
"Mau cari siapa Oma?"
Tampan yang baru pulang dari restoran mendapati seorang wanita berumur sedang berdiri di depan pintu pagar berkarat rumah mereka.
Dibelakangnya ada sebuah mobil mewah berwarna putih terparkir menunggu wanita ini.
"Kamu...."
Tampan mengernyit bingung saat wanita itu menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca lalu seketika memeluk tubuh dia.
"Kamu sangat mirip dengan Romi, cucuku ... ini Oma, aku Oma kamu...," ujarnya lagi dan menangis di pelukan cucu laki-lakinya.
"O-oma?" sahut Tampan terbata tidak percaya.
Seumur hidup dia tidak pernah mengenal omanya, apa dia ibu dari papa?
"Iya Tampan, ini Oma ... Oma kandungmu!"
Tampan terdiam dan berusaha mencerna akan apa yang baru saja terjadi, ada seorang wanita berumur berdiri di depan rumah mereka lalu mengaku sebagai omanya. Astaga ... benarkah ini? Setelah sekian lama hingga papa mereka meninggal dia baru datang kesini?
Wanita berumur itu lalu melepaskan pelukan mereka dan menghapus airmata yang membasahi pipinya.
"Oma ingin bertemu dengan mamamu Tam, apa dia ada di dalam?"
"Mau apa bertemu dengan mamaku? Bukannya kalian sangat membenci bahkan selalu merendahkan mamaku sejak dulu? Apa anda tidak puas menghina dia hingga sampai harus datang kerumah kami hari ini?" sarkas Tampan yang sakit hati setiap kali mengingat ucapan Tanta Mar dulu tentang hubungan dia dengan keluarga papanya.
"Bu-bukan ... bukan begitu Tam. Dengarkan Oma dulu, Oma datang kesini ingin meminta maaf pada mamamu. Oma ingin memperbaiki hubungan keluarga kita dan memulai semuanya dari awal. Tolong berikan Oma satu kesempatan agar bisa bertemu dengan mamamu Tam...," sahut ibu papanya itu memohon.
Dia tahu kalau selama bertahun-tahun ini, keluarga mereka sudah banyak berbuat salah untuk wanita yang sangat dicintai oleh anak laki-lakinya dulu.
Wajar jika Tanta Mar maupun cucunya tidak menyukai keberadaan dia yang tiba-tiba datang kerumah mereka.
Tampan menghembuskan nafas panjang, dia juga bingung harus bersikap bagaimana pada oma kandungnya ini. Entah bagaimana Tanta Mar nanti melihat kedatangan dia disini.
"Tolong izinkan Oma masuk Tam, Oma ingin bertemu dengan mamamu...," pintanya lagi.
"Aku tidak tahu jika mama mau bertemu dengan...."
"Oma ... panggil aku Oma, Tam"
"Iya, aku tidak tahu kalau mama mau bertemu dengan O-oma atau tidak...," jawab Tampan terbata.
Dia tidak terbiasa memanggil seseorang dengan sebutan Oma seperti itu, lagipula wanita berumur didepannya ini terlalu asing baginya.
__ADS_1
Tampan tidak bisa begitu saja memanggil seorang yang dianggapnya asing seperti itu.
"Terima kasih karena sudah mau memanggilku dengan sebutan itu cucuku." sahut oma mengusap wajah Tampan dengan tulus.
"Mungkin lebih baik Oma tunggu dulu sebentar disini, aku tidak tahu apa mama mau bertemu dengan Oma atau tidak. Aku akan berbicara dengan mama, tapi aku tidak bisa menjanjikan kalau mama mau keluar bertemu dengan Oma."
"Tidak apa-apa Tam, Oma akan menunggu disini. Kamu masuk saja dan temui mamamu dulu, bicara baik-baik dengan dia. Aku tau kalau pasti akan sangat sulit meyakinkan dia setelah perbuatan kami dulu padanya...," sahut oma terbayang perlakuan keluarga mereka pada Tanta Mar.
Tampan mengangguk dan mendorong pintu pagar berkarat yang memekakkan telinga itu. Oma sampai terkejut dan menutup telinganya rapat-rapat karena tidak mampu mendengar suara bisingnya.
"Sore Ma...," sapa Tampan pada Tanta Mar yang duduk di depan TV kembung mereka.
"Sore...," sapa Tanta Mar balik tanpa melepaskan pandangan matanya dari sinetron ikan terbang yang sedang tayang di TV.
