
"Ca.. Ayo ikut aku!."
"Kemana?."
"Makan siang.."
"Sekarang?."
Jimmy mengangguk, "Iya sekarang. Masa besok sih!."
"Tapi jam makan siang kan masih setengah jam lagi Jim," sahut Cantik melihat jam tangan yang melingkar indah ditangannya pemberian Dodo.
Iya, Dodo sekarang makin sering memberikan sesuatu untuk calon istrinya. Meski sering Cantik tolak dengan alasan pemborosan, tapi lelaki itu malah berkata kalau tidak ada kata boros untuk wanita yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anak mereka kelak.
Dodo memang sering memanjakan wanita-wanitanya dulu dengan barang-barang mewah, namun Cantik tidak suka jika Dodo terlalu sering membelanjakan sesuatu untuk hal yang dirasanya tidak perlu.
Makanya untuk Cantik, Dodo harus memutar otak dan membujuknya beberapa kali agar setiap yang dia berikan mau diterima Cantik.
"Nggak apa-apa kita mau pergi makan diluar, aku yang traktir. Ayo, keburu macet nanti.." Ajak Jimmy lagi menarik tangan Cantik.
"Eh, jangan gini Jim!," tolak Cantik melepaskan genggaman tangan Jimmy padanya.
"Abis kamu kelamaan sih, ayo cepet!," sahut Jimmy memaksa.
"Iya, iya.."
Cantik menyambar Slingbag miliknya diatas meja, dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki panjang lelaki itu dari belakang.
"Kita mau kemana?," tanya Cantik setelah mereka naik kemobil Jimmy.
"Makan.."
"Iya aku tahu kita mau makan siang, tapi dimana!," kesal Cantik.
"Duduk aja diem disitu, nanti kamu juga bakal tahu dimana tempatnya. Cerewet banget sih kamu!," sergah Jimmy mulai melajukan mobil Pajero miliknya (Bukan Iklan).
"Ish.. Susah ngomong sama manusia langka emang!," ujar Cantik setengah berbisik.
"Apa kamu bilang?."
"Nggak. Nggak ngomong apa-apa," jawab Cantik cepat tersenyum keki.
Jimmy melirik sekilas wanita cantik bernama Cantik yang duduk disamping kursi kemudinya dan tersenyum tipis.
Hampir sebulan mereka bekerja bersama Jimmy semakin nyaman dengan staff keuangannya ini, ada perasaan berbeda setiap kali menghabiskan waktu dengan Cantik.
Meski belum yakin dengan perasaannya sendiri tapi hati Jimmy selalu menghangat dan bahagia melihat Cantik tersenyum ataupun kesal padanya.
Tiba-tiba ponsel Cantik berdering nyaring, dia lalu buru-buru mengambil ponsel didalam Slingbag miliknya.
"Halo.."
"........."
"Lagi dijalan diajak makan siang sama Jimmy."
"........."
"Nggak tahu, dia nggak ngomong mau makan dimana. Kenapa?."
__ADS_1
".........."
"Oh, iya nanti aku kabarin kalo udah sampe yah bye.."
Cantik menutup panggilan itu yang langsung mendapatkan tatapan penasaran dari Jimmy.
"Siapa?."
"Pak Sam.." Jawab Cantik singkat.
Jimmy mengernyit, bos besar mereka itu hampir setiap jam menelepon Cantik. Kalau bukan memintanya untuk datang keruangan dia dan berlama-lama disana, Dodo akan menghubungi Cantik seperti sekarang ini layaknya pasangan kekasih.
"Ngapain dia telpon kamu?," tanya Jimmy tidak suka.
"Dia nanya lagi dimana, katanya dia bakal nyusulin kita.." Jujur Cantik.
"Ngapain nyusulin kita? Kayak nggak punya kerjaan lain aja. Dia udah kayak pacar kamu tau nggak Ca.."
Cantik hanya diam dan menatap lurus kedepan, sampai sekarang belum ada yang tahu kalau mereka sebenarnya adalah sepasang kekasih yang telah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.
Semua karyawan disana berpikir kalau dia dan Dodo bersaudara, mereka lebih mempercayai ucapan Edis yang berkata kalau mereka adalah saudara. Padahal Cantik maupun Dodo tidak pernah mengiyakan perkataan Edis waktu itu.
Jimmy membawa Cantik kesebuah restoran pinggir laut yang terletak di Jalan Sea, Malalayang Manado.
Siang ini cuaca di Manado sedang mendung, jadi Jimmy berpikir tidak ada salahnya mereka makan ditempat terbuka, untuk menikmati udara sejuk angin tepi pantai disana.
"Kamu mau pesen apa?," tanya Jimmy setelah melihat buku menu.
"Bentar.." Sahut cantik mengotak atik ponselnya.
"Eh.." Jimmy mengambil ponsel ditangan Cantik dan memasukkannya di saku celana. "Kok diambil sih ponsel aku Jim!."
"Kalo lagi jam makan siang gini waktunya istirahat, aku udah laper. Kelamaan kalo mau nunggu kamu main ponsel dulu," sahut Jimmy kembali menatap buku menu ditangannya.
