Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Di Tengah Lapangan


__ADS_3

Namun sayang beberapa detik kemudian pintu didobrak dari luar oleh beberapa Manusia Super. Lalu mereka yang ada di tempat itu pun ditangkap. Kemudian dibawa ke lapangan.


"Wahai wargaku inilah para pengkhianat yang ingin menghancurkan umat manusia. Hukuman apa yang pantas kita berikan untuk mereka?" ujar peminpin di pulau itu.


Ia menyetujui rencana yang telah disusun oleh ketua keamanan dan ketua bagian laboratorium. Untuk menghabisi seluruh warga sipil yang berasal dari pulau yang telah mereka taklukan untuk mencapai kekuasaan. Setelah merasa kalau tidak ada gunanya lagi menggunakan mereka.


Di lapangan telah berkumpul juga seorang anak remaja dan seorang anak kecil yang tidak dapat berbicara sedang memeluk Mama dari anak remaja tersebut. Mereka ditangkap atas tuduhan telah melawan hukum karena menyembunyikan manusia buangan.


"Mama, apakah kita semua akan dibuang?" tanya gadis remaja itu menangis.


Sang mama hanya bisa diam dan memeluk putrinya serta putri dari sahabatnya.


Semua warga sipil yang berasal dari area E telah dikumpulkan. dan mereka yang melawan mengalami luka-luka yang sangat serius. Setelah semua orang berkumpul di lapangan maka pemimpin dari pulau itu menekan sebuah tombol. lalu terbentuklah dinding yang mengurung seluruh warga sipil yang berada di lapangan tersebut.


Para manusia super menghalangi mereka yang berusaha melarikan diri. Hingga akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang berhasil kabur. Lalu Pedih h yang berisikan tubuh manusia super dilemparkan dari atas sehingga peti itu hancur berkeping-keping. Dan manusia buatan tersebut pun keluar dari peti dalam keadaan penuh luka.


"Kalian telah menciptakan monster maka dari itu kalian pun harus musnah bersama monster itu!" teriak pemimpin pulau.


"Licik sekali dia," ujar orang-orang yang berada di dalam lapangan tersebut.


Darah manusia buatan mengalir membasahi tanah. Dan pulau tempat Oryza Sativa berasal bergerak. Perlahan tapi pasti menuju permukaan. Hal itu tidak di sadari oleh pemimpin kejam tersebut.


"Ledakkan tempat itu!" perintahnya.


"Tuan, mereka berbuat kejahatan yang sangat berat. Setidaknya biarkan mereka merasakan rasa sakit hingga mereka berharap tidak pernah dilahirkan," ujar seorang dokter.


Dia adalah dokter yang berteman baik dengan warga area E. Kata-katanya membuat pemimpin pulau itu menaruh curiga. Tapi kemudian pemimpin pulau itu berpikir kalau akan seru jika bermain sedikit.


"Hei ambilkan aku senjata api. Aku ingin menguji kemampuanku berburu. Apakah aku bisa mengenai mereka dengan mata tertutup? Hahaha!"


Seseorang pun memberikannya senjata api lalu pemimpin itu menggunakan penutup mata latihan memulai bidikannya. Banyak warga yang berada di lapangan itu menjadi ketakutan. Mereka berlari ke sana kemari untuk menghindari timah panas yang melesat ke arah mereka.


"Hah tembakan pertamaku gagal!" ujar pemimpin itu.


"Anda jangan khawatir karena masih ada kesempatan berikutnya," ujar orang-orang yang berada di tempat pemimpin itu berada.

__ADS_1


Mereka sedang berada di atas gedung yang letaknya tidak jauh dari lapangan. Sehingga bisa melihat dengan jelas orang-orang di tengah lapangan.


"Baiklah aku akan mencobanya lagi," ujar sang pemimpin.


"Sekali lagi!"


"Lagi!"


