
Jempolnya jangan lupa yah kesayangan author semua....
********************
Hampir seminggu berbulan madu di Negara Singapura, Cantik dan Dodo menghabiskan waktu duduk di restoran yang terletak di Orchard Road setelah puas berbelanja untuk membeli oleh-oleh.
Orchard Road atau jalan Orchard adalah nama sebuah jalan di Singapura yang sangat terkenal dengan wisata belanjanya. Selain puas berbelanja, Orchard Road juga dipenuhi restoran, spa dan lain-lain.
Dan disinilah Cantik dan Dodo berada, pasangan pengantin yang tengah menikmati masa-masa indah berdua, berpuas-puas menikmati suasana terakhir di Negera ini.
Rencananya besok sore pasangan pengantin baru itu akan kembali ke Manado sebelum nantinya ke Jakarta, untuk tinggal dan menetap disana.
"Sepupu kamu mau datang?" tanya Cantik setelah menghabiskan sepiring steak yang dia pesan.
"Iya, paling bentar juga nyampe. Lapar yah By?" Dodo mengusap sudut bibir Cantik yang belepotan dengan saus steak.
Cantik terkekeh dan mengangguk. "Iya, enak banget makanannya."
"Mau nambah nggak?"
"Nggak ... udah kenyang banget ini," sahut Cantik mengelus perut rata yang tidak lagi rata itu.
Dodo tersenyum. "Masih ada yang mau dibeli lagi?"
"Udah, udah cukup. Nanti kalo kebanyakan bagasi kita overload lagi, sayangkan uangnya."
"Nggak apa-apa, yang penting istri aku seneng," sahut Dodo mengusap tangan Cantik diatas meja.
Keadaan restoran yang sedikit ramai membuat keduanya larut dalam pembicaraan mereka.
"Nanti kalo kita pindah ke Jakarta, mama gimana Sam?" tanya Cantik yang masih sedikit ragu untuk meninggalkan Tanta Mar di Manado.
"Kalo kamu mau, kita ajak juga Mama kesana By."
"Mama pasti nggak mau, lagipula Utu jugakan kuliah disana Sam...."
"Yaudah, kalo gitu kita yang bakal sering-sering pulang ke Manado By. Jangan khawatir, mama juga pasti bakal ngerti kok. Kitakan udah nikah sekarang, wajar jika anak perempuannya ikut sama suami...," sahut Dodo memberi pengertian untuk istri cantiknya ini.
Cantik menghembuskan nafas panjang, semoga saja wanita yang sudah melahirkan dirinya itu tidak akan terlalu sedih karena harus berpisah dengan dia.
Masih dalam kegalauan tentang Cantik yang harus meninggalkan Tanta Mar dan adiknya di Manado, tiba-tiba seorang wanita muda menyapa dia dan Dodo.
"Udah lama yah?" tanyanya tidak enak.
"Eh astaga, kagetin aja sih kamu De!" sahut Dodo mengusap dadanya. "Duduk dulu...."
Dia adalah Debora adik Devan, sepupu perempuannya dan sahabat Tampan.
Wanita berambut panjang berkulit putih dengan gigi yang rapi itupun duduk dan tersenyum manis menatap Cantik dan Dodo bergantian.
__ADS_1
"Ini pasti kakak ipar aku yah, hai ... aku Debo," ujarnya memperkenalkan diri.
"Hai ... aku Cantik."
Kedua wanita yang berbeda umur itu saling bersalaman dan tersenyum satu sama lain.
"Tampan kok nggak pernah ngomong kalo dia punya kakak secantik ini sih," puji Debo pada wanita didepannya.
Dodo sudah pindah duduk disamping Cantik dan merangkul pundak wanitanya dengan mesra.
"Kamu bisa aja De...," sahut Cantik malu-malu.
"Tapi bener kok, sepupu aku beruntung loh bisa nikah sama Ka Cantik. Udah cantik, baik lagi ... nggak kayak mantan dia dulu si bule jadi-jadian itu. Ish, liat muka dia aja udah fake (palsu) apalagi sikapnya. Untung Ka Dodo nggak jodoh sama tu bule!" ujar Debo panjang lebar setengah curhat tentang ketidaksukaan dia pada Alice.
"Nggak usah ngebahas dia jugakan De...!" timpal Dodo tidak enak pada istrinya.
