
Hari Senin jangan lupa Vote yahh guys 🤗
*************
"Tam.."
"Iya?."
"Aku kangen.."
"Baru juga tadi siang ketemu Vi," kekeh Tampan diujung telepon.
"Yah gimana aku udah kangen lagi sekarang, kerumah aku yuk.." Sahut Viola memelas.
"Ngapain?."
"Main.."
"Main apa?."
"Main bibir.." Goda Viola.
"Astaga Vi, kamu udah makin nakal yah sekarang.." Sahut Tampan geleng-geleng kepala.
"Kan nakalnya cuma sama kamu aja, mau yah Tam. Ayah sama Bunda lagi keluar kota, aku sendirian dirumah ini.." Ajak Viola lagi.
"Ih jangan, bahaya kalo nggak ada siapa-siapa dirumah Vi. Nanti kalo orangtua kamu tahu, aku dikiranya macem-macem lagi sama kamu," tolak Tampan halus.
"Yaudah kalo nggak mau, aku aja yang kerumah kamu kalo gitu!."
"Eh jangan Vi, ini udah malem loh. Bahaya kamu keluar rumah sendirian.."
"Nah trus gimana dong, kamunya nggak mau kesini. Biar aku aja yang malem-malem kesana temuin kamu!," rajuk Viola.
Tampan menghembuskan nafas panjang, sebagai anak tunggal yang selalu dimanja oleh kedua orangtuanya membuat apa yang diinginkan Viola harus terpenuhi.
Jika dia sudah berkata sesuatu, maka bisa dipastikan kalau Viola akan melakukannya tanpa peduli bagaimana keadaan sekitar dia.
Terkesan egois memang, tapi menurut Tampan sikap Viola yang ini malah membuat dia gemas dan ingin mencium wanitanya itu saat ini juga.
"Yaudah, aku yang kesana kalo gitu. Nggak lama yah Vi, besok aku harus kerja jam sepuluh," ujar Tampan akhirnya mengalah.
Viola sontak berjingkrak kesenangan didalam kamar, "Iya.. Nggak apa-apa. Aku cuma butuh bibir kamu doang kok, kalo aku udah puas kamu bisa pulang Tam!," sahutnya tanpa filter.
"Dasar!."
Viola tertawa geli, "Udah cepetan kesini! Pake mantel yang tebel karena udara malam nggak baik, hati-hati yah pacar aku.. I love you."
"Iya nyonya Tampan, aku siap-siap dulu yah.. I love you too."
Percakapan itupun berakhir setelah ciuman panjang ala-ala ditelepon, Tampan melirik kearah jam yang menggantung indah di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Tampan menghembuskan nafas panjang lagi, Hadeh.. Kalo nda cinta, Lebe bae kita tidor Jo dirumah. (Hadeh.. Kalo nggak cinta, mending aku tidur dirumah), batinnya dalam hati.
"Mo kamana Tu?." (Mau kemana Tu?), tanya Tanta Mar yang melihat anak lelakinya sudah rapi keluar dari kamar.
Wanita paruh baya itu sedang duduk di depan TV ikan kembung, menonton tayangan sinetron Istri Ketiga yang sedang viral sekarang ini.
"Mo pigi pa Viola pe rumah nda lama Ma, kangen kata dia bilang.." (Mau kerumah Viola bentar Ma, kangen katanya..), jawab Tampan jujur.
"Ish, so sama deng nda pernah baku dapa ribuan taong Jo ngoni dua!." (Ish, udah kayak nggak pernah ketemu ribuan taun aja kalian berdua!), keluh Tanta Mar menatap dari atas kebawah anak lelakinya yang terlihat necis dengan aroma parfum dua puluh ribu yang dia beli di pasar.
"Namanya juga anak muda Ma.. Utu pigi ne, nda usah kunci tu pintu supaya kita nda mo pangge-pangge pa mama deng kakak le sabantar." (Namanya juga anak muda Ma.. Utu pergi dulu yah, pintunya nggak usah dikunci biar nanti aku nggak perlu bangunin mama sama kakak), pamit Tampan mencium pipi Tanta Mar.
