Ojek Cantik

Ojek Cantik
Galaunya Cantik


__ADS_3

Like dulu dong..


**********


Sejak kemarin Dodo tidak menghubungi Cantik, bahkan pesan singkat yang dikirim olehnya pun tidak dibalas oleh lelaki itu.


Dodo yang tidak biasanya seperti ini sontak membuat Cantik sedih dan uring-uringan. Apa dia begitu sibuk sampai tidak bisa membalas pesan yang aku kirim? Apa dia baik-baik saja disana? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya.


Dan pagi ini Cantik mencoba menghubungi nomor lelaki itu, tapi tidak bisa tersambung. Ada apa dengan Dodo? Apa dia sudah melupakan aku? Cantik meletakkan ponselnya dengan perasaan tidak menentu di atas meja.


Dia sedang duduk menikmati pagi yang mendung di teras rumah ditemani ubi (singkong) goreng dan segelas teh hangat. Tanta Mar sudah pergi bekerja sekitar sepuluh menit yang lalu, dan adiknya Tampan masih tidur di dalam.


Bahkan cuaca pun seakan tahu bagaimana suasana hati Cantik saat ini, berkali-kali wanita berkulit sawo matang itu menghembuskan nafas panjang.


Rasa rindu yang mendalam ingin mendengar suara Dodo dan melihat wajahnya semakin dalam menggerogoti hati dan pikiran Cantik. Beginikah rasanya merindukan seseorang yang sudah memiliki tempat spesial dihati? Kenapa sulit sekali rasanya menahan rasa ini?


Cantik seakan berperang dengan dirinya sendiri, semakin memikirkan Dodo hatinya semakin kalut dan bimbang. Ada rasa takut yang tiba-tiba datang menelesup ke dalam hatinya.


Takut jika lelaki itu tidak kembali, takut jika dia sudah melupakan dirinya, takut jika perasaan yang mulai hadir dihati harus patah karena lelaki itu memilih pergi karena terlanjur kecewa dan lelah menunggu keputusan Cantik.


Ah, sial! Kenapa aku jadi melow begini? Batin Cantik sambil mengunyah ubi goreng yang baru saja dia isi dalam mulutnya.


"Ka.." Suara baru bangun tidur dari Tampan membuyarkan pikiran Cantik tentang Dodo.


Cantik mendongak dan menatap adiknya yang masih mengucek mata di depan pintu, persis seperti anak kecil berumur lima tahun. "Kiapa?," (Kenapa?) tanyanya.


"Viola da pangge bajalang ni hari, baganti jo. Sadiki le dia somo singgah." (Viola ngajak jalan kita hari ini, ganti pakaian gih. Bentar lagi dia nyampe).


"Malas.. Ngoni jo," (Males.. Kalian aja yang pergi), sahut Cantik dan kembali menatap kearah depan rumah mereka.


"Iko jo kwa Ka, daripada ngana baba diam dirumah nintau mo ba apa. Neh..?," (Ikut aja Ka, daripada kamu nggak tahu mo ngapain dirumah. Mau yah..?), bujuk Tampan penuh harap.


Lagi, Cantik menghembuskan nafas panjang. Bukannya tidak mau dia hanya terlalu malas jika harus pergi keluar, disaat dia masih galau menunggu kabar dari Dodo.


"Iko jo ne..?," (Ikut aja yahh..?), bujuk Tampan lagi.


Cantik mengangguk, "Nah gitu dong. Yaudah aku mandi dulu, kakak ganti baju gih. Viola bentar lagi nyampe," ujar Tampan bersemangat dan berlalu masuk kedalam rumah.


Cantik kembali meraih ponselnya dan mencoba sekali lagi menghubungi nomor ponsel Dodo namun tetap tidak bisa tersambung. Kemana sih kamu Sam?


...************...


"Kita mau kemana?," tanya Cantik setelah masuk kedalam mobil Viola dan duduk manis di kursi belakang.

__ADS_1


"Ke salah satu resort yang ada di wilayah Tongkeina Bunaken Ka," sahut Viola mulai menghidupkan mesin dan melajukan mobil Agya Toyota (bukan iklan) miliknya.


"Ngapain kesana? Ada acara?," tanya Cantik lagi.


"Iya.." Jawab Viola singkat.


"Udah, kakak duduk aja yang tenang di belakang nikmati perjalanannya," sahut Tampan ikut menimpali pembicaraan dua orang wanita penting dihidupnya.


Cantik berdecak namun tidak bertanya lagi, dia juga tidak terlalu memusingkan jika dua orang pasangan kekasih ini akan membawanya kemana.


Pikirannya sudah cukup berat dengan satu nama bernama Leonardo Samuel Wijaya, yang hilang tanpa kabar bak ditelan bumi.


