
Yang masih punya sisa Vote boleh dong dibagi sama author 😁
******************
"Kamu apa kabar De?"
Tampan mendekati Debo saat mereka baru saja selesai makan malam dan kini sedang menikmati waktu bersama keluarga di taman belakang rumah eyang.
"Aku baik Tam. Kamu sekarang makin tampan yah ... perasaan waktu aku balik ke Singapura, kamu gak seganteng ini deh." Goda Debo mencolek pinggang Tampan.
"Bisa aja kamu," kekeh Tampan malu-malu.
"Eh aku serius Tam, aku jadi terpesona loh liat kamu malam ini. Takut jatuh cinta aku sama kamu!" sahut Debo yang menyiratkan arti sesungguhnya dihati dia.
"Ada-ada aja kamu tuh." Tampan mencapit hidung Debo gemas yang sering dia lakukan setiap kali bercanda dengan sahabatnya ini.
"Aww, sakit Tam...." Ringis Debo mengusap hidung mancungnya dengan hati yang bertalu-talu bahagia.
"Makanya jangan suka godain orang, aku emang udah tampan dari dulu. Kamu lupa yah nama aku aja Tampan, gimana gak tampan orangnya coba!" sahut Tampan mengangkat alisnya tinggi.
"Iya, iya ... Tampan aku memang tampan. Makanya bikin aku pangling dari dulu."
Kedua sahabat dengan perasaan yang berbeda dihati itupun tertawa bersama dikursi belakang taman.
Sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama membuat Tampan dan Debo berbicara mengenang masa-masa dulu sewaktu mereka duduk di bangku sekolah.
"Trus Toar gimana? Kapan dia balik?"
"Katanya sih tiga hari lagi dia dateng kesini. Dia bilang kalo dia pulang kita harus ngumpul-ngumpul lagi kayak dulu...."
Debo mengangguk semangat. "Iya, harus banget. Aku kangen makan bakso di depan sekolah kita dulu Tam, nanti kesana bareng sama Toar yah."
Asik berbicara tentang rencana mereka selama beberapa hari kedepan, tiba-tiba ponsel Tampan berdering nyaring disaku celana.
Buru-buru Tampan merogoh ponselnya dan melihat nama Sayang dilayar. Lelaki itu tersenyum dan dengan cepat menggeser tombol berwarna hijau.
"Hai sayang...."
Debo seketika tercekat mendengar Tampan memanggil seseorang ditelepon dengan sebutan sayang.
"Iya, aku masih dirumah eyangnya ka Sam...," sahut Tampan lagi berbicara dengan Viola di ponsel dengan semangat.
Debo hanya bisa menahan berjuta gejolak dihatinya saat Tampan terdengar begitu lembut berbicara dengan seorang yang dia panggil sayang itu.
Apa itu pacarnya Tampan? Jadi benar kalau dia sudah punya kekasih? Gumam Debo dalam hati dan beranjak dari tempat duduk karena tidak ingin mendengar lelaki yang dia cinta bermesraan dengan orang lain ditelepon.
Belum sempat beranjak dari sana, tangan Debo ditarik oleh Tampan hingga wanita itu terduduk kembali dikursi.
"Sebentar," ucapnya tanpa suara pada Debo.
Debo yang serba salah tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya hanya bisa pasrah duduk disamping Tampan dan mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Ini sahabat aku lagi duduk disamping aku sayang," ujar Tampan melirik kearah Debo. "Oh iya, kita video call aja yah biar sekalian kenalan ... ok," sambungnya dan menutup panggilan telepon itu.
__ADS_1
"De, pacar aku mau kenalan nih."
"Pacar? Kamu udah punya pacar?" tanya Debo pura-pura tidak tahu.
"Iya, namanya Viola. Dia orang Manado juga tapi lagi kuliah di Jakarta, dia baru berangkat kemarin!" sahut Tampan menceritakan sedikit tentang sosok wanita yang dia cinta.
Debo hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita singkat Tampan tentang wanita yang dia tahu bernama Viola.
Sepertinya Tampan memang benar-benar mencintai pacar barunya ini pikir Debo.
"Pacar aku katanya mau kenalan sama kamu De, aku sering cerita tentang kamu dan Toar sama dia. Dia juga tahu kalo kamu sepupu ka Sam, bentar yah ini dia nelpon lagi pake video call."
Ponsel yang masih digenggam oleh Tampan kembali berbunyi nyaring. Lelaki itu tersenyum sumringah saat wajah Viola menghiasi seluruh layar ponsel murah miliknya.
"Aduh Tam, perut aku sakit banget ini. Aku ke toilet dulu yah bentar...," pamit Debo beralasan karena tidak ingin berbicara dengan pacar lelaki yang dia cinta.
"Eh tapi De, sebentar aja. Pacar aku pengen ngobrol sama kamu."
