Ojek Cantik

Ojek Cantik
Diusir


__ADS_3

"Gimana Tam? Udahkan semuanya?"


"Udah, udah beres sayang ... besok aku udah bisa masuk kampus."


"Syukurlah kalo gitu, aku senang karena kita bisa bareng ke kampus sekarang Tam."


"Iya, aku juga sayang...," sahut Tampan mengusap lembut pipi Viola.


Dia baru saja masuk kedalam mobil milik Viola dan duduk dikursi kemudi.


Hari ini Tampan sudah menyelesaikan semua urusan untuk kepindahan dia ke kampus baru bersama Viola sang pacar.


"Kita mau kemana lagi sayang?"


"Kemana aja yang penting bareng sama kamu...," kekeh Viola menggoda kekasihnya.


"Ke pelaminan mau gak?"


"Mau ... mau banget!"


Dua orang yang sedang dimabuk cinta itupun tertawa bersama mendengar obrolan receh namun bisa membuat hati keduanya melambung tinggi hingga ke angkasa.


"Kerumah aku aja yah Tam, ayah sama bunda lagi gak ada."


"Boleh ... tapi jangan macem-macem disana yah sayang, aku nggak bawa celana ganti soalnya," kekeh Tampan yang teringat kelakuan Viola terakhir saat mereka bertemu dirumahnya dan tidak ada siapapun disana.


Gelak tawa kembali terdengar didalam mobil yang sudah meluncur menuju rumah Viola. Ini pertama kalinya Tampan akan menjejakkan kaki kesana setelah hampir seminggu di Jakarta.


Setibanya disana terlihat mobil milik om Wellem dan tanta Wina terparkir di halaman rumah mereka, sepertinya dua pasangan suami istri itu baru saja tiba dari luar kota untuk mengurus bisnis keduanya.


"Kayaknya ayah sama bunda pulang lebih cepet hari ini. Masuk dulu yuk Tam...," ajak Viola sebelum turun dari mobil.


"Emang nggak apa-apa sayang?"


"Ya nggak pa-pa lah Tam, ada-ada aja deh kamu ... ayo masuk dulu."


Tampan pun mengangguk dan turun dari mobil mengikuti Viola dari belakang, rasa gugup sontak dirasakan olehnya. Terakhir mereka bertemu adalah di acara maso minta Cantik beberapa bulan yang lalu.


"Yah, Bunda ... aku pulang!" teriak Viola setelah masuk kedalam rumah mewah berlantai tiga mereka.


Tampan yang sudah berdiri disamping Viola menatap dua orang yang baru saja turun dari tangga tengah menatap dia dengan pandangan kaget.

__ADS_1


"Ngapain kamu kesini?" sentak om Wellem tidak suka.


"Yah ... kok gitu sih!" sahut Viola setengah membentak om Wellem.


"Selamat sore Tante, Om...," sapa Tampan yang berusaha bersikap biasa setelah penyambutan tidak enak om Wellem padanya.


"Sore Tam ... kamu di Jakarta juga rupanya. Tante kaget kamu udah disini, duduk dulu yuk...," ajak tante Wina yang tidak mempedulikan lirikan tidak suka suaminya saat dia mengajak Tampan duduk.


Viola menarik tangan Tampan dan duduk bersisian dengannya. Mau tidak mau om Wellem pun ikut duduk dengan mereka diruang tamu.


"Ngapain di Jakarta Tam?" tanya tanta Wina setelah mereka duduk bersama.


"Pindah Tante, kami pindah kemari ikut oma sama opa yang kebetulan tinggal dikota ini juga."


"Jangan boong, bilang aja kalo kamu mau ngikutin anak aku, kan?! Baru pacaran aja udah belagu begitu kamu!" timpal om Wellem menatap sinis pacar anaknya.


"Ayah! Bisa nggak sih ngomong tuh yang lembut...!" sahut Viola yang mulai naik darah dengan sikap sang ayah.


"Lusa Viola akan om kenalkan dengan calon pemimpin perusahaan terkenal, om akan menjodohkan dia dengan lelaki itu. Jadi kamu lebih baik mundur dari sekarang sebelum lebih jauh lagi berhubungan dengan Viola!"


"Ayah...!"


Mendengar ucapan om Wellem Viola sontak berdiri dengan wajah penuh amarah. "Ayo kita pergi Tam, kehadiran kita dirumah ini nggak ada gunanya!"


"Viola...! Mau kemana kamu?!" teriak om Wellem ikut berdiri mencegah anaknya pergi dengan Tampan.


"Ayah ... jangan begitu, Viola mencintai Tampan Yah. Tolong jangan rusak kebahagiaan anak kamu hanya karena masalah harta dan status seseorang!" timpal tante Wina yang sedaritadi hanya diam namun sedang berusaha bersabar dengan sikap suaminya ini.


"Kamu diam saja! Tau apa kamu tentang kebahagiaan, selama ini aku yang selalu membuat anakku bahagia ... bukan Kamu!" sentak om Wellem dengan sombongnya.


"Apa? Kamu bilang apa tadi? Jangan bermimpi kamu bisa se sukses sekarang jika bukan karena ada campur tangan aku Wellem!" balas tante Wina geram dengan ucapan lelaki yang berdiri disampingnya ini.


Astaga, kenapa mereka malah bertengkar seperti ini? batin Tampan tidak enak.


"Sayang ... aku pulang yah, nggak apa-apa kamu dirumah aja. Pelan-pelan kita akan yakinkan ayah kamu lagi, mungkin kedatangan aku hari ini emang nggak tepat momentnya. Jangan marah sama ayah kamu, wajar jika dia ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku nggak apa-apa, kamu tenang aja...," ujar Tampan membujuk wanita yang sudah menangis disampingnya.


Mereka sudah berada dipintu masuk rumah Viola sambil berpegangan tangan.


"Tapi Tam, aku nggak mau kalo ayah maksa untuk akhiri hubungan kita. Cuma kamu yang aku cinta, nggak ada yang lain...."


"Iya, aku tahu ... aku juga cuma cinta sama kamu sayang. Tapi kita juga nggak boleh gegabah, aku yakin kita pasti bisa lewatin ini semua dengan baik...," sahut Tampan dengan dua tangan yang dia tautkan di bahu Viola.

__ADS_1


"Masih disini juga kamu?! Cepat pergi dari rumah saya!" teriak om Wellem yang ternyata sudah berdiri dibelakang Tampan dan Viola.


"Ayah! Apa-apaan ayah ini!"


"Udah nggak apa-apa Vi ... aku pergi yah, nanti aku telpon kalo udah sampe." sahut Tampan menenangkan hati kekasihnya. "Aku pergi dulu Om, salam buat tante...," pamitnya dengan sopan.


Viola yang tidak rela lelaki yang dia cinta diusir begitu saja oleh ayahnya sendiri, berlari masuk kekamar setelah Tampan meninggalkan teras rumahnya sambil menangis.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆...


Aduh,, yang sabar yah Tampan dan Viola... 😔


***************


Guys ...


Hari ini anak author lagi ulang tahun...


Mohon doanya biar anak author selalu sehat dan umur panjang yah.. 🤗


Terima kasih 🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2