"Udahkan, mana sini ponsel aku.." Ujar Cantik setelah selesai memesan makanan.
Dia ingin mengecek apa tadi dia sudah berhasil mengirim pesan sharelock pada Dodo atau belum.
Tadi Dodo memintanya untuk mengirim tempat dimana dia dan Jimmy akan makan siang ini. Lelaki itu tidak rela jika tunangannya pergi bersama lelaki lain yang adalah bawahannya sendiri di dealer.
"Kita kesini tuh mau makan sambil liatin pemandangan Ca, bukan mau liatin kamu main ponsel. Setidaknya kamu alihkan dulu sedikit pikiran dan mata kamu dari benda pipih itu!," sahut Jimmy santai dan mulai memasang rokok ditangan.
Jimmy memang perokok, tidak seperti Dodo yang lebih memilih kopi sebagai pengganti benda kecil panjang itu yang pelan-pelan meracuni tubuh kita sendiri.
Cantik berdecak dan melipat kedua tangan didada, lalu membuang arah pandangannya ke samping dimana laut luas Manado terlihat memanjakan mata bagi siapa saja yang ada di restoran itu.
Jimmy tersenyum menang karena Cantik tidak pernah bisa membantah dia selama ini, wajah dengan balutan make up natural dan hidung mancung serta kulit sawo matang wanita yang duduk didepan, masih lebih indah dibanding dengan pemandangan laut disampingnya.
Dia begitu menikmati wajah wanita yang berhasil merebut perhatiannya dari pertama kali mereka bertemu diruangan pak Bonar Sinaga.
Semakin mengenal Cantik, Jimmy makin terpesona dengan pribadi dia yang sedikit jutek dan terkadang galak namun bisa membuat hatinya berdebar.
"Ca.." Panggil Jimmy setelah mematikan rokok yang beberapa kali dia hisap tadi kedalam asbak.
"Apa?," jutek Cantik masih kesal dengan atasannya ini.
"Jangan galak-galak ih, kamu makin cantik tahu kalo lagi marah begitu!," kekeh Jimmy masih menatap dalam wanita yang pelan-pelan mengisi kekosongan dihatinya.
Cantik memutar bola matanya malas, kalau bukan karena lelaki ini adalah atasan dia pasti sudah Cantik marahi daritadi, "Terserah!."
__ADS_1
"Eh kamu kalo kesel dan marah-marah terus sama aku, nanti jatuh cinta loh.." Kekeh Jimmy lagi menggoda Cantik.
"Nggak perlu makasih, aku udah kenal satu orang mirip sama kamu sifatnya!," Sahut Cantik kesal masih melipat tangan didada.
"Oh ya, siapa?."
"Aku.." Suara bariton menyela ucapan Jimmy dan Cantik.
Sontak kedua orang yang sedang duduk berhadapan itu menatap kearah datangnya suara tadi.
"Bos.. Sam.." Sahut keduanya bersamaan.
Dodo berjalan mendekat kearah mereka dengan satu tangan didalam saku celana, dan duduk disamping Cantik merangkul bahu wanitanya dengan mesra.
Jimmy mengernyit merasa heran kenapa ada bosnya disini dan malah mengganggu waktu berduaan dia dan Cantik.
"Makan siang kok nggak ngajak aku sih, aku jugakan mau.." Ujar Dodo menatap tajam Jimmy, masih merangkul bahu Cantik.
"Sejak kapan bawahan ajak makan bosnya, yang ada bos yang ngajak makan bawahannya!," Sahut Jimmy kesal.
"Kalau begitu biar aku yang traktir kamu hari ini sebagai ucapan terima kasih, karena sudah membantu tunangan aku selama dia bekerja menjadi bawahan kamu di dealer.."
"Tunangan?," tanya Jimmy tidak mengerti.
"Iya tunangan, Cantik tunangan aku!," Sahut Dodo tersenyum smrik.
Jimmy tertawa mendengar ucapan atasannya ini, "Jangan bercanda bos."
"Apa aku kelihatan lagi bercanda?."
Jimmy terdiam dan menatap Cantik yang sedari tadi hanya diam disamping Dodo, yang merangkulnya mesra.
"Bener Ca?," Cantik mengangguk. "Bukannya kalian bersaudara?," tanya Jimmy lagi tidak percaya.
"Kami tidak pernah bilang kalau kami bersaudara, selama ini kalian yang ngomong begitukan?," sela Dodo tersenyum tipis.
Dia tahu kalau Jimmy menyimpan perasaan untuk tunangannya Cantik, Dodo tidak mau kebersamaan mereka sebulan ini disalah artikan oleh lelaki bertubuh tinggi dengan rambut tebal yang dibelah tengah itu.
"Jadi.." Sahut Jimmy menggantungkan ucapannya.
"Jadi kami memang bertunangan.." Sela Dodo tersenyum puas melihat Jimmy yang seketika terdiam dengan wajah yang kecewa, sedih dan tidak percaya.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
__ADS_1
Yang sabar yahh Jimmy,, mending kecewa sekarang daripada nanti..
Jodoh orang itu 🤭😂