"Iyo, plang-plang ba bawa motor Tu. Inga tu Mama ja bilang ee, tau jaga diri deng orang pe anak!." (Iya, hati-hati bawa motornya Tu. Ingat pesen mama, jaga diri kamu dan juga anak orang!).
"Iya ma," sahut Tampan berlalu keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah Viola memakan waktu hampir dua puluh menit, namun karena jalanan yang sudah mulai sepi. Tampan pun tiba disana tidak sampai sepuluh menit.
Tampan memarkirkan motornya di dekat pintu pagar tinggi rumah Viola, dan berjalan mendekati pos satpam.
"Malam Pak.." Sapa Tampan pada satpam yang biasa berjaga disana.
"Eh, malam Pak Tampan. Mau ketemu sama nona Viola yah?."
"Iya, boleh masuk nggak?."
"Boleh dong Pak Tampan, ayo masuk.." Ajak satpam mendorong pintu pagar agar Tampan bisa masuk. "Eh kesini naik apa?," tanyanya saat Tampan sudah masuk kehalaman rumah Viola.
"Motor."
"Trus motornya mana? Kok nggak dibawa masuk?," tanya satpam lagi celingak celinguk mencari motor keluaran tahun 2000 peninggalan ayah Tampan.
"Aku parkir diluar Pak, udah nggak apa-apa. Aku cuma nggak lama kok disini."
"Eh, jangan Pak. Nanti di maling orang lagi, mana kuncinya biar aku aja yang masukin kedalem. Pak Tampan masuk aja."
"Yaudah, nih.." Sahut Tampan memberikan kunci motornya pada satpam rumah Viola.
Tampan pun lalu berjalan masuk kerumah berlantai dua Viola dan menekan bel.
"Hai Tam," sapa Viola setelah membuka pintu kebaya rumahnya. "Masuk yuk.." Ajaknya.
"Aku nggak bisa lama-lama yah Vi, nggak enak ini udah malem banget."
"Iya Tam, baru juga nyampe. Kamu emang nggak kangen sama aku?," tanya Viola bermanja-manja di lengan sang kekasih.
"Iya aku juga kangen, sini cium dulu.." sahut Tampan menarik tubuh kekasihnya agar lebih mendekat saat mereka sudah duduk dikursi sofa empuk.
Ciuman lembut dan hangat menyentuh bibir Viola yang tipis mungil itu, tangan Viola mulai mengusap dada bidang lelakinya dan secara tiba-tiba naik kepangkuan Tampan.
"Eh ya ampun, Vi.. Jangan gini. Nanti diliat orang nggak enak," ujar Tampan merasa keki diperlakukan seperti ini oleh Viola.
"Aku kangen Tam," lirih Viola masih asik bergelirya dileher kekasihnya.
Suara Viola serta posisi wanita itu membuat sesuatu dibawah sana sesak, Viola sedang berusaha menggoda jiwa lelaki Tampan saat ini.
Semenjak resmi berpacaran, Tampan tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekedar ciuman dan usapan belaka.
Viola rindu, rindu sesuatu yang lebih dari orang yang dia cinta ini. Terbiasa hidup bebas dan melakukan hubungan s*eks diluar nikah membuat Viola candu dengan sesuatu dibalik celana Tampan.
Ah, ini gila. Tapi Viola benar-benar menguji iman seorang Tampan yang masih perjaka tingting.
"Tam.."
"I.. Iya Vi?," jawab Tampan masih menikmati permainan lembut bibir dan sentuhan tangan halus wanitanya.
"Aku mau.." Bisik Viola di telinga Tampan, yang membuat lelaki itu makin menggila.
"Ma.. Mau apa?."
"Aku mau ini.." Sahut Viola menyentuh benda dibalik celana yang sudah mengeras sejak tadi.
"Astaga Vi," kaget Tampan yang merasa geli saat tangan wanitanya menyentuh dan mengusap sesuatu diantara pangkal pahanya. "Jangan Vi, itu dosa.." Tolaknya mengangkat tangan Viola agar berhenti memprovokasi dia dibawah sana.
