
Like mu sangat berarti untuk karya author ini...
************
Setelah eyang membawa Cantik pergi dari ruang keluarga dimana syukuran ulang tahunnya diadakan, Dodo dan Devan kembali beradu mulut seperti pertemuan terakhir mereka.
Devan bukan membenci sepupunya ini, Kesalahpahaman yang terjadi pada mereka sebenarnya hanya lah masalah sepele.
Dia yang waktu itu meminta bantuan pada Dodo untuk membantunya membangun usaha catering miliknya tidak ditanggapi secara serius oleh lelaki itu.
Padahal dia sangat mengharapkan melalui kolega-kolega yang dimiliki Dodo, Devan bisa mendapatkan pelanggan baru untuk usahanya.
Tapi waktu itu Dodo sedang sibuk dengan usahanya sendiri hingga tidak sempat membantu sepupunya.
Belum lagi dia yang selalu menemani Alice kemana pun wanita itu pergi, membuat Dodo jarang mempunyai waktu luang dan melupakan permintaan Devan untuk membantunya.
Sejak saat itu Devan berpikir kalau Dodo memang sengaja tidak ingin membantunya, dia terlanjur kecewa dengan sikap sepupu yang selalu dekat dengannya sejak mereka kecil.
Devan pun mulai sering berdebat dengan Dodo, hingga pada puncak pertemuan mereka terakhir membuat keduanya bersitegang dan bertengkar hebat.
Sikap Devan memang terdengar seperti anak kecil yang tidak sesuai lagi dengan umurnya, tapi lelaki itu memang tidak suka penolakan.
Sama seperti Cantik yang sempat dia marahi dan dia hina, Dodo juga ikut merasakan bagaimana kemarahan Devan karena penolakan tidak sengaja yang dia dapat dari Dodo sepupu kandungnya sendiri.
"Sudah cukup!", suara menggelegar dari ayah Devan menghentikan anak dan keponakannya yang masih berdebat.
"Apa-apaan kalian ini, baru bertemu dan kalian sudah seperti ini lagi?."
Dodo diam dan membuang nafas kasar, jika bisa lepas tangan sudah lama dia memberikan bogem mentah pada lelaki bermulut kurang ajar yang berdiri di depannya ini.
Dodo berusaha menahan diri karena mengingat Devan adalah sepupunya yang selalu menghabiskan waktu bersama dengannya, sampai mereka sebesar ini. Dan hanya karena kesalahpahaman yang tidak berarti itu, membuat Devan berubah menjadi pribadi yang menjengkelkan dengan mulutnya yang kasar.
"Devan.. Kamu sudah keterlaluan menghina Cantik tadi! Dia itu kakak dari sahabat adikmu sendiri, tidak sepantasnya kamu berkata seperti itu. Ayah dan bunda tidak pernah mengajarkan kamu dan Debo untuk menghina orang yang kurang beruntung seperti kita!."
Suara Om Steven terdengar meninggi, dia geram melihat dan mendengar sendiri bagaimana tadi Devan anaknya menghina Cantik di depan keluarga besar mereka.
Dia malu dan juga merasa tidak enak pada Cantik, wanita sederhana yang dikenalnya sebagai kakak dari salah satu pegawai terbaik di restoran mereka.
Om Steven dan Tanta Mince sempat berbicara dengan Cantik tadi, dan Dodo mengenalkan wanita itu sebagai kakak Tampan sahabat anak perempuan mereka.
"Kamu harus minta maaf pada Cantik, Devan. Jangan jadi pengecut seperti itu hanya karena Cantik tidak membalas perasaan mu, kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang. Dan jika dia memang mencintai Dodo sepupu mu terimalah dengan lapang dada, berarti dia bukan jodohmu. Kau pasti tahu bagaimana sikap dan sifat seorang Cantik selama kau pernah dekat dengannya bukan, jangan menghina dia dengan profesinya itu Dev.."
Suara lembut Tanta Mince seketika menyadarkan Devan yang memang sudah keterlaluan menghina Cantik tadi di depan keluarga besar mereka.
Wanita berkulit sawo matang itu pasti sangat marah dan membencinya karena ucapannya tadi, Devan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berpikir panjang sebelum bersuara karena masih kesal dengan penolakan Cantik tempo hari.
Dia bahkan sempat memaksa Cantik untuk menciumnya setelah penghinaan yang dia berikan waktu itu.
__ADS_1
Dodo yang masih geram dengan kelakuan sepupunya berlalu dari sana, dia butuh udara segar untuk menetralkan emosi yang sedang bergejolak di dalam hati dan pikirannya.
Dia yang berusaha agar tidak ada lagi yang bisa menghina calon pacarnya itu, malah mendapati sepupunya sendiri yang menjadi pelaku penghinaan Cantik. Ah, dia ingin sekali memukul orang sekarang!.
"Kamu juga harus minta maaf sama Dodo Dev, dia sudah menceritakan kesalahpahaman yang terjadi diantara kalian. Dan disini kamu yang salah, bertingkah dan merajuk seperti anak kecil hanya karena Dodo lupa membantu permintaan kamu waktu itu!. Cepat selesaikan masalah kamu dengan nya sebelum Ayah menarik semua suntikan dana yang ayah berikan padamu!", tegas Steven dan ikut pergi meninggalkan anak laki-lakinya yang terdiam duduk di kursi.
Keadaan perlahan mulai kembali seperti semula, keluarga mereka yang lain bersikap seperti tidak terjadi apa-apa barusan. Sebagai satu keluarga wajar jika terkadang saling salah paham dan berakhir dengan perdebatan dan pertengkaran seperti Devan dan Dodo.
