
"Tam.."
"Hei.. Maaf lama. Aku nungguin Tomtom tadi datang baru bisa keluar restoran, banyak tamu soalnya disana."
"Iya nggak apa-apa, aku kangen Tam.." Ujar Viola memeluk sang pujaan hati.
Sejak orangtua Viola kembali ke Manado tiga hari yang lalu, mereka belum pernah bertemu lagi hingga hari ini.
"Aku juga kangen banget sama kamu Vi.. Kamu baik-baik ajakan?," tanya Tampan mengusap lembut punggung Viola.
"Iya, aku baik-baik aja. Cuman hati aku yang nggak baik."
"Loh kenapa?."
"Terlalu berat nahan rindu sama kamu Tam," kekeh Viola namun mengandung arti yang sesungguhnya.
Tampan tersenyum, "Sama.. Aku juga begitu Vi."
Meski hampir setiap jam mereka saling memberi kabar satu sama lain, tapi rasa rindu ingin bertemu benar-benar membuat mereka tersiksa karenanya.
"Trus gimana, orangtua kamu udah mau ketemu aku belum Vi?," tanya Tampan masih memeluk wanitanya.
"Kami belum sempat berbicara soal itu Tam, kamu tahu sendirikan gimana sibuknya mereka berdua. Aku pikir setelah kembali kesini, mereka bisa punya waktu yang lebih buat aku tapi ternyata sama aja. Aku tetap aja nggak digubris sama mereka berdua.."
"Nggak apa-apa kan masih ada aku, sekalipun aku sibuk kerja dan kuliah. Aku akan selalu berusaha meluangkan banyak waktuku untuk kamu.." Goda Tampan menghibur kekasihnya.
"Bisa aja kamu," kekeh Viola melepaskan pelukan mereka.
Cup..
Satu kecupan mesra mendarat di pipi Tampan.
"Makasih yah selalu sempetin waktu buat aku, aku bahagia banget Tam.."
Tampan memegang pipi yang baru saja dikecup oleh Cantik dengan hati yang membuncah penuh bunga, meski hanya sekedar kecupan belaka tapi bisa membuat seorang Tampan Hidayat melayang.
"Vi..."
"Iya?."
"Dada aku Vi.." Tunjuk Tampan pada dadanya.
"Kenapa sama dada kamu?."
Tampan mengambil tangan kanan Viola dan meletakkannya di dada bidang miliknya. "Dada aku lagi kenceng-kencengnya berdetak ini."
"Kenapa? Kamu sakit Tam?," tanya Viola khawatir.
"Bukan.."
"Lalu?."
"Ini karena kecupan kamu sampe kehati aku, dia juga ikut rasain bibir kamu yang hangat tadi menempel di pipi aku.."
"Ish.. Aku pikir apaan!," Sahut Viola mendorong dada Tampan.
Tampan tertawa dan menarik tangan Viola lalu mencumbunya dengan rakus, melepaskan rindu yang selama tiga hari ini mengendap dihati mereka.
Tampan menahan tengkuk wanitanya agar ciuman itu semakin dalam dan dalam, sedangkan Viola asik mengusap-usap dada bidang Tampan yang tadi sempat disentuh olehnya.
Tampan melerai ciuman itu saat seorang pelayan cafe membawakan pesanan mereka yang sedikit kikuk melihat ada dua orang sedang berciuman disana.
"Maaf Pak, Bu.. Ini pesanannya," ujar sang pelayan cafe meletakkan satu piring roti bakar cokelat keju dan dua buah lemon tea dingin diatas meja.
__ADS_1
"Makasih.." Ujar Viola yang kembali bersikap seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa.
Beda dengan Tampan yang sudah merona malu disamping Viola.
"Ada lagi Bu?," tanya pelayan itu.
"Nggak, udah semuanya."
"Baik, saya permisi."
Pelayan itupun berlalu meninggalkan pasangan mesum yang suka berciuman dimana saja, tanpa mempedulikan keadaan sekitar mereka.
"Kenapa diem? Malu?," goda Viola meminum lemon tea dingin diatas meja.
Tampan mengangguk, "Makanya jangan sok ciumin aku ditempat umum! Malu sendirikan kamu.." Tawa Viola.
Viola yang terbiasa hidup bebas, tidak pernah memusingkan hal seperti ini. Baginya ciuman dimana saja adalah hal yang wajar, dia dan Glen selalu seperti itu dulu.
"Udahlah, mulai sekarang nggak ada lagi ciuman-ciuman begini di tempat umum!," sahut Tampan berusaha bersikap seperti biasa lagi.
"Kan kamu yang nyosor duluan, aku cuma ikutin kemauan pacar aku aja," kekeh Viola mencolek pipi Tampan yang berlesung pipit.
"Iya, iya.. Aku yang salah."
"Mau aku cium lagi nggak?."
"Nggak!."
"Yakin?." Tampan mengangguk, "Yaudah nggak ada cium-ciuman lagi mulai sekarang!."
"Eh, kok gitu.. Ada, tetep ada Vi. Jangan aneh-aneh kamu!."
