
Like biar makin sayang sama pasangan ini..
**************
Seminggu setelah acara pertunangan yang tiba-tiba itu, hubungan Dodo dan juga Cantik semakin mesra. Keduanya sudah tidak secanggung dulu saat mereka belum lama bersama.
Dan hari ini sebelum Cantik pergi kerumah eyang Dodo karena diajak oleh Mama Cici, mereka akan singgah ke rumah sakit untuk melepas gips ditangannya.
Dodo ikut masuk kedalam ruangan dokter orthopedi dimana Cantik biasa diperiksa disana, biasanya wanita itu akan langsung menggalaki dia jika memaksa ikut masuk. Tapi hari ini Cantik ingin sekali bisa ditemani oleh pacar sekaligus tunangannya ini.
"Selamat siang dok," sapa Cantik ramah.
"Oh nona Cantik, selamat siang. Silahkan duduk," balasnya tersenyum hangat. "Ini adiknya yah?," tanyanya sambil menunjuk Dodo yang sudah mengambil tempat disamping Cantik.
"Bukan dok, dia..."
"Saya tunangannya," potong Dodo dengan suara baritonnya menatap tajam lelaki yang duduk didepan mereka.
Dokter orthopedi yang bernama Dika terlihat terkejut namun berusaha kembali bersikap seperti biasa. Iya, dokter Dika masih muda dan kira-kira seumuran dengan Dodo.
"Wah, kapan tunangannya Tik? Selamat yah. Saya pikir ini adik kamu yang kemarin sempat kamu ceritakan itu," sahut dokter Dika.
Dodo sedikit kesal saat melihat tatapan tidak biasa dari dokter Dika untuk Cantik, dia tidak menyangka kalau wanitanya bahkan sudah menceritakan Tampan pada pria yang terlihat gagah dengan jubah putihnya ini.
Cantik yang merasa tidak enak pada Dodo hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter Dika.
Cantik memang sempat menceritakan masalah Tampan yang dipukul waktu itu, karena tidak sengaja di dengar oleh dokter Dika saat dia tengah berbicara ditelepon dengan adiknya.
"Kalau begitu kita buka dulu gips ditangannya yah Tik," ujar dokter Dika lalu berdiri mendekati Cantik yang sudah berpindah tempat menuju ranjang pemeriksaan.
Dodo yang tidak mau dokter laki-laki itu mencari-cari kesempatan pada wanitanya, ikut berdiri di samping ranjang memperhatikan interaksi keduanya.
Dokter Dika mulai membuka gips yang menjadi penopang tangan Cantik selama ini dengan perlahan.
Dodo memicingkan mata mengamati bagaimana dokter Dika menyentuh, bahkan sesekali menatap Cantik yang duduk dekat dengannya tanpa mempedulikan dia yang berdiri disitu.
"Coba digerakkan pelan-pelan tangannya Tik. Nah begitu," ujar Dokter Dika memberi contoh sambil memegangi tangan Cantik yang membuat Dodo panas dingin karenanya.
"Sakit nggak?," Cantik menggeleng. "Kalo ini?," Cantik menggeleng lagi. "Wah berarti penyembuhannya berjalan dengan baik Tik, kamu bisa beraktifitas seperti biasa tapi belum boleh angkat yang berat-berat yah. Jangan dulu terlalu banyak menopang tubuh kamu menggunakan tangan kanan ini," terang dokter Dika tidak melepaskan genggamannya dari tangan Cantik.
Dodo berusaha bersikap sewajarnya, dia tidak boleh kalah dengan lelaki yang terlihat sengaja membuatnya cemburu. Cantik miliknya dan akan tetap menjadi miliknya sampai nanti.
Setelah dokter Dika berdiri dari tempatnya, Dodo mendekati Cantik dan membantu dia turun dari ranjang pemeriksaan.
"Dengerin apa kata dokter yah sayang, kalo kamu butuh apa-apa kamu tinggal bilang sama aku," ujar Dodo lalu mencium kening Cantik di depan dokter Dika yang sedang memandangi mereka berdua.
Cantik seketika salah tingkah dengan wajah yang sudah merona merah bak kepiting rebus, dia yakin kalau Dodo sengaja menciumnya karena kesal dengan dokter Dika.
Cantik tahu dan dia bisa melihat itu semua dari tatapan mata Dodo yang sejak tadi selalu menatap tajam lelaki berjubah putih itu, lagipula Dodo tidak pernah memanggil dia dengan sebutan semanis itu selama mereka resmi bersama.
Dodo tersenyum tipis dengan pandangan mata memancarkan kemenangan, dokter Dika terlihat mendengus dengan raut wajah yang sudah berubah kesal padanya.
__ADS_1
Dodo lalu merangkul pinggang ramping Cantik agar wanitanya semakin menempel dekat dengannya.
"Jadi dok, apa semuanya sudah selesai?," tanya Dodo tidak ingin berlama-lama diruangan ini mereka bahkan tidak lagi duduk di depan meja kerja dokter Dika.
"Sudah, tapi nona Cantik bisa kembali tiga hari dari sekarang untuk mengecek keadaan tangannya lagi," jawab dokter Dika dengan pandangan mata yang tertuju pada Cantik.
Dodo semakin kesal dengan lelaki yang jelas-jelas tidak bisa menjaga matanya dari tunangan orang lain.
"Kalau begitu kami permisi dulu, ayo sayang.. Hati-hati jalannya," sahut Dodo lalu menarik pinggang Cantik keluar dari ruangan dokter praktek tulang dirumah sakit.
