
Like dulu sebelum lanjut..
**********
Pukul sembilan pagi Cantik dan Dodo meluncur menuju rumah sakit menaiki mobil dealer yang dia pinjam, sebagai pengganti sementara mobilnya yang masih diperbaiki di bengkel.
Dodo sesekali melirik Cantik yang duduk dikursi depan disampingnya, yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela.
"Nanti setelah dari rumah sakit kamu mau kemana Ca..?", tanya Dodo memecah keheningan diantara mereka.
"Pulang.." jawab Cantik singkat se singkat singkatnya, yang membuat Dodo gemes sendiri.
"Jangan dulu pulang, nanti temenin aku sebentar yahh.. Ada yang harus aku cek nanti."
Cantik mengernyit dan mengalihkan pandangan nya kearah Dodo yang menyetir.
"Kamu kalo mau pergi yah pergi aja.. aku bisa naik mikro (mobil penumpang berwarna biru di kota ini) pulang nanti!."
"Eh.. jangan. Aku nggak enak sama mama kamu nanti, masa aku jemput anak perempuannya trus pulangnya sendiri. Apa kata Mama kamu nanti sama aku Ca.. dia pasti bukan mukulin aku pake sapu lagi, tapi pake cambuk kayaknya.." ujar Dodo setengah melucu tapi hanya dibalas decakan dari Cantik.
"Nggak apa-apa mama juga pasti ngerti kok, pekerjaan kamu kan bukan cuma nganterin aku ke rumah sakit. Nanti berikut-berikut kamu nggak perlu jemput dan nganterin aku lagi, aku bisa pergi sendiri kesana. Untuk biayanya kamu bisa transfer di nomor rekening aku!", balas Cantik panjang kali lebar.
Dodo menghembuskan nafas panjang, memang susah mendekati wanita berkulit sawo matang ini pikirnya.
"Tapi aku maunya antar jemput kamu gimana dong Ca? Aku kan udah janji mau tanggung jawab. Ayolah Ca, sebentar doang kok.. mau yahh?", bujuk Dodo.
Pokoknya hari ini rencananya untuk makan siang dengan Cantik tidak boleh gagal gumamnya.
"Kamu tuh emang suka maksa yahh.. Males tau aku sama orang kayak kamu! Suka maksain kehendak dan semaunya sendiri tanpa pikirin orang lain! Tau gitu aku nggak pergi bareng kamu hari ini, kita ketemuan aja di rumah sakit!."
Suara Cantik sudah sedikit meninggi membuat Dodo diam, dia akan memikirkan rencana lain agar wanita galak yang memakai celana kain sebatas lutut dan kaos oblong seadanya ini, mau pergi bersamanya sampai jam makan siang nanti. Dodo lupa kalau Cantik tidak suka dipaksa.
Mereka pun tiba di rumah sakit setelah diam-diaman karena Cantik yang sudah ngegas karena dipaksa oleh Dodo, untuk menemani dia siang ini.
"Turun Ca.. kita langsung ke Dokter Orthopedi di bagian poli tulang nanti", ucap Dodo dan membuka pintu mobilnya.
Dodo sempat berpikir untuk membukakan pintunya Cantik, tapi berhubung wanita itu sulit di dekati dan galaknya minta ampun. Dodo lebih memilih menunggu wanita itu turun sendiri dari dalam mobilnya.
Padahal kalau wanita lain sangat senang dan berharap bisa dibukain pintu sama pasangannya, karena merasa disanjung dan dicintai.
Tapi yahh.. Lagi-lagi Cantik tidak seperti wanita-wanita lain yang dikenal seorang Leonardo Samuel Wijaya.
Cantik berjalan di belakang Dodo, dia tidak mau berjalan bersisian dengan lelaki itu. Selain karena memang jalan yang tidak cukup lebar untuk masuk ke dalam ruangan khusus Poli, Cantik juga merasa risih jika harus berada dekat dengan Dodo.
__ADS_1
Tiba di pintu Poli tulang dimana Dokter Orthopedi praktek hari ini, Dodo pun pergi mendaftar terlebih dahulu yang langsung diberikan nomor karcis masuk untuk diperiksa oleh dokter sebentar.
Untung saja mereka datang lebih cepat, jadi Dodo berhasil mendapatkan karcis bernomor urut enam.
Keduanya duduk di kursi tunggu berjarak dua kursi yang memang diberi tanda silang untuk gerakan social distancing dirumah sakit ini.
