Ojek Cantik

Ojek Cantik
Wanita Berharga


__ADS_3

"Jadi Glen polisi so dapa tangka Tu?," (Jadi Glen udah ditangkap polisi Tu), tanya Cantik pada adiknya yang sedang bersiap-siap untuk masuk kerja hari ini.


Tampan mulai bekerja kembali sejak dua hari yang lalu setelah luka jahitan di tangannya mengering.


"Iyo, pak komendan ada ba sms tadi. Kita le kata musti ka kantor polisi sabantar." (Iya, pak Komandan yang kasih tahu tadi beliau kirimin aku pesan. Nanti aku juga harus ke kantor polisi).


"Deng kakak mo batemang akang?." (Kakak temenin mau?).


Tampan menggeleng, "Nggak usah. Aku pergi sendiri aja Ka, nanti aku kesana pulang dari restoran."


"Oh yaudah, hati-hati yah bawa motornya. Lusa rencananya kakak mau ngojek lagi," ujar Cantik sambil memperhatikan motor peninggalan Papa mereka yang sudah hampir dua bulan ini tidak pernah lagi dia naiki.


"Eh, kakak masih mau ngojek lagi?." Cantik mengangguk. "Ya ampun Ka, emang nggak trauma abis kecelakaan waktu itu?."


"Nggaklah, kalo sibuk trauma yang ada kita makin susah Tu. Kakak juga mau bantuin mama, selama kakak nggak bisa ngojek mama jadi hemat banget demi nutupin kebutuhan harian kita. Kalo kakak ngojek lagikan lumayan, gaji mama bisa nambah-nambah buat kuliah kamu," terang Cantik pada adiknya.


Tampan menghembuskan nafas panjang, ternyata setelah bertunangan dengan orang 'berada' tidak membuat kakaknya ini malu untuk bisa ngojek lagi mencari uang untuk keluarga mereka.


"Terserah kakak ajalah, nanti aku cuciin motornya sebelum kakak pake. Aku pergi dulu yah Ka," pamit Tampan menyalakan mesin motor keluaran tahun 2000 itu.


"Iya, hati-hati.." Sahut Cantik setengah berteriak saat Tampan mulai melajukan motornya keluar dari halaman rumah.


...************...


Tepat jam lima sore jam kerja Tampan berakhir, dia pun lalu berjalan menuju parkiran dimana motor peninggalan mereka berada.


"Tam.."


"Eh, Vi.." Kaget Tampan saat melihat pacarnya sudah berada di dekat parkiran restoran.


"Udah selesai kerjanya?," tanya Viola mendekati Tampan.


"Udah, kamu daritadi nunggu disini?."


"Sekitar sepuluh menit kalo nggak salah. Kamu mau ke kantor polisi?."


Tampan mengangguk, "Iya.. Kamu mau ikut?," tanyanya membelai rambut panjang Viola yang diikat ponytail.


"Iya, aku mau temenin kamu. Sekalian mau kasih pelajaran sedikit sama manusia itu! Aku masih kesel tiap ingat perbuatan dia kemarin sama kamu Tam.." Sahut Viola berapi-api.


Meski dulu dia tidak bisa membalas semua perlakuan kasar Glen padanya, tapi hari ini dia akan menumpahkan semua rasa sakit dihatinya untuk pria yang pernah menghiasi hari-harinya dulu.


Ditambah lagi ada Tampan disampingnya membuat Viola semakin berani untuk menumpahkan kekesalan yang dia pendam untuk Glen.


"Yaudah naik gih, malah bengong kamu tuh. Bawa helm kan?."


"Bawa dong.. Aku naik yah," sahut Viola setelah memakai helm di kepalanya.

__ADS_1


"Pegangan Vi, peluk yang erat biar nggak jatuh," kekeh Tampan yang menarik tangan kanan dan kiri Viola agar semakin erat memeluk pinggangnya.


Viola tersenyum dan menyandarkan kepalanya dibahu Tampan, dia begitu menikmati masa-masa manis seperti ini bersama kekasih hatinya.


Semenjak mengenal Tampan, Viola merasakan kehidupan yang berbeda dari yang biasa dia jalani selama ini.


Sederhana namun begitu banyak cinta, itu yang selalu Viola rasakan dengan Tampan lelaki berambut sedikit gondrong dengan sejuta pesonanya ini.


Selama perjalanan menuju kantor polisi mereka sesekali bercanda dan tertawa bersama, setiap berhenti di lampu merah Tampan selalu mengusap-usap lutut Viola dengan lembut.


