
Like biar author sayang ðŸ¤
*********
Sudah tiga hari sejak kejadian tabrakan yang tidak disengaja itu, membuat Dodo galau karena Cantik tidak juga menghubungi dirinya.
Kemarin setelah Tampan pergi dari warung Om Beng, tidak lama setelahnya Dodo tiba disana.
"Yah.. Lu dateng terlambat Sam. Adik Cantik baru aja pergi bawa motornya. Tapi lu tenang aja, gue udah kasih kartu nama yang lu titipin kemarin sama dia", begitu kata Om Beng kemarin pagi.
Dodo mengetuk-ngetuk kan jari telunjuknya ke meja kantor, dia sedang berada di dealer mobil miliknya yang ada di Kelurahan Teling Manado.
"Kenapa Cantik belum juga hubungin gue yahh? Apa adiknya nggak ngasih tu kartu nama sama dia? Ya ampun.. gini amat mau nebus kesalahan sama orang!", gerutu Dodo.
Tiba-tiba nomor asing panggilan masuk di layar ponsel mahal Dodo. Lelaki itu tersenyum dan berdehem untuk mengatur suaranya agar terdengar berwibawa.
"Halo.."
"Halo.. Selamat siang Pak, kami dari provider nomor ponsel Bapak ingin menawarkan apakah Bapak bersedia mengikuti undian dalam rangka hari ulang tahun provider pilihan Bapak ini?."
Dodo mengernyit, ternyata hanya panggilan orang yang kurang kerjaan pikirnya.
"Bapak.. Kalo nggak punya pekerjaan jangan jadi penipu Pak! Kasihan bini sama anak Lo yang Lo kasi makan uang haram dari hasil Lo nipu!. Udah yah Pak, gue lagi nunggu orang penting ini. Jangan ganggu gue lagi ato gue lacak nomor Lo!."
Tuut.. tuut.. tuut..
Panggilan itu diputuskan secara sepihak dari nomor asing tadi.
"Baru digertak gitu aja udah dimatiin ponselnya! Payah..", ujar Dodo meletakkan ponsel ke meja kantor.
Dia kembali galau menunggu panggilan telepon dari Cantik, yang dia harap mau menghubunginya hari ini.
Entah kenapa dia ingin sekali bisa bertemu dengan wanita yang memilih bekerja sebagai tukang ojek. Baru sekarang dia bertemu dengan wanita tipe seperti Cantik yang nggak malu dengan profesinya.
Selama ini biasanya perempuan akan lebih senang kerja toko atau pelayan restoran dibanding ngojek, yang harus kena panas dan hujan setiap hari.
Belum lagi jika dapat pelanggan yang nggak tau diri, ih.. membayangkan itu saja sontak membuat Dodo kesel sendiri, karena pasti ada pelanggan yang ingin coba-coba dengan driver ojol perempuan.
Tapi.. kok gue kesel sih? emang dia siapa dan gue siapa? Hadeh.. ini pasti karena gue kebanyakan liatin ponsel ni hari, gumam Dodo dalam hati menepuk jidatnya.
Sibuk dengan kegalauannya sendiri, ponsel berlambang buah yang digigit itu kembali berdering nyaring. Nomor asing tanpa nama kembali terlihat di layar ponsel Dodo.
Dodo kembali berdehem untuk mengatur suaranya, sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo.."
"Woi bro.. Lo dimana?."
__ADS_1
Dodo mengernyit, menatap lagi nomor asing yang masih terhubung itu.
"Lo siapa sok nanya-nanya gue!", bentak Dodo.
"Eh buset.. Galak bener Lo. Mentang-mentang lagi liburan nggak bisa di ganggu!."
"Lah trus Lo siapa pe'ang! Bikin kesel beneran nih orang!."
"Ya ampun.. Gue sahabat terdebes elo ******! Roman.. R O M A N", jawab pria diseberang mengeja namanya.
"Anjritt.. Gue kira siape! Lagian ngapain juga Lo nelpon gue pake nomor baru. Dah kayak selingkuhan gue aja Lo t*i!."
"Eh.. emang gue pake nomor apaan emang?."
Dodo melengos, sumpah demi apapun sahabatnya ini minta di gampar kayaknya.
"Lo kok balik nanya ke gue sih.. Udah, Lo mau ngapain nelpon gue? Gue lagi nunggu telpon penting ini!."
"Nggak nape-nape sih Sam.. Gue cuma pengen tahu kabar Lo aja, abis Lo pulang kampung nggak ngajak-ngajak sih. Gue juga kan pengen kesana, sekalian nyari cewek Manado yang katanya bening-bening.." Roman terkekeh.
"Lo pikir gue kemari mau nyari jodoh apa! Udah gue lagi sibuk ini, besok besok aja baru Lo nelpon gue lagi. Bye.."
Dodo langsung mematikan sambungan teleponnya, sebelum Roman sahabat baiknya itu kembali ngerocos di ujung sana.
