Ojek Cantik

Ojek Cantik
Kuatkan Hati, Tebalkan Telinga...


__ADS_3

Kabar kehamilan Cantik disambut penuh sukacita oleh keluarga dua belah pihak.


Wanita yang masih disarankan untuk banyak beristirahat ini, diperlakukan bak ratu dan istimewa oleh semua orang.


Eyang bahkan datang ke Jakarta demi bisa ikut menemani Cantik dalam masa-masa kehamilannya yang masih muda.


Sontak rumah yang hanya berisi tiga kamar itu langsung ramai oleh keluarga Dodo dan Cantik, dari masih pagi sampai malam.


Dodo bahkan sering tidak kebagian waktu untuk bisa sekedar bermesraan dengan istrinya, karena tidak diberi kesempatan oleh orang-orang yang ada disekitar mereka.


"By...," rengek Dodo saat baru masuk ke kamar.


"Kenapa?" tanya Cantik yang duduk bersandar di headboard ranjang sambil membaca buku novel kesukaannya.


Setiap hari Cantik hanya diizinkan tidur maupun duduk, tidak boleh melakukan kegiatan apapun sesuai anjuran dokter mengingat dia yang mudah kelelahan.


"Aku kangen By...," rengek Dodo lagi yang naik keatas ranjang mendekati Cantik.


Cantik tertawa melihat tingkah suaminya, dia tahu kalau adanya keluarga mereka dirumah ini membuat Dodo tidak bisa bebas bermesraan dengannya.


"Kangen kenapa sih ... akukan cuma dirumah aja seharian Sam. Ada-ada aja kamu tuh!"


"Iya, seharian dirumah tapi berasa lagi nggak ada dirumah kamu! Aku pulang kerja bukannya disambut pelukan dan ciuman mesra, malah harus nunggu sampe oma-omanya tidur dulu baru bisa berduaan sama istri aku sendiri...," dengus Dodo yang bersandar di bahu Cantik dan mengelus perut yang masih rata itu.


"Sabar yah Sam, mereka disini paling cuma sampe trimester pertama kehamilan aku selesai. Mereka cuma khawatir aku kenapa-napa kalo kamu nggak ada dirumah, kan...," sahut Cantik mengusap pipi Dodo dari samping.


Entah kenapa sekarang malah Dodo yang terlihat lebih manja dibanding dirinya yang sedang hamil.


Kata orang kalau istrinya sedang hamil, si suami juga bakal ikut merasakan sindrom kehamilan sang istri. Dan mungkin Dodo adalah salah satu dari sekian banyak suami yang sebentar lagi akan naik satu tingkat menjadi seorang ayah.


"Kerjaan kamu gimana Sam? Baik-baik ajakan semuanya?" tanya Cantik yang sudah merebahkan diri disamping Dodo.


"Baik ... semuanya baik By. Dealer makin rame semenjak aku nikah sama kamu, apalagi sekarang kamu lagi hamil gini. Rezeki kita pasti makin berlimpah...." sahut Dodo masih mengusap lembut perut Cantik.


"Amin ... semangat kerja yah Ayah," kekeh Cantik bersuara seperti anak kecil.


"Ih ... bikin gemes sih kamu By, jadi pengen makan tau gak!"


"Makan? Emang aku makanan apa."


"Emang ... kamukan makanan yang nggak pernah abis By, bikin aku laper terus pengen ngunyah kamu saban hari!" goda Dodo dengan tangan yang mulai jahil menyentuh area favoritnya.


"Ish, mulai lagi ... jangan macem-macem Sam, inget kata dokter!" sergah Cantik mengingatkan tentang mereka yang belum boleh berhubungan badan dulu sementara ini.


"Iya, iya ... aku inget kok By. Tapi aku bolehkan cium sama megang ini doang By...," pinta Dodo dengan tangan sudah berada di dua gundukan yang mulai berisi itu.


Cantik berdecak namun tidak bisa menolak saat Dodo mengecap dua gunungnya berulang-ulang kali seperti seorang bayi.


Lelaki yang sudah hampir dua Minggu ini belum mendapatkan jatah makan malamnya, blingsatan tidak bisa menahan gejolak dibawah sana yang minta di sayang oleh Cantik.


"By ... bantuin aku yah?"


"Bantuin apa?"

__ADS_1


"Ini ... tolong pegangin ini." sahut Dodo mengambil tangan Cantik dan menaruhnya diantara pangkal paha yang sudah mengeras sejak tadi.


"Ish ... kamu tuh yah, emang paling nggak bisa dibilangin! Susah sendirikan jadinya...," kekeh Cantik menggoda lelaki dengan mata yang sudah sayu itu disampingnya.


"Ya gimana, dianya emang udah rindu sama sarang milik dia By...."


Cantik tertawa geli mendengar ucapan Dodo dan membantu suaminya melepaskan hasrat yang tidak bisa dia tahan semenjak mereka berdua menikah.


...*************...


