
Author pengen berpantun tapi nggak bisa..
Jadi author bilang Like aja jangan lupa yahh ðŸ¤
************
"Tam kamu peluk aku aja, aku takut nanti kamu jatuh. Kamu kan masih pusing", ucap Viola setengah berteriak dari balik kaca helm yang dipakainya.
"Emang boleh?", tanya Tampan tidak enak.
Dia juga ingin bisa merasakan pinggang Viola yang ramping, selama ini dia tidak pernah memeluk wanita selain Tanta Mar dan Cantik kakaknya.
Tidak pernah berpacaran membuat lelaki itu penasaran bagaimana rasanya memeluk seorang wanita dari belakang, dengan keadaan berboncengan seperti ini.
Tampan pernah mendengar kalo Toar dulu sangat suka saat berboncengan dengan pacar-pacarnya, katanya lebih romantis karena bisa sedekat dan seintim itu.
Tinggu, intim? Astaga.. Pikiran Tampan langsung melalang buana kesana kemari karena satu kata ini.
"Tam.. Kamu denger nggak?", tanya Viola memastikan lagi dengan suara yang lebih keras dari tadi.
"Iya, iya.. Aku peluk yah", jawab Tampan dan mulai menarik tangan kanan dan kirinya ke pinggang Viola yang ramping.
Dia yang memeluk dia sendiri yang deg-degan karenanya, Viola terlihat santai dan melajukan motor keluaran tahun 2000 itu dengan kecepatan penuh.
Viola ingin cepat sampai karena khawatir dengan keadaan Tampan dibelakang, berbeda dengan lelaki itu yang masih ingin berlama-lama memeluk tubuh Viola saking nyamannya.
"Lurus aja Vi, nanti ada pagar rumah berkarat dan halaman luas itu rumah aku", terang Tampan setelah Viola sudah masuk kedalam lorong menuju rumah mereka.
Merekapun sampai di depan rumah yang dibilang Tampan padanya, Viola memperhatikan rumah sederhana dengan halaman luas penuh bunga berwarna-warni.
"Ini rumah kamu Tam?", tanya Viola memastikan.
"Iya", jawab Tampan singkat dan turun dari kursi belakang motor peninggalan papanya.
"Kok sepi Tam?."
"Cuma ada kakak aku dirumah, biasanya kalo udah malam gini dia diem di depan TV dan ngunci pintu dari dalam", terang Tampan dan mendorong pintu pagar berkarat yang langsung memekakan telinga Viola.
"Ya ampun Tam, pagar kamu kayak orang lagi marah-marah. Sakit banget telinga aku ini.." ucap Viola sambil mengusap telinga kanan dan kirinya.
"Anggap aja ini penyambutan buat kamu karena baru sekarang dateng kesini kan.."
Tampan tertawa geli melihat bibir mungil Viola sudah tampak maju ke depan, lama-lama aku cium juga bibir kamu itu Vi batin Tampan gemas.
"Kamu turun aja biar aku yang masukin motornya kedalam."
"Nggak usah, biar aku aja sekalian yang bawa masuk kedalam Tam. Minggir dulu.."
Tampan pun mundur memberi kesempatan pada Viola untuk membawa motornya masuk kedalam halaman rumah mereka, untuk diparkirkan di bagian teras rumah.
Ceklek..
Bunyi pintu rumah Tampan dibuka dari dalam.
Seorang wanita muda dengan rambut yang dicepol tinggi keatas dan daster kebangsaan yang selalu dia pakai, terlihat muncul dari balik pintu.
"Tu.. Baru pulang? Eh, ini siapa?", tanya Cantik kaget saat melihat ada seorang wanita yang seumuran dengan adiknya berdiri di dekat motor mereka.
"Malam Ka.. Kenalin aku Viola, pacarnya Tampan", ujar Viola sambil mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Cantik yang menatap dia dan adiknya bergantian.
__ADS_1
Tampan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia yakin kalau kakaknya pasti akan memberondongi dia nanti dengan rasa penasaran dan heran karena dia sudah memiliki kekasih tanpa pernah berkata apa-apa pada mereka.
Kakak beradik itu memang dekat, untuk hal sekecil apapun mereka selalu terbuka satu sama lain. Kecuali untuk hal penghinaan yang diterima oleh salah satu diantara mereka.
Mereka lebih memilih untuk menyimpannya sendiri karena tidak ingin menjadi beban satu sama lain.
"Pacarnya Tampan yah.. Aku Cantik kakaknya", ujar Cantik manggut-manggut dan menatap adiknya yang tertunduk seperti menyembunyikan sesuatu.
Dia pun membalas salaman tangan Viola dan mempersilahkan wanita itu duduk di kursi teras rumah mereka.
"Astaga Tu, Kiapa ngana pe muka kong so bagini dang?", (Astaga Tu, kenapa sama muka kamu ini?), tanya Cantik heboh saat Tampan berdiri di dekat lampu rumah mereka sehingga wajahnya jadi terlihat lebih jelas.
"Nyanda apa-apa Ka, tadi kita..." (Nggak apa-apa Ka, tadi aku..)
"Itu salah aku Ka Cantik", potong Viola cepat.
"Ha? Kamu yang mukulin Tampan maksudnya Vi?", tanya Cantik tidak percaya menatap Viola.
Viola mengangkat kedua tangannya di atas dada dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.
"Bukan, bukan aku yang mukulin Tampan Ka. Tadi kami ketemu sama mantan pacar aku waktu lagi di Mantos, mereka sempat bersitegang dan berkelahi disana", terang Viola dan menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi juga dengan masalah antara dia dan Glen.
