
(Pembicaraan bahasa Manado dirubah ke bahasa baku demi menjaga kenyamanan pembaca)
*****************
"Jadi maksud Mama, kita mau pindah ke Jakarta?" Tanta Mar mengangguk. "Lalu bagaimana dengan rumah kita disini Ma? Aku jugakan masih kuliah."
Setelah oma mereka kembali ke hotel, ibu dan dua orang anak serta menantunya sedang duduk bersama diruang tamu sekaligus ruang TV, untuk membicarakan tentang kepindahan mereka ke Jakarta nanti.
Wanita berumur itu ingin memberikan kesempatan pada keluarga Tanta Mar untuk berbicara satu sama lain, tanpa adanya dia disana.
"Kamu bisa mengurus kepindahan kamu kan kesana Tu ... kasian kalo kita harus tinggal disini sementara opa kalian sedang sakit dan membutuhkan perhatian dari kita keluarganya," sahut Tanta Mar memberi pengertian untuk anak laki-lakinya.
Tampan bukannya tidak mau, tapi kedatangan wanita yang mengaku sebagai oma mereka tadi masih membuat lelaki ini syok tidak menyangka hingga sekarang.
Apalagi saat dia datang, omanya malah meminta mereka pindah ke Jakarta secepat ini.
Terdengar egois memang, dulu disaat mereka sedang kuat-kuatnya. Mereka tidak mengingat bagaimana perjuangan papanya yang harus menerima segala cacian dan hinaan dari orang lain karena memilih menikahi wanita yang dia cintai.
Sementara Tanta Mar ... astaga, entah terbuat dari apa hati mamanya ini batin Tampan.
"Mama tahu kalo kalian masih ragu dan tidak menyangka dengan kedatangan oma kalian hari ini. Tapi sebagai orang yang beriman, sudah sepantasnya kita memaafkan semua yang mereka perbuat dulu pada keluarga kita. Itu sudah lama berlalu Ke, Tu ... Mama sudah mengampuni mereka jauh sebelum oma kalian datang kesini meminta maaf."
Cantik yang sedari tadi hanya diam mendengarkan mama dan adiknya berbicara menghembuskan nafas pelan.
Memang benar apa yang dikatakan Tanta Mar, semua sudah lama berlalu. Dulu, waktu papa mereka masih ada. Dia selalu mengatakan untuk jangan membenci ataupun marah dengan oma dan opa mereka, sebagai anak sudah sepantasnya kita memaafkan dan mendoakan kedua orangtua kita sekalipun mereka telah berbuat kesalahan.
Iya, papa Cantik sempat bercerita tentang sosok oma dan opa dia yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang dia dan Tampan.
Kedekatan dia dan papanya membuat Cantik sedikit banyak mengetahui tentang pribadi wanita yang tadi datang memeluk dia sebelum pergi meninggalkan rumah mereka, dengan hati yang lega dan bahagia.
"Gimana Ke, Tu? Kalian mau, kan kita pindah ke Jakarta?" tanya Tanta Mar lagi menatap bergantian anak-anaknya.
"Aku ... aku terserah Mama saja baiknya bagaimana," sahut Cantik dengan lapang dada.
Tanta Mar mengangguk dan tersenyum lalu bergantian menatap Tampan yang masih ragu dengan keputusan mamanya untuk tinggal dirumah yang asing untuk mereka.
"Kamu gimana Tu?"
"Aku nggak tau Ma ... aku masih butuh waktu untuk berpikir dan mencerna semua ini!"
Tanta Mar hanya bisa pasrah mendengar jawaban Tampan, dia tahu kalau ada banyak hal yang menjadi pertimbangan anak laki-lakinya jika mereka tinggal satu atap dengan oma dan opa yang tidak dia kenal selama ini.
__ADS_1
"Yasudah, Mama nggak akan maksa kamu untuk jawab sekarang Tu. Tapi tolong jangan terlalu lama berpikir, ada opa kalian yang sedang sakit menunggu kedatangan cucu-cucunya disana."
Tampan mengangguk dan berdiri masuk kedalam kamarnya, entah mengapa hati dia masih tidak rela.
Iya, dia tidak rela! Dua orang itu terlalu beruntung mendapatkan maaf dari mamanya yang jelas-jelas selalu mereka sakiti dulu.
"Biar aku yang bicara dengan Utu, Ma...."