Viola seketika tertawa terbahak melihat Tampan yang seakan ingin memakan dia, karena tidak rela jika kegiatan yang dia sukai itu tidak lagi boleh dilakukannya.
"Ish, aku serius yah Vi. Awas aja kamu nggak kasih aku jatah ciuman, aku tarik kamu ke pendeta biar langsung sah sekalian!," ancam Tampan.
"Viola.." Suara bas seorang pria paruh baya menghentikan tawa bahagianya.
Viola sontak berdiri mendapati ayahnya sedang berdiri di dekat mereka dan tengah memandangi dia maupun Tampan dengan tajam.
"Ayah.."
"Ngapain kamu disini? Siapa dia?," tanya Om Wellem menatap bergantian Tampan dan anak perempuannya.
Tampan yang ikut terkejut melihat ayah Viola sedang berada juga di Cafe ini, ikut berdiri dan mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Om Wellem.
"Selamat siang Om.. Saya Tampan, saya pacarnya Viola."
"Pacar?."
"Iya Om.."
Om Wellem meneliti dari atas kebawah sosok seorang baru yang mengaku sebagai pacar Viola, tanpa mempedulikan tangan Tampan yang terulur kearahnya.
"Kerja dimana kamu?," tanya Om Wellem masih memperhatikan Tampan dengan seksama.
"Saya masih kuliah om, kerja part time di salah satu restoran dikota ini," jujur Tampan.
"Pelayan?."
"Iya om," jawab Tampan menarik kembali tangannya karena tidak digubris oleh lelaki paruh baya itu.
Wajah Om Wellem sontak langsung berubah antara jijik, kesal dan tidak suka pada Tampan.
__ADS_1
"Ikut ayah pulang Vi, ayo.."
"Ta.. tapi Yah, aku masih mau disini dulu bentar lagi. Nanti biar Tampan yang anterin aku pulang," rengek Viola.
"Dia pake apa anterin kamu pulang?."
"Motor Om," Tampan yang menjawab.
"Motor? Kamu mau celakain anak tunggal saya! Saya saja tidak pernah membawa dia kemana-mana dengan motor!," sarkas Om Wellem makin tidak suka dengan lelaki yang mengaku sebagai pacar baru Viola anaknya.
"Yah, jangan gitu ngomongnya!."
"Diem kamu Vi! Kamu lebih milih ninggalin Glen hanya untuk pria yang bahkan tidak sebanding dengan kita ini!," tunjuk Om Wellem kearah Tampan.
Mereka sontak menjadi pusat perhatian karena suara Om Wellem yang sudah meninggi.
"Pulang sekarang!," ujar Om Wellem menarik tangan Viola. "Dan kamu, jauhi anak saya!," tunjuk Om Wellem lagi pada Tampan.
"Tapi Yah.."
"Nggak apa-apa Vi, kamu pulang aja sama ayah kamu. Nggak enak kita udah jadi tontonan orang, aku nggak apa-apa. Nanti aku telpon kamu yah," sahut Tampan menenangkan Viola.
"Tapi Tam.."
"Aku nggak apa-apa Vi, percaya sama aku.. Kita akan lewatin ini sama-sama," potong Tampan berbisik di telinga Viola karena tidak enak terdengar oleh calon mertuanya.
Viola memandang wajah Tampan yang pasti sedang menahan sakit atas penolakan tegas yang diberikan ayahnya, lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum mencoba memberi keyakinan untuk dia yang juga ikut merasa sakit mendengar ucapan Om Wellem tadi.
"Ayo pulang sekarang Vi, jangan bikin ayah marah!," sentak Om Wellem lagi menarik tangan anak perempuannya.
"Aku pulang yah Tam, maaf.."
"Iya, kabarin aku kalo udah sampe rumah yah," sahut Tampan masih tersenyum hangat untuk wanita yang sangat dia cintai ini.
Viola mengangguk dan mengikuti Om Wellem dari belakang, masih dalam genggaman tangan kekar ayahnya. Untung saja lelaki paruh baya yang memakai setelan rapi dengan kumis diatas bibirnya itu, tidak melihat Viola dan Tampan berciuman tadi.
Tampan yang terlanjur malu dan galau, ikut keluar dari cafe setelah Viola naik kedalam mobil mewah milik ayahnya Om Wellem.
Dia tahu kalau hari ini akan datang orangtua Viola pasti akan menentang hubungan mereka berdua, karena terhalang perbedaan strata sosial dengan keluarga mereka.
Sedih dan sakit hati pasti akan selalu Tampan terima kedepannya, namun demi rasa cinta yang tulus untuk Viola. Dia berjanji akan terus memperjuangkan hubungan mereka hingga restu itu akan mereka dapatkan, seperti janjinya pada Viola.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Mulai memasuki konflik yahh guys..
Kita doakan semoga Tampan bisa meyakinkan kedua orangtua Viola
***********
__ADS_1
Dukungan kalian jangan lupa yahh guys selalu tinggalkan disini untuk karya author jika kalian syukaa dengan pasangan Dodo dan Cantik,, serta pasangan Tampan dan Viola..
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