
Terima kasih untuk yang sudah Vote kemarin..
Like dulu sebelum lanjut baca lagi yahh..
*************
"Hai Tam.." Sapa Viola saat lelaki itu baru saja pulang dari jadwal shift kerja pagi sampai sorenya.
"Eh Vi.. Udah lama kamu disini?", tanya Tampan kaget melihat Viola sudah menunggunya di tempat parkir restoran.
"Belum lama Tam baru sekitaran lima menitan lah. Kamu udah selesai kerjakan?."
"Udah, mau kemana kita emangnya?", tanya Tampan lagi sambil memutar motornya menghadap kearah jalan raya agar mereka bisa langsung pergi.
"Ke Mantos (Manado Town Square) aja gimana, aku lagi pengen jalan-jalan Tam. Bosan dirumah terus.." usul Viola dan naik di kursi belakang motor Tampan.
"Yaudah ayo.. Pegangan yah Vi, aku nggak tanggung jawab kalo kamu jatuh nanti."
"Iya, iya.. Bawel banget sih pacar aku ini", ujar Viola menggoda Tampan.
Wanita itu lalu memeluk pinggang Tampan dari belakang, membuat si pria harus beberapa kali menahan nafas karena merasakan dua tonjolan Viola yang menempel di punggungnya.
Sejak Tampan mengiyakan permintaan Viola untuk menjadi pacar bohongannya, mereka jadi sering menghabiskan waktu bersama layaknya pasangan kekasih yang sebenarnya.
Mereka sering hang out bersama jika Tampan selesai kerja sore hari seperti sekarang. Viola lah yang sering membayar biaya ngedate bohongan keduanya, dia tidak ingin jika Tampan masih harus mengeluarkan uang untuk pertolongan yang dia berikan padanya.
Dan kebersamaan mereka yang sudah dua Minggu lebih ini, Viola selalu duduk berboncengan dengan Tampan di motor peninggalan ayahnya.
Tampan selalu deg-degan setiap kali Viola dengan santainya bersandar di punggung bidangnya dan bersikap manja sekaligus mesra padanya.
Viola benar-benar bertingkah seperti pacar sungguhan Tampan yang kadang justru membuat dia sedikit baper karenanya.
Memasuki kawasan Mantos, motor yang dibawa Tampan tiba-tiba di hadang oleh sebuah mobil mewah berwarna hitam, dengan velg ban yang mengkilap seperti baru.
"Tam.. Ini mobil Glen, dia kayaknya udah tahu kalau kita punya hubungan. Kamu hati-hati yah Tam, aku takut dia nyakitin kamu nanti.." bisik Viola di telinga Tampan dan membuat tubuhnya sontak meremang geli.
Tampan paling tidak bisa dibisikin di telinga seperti itu, jiwa lelakinya akan datang jika seseorang mengganggunya di bagian itu apalagi jika dia seorang wanita seperti Viola. Sial!
Seorang pria bertubuh tinggi hampir sama dengan Tampan turun dari dalam mobil, dia memakai kemeja berwarna putih dengan celana kain hitam dan sepatu pantofel hitam bak seorang pengusaha muda dan sukses.
Tampan seketika langsung merasa kecil karena melihat gaya orang 'berada' yang memang selalu terlihat berbeda dengan orang-orang dari kalangan bawah sepertinya.
"Viola.. Turun kamu dari sana! Jangan bikin aku malu dengan kamu numpang di motor butut begitu. Aku bisa beliin kamu motor lebih bagus dari itu, ayo cepet turun!", bentak Glen tidak suka melihat pacarnya duduk bermesraan dengan orang lain diatas motor.
Dia sudah mengikuti Viola seharian ini karena mendapatkan info dari salah satu temannya kalau Viola tengah menjalin hubungan dengan seorang pria, dan mereka sudah sering menghabiskan waktu bersama tanpa sepengetahuan dirinya.