"Tapi aku mau Tam.." Lirih Viola lagi dengan pandangan mata yang sudah berkabut.
"Astaga Vi, kita masih muda. Aku masih belum siap kalo kita nikah sekarang, aku masih mau ngejar cita-cita dulu dan dapet kerja yang baik biar aku bisa pantas dampingin kamu Vi.."
"Nggak apa-apa kita jangan nikah dulu, kita bisa lakuin s*eks yang aman pake k*ondom. Aku juga sama Glen begitu dulu.." Sahut Viola jujur.
"A.. Apa? Kamu sama Glen?," Viola mengangguk. "Jadi kamu sama dia.." Viola mengangguk lagi dengan santai. "Astaga Vi, aku pikir kamu masih.."
"Udah enggak Tam, Glen orang pertama yang ajarin aku begitu. Maaf yah kalo udah kecewain kamu, tapi aku beneran cinta sama kamu Tam. Aku juga nggak mungkin lakuin itu tanpa cinta, aku pengen kamu jadi orang yang terakhir untuk aku Tam.." Sahut Viola menatap dalam manik mata cokelat tua lelakinya.
__ADS_1
Tampan yang masih syok dengan pengakuan Viola seketika terdiam, dia bingung harus bersikap bagaimana dengan kabar yang baru saja dia tahu hari ini.
Empat bulan mereka berpacaran, Viola tidak pernah sedikitpun menyinggung soal masalah ini dengannya.
Tampan tahu dia tidak berhak menghakimi Viola, karena semua yang terjadi adalah masa lalunya bersama Glen. Tapi, sebagai seorang pria baik-baik dan masih perjaka. Tampan juga menginginkan wanita yang baik untuk dia nanti.
"Tam.." Panggil Viola masih diatas pangkuan kekasihnya. "Kamu marah yah?."
Tampan menghembuskan nafas panjang, entah sudah keberapa kali malam ini dia menghembuskan nafas panjang seperti ini.
"Enggak.." Jawab Tampan singkat.
"Lalu?."
"Nggak apa-apa Vi, aku cuma kaget aja. Lebih ke nggak nyangka tepatnya," jujur Tampan.
Viola menundukkan kepala, "Maaf Tam.. Maaf udah kecewain kamu, maaf nggak bisa bikin kamu jadi yang pertama buat aku.."
"Jangan ngomong gitu Vi, liat aku.." Sahut Tampan mengangkat dagu Viola agar wanita itu menatapnya kembali seperti tadi.
"Aku cinta sama kamu bukan karena masalah kamu masih suci ato enggak, aku cinta sama kamu karena aku tahu kamu wanita yang diberikan Tuhan untuk menemani hari-hari aku, yang selama ini terasa hampa. Itu semua hanya cerita masa lalu, dan masa depan kamu adalah bersama dengan aku. Jadi jangan berpikir yang enggak-enggak lagi!."
Hati Viola seketika menghangat mendengar ucapan Tampan, lelaki di depannya ini memang sangat baik. Dia beruntung bisa dipertemukan dengan lelaki sebaik dan setampan, Tampan.
"Sekarang jangan bikin hal yang aneh-aneh atau mancing aku lagi Vi. Kita akan lakuin itu, tapi nanti. Saat kita sudah resmi menikah.." Ujar Tampan lagi mengangkat tubuh mungil Viola, memindahkannya duduk disamping dia.
Viola seketika memanyunkan bibir mungilnya yang membuat Tampan gemas.
"Nggak usah manyun-manyun begitu bibirnya Vi, semua ada waktunya. Sekarang kita fokus dulu sama kuliah kita sambil berusaha mendapatkan restu dari Ayah kamu. Kalau semua udah berhasil, kita bisa langsung nikah dan enak-enak seperti mau kamu.." Kekeh Tampan mencolek hidung Viola.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Aduh,,
Masih ada nggak yah,, cowok model dan bentukan kayak Tampan..
Mehlehleh hati author 🤭🤤
**************
Guys, semua visual ada di IG author yahh..
Yang belum follow,, yukk follow yukk..
@adamvanda
__ADS_1
Author tunggu 😁🤗