Selama itu masih dalam tahapan wajar, mereka tidak ingin masuk campur dengan urusan keduanya termasuk opa Dodo dan Devan yang sejak tadi hanya menjadi penonton bagaimana kedua cucu laki-lakinya bertengkar karena masalah wanita.
Dia tidak menyangka kalau dua cucu kebanggaan nya itu menyukai wanita yang sama, cinta memang ribet urusannya pikir opa.
"Minta maaf Dev.. Jangan menghancurkan hubungan kekeluargaan kita hanya karena keegoisan kamu!", ucap Tanta Mince yang sudah duduk disamping putranya.
"Kau juga harus minta maaf pada Cantik, Dodo tidak suka saat ada orang yang menghina wanita yang dia sukai. Kau lebih mengenal sepupumu itu bukan.." sambung Tanta Mince lagi yang mendapatkan anggukan lemah dari Devan.
Semuanya memang adalah kesalahannya, gara-gara dia acara ulang tahun eyang nya malam ini terganggu, untung saja semua tamu yang eyang dan Opanya undang sudah pulang saat dia dan Dodo bertengkar tadi.
Devan pun beranjak dan pergi keluar rumah untuk mencari sepupunya Dodo yang sedang menghisap sebatang rokok untuk menenangkan diri.
...*********...
"Saya mau pulang dulu eyang, udah malem soalnya.."
"Eh, iya udah jam sepuluh juga ini. Tunggu bentar yah biar eyang panggil Sam dulu, dia harus anterin kamu pulang kan."
"Loh, kok gitu sih Ca. Udah ikut aja masuk kedalam bareng eyang, nggak perlu malu dan takut. Keluarga eyang semuanya baik, mereka gak pernah musingin hal nggak penting kayak yang dibilang Devan tadi. Masuk aja yuk.." pinta eyang pada Cantik sambil menyeret lengan wanita itu masuk kedalam rumah.
Cantik baru sadar kalau sifat pemaksa Dodo sepertinya menurun dari eyangnya ini. Dia pun terpaksa mengikuti langkah kaki eyang Dodo menuju ruang keluarga dimana keluarga besar mereka masih berkumpul.
"Dodo mana Pa?", tanya eyang pada suaminya yang sedang duduk main catur dengan salah satu anggota keluarga mereka.
"Di luar kali Ma.. Tadi dia pergi setelah bertengkar dengan Devan", terang Opa tanpa mengalihkan pandangannya dari papan catur di meja.
"Oh.. Yaudah Ca, kamu ikut aja kedepan biar bisa sekalian Dodo ketemu kamu disana dan anterin kamu pulang."
"Eh.. Cantik udah mau pulang?", tanya opa Dodo yang kaget saat mendengar wanita incaran cucunya sudah mau kembali dan sedang berdiri di dekat istrinya.
Cantik mengangguk, "Iya opa. Sudah malam soalnya, nanti Mama nyariin saya."
"Nggak usah formal begitulah Ca ngomong sama kita. Kamu udah kayak keluarga disini, iyakan Ma.." lirik opa mencari pembenaran dengan ucapannya sendiri.
"Iya Ca.. Bener kata opa Dodo, nanti sering-sering main kesini yah Ca. Ayo kita kedepan cari Dodo", ajak eyang.
Belum sempat keluar dari ruang keluarga tempat keluarga besar mereka berkumpul, Dodo masuk bersama Devan sepupunya.
Nafas Cantik terasa tercekat karena melihat pria yang tadi dengan gamblangnya menghina dia didepan semua orang.
__ADS_1
Perasaan sakit dan terhina kembali harus Cantik rasakan saat berada diantara kaum 'berada' ini, haruskah dia menjauhi Dodo karena penghinaan yang diberikan sepupu laki-laki itu? Atau tidak perlu mengindahkannya seperti kata eyang Dodo tadi? Cantik bingung harus mengambil langkah apa sekarang ini.
"Ca.. Udah mau pulang?", tanya Dodo saat dia sudah berdiri di dekat Cantik dan eyangnya.
Devan terlihat menunduk tidak berani menatap wanita yang masih memiliki tempat penting dihatinya hingga detik ini.
Iya, Devan belum bisa melupakan Cantik, pesona wanita bertubuh tinggi semampai itu benar-benar sudah membuat dirinya kalang kabut. Tapi, sepertinya mulai saat ini dia sudah harus bisa merelakan Cantik bersama sepupunya sendiri.
Cantik terlihat lebih nyaman saat berada dekat dengan Dodo, semua yang ada disana pun bisa melihat itu termasuk dirinya.
Dulu saat dia mencoba mendekati Cantik, wanita itu tidak pernah mau diajak pergi olehnya. Kalaupun pergi biasanya Devan hanya memakai alasan akan memakai jasanya untuk membawa dia kemana saja berdua dengan Cantik di motor bututnya.
Jadi saat melihat Cantik mau pergi dengan Dodo malam ini dirumah eyang mereka, Devan tahu kalau Dodo pasti memiliki posisi penting dihatinya. Meski Cantik pasti tidak sadar akan itu semua pikirnya.
"Ayo, aku antar kamu pulang", ucap Dodo lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Cantik.
Dia tahu kalau wanita ini pasti merasa tidak enak karena ada Devan di dekat mereka. Cantik pasti masih sedih dan sakit hati dengan penghinaan yang diberikan sepupunya tadi.
Dodo pun menarik lengan kiri Cantik dan berjalan keluar rumah diekori pandangan mata semua keluarga yang berada disana.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Kesel juga yah kalo punya sepupu bentuk dan modelnya kayak Devan begitu..
Hehehe 😁
**********
Kalau masih ada sisa Vote bolehlah dibagi di karya author ini..
Hehehe
__ADS_1
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