"Eh, iya ... maaf Ka Cantik."
Cantik tersenyum. "Nggak apa-apa, santai aja kali De. Itukan cuma masa lalu," sahutnya bijak.
Bagi Cantik yang namanya masa lalu akan tetap menjadi masa lalu, dia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan semua itu.
Lagipula saat itu dia juga belum kenal dengan sosok yang kini sudah menjadi suaminya.
"Udah gak usah bahas itu lagi! Kamu katanya mau pulang yah? Udah pesen tiket belum?" tanya Dodo yang tidak mau membahas masa lalu dia dengan Alice.
"Udah, mama udah pesen dari Minggu lalu bareng sama Ka Dodo."
Debo mengangguki ucapan kakak sepupunya Dodo dan kembali berbincang-bincang hangat dengan Cantik sembari meminta maaf karena tidak bisa datang ke acara pernikahan mereka.
"Maaf yah gak bisa dateng di nikahan kalian, aku sengaja selesein ujian disini biar nanti pas pindah nggak susah."
"Loh, kamu mau pindah?"
Debo mengangguk. "Iya Ka, aku mau kuliah di Manado aja. Nggak enak disini nggak ada temen, kalo disana kan ada Tampan. Setidaknya aku nggak kesepian lagi...," kekehnya.
"Ada-ada aja sih kamu De, waktu lalu kamu kan yang maksa pengen kuliah disini. Sekarang malah ngomong mau pindah, momo sama popo udah tau belum tentang kepindahan kamu ini?"
Debo menggeleng. "Mereka belum tahu, nanti aja aku ngomongnya kalo udah disana," ujarnya menyengir.
Dodo hanya menggelengkan kepala melihat adik sepupu perempuannya yang memang suka seenaknya memutuskan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu.
Mungkin karena terbiasa dimanjakan oleh Tanta Mince dan Om Marlon sampai membuat Debo seperti ini pikirnya.
"Eh, Tampan apa kabar Ka? Aku udah lama nggak saling kontekan lagi sama dia, gegara handphone aku yang ilang waktu itu!" tanya Debo pada Cantik.
"Dia baik kok, baik banget malah. Semenjak punya pacar Tampan makin semangat kuliah dan bekerja," kekeh Cantik yang teringat dengan kelakuan adik laki-lakinya setiap pulang dari bertemu dengan Viola.
"Pacar? Tampan udah punya pacar?" tanya Debo kaget.
__ADS_1
"Iya, udah mau lima bulan kalo nggak salah mereka pacaran."
"Li-lima bulan?" sahut Debo terbata.
Hati wanita itu seketika berdenyut merasakan sakit didalam sana.
Bersahabat dengan Tampan selama beberapa tahun membuat Debo menyimpan perasaan yang lebih dari sekedar kata sahabat untuk lelaki itu.
Namun, karena tidak mau merusak hubungan yang terjalin diantara mereka. Debo memilih untuk mengubur dalam-dalam perasaan dihatinya.
Dia juga sengaja kuliah di Singapura karena ingin menghindar dan melupakan semuanya.
Tapi bukannya berhasil menyingkirkan rasa dihati dia untuk lelaki itu, Debo malah semakin merindukan sosok Tampan yang baik dan terkadang sering menggoda dia dulu disekolah.
Itu sebabnya Debo memutuskan ingin kembali ke Manado dan mengejar cinta Tampan, berharap lelaki itu mau menerima dan membalas perasaan yang selama ini dia simpan rapat-rapat didalam hati untuknya.
Debo seketika lesuh memikirkan kalau dia sudah kalah sebelum maju berperang.
"Kamu kenapa De?" tanya Dodo yang melihat perubahan diwajah sepupunya setelah membahas Tampan adik iparnya
"Hah? Nggak pa-pa Ka...," sahut Debo berbohong.
Hatinya sedang tidak baik-baik saja sekarang, tapi tidak mungkin dia mengatakan kalau dirinya tengah sedih dan terluka mendengar ucapan Cantik tadi tentang lelaki yang dia cinta.
Debo lagi-lagi hanya bisa menyimpan semuanya sendiri dalam hati.
Cantik yang sama menyadari tentang perubahan yang ada diwajah Debo beranggapan kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh wanita ini, apa Debo menyukai Utu?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆...
Nah loh,,
__ADS_1
Kasian si Debo yahh...