"Aku nggak mau! Kamu mau apa lagi dari aku Glen? Aku udah bilang kan kalo aku gak mau sama kamu lagi. Salah kamu sendiri kenapa gak mau putusin aku juga!."
"Jangan membantah kata-kata aku, atau aku akan laporkan tingkah liar kamu ini sama orang tua kamu!."
Glen mendekati motor Tampan dan menarik tangan Viola agar wanita itu segera turun dari sana.
"Hei.. Jangan kasar sama perempuan bro!."
__ADS_1
Tampan menahan tangan Glen yang mencengkram lengan Viola dan menghempaskan nya dengan kuat.
"Turun dulu Vi.. Nggak apa-apa ada aku disini. Dia nggak bakalan macam-macam sama kamu", ujar Tampan memberi keyakinan dihati wanita berkulit putih bak porselen di belakangnya.
Viola pun mengangguk dan turun dari motor Tampan lalu menjauh dari sisi Glen yang masih ingin menariknya untuk masuk kedalam mobil. Namun Tampan dengan cepat masuk diantara Viola dan Glen agar lelaki itu tidak bisa meraih tubuh pacar bohongannya.
"Minggir gak Lo! Lo nggak punya urusan yah sama gue. Dia ini tunangan gue, kami udah mau nikah jadi jangan sok jadi pahlawan Lo disini!", teriak Glen marah pada Tampan.
"Viola pacar gue sekarang, setahu gue dia udah nggak mau sama elo! Jadi mending lo jangan gangguin Viola lagi!", balas Tampan tidak mau kalah.
"Pacar Lo bilang? Dasar wanita murahan, Lo udah bosan sama yang kaya dan sekarang malah mau sama yang miskin ya Vi.. Apa kata orangtua elo nanti kalo tahu anaknya sekarang demen sama pelayan restoran!", hina Glen pada dua orang yang berdiri di depannya.
Viola tidak berani untuk berhadapan dengan mantan pacarnya Glen, dia hanya bersembunyi di punggung belakang Tampan yang lebar.
Iya, Viola sudah menganggap kalau Glen telah menjadi mantan pacarnya sejak malam di restoran itu. Bahkan sebelum kembali kerumah dia masih harus mendapatkan tamparan di pipi kanannya, karena Glen yang merasa malu telah menjadi pusat perhatian semua orang di restoran.
"Jangan menghina pacar gue br*engsek! Dia udah nggak mau sama cowok kasar suka mukul kayak elo! Sekalipun gue miskin, tapi gue nggak pernah mukulin cewek!. Cuma b*anci yang punya kelakuan kayak elo."
"Apa Lo bilang?."
Buggghhhh...
Dengan cepat Glen melayangkan tinjunya ke wajah Tampan yang membuat lelaki itu hampir terjungkal kebelakang.
"Tampan..." suara terkejut Viola membuat Glen makin bringas mendaratkan pukulannya ke wajah dan tubuh Tampan.
"Minggir Vi.." Ucap Tampan mendorong pelan tubuh Viola agar wanita itu menjauh dari mereka berdua. Dia tidak ingin Viola terkena pukulan dirinya ataupun Glen.
Viola yang melihat keduanya hanya bisa berteriak histeris, orang-orang mulai berkumpul namun tidak berani untuk menghentikan adu jotos kedua pria dengan tinggi badan yang sama itu.
"A*njing! B*angsat! Sini Lo..!", makian dan teriakan kemarahan keluar dari mulut Glen yang tidak terima dengan pukulan yang diberikan Tampan padanya.
"Tolong jangan buat keributan disini tuan-tuan.. Kalau tidak kami akan membawa kalian ke kantor polisi!", ujar seorang satpam yang memegang tubuh Glen yang masih blingsatan karena perkelahian keduanya.
Wajah kedua pria itu sama-sama bonyok disana sini, bahkan pelipis Glen terlihat mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sepertinya pelipisnya robek karena terkena pukulan Tampan yang cukup kuat tadi.