Cantik bersyukur karena dia tidak harus duduk berdekatan dengan lelaki pemaksa itu pikirnya.
Dodo bingung harus berbuat apa, mau mengajak Cantik bicara tapi kejauhan. Itupun kalau Cantik mau ngomong, gimana kalau dia pura-pura tidak dengar? Atau menjawab singkat seperti di mobil tadi? Atau malah marah-marah padanya? Hah.. Dodo galau sendiri dengan pikirannya.
Cantik duduk diam sambil mengotak atik ponsel yang masih kredit di tangannya, dia terpaksa harus membeli ponsel yang sedikit canggih agar profesinya sebagai ojol bisa berjalan dengan lancar jaya.
Cantik punya ponsel murah dulu, tapi kini ponsel itu sudah dia berikan untuk Tanta Mar mamanya.
"Ca..." suara bariton Dodo memanggil Cantik yang tertunduk memainkan ponselnya.
"Kiapa?", jawab Cantik tanpa mengalihkan pandangannya.
(Kenapa?).
"Ca..." panggil Dodo lagi.
"Kenapa sih Sam..?", tanya Cantik mulai kesel dan menatap jengah lelaki yang duduk di ujung kirinya.
"Terserah aku.. Mata mata aku, ponsel ponsel aku juga! Mau ngomong apa emangnya kamu?", jutek Cantik.
Dodo semakin gemas melihat wajah galak wanita sederhana dengan pesonanya sendiri ini, ternyata benar.. kalau dia mulai tertarik dengan Cantik gumamnya dalam hati.
"Yaudah.. aku cuma mau nanya doang kalo aku harus temenin kamu di dalam ato enggak?."
"Nggak perlu! Kaki aku masih bisa jalan sendiri!."
Jawaban Cantik membuat dua orang yang mungkin sepasang suami istri, dan duduk di depan mereka tertawa. Mereka geli sendiri melihat Dodo yang langsung diam, tidak tahu harus membalas apa perkataan wanita galak yang sudah sibuk dengan ponselnya lagi.
"Lagi marahan yah mas?", bisik si pria didepan kursi mereka.
"Eh.. iya pak.." jawab Dodo ragu-ragu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dia juga bingung harus menjawab apa, jadi lebih baik diiyakan saja pertanyaan pria itu pikirnya.
"Sabar aja mas.. mungkin lagi mau dapet makanya gitu. Istri aku juga sering kayak gitu kalo lagi mau dapet", kekeh si pria.
Dodo hanya nyengir dan mengangguk mengiyakan ucapan pria itu. Dapet? nggak dapet aja udah galak banget, apalagi kalo sampe dapet beneran.. bisa dicincang kayaknya gue.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, giliran Cantik yang dipanggil setelah kedua pasangan suami istri tadi keluar dari ruangan praktek dokter orthopedi.
"Yakin nggak mau aku temenin Ca..?", tanya Dodo lagi.
"Nggak usah! Duduk aja diem kamu disitu!", jawab Cantik berlalu masuk kedalam ruangan praktek dokter.
Dodo pun hanya bisa menarik nafas panjang melihat penolakan Cantik padanya. Selama ini wanita Manado itu tidak pernah sekalipun berbicara lembut dengannya.
Mungkin karena Cantik masih kesal karena kejadian waktu itu yang meninggalkan dia sendiri di rumah sakit, pikir Dodo.
Tapi, bukan Dodo namanya kalau tidak bisa membuat sang betina tunduk padanya. Dia akan melakukan berbagai cara agar Cantik pelan-pelan mau bersikap lebih lembut dan baik lagi padanya.
Setelah ini, mereka HARUS makan siang bersama! Meskipun Cantik pasti akan marah padanya karena sudah seenaknya membawa dia pergi.. Tapi demi melaksanakan misi agar mereka bisa lebih dekat, Dodo sama sekali tidak peduli!.
...∆∆∆∆∆∆∆...
Fyi::
Bahasa Manado hanya ada di beberapa part yahh guys
Sengaja author kasih biar nggak bikin ciri khas novel ini hilang hehehe 😁
**********
Masih mau lanjut lagi nggak nih guys??
Kalo mau..
Jangan lupa jejak-jejak nya yahh 😁
Coment yang banyak
Rate yang banyak
Bunga yang banyak
Kopi yang banyak
Serta
Cinta yang banyak untuk pasangan ini yahh
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1