
"Tam...."
"Iya?"
"Kok diem? Kenapa?"
"Nggak pa-pa Vi."
"Lalu?"
"Ya nggak pa-pa," sahut Tampan tersenyum kaku.
Viola menatap dalam netra Tampan sambil menggenggam tangan kekasihnya. "Kamu nggak mau aku pergi?"
"Siapa bilang?"
"Jangan boong Tam...."
Tampan membuang nafas kasar. "Aku bisa apa kalo kamu memang harus kesana Vi, lagipula ini jugakan demi kita. Kita masih punya kewajiban untuk bahagiain orangtua kitakan, meski harus berjauhan aku nggak apa-apa!"
"Aku nggak akan pergi kalo kamu nggak izinin Tam."
"Eh, jangan gitu Vi ... jangan jadikan aku sebagai alasan sampai kamu harus korbanin masa depan kamu sendiri. Aku nggak mau Vi, kita harusnya saling mendukung satu sama lain bukan jadi tombok penghalang. Kamu tenang aja, aku akan selalu disini untuk kamu Vi."
Viola tersenyum lembut, baginya Tampan lebih dari apapun. Jikapun nanti mereka berjauhan, dia akan sering-sering kembali ke Manado demi untuk bisa bertemu dan melepas rindu dengan lelaki ini.
"Makasih yah Tam udah mau ngertiin aku, I love you...," sahut Viola mengecup bibir basah kekasihnya.
"I love you too sayang...."
"Apa? Kamu bilang apa tadi?"
"Sayang ... kenapa?"
Viola langsung merona mendengar ucapan Tampan, ini pertama kalinya Tampan memanggil dia dengan sebutan yang manis seperti itu.
"Nggak pa-pa, suka aja dengernya. Jadi makin cinta...," kekeh Viola malu-malu mau.
Tampan mencolek hidung mancung Viola dan tersenyum lembut.
"Nanti disana jangan nakal-nakal yah, jangan deket-deket sama cowok juga. Aku nggak suka!"
"Iya, iya ... belum juga pergi Tam," sahut Viola tersenyum geli.
"Awas aja kalo macam-macam disana, aku nikahin kamu langsung!" sambung Tampan lagi ikut tertawa bersama Viola.
"Yaudah kalo gitu aku macam-macam aja deh disana biar kita bisa langsung nikah," goda Viola.
"Ish, maunya kamu itu!"
Kedua pasangan yang tengah dimabuk asmara itupun menghabiskan waktu selama tiga hari sebelum Viola berangkat keesokan harinya.
Viola berjanji akan sering kembali ke Manado demi bisa bertemu dengan kekasih hatinya.
Tampan hanya bisa mengiyakan saja tanpa bisa menjanjikan kalau diapun bisa bergantian mengunjungi Viola di Jakarta. Dia masih harus menabung yang banyak untuk bisa membeli tiket agar bisa kesana.
__ADS_1
Tanta Mar yang mendengar kalau Viola akan kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya disana, memberikan beberapa buah tangan untuk kekasih anaknya itu.
"Utu, jangan lupa yang didalam tas merah itu dikasih sama Viola yah. Mama mau ke pasar dulu bentar!"
"Iya ma, hati-hati...."
Tampan sedang menunggu Viola dirumahnya sebelum mereka berangkat bersama ke bandara mengantarkan wanitanya itu kesana.
Viola memaksa ingin naik motor bersama Tampan sampai ke bandara, sebelum akhirnya mereka berpisah selama beberapa Minggu atau bahkan bulan.
Viola diantarkan seorang supir sampai kedepan rumah kekasihnya. Lelaki itu sudah menunggu sejak tadi didepan pagar berkarat menyambut kedatangan wanita yang dia cinta.
"Hai...," sapa Tampan saat Viola turun dari mobil.
"Ya ampun, berasa putri raja aku ditungguin begini sama kamu Tam."
"Kamukan emang selalu jadi putri dihati aku," gombal Tampan membawa Viola masuk kedalam rumah.
"Mama kamu mana?" tanya Viola saat mereka duduk diruang tamu dan tidak melihat wanita paruh baya itu.
"Lagi ke pasar. Dia nitip itu buat kamu," tunjuk Tampan pada sebuah tas berwarna merah diatas meja makan.