Kegiatan itu sudah seperti kegiatan wajib untuk Tampan, dia merasa ada yang kurang jika tidak mengusap lutut Viola yang tertutupi jeans panjang berwarna navy.


"Turun Vi, udah sampe.."


"Yah, kok cepet banget sih. Padahal aku masih pengen meluk kamu.." Kekeh Viola lalu turun dari atas motor.


"Bisa aja kamu, sini aku bukain.." Sahut Tampan menarik tangan Viola agar mendekat dan membantunya melepaskan helm yang dia pakai.


"Maaf yah Vi, cuma bisa ngajak kamu naik motor gini. Rambut kamu jadi berantakan dan bau pasti karena kena angin dan debu.." Sambung Tampan lagi mengatur rambut hitam panjang Viola yang sedikit berantakan karena memakai helm.


"Ngomong apa sih kamu Tam, aku itu cinta sama kamu. Biar mau berantakan dan bau gimanapun juga aku nggak peduli, yang penting aku bisa tetep sama kamu setiap hari."


Tampan tersenyum dengan hati yang menghangat, dia berjanji akan selalu berusaha membahagiakan wanitanya ini dan mencari pekerjaan yang lebih layak saat dia lulus kuliah nanti, agar bisa pantas bersanding dengan Viola.


"Masuk yuk," ajak Viola.


"Kenapa? Kamu nggak mau aku ketemu dia Tam?."


Tampan mengangguk, "Aku takut nanti dia makin besar kepala kalo liat kamu nemuin dia didalem Vi," jawabnya jujur.


"Kalo kamu nggak izinin, aku nggak bakalan masuk kalo gitu."


Tampan tersenyum dan mengusap kepala Viola penuh cinta, "Makasih yah.."


Viola mengangguk dan mengecup pipi Tampan sekilas, cup..


"Ya ampun Vi, kita lagi di parkiran ini.. Main nyosor aja mulut kamu itu," kaget Tampan dengan wajah yang sudah merona merah. Untung saja tidak ada orang disekitar mereka saat ini.


"Itu bekal buat kamu Tam, nanti kalo Glen bicara macam-macam tentang aku kamu jangan mudah percaya yah. Aku yakin dia pasti akan berusaha memprovokasi kamu.." ujar Viola menatap dalam manik mata cokelat tua Tampan.


"Iya, aku lebih percaya kamu dibanding mulut bajingan itu. Kamu tunggu diluar aja yah, aku nggak lama kok didalem," sahut Tampan menggandeng tangan Viola berjalan masuk menuju kantor polisi.


Setelah memberikan keterangan pada polisi, Tampan diajak untuk bertemu dengan tersangka pemukulannya di sel khusus tahanan.


Sebagai buronan yang sempat melarikan diri dari kejaran polisi di Jakarta, Glen langsung ditahan dipenjara sebelum nanti dikirim kembali ke Ibukota.


"Ngapain lo ketemu gue?," sarkas Glen tidak suka saat melihat siapa yang datang menemuinya.

__ADS_1


"Mau bilang makasih sama kamu."


"Maksud Lo?."


Tampan tersenyum smirk, "Iya.. Makasih karena berkat kamu aku bisa dapetin Viola. Wanita baik yang kamu sia-siain dulu."


"Cih.. Bekas gue aja Lo bangga banget! Lo nggak tahu gimana aku sama Viola dulukan, Lo nggak tahu gimana gue bebas menyentuh tubuhnya kan, Lo nggak..."


"Terserah kamu mau ngomong apa, bagi aku Viola adalah berlian yang kamu buang," potong Tampan sambil bersedekap dada menatap tajam lelaki yang tampak berantakan di depannya.


"Aku nggak peduli kamu pernah gimana dulu sama Viola, tapi yang pasti aku nggak akan bertingkah sebodoh kamu yang melepaskan wanita seberharga itu. Sekali lagi makasih karena udah kasih kesempatan buat aku dapetin Viola," ejek Tampan.


"Brengsek!," sahut Glen mulai terpancing dengan ucapan Tampan padanya.


"Enjoy your time in jail bro (nikmati waktumu dipenjara bro)," sambung Tampan lagi tertawa sarkas dan berlalu meninggalkan Glen yang berteriak marah dari balik jeruji besi.


.


.


.


.


.


.


.


...∆∆∆∆∆∆∆∆...


Enjoy di dalam sana yah Glen.. 🤭


**********


Author belum bisa up banyak yahh guys..


Anak author lagi demam dari semalam..


Jadi harus extra lagi nih emaknya hehehe..


***********


Jangan lupa diarahkan jari jempolnya pada tempatnya yah guys..


Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2