagi...."
Lelaki itu semakin cepat melajukan permainan tubuh bagian bawahnya yang bertaut pas dengan milik sang istri.
Dodo mengerang panjang dengan nafas yang naik turun saat pelepasan itu berhasil dia dapatkan.
"Enak gak By?"
Cantik mengangguk lemas. "Aku laper Sam...," rengeknya masih dibawah kungkungan Dodo.
Dodo mengecup dahi Cantik dan melepaskan tautan mereka dibawah sana, yang membuat Cantik geli hingga tanpa sadar mendesah.
"Astaga ... kok suaranya gitu lagi sih By? Bikin pengen lagi kamu tuh," goda Dodo meremas gemas satu bukit indah milik istrinya.
"Ih ... apa sih kamu! Udah cepet aku udah laper banget ini," rengek Cantik manja.
Wanita yang dulu selalu mandiri ini semakin manja dengan suaminya, dan Dodo sangat senang jika Cantik selalu bermanja-manja padanya setiap saat.
"Iya, bentar aku ambil hp dulu."
Dodo bangkit berdiri masih dalam keadaan tubuh yang polos dan mengambil ponselnya di saku celana yang tergeletak begitu saja dilantai kamar.
Cantik memalingkan wajah merona melihat Dodo yang tanpa malu berjalan kesana kemari dengan tubuh bagian bawah yang bergelantungan tanpa penutup.
"Beby mau makan apa?" tanya Dodo dengan tangan satu memegang ponsel dan satunya lagi berada dipinggang.
"Pakai baju dulu bisakan Sam...."
Dodo tertawa. "Kenapa sih? Kayak nggak pernah liat aja."
Cantik memutar bola matanya malas dan menarik selimut untuk menutup dua mata indahnya dari pemandangan berbahaya didepan.
"Terserah kamu aja, yang penting cepet!"
Dodo masih tertawa dan mencari restoran yang menyediakan makanan-makanan enak dan memesannya dalam jumlah banyak, takut jangan nanti Cantik masih ingin makan tapi sudah keburu habis karena yang dia pesan hanya sedikit.
"Udah, sepuluh menit lagi makanannya dateng By. Mau mandi dulu gak?" tanya Dodo yang kini sudah duduk diujung ranjang samping Cantik.
__ADS_1
"Nggak, nanti aja. Aku capek Sam, mau rebahan dulu."
"Yaudah, aku mandi yah...." Cantik mengangguk.
Dodo mengecup dahi Cantik dan berlalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara menunggu makanan yang mereka pesan, Cantik tertidur sebentar karena merasa badannya benar-benar lemas setelah pergumulan panas yang mereka lakukan tadi.
"By ... hei, makan dulu yuk," panggil Dodo membangunkan Cantik. "Ini makanannya udah ada, keburu dingin nanti...," sambungnya lagi.
Cantik membuka mata dengan malas dan bangkit duduk bersandar di headboard ranjang.
Dodo menyodorkan makanan kehadapan Cantik yang tiba-tiba mual setelah mencium aroma makanan tersebut.
Wanita dengan rambut yang tergerai bebas itupun segera berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi dalam perutnya yang sama sekali belum terisi apapun.
"By ... kamu kenapa?" tanya Dodo khawatir sambil mengusap tengkuk Cantik.
"Nggak tau Sam, makanannya bikin aku mual...," jawab Cantik lemah.
"Yaudah duduk dulu, aku ganti makanan yang lain mau?" Cantik menggeleng. "Kamu belum makan dari pagi By...." Cantik menggeleng lagi.
"Nanti kamu bisa sakit By kalo nggak makan," bujuk Dodo lagi.
"Nggak mau Sam, aku mau bobo aja. Badan aku lemes banget sejak tadi, ngantuk juga."
"Tapi kamu kan belum makan By?"
Cantik hanya diam dan naik keatas ranjang lalu kembali tidur disana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆∆...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak yang banyak untuk karya author ini yahh guys..
Akan ada Giveaway seperti janji author sebelumnya...
Untuk ketentuannya akan author umumkan nanti...
__ADS_1
So,, stay tuned guys 🤗