"Nanti aja Tam, aku udah nggak tahan ini ... maaf yah." Debo segera beranjak berlalu dari sana sebelum Tampan semakin memaksanya untuk berbicara dengan Viola.
Sakit....
Hati Debo sakit mendengar Tampan yang berkali-kali memanggil wanita lain dengan mesranya.
Cemburu sudah jelas, kecewa apalagi. Tapi Debo tidak bisa berbuat apa-apa, dihati Tampan sudah terisi nama orang lain. Dia bahkan tidak sempat mengungkapkan apa yang ada dihatinya selama ini untuk Tampan.
Debo memilih masuk ke kamar dan menangis menumpahkan apa yang dia rasakan malam ini pada Tampan.
"Kamu kenapa De?" tanya Tanta Mince yang ternyata sedang berada di dalam kamar.
"Ma-mami," sahut Debo terbata dan mengusap airmata yang terlanjur jatuh dipipinya.
"Kamu nangis?" tanya Tanta Mince lagi mendekati anak gadisnya diatas ranjang. "Kenapa De? Ada apa?"
Debo menggeleng. "Nggak ada apa-apa Mi...."
"Jangan boong sama Mami! Nggak ada apa-apa kok nangis. Ada apa De? Cerita sama Mami...."
Debo memeluk tubuh Tanta Mince dan menangis dalam pelukannya, menumpahkan semua rasa yang berkecamuk dihatinya.
Tanta Mince yang kaget dengan sikap anak perempuannya hanya bisa mengelus rambut Debo dengan lembut, sampai dia siap untuk bercerita.
"A-aku, aku suka sama Tampan Mi...," ujar Debo sesegukan.
"Hah? Sejak kapan De?" tanya Tanta Mince terkejut tidak menyangka.
"Sejak SMA Mi...."
"Astaga De, kamu nyimpen perasaan kamu sama dia selama itu? Aduh ... trus Tampan udah tahu?" Debo menggeleng. "Aduh ... sakit kepala Mami."
Tanta Mince memijit pelipisnya yang masih memeluk Debo. "Kamu tau kalo Tampan udah punya pacar De?"
"Tau...."
__ADS_1
"Jadi Kamu nangis karena tau dia udah punya pacar?" Debo mengangguk. "Astaga...!"
"Ih Mami...," rengek Debo yang merasa Tanta Mince sedang meledek dia barusan.
"Aduh De ... bukannya apa yah, tapi yang Mami liat selama ini. Pacarnya Tampan itu cinta mati sama Tampan, dia berapa kali dateng ke restoran untuk nemenin bahkan jemput Tampan disana. Sebaliknya juga begitu, Tampan juga cinta banget sama ... siapa itu namanya?"
"Viola."
"Nah iya Viola ... eh, kamu kok tau nama dia sih De?"
"Tau, tadi aku denger Tampan ngomong sama dia. Bahkan si Viola itu mau kenalan sama aku tapi aku malah lari kesini," terang Debo.
"Ish, ada-ada aja kamu ini. Ngapain harus pake acara lari segala sih De, sportif aja kali...," sahut Tanta Mince gemas dengan sikap anaknya.
Debo melepaskan pelukan mereka. "Bukan masalah sportif Mi, tapi aku udah terlanjur sakit hati denger Tampan manggil-manggil Viola sayang! Males aku lama-lama disana. Sakit hati aku Mi...."
Tanta Mince menghembuskan nafas panjang. "Iya, iya ... nah karena kamu sudah tau Tampan udah punya pacar, mending nggak usah berharap lagi sama dia yah. Masih banyak cowok diluar sana De, nggak usah nangis sama orang yang jelas-jelas nggak suka sama kita. Mami tau gimana perjuangan Tampan dulu bareng sama Viola."
"Emang Tampan kenapa sama Viola, Mi?"
"Panjang ceritanya De. Intinya Tampan itu beneran serius sama Viola, dia bahkan udah pernah kerumah minta izin sama orang tua Viola untuk berhubungan sama dia. Yah meskipun sampe sekarang papanya Viola nggak setuju sama hubungan mereka berdua...."
"Nggak setuju? Maksudnya papanya Viola nggak suka sama Tampan, Mi?"
"Iya, tapi Tampan tetep kekeh mempertahankan hubungan dia sama Viola. Makanya kamu mikir lagi kalo masih mau nyimpen perasaan sama Tampan, De ... susah! Dua-duanya sama-sama cinta mati."
Debo membuang nafas panjang, apa benar dia memang sudah tidak punya harapan untuk bisa bersama Tampan?
Lalu bagaimana dengan hati dan perasaannya yang tulus selama ini untuk lelaki itu? Haruskah Debo mencoba merelakan lagi semuanya seperti dulu?
Tapi, bagaimana kalau dia lagi-lagi tidak bisa melupakan Tampan seperti saat ini?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
__ADS_1
Cinta bertepuk sebelah tangan itu emang nggak pernah enak 😪