"Ma...."
"Hmm? Kiapa?" (Hmm? Kenapa?)
Tampan duduk di dekat Tanta Mar. "Lia dulu pa kita!" (Liat aku dulu!).
"Kiapa so? Bilang jo ... Mama kwa da dengar!" (Apa sih? Ngomong aja ... Mama denger kok!), sahut Tanta Mar masih tegang menonton TV.
"Dimuka ada orang...." (Di depan ada orang....)
"Kong? Kiapa nda suruh maso dang Tu?" (Trus? Kenapa nggak disuruh masuk Tu?), tanya Tanta Mar tidak mengerti.
Tanta Mar mengalihkan pandangan matanya kearah Tampan. "Nda war skali ngana noh Tu! Masa kwa masih mo batanya bagitu, sapa so itu? Mana depe orang?" (Ngomong apa sih kamu Tu! Ngapain nanya kayak begitu sih, siapa emangnya dia? Mana orangnya?) tanya Tanta Mar penasaran.
"Ada ba tunggu diluar Ma ... dia bilang, dia kata Utu pe Oma." (Lagi nunggu diluar Ma ... dia bilang, katanya dia omanya Utu)
Tanta Mar tersentak kaget dan berdiri menuju tirai jendela rumah mereka untuk memastikan ucapan anaknya.
Wanita paruh baya itu langsung membola seketika saat melihat sosok wanita berumur yang kini sudah dipenuhi uban dikepalanya, tampak berdiri menatap kedalam rumah mereka.
Entah mengapa saat melihat wanita yang dulu pernah menghina bahkan menjelek-jelekkan dia didepan umum, membuat hati Tanta Mar berdenyut tidak menentu.
Rasa sakit hatinya dulu masih membekas menorehkan luka yang dalam hingga ke sukma terdalamnya.
"Ma...," panggil Tampan yang sudah berdiri disamping Tanta Mar.
"Mo beking apa kata dia datang kamari Tu?" (Mau ngapain katanya dia kesini Tu?), tanya Tanya Mar masih menatap omanya dari balik tirai jendela yang tersingkap.
"Dia bilang dia kata suka mo baku dapa deng Mama, dia kata mo minta maaf." (Dia katanya mau ketemu sama Mama, dia bilang mau minta maaf)
__ADS_1
"A-apa? Minta maaf?" tanya Tanta Mar terbata tidak percaya dengan ucapan Tampan.
"Iya, dia bilang bagitu tadi...." (Iya, dia ngomong begitu tadi....)
"Ngana so bacerita deng dia dang Tu?" (Kamu udah ngomong sama dia juga Tu?)
"Sudah. Kita da bilang kita mo tanya pa Mama dulu kalo suka mo baku dapa deng dia ato nda, so itu dia ba tunggu dimuka rumah noh daritadi." (Udah. Aku bilang aku mau nanya sama Mama dulu kalo mau ketemu dia atau enggak, makanya dia nunggu di depan rumah sejak tadi).
"Daritadi? So lama dang dia disana?" (Sejak tadi? Udah lama dia berdiri disana?) tanya Tanta Mar kaget semakin tidak percaya dengan wanita yang dulu tidak suka menunggu orang lain, apalagi sampai rela berdiri berlama-lama di depan rumah seperti ini.
"Mungkin, soalnya pas kita sampe tadi. Oma so badiri disana Kong ba Lia-lia kadalam rumah...," (Mungkin, soalnya pas aku nyampe tadi. Oma udah berdiri disana sambil liatin rumah kita), jujur Tampan.
Hati Tanta Mar terketuk, entah mengapa meski masih sakit hati dengan perbuatan keluarga mendiang suaminya dulu. Tapi Tanta Mar tidak tega untuk membiarkan wanita berumur itu berdiri lama-lama diluar rumah mereka.
Sambil menguatkan hati agar bisa kuat bertemu dengan ibu mertuanya, Tanta Mar pun berkata dengan yakin. "Kalo begitu, pangge dia maso kamari Tu." (Kalau begitu, panggil dia masuk kemari Tu).
"Eh, Mama yakin?"
"Iyo, pangge jo kamari dia." (Iya, panggil aja dia kesini), sahut Tanta Mar dan berbalik menuju sofa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆...
__ADS_1
Setelah bertahun-tahun ... Tanta Mar mau ketemu juga sama mertuanya
Kok jadi author yang deg degan yahh 🙄😪