
Setelah menerima telepon dari adik Cantik bernama Tampan, Dodo merasa kalau wanita itu pasti tidak akan mau bertemu dengan nya.
Cantik bukan tipe wanita seperti yang biasa dia kenal, yang suka tebar pesona dan langsung mengiyakan ajakan nya jika diajak bertemu.
Cantik lebih kepada wanita dengan pendirian yang tinggi dan sosok pekerja keras, begitulah kesan pertama yang dia lihat waktu itu dari seorang tukang ojek online yang tidak sengaja dia tabrak.
Dodo pun akhirnya memilih mencari tahu dimana wanita itu tinggal, salah satunya dengan melacak nomor ponsel Tampan yang menghubungi dirinya tadi.
Dia mulai membuka aplikasi Maps pada ponselnya lalu mencari fitur Driving and Directions atau pemandu perjalanan.
Fitur yang satu ini bisa dengan mudah menemukan keberadaan atau lokasi seseorang, dengan menunjukkan arah/jalur jalan atau rute mana yang harus dilewati dari lokasi satu ke lokasi lainnya.
Dodo pernah mencobanya saat dia melacak Alice mantan pacarnya dulu, dan berhasil menemukan kalau dia tengah asik jalan di Mall bersama selingkuhan nya.
Ah.. kenapa jadi kepikiran wanita matre itu lagi gue? gumam Dodo dalam hati.
Iya.. Alice masih terus menggentayangi dirinya dengan telpon dan SMS untuk membujuk dia agar mau rujuk kembali. Sudah kayak sundel bolong aja tu cewek, tiap kali nomor yang dipakai wanita itu dia blokir. Ada saja nomor baru yang masuk ke ponselnya dari Alice.
Kalo bisa ganti nomor, udah lama Dodo ganti! Tapi sayangnya nomor ini dia pakai juga untuk kegiatan bisnis dealer nya selama ini.
"Yes.. berhasil!", sorak Dodo gembira.
Dia berhasil melacak nomor ponsel Tampan yang sepertinya sedang ada dijalan menuju ke suatu tempat.
Dodo pun mengambil kunci mobil yang bertengger di dekat meja kantor lalu keluar menuju parkiran.
Mobil sport kemarin yang belum lama dia pakai sedang di service karena bagian depannya ikut penyok gara-gara keteledoran nya sendiri.
Sambil melihat arah yang ditunjukkan Maps di ponsel, Dodo melajukan satu mobil di dealer yang dia pinjam sembari menunggu perbaikan mobilnya selesai.
Dodo tiba di sebuah restoran yang ternyata milik Tantenya bernama Mince. Restoran ini dibangun sekitar 4 tahun yang lalu dan langsung booming (terkenal) di kota ini.
Banyak pejabat, wisatawan maupun warga lokal yang sering makan disini. Dan yang mengelola tempat ini adalah suami Tante Mince yang adalah seorang Chef lulusan luar negeri.
"Ngapain tu anak ada disini? Duh.. turun nggak yah gue?."
Dodo masih menimbang-nimbang apa dia harus masuk ke dalam restoran itu atau tidak. Dia risih kalo harus bertemu dengan tantenya yang cerewet minta ampun.
Momo pasti akan nanya-nanya kenapa dia ada disana, dan semua pertanyaan nya sudah seperti penyidik di kantor polisi, ditanyain sampai kedalam dasar laut. Dodo biasa memanggil Tantenya itu dengan sebutan Momo.
Motor milik Cantik yang dia tabrak waktu lalu pun ada di parkiran roda dua, bagian belakangnya masih penyok dengan lampu rem yang sudah bolong kacanya.
Tampaknya adik wanita yang dia tabrak itu, membawa motor kakaknya kemana-mana semenjak Cantik tidak bisa ngojek. Ah.. Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya setiap kali mengingat itu.
__ADS_1
Setelah menimang, menimbang dan menyusun kata-kata sebagai alasan yang tepat pada tantenya nanti, Dodo pun akhirnya turun dari dalam mobil dan melangkah dengan pasti masuk kedalam restoran yang pagi ini sudah ramai ternyata.
Padahal waktu masih menunjukkan pukul sepuluh waktu Indonesia bagian tengah, dan setau dia restoran ini buka pukul sembilan pagi.
Itu artinya, banyak orang yang memang ingin makan disana meski harga yang ditawarkan cukup mahal untuk orang dengan perekonomian yang jauh dibawah dirinya.
Meski begitu makanan disana memang enak-enak, suami Tante Mince memang jago masak dan punya cita rasa tinggi dalam setiap menu masakan yang dihasilkan olehnya.
Baru saja Dodo mendorong pintu restoran, Dia dikagetkan dengan kemunculan Tante nya yang ternyata akan pergi keluar dari dalam.
"Loh.. Dodo? Kamu disini? Ngapain?."
Rentetan pertanyaan Tante Mince membuat kepala Dodo pusing seketika. Buyar semua alasan yang sudah dia pikirkan sejak di mobil tadi.
"Mmm.. Mau makan lah Momo, masa mau beli mobil disini.." ucap Dodo senormal mungkin.