Sedangkan untuk Tampan, bibirnya terasa berdenyut. Dia bisa merasakan cairan anyir dan asin di dalam mulutnya, sepertinya bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
"Tunggu aja Viola, gue akan bikin perhitungan sama elo dan juga cowok miskin ini!. Lepasin gue!", ancam Glen dan melepaskan diri dari genggaman satpam yang sejak tadi berusaha menahan lelaki itu, agar berhenti berkelahi di kawasan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
Glen pun masuk kedalam mobil mewahnya dan berlalu meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
"Tam.. Kamu nggak apa-apa?", tanya Viola setelah seorang satpam yang lain melepaskan lelaki itu.
"Aku nggak apa-apa Vi, udah kamu tenang aja. Kita duduk dulu yah, kepala aku agak pusing soalnya."
Viola mengangguk dan membawa Tampan duduk di trotoar jalan dekat motor mereka. Dia meringis melihat wajah Tampan yang sudah mulai bengkak dan lebam disana sini.
"Maafin aku yah Tam, ini semua gara-gara aku sampe kamu harus bonyok begini.." ujar Viola dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Udah nggak apa-apa Vi, ini udah jadi konsekuensi aku karena mau bantuin kamu. Aku udah yakin bakal ada kejadian kayak gini, yang terpenting dia nggak bisa kasarin kamu tadi.."
Viola terenyuh mendengar perkataan Tampan, rasanya untuk membalas kebaikan lelaki ini tidak akan pernah cukup sampai kapanpun.
__ADS_1
Viola pun memeluk Tampan dan menangis di pelukan hangatnya.
"Makasih Tam, makasih untuk semuanya. Aku bahagia karena bisa ketemu sama kamu waktu itu di restoran, meski saat tiba dirumah aku masih harus merasakan tamparan lelaki bajingan itu. Tapi aku bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita disana. Makasih banyak Tam, nggak ada yang bisa aku lakuin untuk membalas semua kebaikan kamu ini", ujar Viola sesenggukan di pelukan Tampan.
Tampan tersenyum dan mengusap lembut punggung Viola, dia masih belum berani untuk membalas pelukan nyaman wanita yang sudah membuat hatinya terpikat ini.
"Kamu nggak perlu melakukan apa-apa untuk membalas semuanya Vi, kamu cukup hidup dengan bahagia dan aman itu sudah lebih dari cukup untuk ku. Aku sudah janji akan membantu mu untuk bisa lepas sepenuhnya dari pacar kamu itu Vi, jadi kamu hanya perlu percaya saja padaku."
Viola masih terus menangis menumpahkan rasa sedih dan sakit dihati dalam pelukan hangatnya bersama Tampan, hingga dia puas.
Perlahan Viola pun melepaskan pelukan mereka dan merona malu karena sudah membuat kaos oblong Tampan basah, akibat tangisannya.
"Maaf Tam, baju kamu jadi basah.." ucap Viola malu-malu dengan mata dan hidung yang sembab karena terlalu banyak menangis. Wajah putih dan mulusnya membuat wanita itu terlihat seperti boneka.
Tampan bahkan tidak bisa berkedip melihat pesona Viola yang baginya sangat menggemaskan dengan bibir mungilnya yang sudah dia lipat kedalam karena malu.
"Nggak apa-apa, kamu bisa bawa motorkan Vi? Kepala aku masih sedikit pusing, aku takut nanti kita kenapa-napa lagi.." ujar Tampan beralasan. Padahal dia hanya ingin bisa menghirup aroma wangi bunga, tubuh Viola dari belakang.
"Bisa, yaudah kalo gitu kita pulang kerumah kamu."
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆...
Weleh-weleh...
Pengorbanan si Tampan besar juga yahh..
Semoga aja pengorbanan kamu berbuah manis nanti yahh Tam.. 😁
**********
Author tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan kalian agar selalu meninggalkan jejak cinta disini..
Coment
Rate
Like
Vote
__ADS_1
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