"Tampan dimana Ma? Kiapa so nda pernah dapa Lia?" (Tampan mana Ma? Kok udah nggak pernah keliatan?), tanya Cantik duduk disamping tanta Mar.


"Ada, mar sekarang dia Lebe banyak badiam dikamar Ke ... kalo Mama tanya Kiapa, dia cuma bilang nda apa-apa kata." (Ada, tapi sekarang Mama perhatiin dia lebih banyak diem dikamar Ke ... kalo Mama tanya kenapa, dia ngomongnya nggak apa-apa doang), sahut tanta Mar yang teringat dengan kelakuan Tampan malam saat dia baru pulang dari rumah Viola.


"Ba diang? Ada baku marah so dia Deng Viola, Ma?" (Banyak diem? Lagi marahan sama Viola emang?)


"Nintau le kasana ... coba ngana tanya kwa pa Utu, Ke. Sapa tau dia suka mo cerita pa ngana!" (Nggak tau ... coba kamu yang tanyain sama Utu, Ke. Siapa tau dia mau cerita sama kamu!)


Cantik mengangguk mengerti lalu mengambil ponsel miliknya diatas meja ruang tv, dimana dia sedang duduk bersama tanta Mar.


"Dimana?" tanya Cantik saat panggilan teleponnya diangkat oleh Tampan.


"........."


"Datang sini dulu baru trus ka rumah Tu ... Mama le kwa ada disini." (Singgah sini dulu baru pulang Tu ... Mama juga ada disini)


".........."


Tampan yang harus bolak balik kampus dan perusahaan sudah dibelikan mobil oleh opa mereka dua hari yang lalu, untuk memudahkan lelaki penerus keluarga Hidayat itu dengan segala aktivitas dia yang mulai padat.


"Mo datang dia?" (Mau kesini dia?), tanya tanta Mar penasaran.


"Iyo, dia pulang dari kantor mo singgah sini dulu kata." (Iya, katanya pulang dari kantor dia bakal singgah sini dulu)


Sejam kemudian, Tampan tiba dirumah kakaknya Cantik setelah hampir malam berbarengan dengan Dodo yang baru pulang dari dealer.


"Ka...," sapa Tampan saat keduanya bertemu di pintu depan rumah Cantik.


"Eh Tu ... disini juga?"


"Iya Ka, tadi ka Cantik suruh mampir dulu sekalian jemput mama juga."


"Oh yaudah, masuk gih...," ajak Dodo membuka pintu.


Kedua lelaki dengan tinggi badan yang hampir sama itu melangkah masuk menuju dapur dimana terdengar suara beberapa wanita sedang bercakap-cakap.


"Malam By...," sapa Dodo mendaratkan kecupan didahi istrinya.


"Mandi dulu sana, baru sampe langsung peluk-pelukan gitu ... udah tahu sekarang lagi musim virus!" ketus mama Cici mengingatkan anak laki-lakinya.


"Iya maaf, aku lupa ... abis kangen sih," kekeh Dodo yang berlalu menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.


"Udah makan Tu?" tanya Cantik pada adiknya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.

__ADS_1


"Udah tadi Ka...."


Tanta Mar dan mama Cici yang tahu kalau Cantik ingin berbicara dengan Tampan, meninggalkan dua kakak beradik itu dengan alasan ingin mengecek kebutuhan bayi yang akan diperlukan nanti.


"Kamu baik-baik ajakan Tu?"


"Hah? Kok nanyanya begitu?"


"Kata mama kamu lebih banyak ngurung diri dikamar, ada apa memangnya Tu? Cerita dong sama Kakak...."


Tampan menghembuskan nafas panjang, teringat masalah dia dengan Viola waktu lalu. Meski mereka masih bersama, tapi sampai detik ini om Wellem masih tidak menyukai dirinya menjadi kekasih dari anak perempuan dia.


Tampan pun menceritakan kejadian waktu itu pada kakaknya dengan hati yang masih sakit, setiap kali mengingat bagaimana dia diusir oleh ayah dari wanita yang dia cinta.


"Kakak nggak bisa bilang apa-apa soal masalah kamu ini Tu, kamu yang paling tahu mana yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya. Kalo kamu memang pengen berjuang untuk cinta kamu pada Viola, maka kamu harus siap untuk masalah yang lebih besar nanti. Kuatkan hati dan tebalkan telingamu jika memang kamu tetap ingin mempertahankan Viola untuk menjadi pendamping kamu kelak...."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...∆∆∆∆∆∆∆∆∆...


Guys ...


Karya author yang ketiga ini sudah mulai memasuki bab - bab terakhir yahh..


Sesuai janji author,, giveaway kali ini akan author nilai dari Ranking Umum...


Untuk Satu orang teratas akan mendapatkan pulsa 50 ribu rupiah,, dan Dua orang berikutnya akan mendapatkan pulsa 25 ribu rupiah...


Jadi, silahkan tinggalkan jejak yang banyak sampai bab terakhir nanti...


Terima kasih 🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2