"Makan? Tumben tumbenan kamu mau makan di resto Momo.. katanya mahal, mau yang murah murah aja untuk berhemat. Lagian yahh Do ngapain juga sih kamu masih hemat gitu untuk urusan perutmu. Udah kerja capek-capek tapi masih aja nggak mau nikmatin hasil usahanya. Sekali-sekali kamu juga harus bisa nikmatin hidup kamu, apalagi kamu kan masih single.. Kalo udah menikah dan punya anak pengeluaran nya lebih bejibun, kamu udah nggak bisa leha-leha beli ini itu kayak Momo."
Panjang lebar Tante Mince berbicara, sampai yang mau lewat untuk masuk dan keluar dari dalam restoran harus terhalang ponakan dan Tante itu.
"Hei.. Kenapa kalian berdua menghalangi jalan?", suara suami Tante Mince membuat keduanya sadar kalau mereka sedang berdiri di depan pintu masuk restoran.
Dodo pun mundur selangkah agar pelanggan restoran yang mau masuk dan keluar bisa lewat.
"Do.. Kamu disini? Datang kapan dari Jakarta?", tanya Steven suami Tante Mince.
Popo panggilan untuk Om nya yang masih terlihat muda meski sudah berkepala empat.
"Oh.. Udah lama juga ternyata, kamu udah nggak pernah main kerumah sih sejak bertengkar dengan Devan.. Mana sekarang dia lebih seneng keluar daerah untuk ngembangin bisnisnya, rumah jadi sepi.." curhat Om Steven.
Devan yah..
Dodo jadi kangen dengan sepupunya yang seumuran dengan dia.
Terakhir bertemu mereka masih diam-diaman karena pertengkaran mereka waktu itu, hanya cuma karena kesalahpahaman saja menurut Dodo.
"Emang Debo nggak pernah pulang Popo?," tanya Dodo mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membahas masalah dia dan Devan.
Debo adalah anak kedua dari Om Steven dan Tante Mince. Dia kuliah di Singapure mengambil jurusan psikologi, entah kenapa dia lebih tertarik mempelajari ilmu kejiwaan dibanding mengikuti jejak pedagang di keluarga mereka.
"Ada.. Tahun lalu dia pulang kok kesini. Dia juga ngajak salah satu temen SMA nya kerja part time disini. Tuh orangnya!."
Om Steven menunjuk seorang pria yang sedang berjalan membawa piring bekas makan pelanggan disana.
__ADS_1
"Kalo nggak salah namanya Tampan", sambung Om Steven lagi.
"Tampan..?."
"Iya.. kamu kenal emang?", Tante Mince ikut menimpali pembicaraan suami dan ponakannya.
Bener berarti adik Cantik kerja disini, gumam Dodo.
"Aku sebenarnya kesini mau ketemu dia Momo.." jawab Dodo jujur.
Dia lalu menceritakan kejadian tabrakan itu, dan bagaimana dia mengikuti Tampan sampai ke restoran milik Tantenya.
"Ya ampun Dodo.. Kamu tuh emang bener-bener yah. Udah nabrak orang trus tinggalin tu cewek lagi di rumah sakit.." Tante Mince mulai mengomel dan berceramah pada ponakannya yang dikenal sebagai pribadi yang lebih mementingkan pekerjaan nya dibanding hal lain.
Sudah berapa kali Dodo melewatkan kumpul-kumpul keluarga karena beralasan sibuk dengan bisnisnya yang mulai ramai.
Tapi untuk masalah sebesar ini, Tante Mince sampai tidak habis pikir dengan sikap Dodo. Sudah mencelakai orang lain, tidak minta maaf dan malah meninggalkan korbannya sendirian disana.
"Kamu kan bisa nunggu sampe keluarganya dateng Do.. Kamu tuh yah, kalo emak mu tahu kau abis nabrak orang udah digantung kamu pasti!", omel Tante Mince lagi.
"Udah.. yang penting sekarang kan Dodo udah ada niat baik mau minta maaf dan bertanggung jawab sama perbuatannya Mi..", ucap Om Steven menengahi.
"Lebih baik kamu langsung kerumahnya aja Do, nggak usah nunggu seharian disini. Dia nanti pulang sore, bahkan sering lembur juga. Nanti aku minta Pak Gio untuk kirimin alamat Tampan ke nomor kamu!."
Pak Gio adalah manager di restoran Bintang, dia yang mengurusi soal kebutuhan logistik dan pegawai disini.
"Yaudah.. Makasih yahh Popo", ujar Dodo tulus.
"Kalo mau tanggung jawab yang bener Do.. Anak orang itu! Apalagi dia cewek, ya ampun.. mudah-mudahan aja kamu nggak di gebukin bapaknya nanti!."
...∆∆∆∆∆∆∆∆∆...
Masih berlanjut yahh..
Di part berikut Dodo mau ketemu sama Cantik nihh...
Tungguin yahh guys 😁
*********
Eh..
Udah ninggalin jejak belum nih..
__ADS_1
Yang belum,, author masih menunggu bunga-bunga di taman yang indah dan juga secangkir kopi biar author melek terus buatin Up untuk kalian hehehe 🤭
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