Baru saja panggilan telepon itu berakhir, bunyi ponsel Dodo kembali berbunyi membuat lelaki dengan rambut sedikit plontos itu meradang.
"Ngapain lagi sih Lo telpon gue t*i..! Gue udah nomong kalo gue lagi nunggu telpon penting ini! Anjriitt.. emang dasar ****** Lo yaa minta gue gampar!", ucap Dodo kasar.
Dodo mengernyit, bukan suara Roman gumamnya dan memastikan nomor asing yang lagi-lagi menghubungi ponselnya.
Apa gue segitu terkenalnya yahh sampe banyak nomor gak dikenal yang menghubungi nomor ponsel gue?.
"Iya bener.. Elo siapa lagi ha? Dari CS provider lagi? Ato dari finance yang pengen nawarin pinjaman?!", sarkas Dodo.
"Bukan Pak.. Saya Tampan adiknya Cantik yang Bapak tabrak kemarin!."
Dodo tersentak hingga menjatuhkan ponselnya ke lantai ruangan kantor. Buru-buru dia mengambil ponsel tersebut dan berdehem berbicara selembut mungkin.
"Ohh.. Maaf yahh. Tadi saya pikir kamu dari orang iseng lagi yang daritadi gangguin saya melulu. Mm.. siapa tadi namanya?."
Dodo langsung berbicara formal karena merasa tidak enak pada adik tukang ojek yang dia tabrak.
"Tampan Pak!."
"Oh iya, Tampan jadi gini.. saya ingin bertemu dengan kakak kamu Cantik boleh? Saya ingin meminta maaf padanya karena sudah meninggalkan dia waktu itu di rumah sakit", ucap Dodo to the point.
"Kemarin saya menunggu kakak kamu di warung Om Beng, tapi nggak dateng. Trus besoknya saya datang kata Om Beng kamu baru aja pulang bawa motornya", sambung Dodo lagi.
__ADS_1
"Ohh iya.. memang baiknya Bapak minta maaf langsung sama kakak saya, karena gara-gara Bapak nggak hati-hati bawa mobil.. Kakak saya harus di gips tangannya selama dua bulan. Dia gak bisa beraktifitas dengan leluasanya seperti biasa!", sindir Tampan.
Sengaja.. Karena baginya orang yang mengaku sebagai pemilik dealer besar di kota ini, sama sekali tidak bisa di lembutin. Jadi Tampan tidak mau terlalu banyak berbasa basi dengan orang 'berada' macam Dodo.
Lagi, Dodo tersentak. Dia memang tidak sempat menanyakan keadaan Cantik waktu dirumah sakit, karena terlanjur kesal pada perawat yang dia tanyai saat itu.
Rasa bersalah semakin besar berkecamuk dihatinya, memang benar apa kata adik wanita yang dia tabrak ini. Dia yang memang tidak hati-hati membawa mobil hingga membuat orang lain celaka.
Apalagi dengan profesi Cantik sebagai tukang ojek, membuat keluarga nya pasti kesusahan untuk mencari nafkah. Dodo merasa kalau Cantik ini pasti adalah tulang punggung di keluarganya.
"Iya.. Kamu memang benar. Saya yang salah, makanya saya ingin bertanggung jawab penuh dengan kakak mu sampai dia sembuh nanti. Jadi tolong izinkan saya bertemu dengan Cantik, untuk meminta maaf sekaligus membantu kakak mu dalam pengobatannya. Karena pengobatan kakak mu itu, pasti membutuhkan banyak biaya."
Tampan terdiam, merasa benar dengan ucapan pria disambungan teleponnya. Biaya pengobatan tangan kakak perempuannya pasti membutuhkan biaya, sedangkan mereka tidak ikut program pengobatan gratis dari pemerintah.
Jadi nanti saat kakaknya akan kembali ke rumah sakit memeriksakan tangannya, pasti akan dimintai biaya yang tidak sedikit untuk ukuran mereka yang serba berkecukupan setiap harinya.
Padahal tadi Tampan bermaksud menghubungi Dodo hanya untuk sekedar mengeluarkan unek-unek nya karena kesal dengan sikap Dodo yang terkesan angkuh karena tidak punya etikat baik untuk meminta maaf pada Cantik dan juga keluarga nya.
"Baiklah Pak.. Tapi saya tanyakan dulu pada kakak saya, apa dia mau bertemu dengan Bapak atau tidak. Nanti saya akan menghubungi Bapak kembali, selamat siang.."
Tampan mematikan panggilan teleponnya secara sepihak, karena harus segera berangkat menuju restoran tempat dia bekerja paruh waktu.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Mampus sih Dodo,,
Untung gak ditabok sama Tampan karena udah ngatain dia di telepon hahaha 😂
Eh..
Udah ninggalin jejak belum nih ðŸ¤
Coment
Coment
Coment
Rate
Rate
Rate
Vote
Vote
__ADS_1
Vote
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