
Pulang dari kampus Tampan berjanji bertemu dengan Viola di kawasan Mega Mas Manado, untuk menikmati sunset sore ini.
Tampan melajukan motor peninggalan papa mereka yang mulai hari ini resmi akan menjadi kendaraannya kemana-mana, karena kakak perempuannya Cantik sudah mulai bekerja di dealer mobil milik Dodo.
Viola sudah menunggu Tampan di salah satu cafe yang masih berada dikawasan sana, sambil memesan Lemon Tea dingin dan kentang goreng sebagai camilannya.
Sementara menunggu, Viola merasakan kalau ponsel di tasnya bergetar. Diapun buru-buru mengecek untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.
Nama Bunda tertera dilayar ponsel mahal miliknya, sampai sekarang dia belum berani mengangkat panggilan kedua orangtuanya yang bergantian menghubungi dia sejak dia putus dengan Glen.
Viola yakin kalau ayah dan bundanya pasti sudah tahu masalah tentang Glen yang masuk penjara karena tersandung kasus penyelundupan barang haram, dan juga kasus pemukulan Tampan pacarnya.
Panggilan itu berakhir begitu saja sampai getaran pesan masuk dari bundanya terlihat, Viola pun mau tidak mau membuka pesan tersebut.
...Viola, kamu kemana saja sayang?...
...Bunda sama ayah telpon tidak pernah kamu angkat....
...Besok bunda dan ayah akan kembali ke Manado, kami sudah mendengar berita tentang Glen....
...Sampai ketemu besok yah sayang,...
...Miss you.....
Viola menghembuskan nafas panjang setelah membaca isi pesan yang dikirim bundanya, akhirnya apa yang dia takutkan pun terjadi.
Besok kedua orangtua Viola akan kembali ke kota ini, mereka pasti akan bertanya banyak hal padanya. Tentang hubungan dia dengan Glen dan juga Tampan, lelaki yang kini mengisi hatinya dengan cinta yang tulus tak bersyarat.
"Hai sayang.." Suara berat Tampan membuyarkan pikiran Viola tentang kepulangan orangtuanya besok.
"Hai.." Balas Viola tersenyum manis.
"Maaf yah lama, macet banget tadi dijalan."
"Nggak apa-apa, belum juga sehari aku nunggu kamu disini Tam.." kekeh Viola.
Tampan mencebik, "Kalo nunggu aku sedikit lebih lama lagi mau nggak?."
"Emang kamu mau kemana?."
"Nggak kemana-mana Vi, aku cuma pengen selesein kuliah aku trus cari kerja yang lebih baik, biar aku bisa lebih pantas dampingin kamu nanti."
Viola tersenyum penuh haru, bahkan Tampan sudah memikirkan masa depan mereka berdua. Dia tahu kalau lelaki dengan rambut yang sedikit gondrong ini benar-benar serius dengan semua yang diucapkannya.
Tapi, apa dia pantas untuk diperjuangkan oleh seorang pria baik sesempurna Tampan? Sedangkan dia sendiri saja tidak lagi sempurna. Apa yang harus dia katakan tentang rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat dari Tampan?
"Hei.. Kenapa melamun?," tanya Tampan mengusap tangan Viola yang berada diatas meja.
Viola tersentak dan menggeleng, "Nggak.. Aku cuma terharu dan tidak menyangka kamu sampai memikirkan hal sejauh itu Tam."
__ADS_1
"Aku memang harus memikirkannya Vi. Aku menjalani hubungan dengan kamu benar-benar serius, dan aku ingin berjuang demi hubungan kita. Kamu mau kan berjuang bersama aku Vi?," tanya Tampan menatap dalam netra wanitanya.
"Tentu saja Tam, aku akan selalu menunggu dan mendukung kamu," jawab Viola penuh keyakinan. "Semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk hubungan kita ini yah," sambungnya lagi.
"Yaudah kalo gitu kita keluar yuk, katanya mau liat sunset," ajak Tampan menggandeng tangan Viola mesra.
Viola pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki panjang Tampan dari belakang. Mereka lalu duduk di sebuah pal pembatas yang berjarak hanya beberapa meter dari air laut.
Langit sore yang mulai berubah warna dari biru kejingga membuat hati keduanya menghangat, Viola bersandar dibahu bidang Tampan dan merangkul lengan lelaki itu.
"Tam.."
"Iya?."
"Besok orangtua aku balik dari Jakarta."
"Lalu?."
"Aku.. Aku takut Tam."
Tampan mengusap rambut panjang Viola yang dia gerai dari belakang. "Kenapa?," tanyanya lembut.