Cantik pun mau tidak mau hanya bisa mengikuti Dodo tanpa berpamitan dengan dokter yang selama ini memeriksanya.
"Kamu kenapa?," tanya Cantik saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kenapa apanya?."
"Diem aja daritadi, biasanya paling rusuh.."
"Nggak kenapa-napa, cuma lagi kesel aja," jujur Dodo.
"Kesel kenapa? sama dokter Dika?." Dodo mengangguk. "Kenapa? Emang dia ngapain tadi sampe kamu jadi kesel begitu?," tanya Cantik berpura-pura tidak tahu kalau tunangannya sedang cemburu.
"Kesel karena dia megang-megang kamu tadi, mana matanya juga liatin kamu terus. Minta di congkel kayaknya dia.." sahut Dodo menumpahkan kekesalan dihatinya.
"Bisa cemburu juga kamu rupanya."
"Ish, kalo nggak cinta nggak mungkin aku cemburu!," sahut Dodo melirik sekilas wanitanya yang cekikikan dikursi sampingnya.
Dodo yang melihat tingkah menggemaskan Cantik menghentikan mobilnya di pinggir jalan, membuka seatbelt lalu menggelitik pinggang wanitanya.
"Do, udah.. Udah.." Ucap Cantik tidak tahan karena terus digelitik oleh Dodo.
"Ampun nggak.."
"Iya ampun, udah dong.."
Dodo tertawa puas melihat Cantik yang menahan perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Makanya jangan suka godain tunangan kamu! Bukannya bujukin malah gitu, aku nggak suka yah liat kamu deket-deket sama cowok lain Ca. Apalagi tadi dia manggil-manggil kamu, Tik.. Tik.. dia kira kamu itik apa!," ujar Dodo masih menumpahkan kekesalan dan cemburu dihatinya.
"Iya Dodo sayang, gitu aja marah. Sini aku sun (cium) dulu biar nggak kesel lagi.." Bujuk Cantik menarik kerah baju Dodo dan mencium sekilas bibir prianya.
Dodo dengan cepat menahan tengkuk Cantik dan semakin memperdalam ciuman mereka, dia menggigit dan menye*sap lembut bibir wanitanya yang selalu manis dan memabukkan untuknya.
Seminggu bertunangan dengan Dodo membuat Cantik mulai bisa mengimbangi permainan bibir dan lidah lelaki itu, bersama dengan Dodo juga Cantik terbiasa mendapatkan ciuman tiba-tiba seperti saat mereka berada diruangan dokter Dika.
Dodo mengurai ciuman itu dan mengusap bibir Cantik dengan telunjuknya, "Kalo cium itu jangan setengah-setengah Ca.. Nggak asik tahu," ujar Dodo mengerling nakal.
Cantik mendengus, "Kamunya aja yang nggak pernah puas tiap kali ciumin aku!."
"Itu tahu.." Sahut Dodo mencolek hidung mancung Cantik.
__ADS_1
"Udah ayo kita pergi, mama sama eyang kamu pasti udah nunggu kita daritadi Do.."
"Iya, iya.. Bawel banget sih," kekeh Dodo dan kembali menyalakan mesin mobil yang sempat dia matikan tadi.
Cantik sudah memanggil prianya dengan nama Dodo sejak dia mengetahui kalau semua keluarga mereka memanggil dia dengan sebutan itu.
Cantik sampai tertawa terpingkal-pingkal saat eyang dan mama Cici memberitahukan nama itu padanya, malam dimana acara pertunangan mereka berlangsung.
Tidak sampai dua puluh menit, Dodo dan Cantik tiba di rumah eyang. Mama Cici sengaja mengajak Cantik kesana karena besok dia harus kembali lagi ke Jakarta, menyusul papa Marlon yang sudah lebih dulu pergi dua hari yang lalu.
"Siang Ma, eyang.." Sapa Dodo dan Cantik bersamaan.
"Aduh, aduh.. Udah makin kompak yah kalian sekarang," kekeh eyang mendekati pasangan kekasih itu.
"Duduk dulu Ca," pinta mama Cici yang sedang sibuk menyediakan makan siang dimeja makan.
"Aku bantu yah Ma.." Ujar Cantik yang langsung mendekati mama Cici didapur. Diapun dengan sigap mengatur meja makan untuk keluarga tunangannya makan siang.
Mama Cici tersenyum melihat calon menantunya yang baik dan sopan pada mereka, sering menghabiskan waktu bersama selama seminggu membuat mama Cici sangat menyukai pribadi seorang Cantika Hidayat.
Dia bersyukur karena anak laki-lakinya ternyata tidak salah memilih, Cantik berbeda jauh dengan Alice yang pernah Dodo kenalkan dulu pada mereka.
Dodo sudah duduk di meja makan bersama eyang dan Opanya, dan sesekali melirik Cantik yang tampak sibuk membantu mama Cici. Ada rasa hangat dihatinya membayangkan jika mereka menikah nanti, Cantik pasti akan sibuk seperti sekarang menyuguhkan makanan untuk dia anak-anak mereka nanti.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Udah liat kan gimana Dodo kalo lagi cemburu..
Cerewet!
Dah kayak emak-emak nggak dikasih jatah bulanan 😆
**************
Jangan lupa tinggalkan jejak kalo kalian syuka sama pasangan Dodo dan Cantik yahh 🤗
__ADS_1
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