"Astaga, kok repot-repot sih Tam. Mama aku aja nggak pernah kasih apa-apa sama aku kalo mau pergi," sahut Viola tidak enak.
"Ya kan mau jadi Mama kamu juga nanti...."
Viola tersipu mendengar ucapan Tampan, ah ... kalau saja mereka bisa langsung nikah. Pasti dia akan sangat bahagia karena bisa mempunyai mama mertua sebaik Tanta Mar pikirnya.
"Jam berapa check in nya sayang?"
"Masih ada dua jaman lagi Tam...," jawab Viola lembut dengan hati yang menghangat.
"Kamu mau minum?"
"Nggak aus."
"Makan?"
"Nggak juga."
"Kalo cium?"
"Hah? Mau ... mau banget malah," kekeh Viola dan naik kepangkuan Tampan.
"Astaga Vi," kaget Tampan.
Viola seketika mendekatkan wajahnya dan mencium bibir basah Tampan, mengecap dan menyesapnya dengan lembut dan memabukkan.
Tampan yang terbuai dengan cumbuan mesra sang kekasih mengusap pinggang Viola dan semakin turun ke pinggulnya.
Viola duduk diatas pangkuan Tampan dengan lutut yang ditekuk diatas sofa.
Wanita itu mulai menggoda kekasihnya dengan memberikan kecupan dan gigitan kecil dileher, yang membuat tubuh Tampan berdesir.
Viola yang ingin merasakan hal yang lebih dari sosok pria yang dia cinta selama ini, semakin intens melancarkan aksi nakalnya pada Tampan.
__ADS_1
Bahkan kemeja yang dia pakai sengaja dia buka untuk menggoda jiwa seorang Tampan yang mulai terpancing dengan permainan bibir dan tangan Viola ditubuhnya.
Mata Tampan seketika terpaku pada dua bukit indah yang tertutupi kain berwarna hitam yang kontras dengan warna kulit tubuh Viola, dan tanpa sadar mendekatkan wajahnya kebagian yang selama ini hanya dia lihat dari balik pakaian yang Viola pakai.
Tampan mulai mencium dan menyesap dengan satu tangan yang meremas gemas bukit yang lain.
Oh ini gila, sesuatu dibalik celana Tampan mulai mengeras dan menginginkan lebih. Otaknya berkata untuk tidak boleh melakukan ini, tapi naluri dia sebagai lelaki malah semakin tertantang saat Viola malah mengeluarkan suara-suara desahan halus dari bibir mungilnya.
Tampan dengan cepat mengangkat tubuh Viola lalu membaringkan dia ke kursi sofa baru, dan semakin membenamkan diri ditubuh candu kekasihnya.
Rok diatas lutut yang dipakai Viola sudah tersingkap keatas dan memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
Viola membiarkan bagaimana kekasihnya asik mengeksplor seluruh tubuhnya dari atas sampai kebawah, hingga lelaki yang masih memakai celana rumah itupun tiba-tiba mengerang panjang saat miliknya berhasil mengeluarkan cairan lengket dibawah sana.
"Sayang...," lirih Tampan dengan nafas yang naik turun.
"Basah yah Tam?" kekeh Viola menggoda kekasihnya dengan tubuh yang sudah setengah telanjang.
Tampan berdecak dan menertawakan dirinya sendiri yang baru saja digoda seperti ini oleh Viola, malah sudah keluar lebih dulu.
"Nggak apa-apa Tam, itu wajar namanya. Tapi lain kali kamu harus tunggu aku yah, aku jugakan mau basah sama kayak kamu!" sambung Viola gamblang.
"Iya, maaf yah. Habisnya ini pertama kalikan buat aku. Pakai lagi gih bajunya, keburu mama datang nanti," ujar Tampan dan berdiri dari atas tubuh kekasihnya.
Viola pun bangkit berdiri dan mengancingkan kemejanya yang sudah kusut karena pergumulan mereka tadi.
"Aku ke kamar mandi dulu bentar yah sayang...."
"Iya, bersihin baik-baik jangan bau lagi nanti!" kekeh Viola menggoda kekasihnya.
Tampan tertawa geli dan buru-buru mengambil celana ganti dikamar, lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Aduh,, aduh,, aduh,,
Celana deh yang jadi korban 🤭😆
__ADS_1