"Aku takut dibawa pergi sama mereka kembali ke Jakarta setelah tahu hubungan kita Tam," jujur Viola.
Tampan menghembuskan nafas panjang, "Vi.. Liat aku!," ucapnya sambil menggenggam tangan wanitanya.
"Nggak ada yang perlu kamu takutkan Vi, mereka orangtua kamu dan aku akan selalu ada disamping kamu sampai nanti. Kamu harus jujur sama mereka kalau kita sedang menjalin hubungan yang serius, cerita semuanya sama mereka dan minta mereka ketemu aku. Setidaknya jika kami sudah bertemu, orangtua kamu bisa menilai bagaimana aku."
Tampan semakin menguatkan genggaman tangannya pada Viola, "Yah setidaknya kita coba dulu Vi. Sekeras apapun orangtua kamu, aku yakin kalau ada sedikit kelembutan didalam hati mereka. Kita harus terus mencoba sampai akhirnya mereka mau menerima hubungan kita, aku sudah berjanji bukan untuk selalu ada disamping kamu dan bahagiain kamu Vi. Kita serahkan semuanya sama Tuhan sambil kita terus berusaha."
"Janji yah Tam kamu akan selalu disamping aku melewati ini semua," ujar Viola penuh harap.
"Iya, aku janji. Sekalipun nanti orangtua kamu tidak mau menerima ku, aku akan tetap ada disamping kamu sampai restu itu kita dapatkan," sahut Tampan mencium mesra punggung tangan wanitanya.
"Tam.."
"Iya?."
"I love you.."
Tampan tersenyum, "I love you too Vi.. Now and Forever."
"Makasih kamu mau berjuang untuk aku dan hubungan kita."
Tampan mengusap bulir kristal yang jatuh dipipi Viola, "Karena aku cinta sama kamu dan aku yakin dengan hubungan kita sampe aku ingin memperjuangkan semuanya untuk kamu Vi. Kamu cinta pertama aku, dan aku ingin kamu juga jadi cinta terakhir aku.."
Viola yang mendengar ucapan Tampan sangat bahagia, namun hatinya semakin merasa bersalah karena masih menyimpan satu rahasia yang dia sembunyikan selama ini. Apa setelah kamu tahu rahasia itu, kamu akan tinggalin aku Tam? Aku takut..
"Tuh kan kamu melamun lagi, apa sih yang kamu pikirin Vi? Masih nggak yakin juga sama aku?," tanya Tampan mencapit hidung mancung kecil mungil Viola.
__ADS_1
"Aww.. Sakit Tam," protes Viola mengusap hidungnya.
"Habisnya daritadi kamu melamun mulu, mikirin apaan sih Vi?."
"Nggak ada," jawab Viola singkat.
Dia masih belum mau mengatakan apa-apa tentang hal itu dari Tampan, mungkin ini belum waktu yang tepat pikirnya.
"Yaudah kalo nggak mau kasih tahu juga nggak apa-apa, yang penting kamu lagi nggak mikirin cowok lain kan.." Goda Tampan.
"Ish, ngapain juga aku mikirin cowok lain sedangkan pikiran dan hati aku udah terisi penuh sama satu nama!."
"Oh yah, siapa namanya?."
"Ada deh, mau tahu aja kamu.." Sahut Viola menggoda balik pacarnya yang langsung manyun mendengar jawaban dia.
"Beneran nggak mau kasih tahu?," Viola mengangguk. "Yakin?," Viola mengangguk lagi.
Tampan dengan cepat menangkup wajah Viola dan mendaratkan bibir basahnya ke bibir hangat Viola.
Seakan tidak sadar sedang berada dimana, keduanya larut dalam kegiatan memabukkan yang membuat jiwa mereka melayang tidak menapak bumi lagi.
Untung saja disekitar situ sedang sepi, mereka berciuman cukup lama hingga Tampan mengurai ciuman itu, karena Viola yang mulai tersengal susah bernafas.
Tampan tertawa puas melihat wanita yang sangat dia cintai, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin dengan dada yang naik turun.
"Dasar mesum!," kesal Viola memukul lengan Tampan beberapa kali yang semakin membuat lelaki itu tertawa terbahak.
"Iya, kitakan memang pasangan mesum," kekeh Tampan mengusap bibir merah Viola yang sedikit bengkak karena ulahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
...∆∆∆∆∆∆∆∆...
Kita doakan sama-sama supaya hubungan Viola dan Tampan bisa berjalan dengan lancar jaya yahh guys..
__ADS_1
Yuk kasih hadiah sama pasangan ini biar makin semangat 😁
Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