"Ya ampun, jahat banget sih mantan pacar kamu itu Vi. Untung aja kamu cepet tahu sikap buruknya, nggak kebayang kalo kamu sampe menikah sama dia", ujar Cantik ikut prihatin dengan nasib sang pacar adiknya.
"Makanya aku mau minta maaf sama Ka Cantik dan keluarga karena udah bikin Tampan celaka. Tolong jangan menyalahkan Tampan karena masalah ini, aku yang lebih pantas untuk disalahkan Ka.."
Viola menundukkan kepala merasa bersalah karena sudah membuat Tampan terluka karena melindunginya. Dia sengaja mengaku sebagai pacar Tampan karena tidak ingin keluarganya marah pada lelaki itu, karena sudah mau membantu wanita yang bukan siapa-siapanya.
"Nggak lah Vi, ngapain juga aku menyalahkan kamu.. Yang salah itu yah mantan kamu itu, orang sakit kayak dia memang nggak pantas untuk dipertahanin. Untung aja ada Tampan tadi, kalo enggak dia pasti udah mukulin kamu lagi. Udah sekarang kamu bantu aku untuk obatin lukanya Tampan yah Vi, aku ambil obat merahnya dulu."
Cantik pun bergegas masuk kedalam mencari kotak P3K yang biasa mereka simpan di dalam lemari kayu lapuk dekat dapur, dan mengambil segetel air untuk Viola dan adiknya minum.
"Kitakan memang pacaran sekarang Vi, udahlah nggak perlu ngomong gitu lagi. Aku nggak masalah kalo seluruh dunia juga tahu kamu itu pacar aku."
Mendengar ucapan Tampan hati Viola membuncah penuh bunga, astaga bisakah dia berharap kalau mereka memang benar berpacaran sekarang?.
Dia tidak pernah lupa saat pertama kali dia melihat Tampan di kantin sekolah mereka waktu itu. Keramahan serta ketampanan seorang Tampan Hidayat memang selalu bisa menarik hati kaum hawa yang berada di dekatnya.
Dan Viola adalah salah satu diantara banyaknya wanita satu sekolah yang begitu mengidolakan Tampan kakak kelasnya. Meski hanya satu semester bisa menatap dan memperhatikan lelaki itu dari jauh, tapi dia benar-benar bahagia.
Perasaan kagumnya dulu kini berubah menjadi sebuah benih.. Benih yang diyakini Viola sebagai awal mula rasa cinta untuk pria dengan tinggi badan 178 cm ini.
"Ini obatin dulu luka kamu Tu, kakak mau siapin makan malam buat kalian.." ucap Cantik setelah menyodorkan kotak P3K yang dia ambil tadi pada Viola, dan menaruh getel berisi air diatas meja teras.
"Tolong yah Vi.."
"Iya Ka, biar aku aja yang obatin luka Tampan."
"Ok.. Aku masuk dulu yah.." Ujar Cantik dan berlalu masuk kembali kedalam rumah.
"Deket sini Tam", panggil Viola
Tampan pun mengambil tempat di kursi dekat Viola dan duduk berhadapan dengannya.
"Tahan yah Tam, pasti bakal perih ini.."
"Iya.. Aku kuat kok, kamu tenang aja", jawab Tampan sambil memperhatikan wajah Viola dari dekat.
Wangi aroma bunga dari tubuh Viola menyeruak masuk kedalam indera penciumannya, menelusup hingga kedalam dasar hati Tampan dan memenuhinya hingga terasa penuh.
__ADS_1
Pesona Viola telah berhasil membuat Tampan tergoda, hatinya seakan ditarik untuk selalu menempel dan terikat dekat dengan wanita yang tengah mengoleskan obat merah ke bagian wajahnya yang terluka.
Sementara Viola benar-benar memusatkan perhatiannya ke wajah Tampan yang luka dan lebam karena perkelahian tadi, meski dia berusaha untuk terlihat tenang namun sebenarnya dia sedang dilanda kegugupan yang luar biasa saat ini.
Viola tahu kalau lelaki yang kini sangat dekat berada di depannya sedang memperhatikan dirinya.
Viola bahkan tidak mau untuk sekedar melirik Tampan, dia takut jika nanti dia tidak bisa menahan getaran detak jantungnya sendiri yang seakan mau lepas dari tempatnya.
"Aww..." Suara rintihan Tampan membuyarkan kegugupan Viola.
"Kenapa Tam? Sakit yah? Aku kekencengan ngolesin obatnya yah?", tanya Viola panik sendiri.
Tampan tersenyum tipis melihat wajah panik Viola yang semakin terlihat cantik baginya.
"Nggak apa-apa Vi, cuma kamu kalo lagi obatin orang pikirannya jangan kemana-mana dong. Nggak konsen gitu kamu.."
"Iya, iya maaf yah Tam", ucap Viola tidak enak.
"Besok kamu jangan keluar rumah dulu yah Vi, kalo ada apa-apa langsung hubungin aku. Aku yakin kalo laki-laki bajingan itu pasti bakalan cariin kamu dirumah. Kalo dia datang jangan keluar, telpon aku nanti biar aku yang kesana temuin kamu!."
"Iya Tam, makasih yah untuk semua bantuan kamu. Aku merasa terlindungi semenjak kamu ada disamping aku Tam.." jujur Viola.
Tampan tersenyum dan mengusap lembut tangan Viola yang masih duduk berhadapan dengannya.
"Aku akan selalu lindungin kamu sampai nanti Vi.."
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆...
Eh jadi..
Ini gimana sih,, udah jadian beneran ini ato masih boongan sih??
Kok jadi author yang bingung sendiri..
Hadeh 🙄
Mohon dijawab Utu dan Viola 😑
**********
Jejaknya jangan lupa kesayangan author semua..
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹
__ADS_1