
Selesai dari Salon kecantikan Tanta Mar, dan Cantik terlihat berbeda. Ibu dan anak perempuan itu sudah dirias dengan makeup natural seperti kemauan Cantik.
Dengan memakai terusan selutut berwarna navy model Sabrina, Cantik berjalan bersisian dengan Dodo yang memakai kemeja berwarna senada dengan calon istrinya. Mereka sudah sampai di dealer motor baru yang hari ini akan diresmikan.
Terlihat ada dua buah tenda setengah bulat yang ikut dipasang di depan dealer, serta ada juga papan bunga ucapan selamat yang bertengger dari jalan masuk sampai di dalam parkiran yang luas.
"Do, peresmiannya kok rame gini?," tanya Cantik heran dengan banyaknya tamu yang sudah memadati dealer mereka.
Padahal Cantik berpikir ini hanya akan dihadiri oleh keluarga serta para karyawan karyawati Dealer LSW yang hari ini diberikan libur oleh Dodo.
"Iya, sengaja aku undang banyak orang By. Sekalian mau kenalin siapa pemilik dealer ini juga.." Sahut Dodo yang kini duduk bersebelahan dengan Cantik.
"Ish, udah kayak artis aja kamu.." Kekeh Cantik.
"Bukan aku By, tapi kamu.."
"Ha? Kenapa aku?," tanya Cantik bingung.
"Nanti juga kamu tahu Beby.." Jawab Dodo tersenyum penuh arti.
"Ih, jawab dulu Do.. Jangan aneh-aneh deh kamu!," sergah Cantik mencubit gemas pinggang calon suaminya ini.
"Duh, yang mau nikah makin mesra aja.. Bikin ngiri ih.." Suara seorang wanita muda tiba-tiba datang menghampiri kedua pasangan kekasih itu.
"Eh Dis, udah daritadi disini?," tanya Cantik malu-malu.
"Lumayan.."
"Loh, bareng Jimmy juga?," tanya Cantik yang terkejut melihat kepala keuangannya juga berdiri disamping Edis.
"Iya, tadi aku dijemput Pak Jimmy.." Ujar Edis setengah berbisik pada rekan sekerja dan calon nyonya bosnya ini.
"Ciyeee.." Kekeh Cantik menggoda Edis yang seketika memerah.
Edis memang menyukai Jimmy sejak dulu, dan sepertinya harapan dia akan segera terwujud. Lelaki itu terlihat mulai tertarik dengan sosok Edis, setelah gagal mendapatkan Cantik.
Dodo yang sudah melupakan rasa cemburunya pada Jimmy mulai bersikap biasa dengan kepala keuangan terbaiknya di dealer ini, begitupun sebaliknya dengan Jimmy.
"Acaranya udah mau dimulai kayaknya, kami duduk dulu yah.." Pamit Edis setelah berbisik-bisik heboh dengan Cantik mengenai lelaki yang kini sedang dekatnya.
Kedua pasangan yang akan menikah itupun mengangguk dan duduk dengan tenang di kursi depan, diapit oleh keluarga sebelah menyebelah.
Keluarga besar Dodo ikut diundang beserta kenalan dan rekan bisnis yang juga hadir diacara peresmian dealer hari ini.
Dodo diundang seorang pembawa acara untuk memberikan satu buah kata didepan, sebelum gunting pita dilakukan.
"Dealer ini saya bangun dan saya persembahkan untuk calon istri saya, sesuai dengan namanya saya beri nama dealer ini Cantika dengan mengikuti marga saya Wijaya. Calon istri saya juga akan menjadi pemilik sah dealer motor ini," ujar Dodo mengakhiri sambutannya.
Cantik yang mendengar ucapan Dodo seketika terkejut tidak percaya, jadi ini yang dimaksud Dodo tadi gumamnya dalam hati.
Dodo pun lalu mengajak Cantik berdiri disampingnya untuk menggunting pita bersama.
Semua yang hadir bertepuk tangan meriah, melihat sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah itu tersenyum saling menatap satu sama lain penuh cinta.
Acara peresmian itupun berlanjut dengan acara ramah tamah sampai malam.
"Kamu kok nggak bilang-bilang mau make nama aku sih Do? Tadi juga bilangnya dealer ini milik aku," ujar Cantik setelah para tamu pulang.
__ADS_1
Mereka sedang duduk berduaan di bawah tenda sambil menikmati alunan musik keyboard yang disewa Dodo untuk acara peresmian hari ini.
"Sengaja, biar surprise juga kan buat kamu By.." Sahut Dodo mengusap pipi Cantik lembut.
"Tapi kenapa harus kasih ke aku juga sih Do, nama aku juga udah cukup."
"By, semua punya aku bakal jadi milik kamu juga nanti saat kita nikah. Awal mula dealer ini dibangun jugakan awal kita saling kenal, jadi aku ingin dealer ini menjadi salah satu bukti gimana perjuangan aku dulu berusaha deketin kamu, sampe kita mau nikah juga akhirnya." Sahut Dodo menatap dalam wanitanya.
Cantik tersenyum membalas tatapan Dodo, lelaki yang dia cinta ini memang sangat baik. Dia memang beruntung bisa bertemu dengan Dodo.