"Eh, kamu yakin?" tanya Cantik yang ragu kalau suaminya bisa meyakinkan hati adik laki-laki dia yang keras.
"Yakin By, kamu tenang aja. Mungkin karena dia merasa dia satu-satunya laki-laki dirumah ini sampai Utu ragu membawa Mama kesana. Dia hanya ingin melindungi apa yang harus dia lindungi, untuk menggantikan peran papa yang sudah tidak ada...," sahut Dodo mengusap lembut tangan Cantik yang dia genggam sejak tadi.
Tanta Mar mengangguk. "Iya, mungkin saja Utu memang berpikiran seperti itu Sam. Kalau begitu Mama minta tolong yah sama kamu, kasian oma kalian kalau harus lebih lama lagi disini tinggalin opa disana sendirian. Tadi dia bilang, dia nggak akan kembali sebelum bawa kita kesana katanya."
Dodo mengangguk dan berdiri menyusul Tampan ke kamarnya, mencoba berbicara antara pria dengan pria.
"Tu...," panggil Dodo dari balik pintu.
Ceklek...
Tampan membuka pintu kamarnya dan melengok keluar kamar.
"Kenapa Ka?"
Tampan mengangguk dan membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Dodo duduk dikursi plastik yang berada dekat dengan meja usang tempat dia menghabiskan waktu untuk belajar dan bersantai, sementara Tampan duduk dipinggir ranjang kayu miliknya.
"Kamu udah semester berapa sekarang Tu?" tanya Dodo membuka percakapan diantara mereka berdua.
"Udah mau masuk semester lima Ka Sam, kenapa?"
"Udah nggak lama berarti yah, masih ada setahun untuk kamu bisa selesein kuliah kamu sebelum meneruskan perusahaan milik papa nanti."
"Perusahaan?"
"Iya, perusahaan ... Mama nggak ngomong yah sama kamu?" Tampan menggeleng. "Perusahaan opa kamu yang dulunya mau diserahkan sama papa tapi nggak jadi karena papa menikah sama mama."
Tampan terdiam, perusahaan? Kalau tidak salah dulu papanya sempat berbicara tentang ini pada dia.
"Tadi oma bilang kalau perusahaan itu sedang diperebutkan oleh keluarga papa kamu. Mereka ingin mengambil perusahaan karena tidak adanya penerus untuk meneruskan perusahaan tersebut."
__ADS_1
Tampan masih diam, namun mendengarkan dengan seksama perkataan kakak ipar yang duduk di depannya ini.
"Oma katanya udah nggak sanggup untuk menjalankan perusahaan Tu, dia ingin masa tuanya bisa dia habiskan dirumah bersama suami dia yang sedang sakit dan juga cucu-cucunya nanti. Kamu tau kan kalau tidak ada yang bisa menjalankan perusahaan itu selain kamu Tu? Kakak kamu Cantik nggak mungkin duduk disana, dia sudah menikah dan aku hanya ingin Cantik duduk diam dirumah sembari menunggu aku pulang bersama anak-anak kami kelak."
"Dan mungkin, dia juga akan melanjutkan kuliahnya saat kami menetap di Jakarta nanti. Dia tidak akan punya banyak waktu untuk terjun langsung di perusahaan, hanya kamu yang bisa kami andalkan Tu. Aku mengerti bagaimana perasaan kamu terhadap dua orang yang tidak kamu kenal itu, tapi walau bagaimanapun mereka adalah opa dan oma kamu Tu. Darah mereka mengalir dalam tubuh kamu, sejahat-jahatnya mereka dulu ... mereka sudah menyesali dan ingin kembali berkumpul bersama kita keluarganya. Mama saja bisa memaafkan dan memberikan mereka kesempatan Tu, masa kita saja tidak bisa."
Tampan menghembuskan nafas panjang, benar yang dikatakan Dodo padanya. Mamanya saja yang paling tersakiti bisa memaafkan dan merelakan semua yang sudah terjadi dulu, masakan dia tidak bisa menerima opa dan omanya itu.
"Baiklah, aku akan ikut dengan mama dan oma ke Jakarta," sahut Tampan yakin.
Dodo tersenyum dan mengangguk bangga dengan sikap dan keputusan yang diambil adik iparnya ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak yang banyak untuk karya author ini yahh guys..
Akan ada Giveaway seperti janji author sebelumnya...
__ADS_1
Untuk ketentuannya akan author umumkan nanti...
So,, stay tuned guys 🤗