Perjalanan mereka membutuhkan waktu sekitar 35 menit, karena resort tempat mereka akan menghabiskan waktu hari ini agak jauh dari pusat kota Manado.


Cantik hanya menjatuhkan pandangan matanya keluar jendela sambil sesekali mengecek ponsel di tas tangannya jika ada pesan atau panggilan masuk dari Dodo. Namun sudah hampir siang, lelaki itu tidak kunjung menghubunginya juga.


Mereka pun tiba di tempat tujuan mereka yang bernama Grand Luley Resort and Dive di wilayah Tongkeina Bunaken.


Resort ini terletak di lahan hijau subur seluas enam hektar di dekat Taman Nasional Bunaken dan berjarak tiga belas kilometer dari Klenteng Ban Hin Kiong Manado juga dari Lapangan Golf Wenang yang berjarak sekitar tujuh belas kilometer.


Grand Luley Resort and Dive ini juga terletak di seberang Pulau Bunaken yang terkenal dengan pasir putih dan lautnya yang biru dengan beraneka macam ikan yang hidup di perairan ini.


Di resort ini kita akan menemukan suasana yang santai. Hutan bakau, taman tropis dan laut biru yang dalam akan membuat para pengunjung seakan dimanjakan dengan pesona dan keindahan alam yang berbeda.



"Ini acess card kamar hotel Ka Cantik," ujar Viola memberikan kartu pipih ketangan Cantik.


"Eh, kita mau nginap?."


Viola mengangguk, "Iya Ka. Acaranya nanti malam jadi kita tidak mungkin langsung balik karena pasti akan selesai pas tengah malam."


"Trus ini siapa yang bayar? Kamu sekamar sama aku jugakan?," tanya Cantik merasa mereka hanya sedang melakukan pemborosan saja disini.


Jika hanya untuk tidur satu malam saja, mereka tidak perlu membuang-buang uang sampai ratusan ribu rupiah karenanya. Sayang uangnya pikir Cantik.


"Udah, kakak nggak perlu nanya-nanya lagi. Yang pasti Viola udah kasih kartu kamarnya sama kakak kan, kakak tinggal nikmatin aja tuh fasilitas yang ada di kamar ok..?," sela Tampan cepat, kakaknya ini akan semakin cerewet jika sudah mengenai uang.


Cantik mendengus dan memegang kembali kartu yang diberikan Viola, setelah dia sempat mengembalikannya pada pacar adiknya itu.


"Kakak mau langsung ke kamar atau mau jalan-jalan dulu?."


"Loh, kalian mau kemana emangnya?."

__ADS_1


"Mau pacaran dulu lah Ka, nikmatin suasana siang di resort ini.." Kekeh Tampan sengaja menggoda kakaknya yang dia tahu sedang galau karena sejak tadi terus memperhatikan ponselnya.


Cantik berdecak, "Serah kalianlah. Jangan macam-macam yah Tu, inget kata mama!," pesan Cantik pada adiknya.


"Siap bos..!," jawab Tampan sambil memberi hormat dengan sikap yang tegap sempurna bak seorang tentara.


Cantik hanya geleng-geleng kepala dan pergi mengikuti bellboy yang akan mengantarkan dia menuju kamar yang sudah dipesankan Viola untuknya.


Cantik tidak membawa barang apa-apa, dia hanya menentang tas tangan berwarna nude yang dia beli seharga lima puluh ribu di pasar 45.


Wanita ini memakai rok diatas lutut yang memperlihatkan kakinya yang jenjang, serta kaus tipis berwarna senada dengan tas tangannya dan sepatu flat hitam satu-satunya yang dia punya.


Memasuki kamar resort udara sejuk dari air conditioner langsung terasa di kulit Cantik, dia pun merebahkan dirinya diatas ranjang empuk berukuran king zise dan memutar TV flat yang tertempel di dinding dengan bingkai hitam yang mengelilinginya.


Benar-benar nyaman batinnya, ini pertama kali Cantik menginjakkan kaki di sebuah hotel resort.


Pantas saja banyak yang rela menghabiskan uang demi sebuah kenyamanan seperti ini pikirnya. Mungkin nanti jika dia punya uang, Cantik ingin mengajak Tanta Mar kesini sebagai liburan mewah untuk wanita yang sudah melahirkannya kedunia setelah lelah bekerja.


Udara yang sejuk serta ranjang yang nyaman dan empuk, membuat Cantik mengantuk. Tidak sampai sepuluh menit berada dikamar itu, diapun jatuh tertidur disana.


.


.


.


.


.


.


.


...∆∆∆∆∆∆∆...


Tumben banget si Viola ngajak calon kakak iparnya sampe ke hotel resort segala..


Jadi penasaran,, 🤔


Eh,, udah tinggalin jejak belum nih??


Hehehehe....

__ADS_1


__ADS_2