"By.."
"Kenapa?."
"Pengen cium.."
"Ish, jangan macem-macem Do!."
"Nggak macem-macem By, cuma satu macem doang. Ke mobil bentar yuk," ajak Dodo menarik tangan Cantik.
"Ngapain?," tanya Cantik bingung menahan tangan Dodo.
"Cium.."
"Ya ampun Do, lagi banyak orang loh ini. Nanti kalo ada yang nyariin kita gimana," sahut Cantik tidak habis pikir dengan pikiran calon suaminya.
"Yaudah kalo gitu cium disini aja biar semua pada liatin!," Ujar Dodo mengambil ancang-ancang ingin mencium bibir manis yang terlihat menggoda dirinya sejak tadi.
Cantik dengan cepat menutup mulut dengan telapak tangannya, agar Dodo tidak bisa menyosor mencium bibir dia.
"Ngapain kalian?," sentak eyang yang ternyata sudah berdiri di depan Cantik dan Dodo.
"Jangan aneh-aneh kamu Dodo! Nggak malu apa sama yang lain, sana masuk. Papa kamu cariin kamu daritadi."
"Mo ngapain?."
"Ada temen bisnisnya katanya mau beli mobil, sana pergi dulu!."
"Iya, iya.. Bentar yah By, nanti kita lanjutin lagi dimobil yah.." Kekeh Dodo dan berlari kecil meninggalkan dua wanita yang sama-sama sedang mencibir kearahnya.
"Jangan didengerin eyang, Dodo cuma lagi godain aku aja tadi.." Ujar Cantik setelah Dodo menjauh dari mereka.
"Iya nggak apa-apa, dia emang kayak gitu orangnya dari dulu. Eyang masuk dulu bentar yah, mau ngecek opa. Daritadi dia kayaknya nggak berhenti makan yang manis-manis deh, takut gula darahnya naik lagi."
Cantik pun mengangguk mengiyakan ucapan eyang dan tersenyum. Wanita berumur itupun berlalu meninggalkan dia yang kini duduk sendiri dibawah tenda.
"Ca.." Seorang pria yang dulu pernah dekat dengannya datang mendekat kearah Cantik.
"Devan.." Sahut Cantik sedikit terkejut melihat ada lelaki itu disini. "Aku pikir kamu nggak dateng," ujarnya lagi berusaha bersikap biasa.
Kejadian waktu lalu saat ulang tahun eyang Dodo kembali terlintas dipikirannya.
"Iya, aku baru sampe dan langsung kesini dari bandara. Aku boleh duduk.." Tanya Devan sopan meminta izin untuk duduk dikursi plastik berjarak satu meter dari Cantik.
"Boleh.."
Keduanya pun lalu terdiam sambil memandangi Tanta Mince yang sedang bernyanyi, sambil diiringi musik keyboard.
__ADS_1
"Selamat yah Ca," ujar Devan membuka suara. "Aku denger kalian mau nikah yah bulan depan."
"Iya.." Jawab Cantik singkat.
"Aku mau minta maaf soal kejadian waktu itu di acara ulang tahunnya eyang. Aku tahu kamu masih marah sama kamu, aku yang salah karena nggak bisa jaga mulut aku sendiri. Maafin aku yah Ca.."
Cantik menghembuskan nafas panjang dan menatap Devan yang sejak tadi terlihat mencuri-curi pandang padanya.
"Udahlah, aku udah lupain masalah itu. Lagipula semua udah lama lewat, nggak ada gunanya juga aku masih nyimpen amarah dan kesal sama kamu," sahut Cantik apa adanya.
Baginya masalah itu sudah lama berlalu, dia bahkan tidak mengingatnya lagi sampai Devan muncul malam ini.
"Makasih yah Ca, Dodo emang beruntung bisa dapetin kamu. Semoga kalian selalu bahagia yah," ujar Devan tulus.
"Iya, makasih."
"Nanti aku usahain bisa dateng ke nikahan kalian," sambung Devan lagi.
"Kok diusahain, harus dateng lah Dev!," sela Dodo yang sejak tadi mendengar pembicaraan Cantik dan sepupunya Devan.
Melihat Devan yang baru datang dan mendekati Cantik, membuat Dodo segera meninggalkan Om Marlon dengan salah satu rekan bisnisnya.
Dodo khawatir jika kejadian terakhir terulang lagi malam ini, tapi dugaannya ternyata salah.
Devan justru datang untuk meminta maaf pada Cantik, sesuai dengan ucapannya waktu lalu ingin meminta maaf secara langsung karena omongan pedasnya tentang profesi Cantik dulu.
Dodo tersenyum dan duduk disamping Cantik, "Kalo kamu masih anggep aku sepupu kamu.. Kamu harus hadir dinikahan aku sama Cantik."
"Iya, iya.. Aku usahain Do. Kerjaan aku banyak, ini aja aku sempet-sempetin pulang kemari!," dengus Devan lalu terkekeh bersama Dodo sepupunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆...
__ADS_1
Jangan lupa jejak kalian kesayangan author semua 🥰🤗