Dan akhirnya ia berhasil mengenai dada seorang anak remaja. Ia terjatuh dan menimpa tubuh Manusia Buatan yang berada di tengah lapangan. Darah anak itu menguncur dengan deras membasahi tubuh buatan. Terserap dan masuk ke pembuluh nadinya. Lalu perlahan manusia buatan itu memulihkan diri.


"Hahaha, lihat gadis itu. Dia telah terkena darah manusia buatan itu. Sebentar lagi kita akan melihat tubuh itu membelah diri. Hahaha...! Aku juga ingin menyaksikan prosesnya," ujar pemimpin keji itu dengan riang.


Tapi dugaannya salah. Orang-orang yang tinggal di area E adalah keturunan dari para anak-anak jenius. Juga keturunan para bayi yang dibawa oleh Musa Paradisiaca. Yang secara sengaja dipisahkan dari kelompok lain oleh sang pemimpin. Tujuanya agar populasi mereka berkurang. Sehingga tidak akan jadi ancaman bagi dia dan kelompoknya.


Namun ia tidak tahu. Kalau kelompok yang diasingkan itu sudah memiliki antibody yang mengenali virus dalam kandungan darah Manusia Buatan. Bukannya tertular dan meninggal akibat pembelahan secara tidak sempurna, luka anak itu malah dipulihkan.


"Sayang...! Bertahanlah!" teriak sang mama sambil memeluk putrinya.


Dan saat ia mencoba menggendong putrinya sebuah timah panas melesat lagi.


"Ah! Meleset!" teriak pemimpin itu lagi.


Sang dokter yang memberi saran juga diberikan senjata. "Giliranmu. Bidik dengan benar," ujar pemimpin itu padanya.


Dengan gugup dokter itu menerima senjata api.


"Aku akan membidik secara sembarangan. Dan mencoba untuk tidak mengenai salah satu dari mereka," batinnya.


Tapi pada akhirnya seseorang terkena timah panas dari senjata yang ia gunakan. Sebab orang-orang itu hilir mudik menghindari serangan dari yang lain. Saat ia membuka mata beberapa orang tersungkur di tanah.


"Wow... hahaha... selanjutnya..." ujar pemimpin itu senang.


Senjata kembali diarahkan ke lapangan tapi saat hendak melepaskan timah panas. Pulau itu serasa berguncang. Sebab pulau yang tenggelam di tengah samudra telah muncul ke permukaan. Membuat gelombang di laut.


Untuk beberapa saat aksi bermain senjata api dihentikan. Lalu setelah memastikan tidak ada lagi gempa, mereka kembali ke posisi semula. Siap melakukan aksi berikutnya.

__ADS_1


"Hei, lihat itu..." ujar beberapa orang yang berjarak beberapa meter dari tubuh Manusia Buatan.


"Benda itu bergerak," kata yang lain.


Mereka mundur karena takut atau yang lainnya. Sehingga posisi Manusia itu tampak jelas dari atas gedung lantai tiga. Tempat orang-orang yang mempermainkan nyawa orang lain berdiri.


"Lihat.... Benda itu berdiri!" ujar para dokter.


Peminpin pulau itu menatap tubuh penuh lebab itu bergerak dengan lambat. Dia pun mengambil senjata api dari orang di dekatnya.


"Berikan padaku!" ujarnya.


Lalu ia mencoba membidik tepat ke arah kepala Manusia Buatan tersebut. Tapi ketika sebuah timah panas melesat sasarannya sudah bergerak menuju dinding. Dan hendak menghancurkan dinding tersebut.


"Apa dia bisa menghancurkan dinding?" tanya orang-orang yang ada di lapangan.


Mereka melihat Manusia Buatan melayangkan tinjunya ke dinding. Tapi tiba-tiba tangan itu terhenti. Manusia itu mundur ke belakang. Menjadi tontonan semua orang.


"Hahaha... jangan bilang benda rongsokan itu dibuat untuk melucu! Hahaha," ujar sang pemimpin.


Tapi kemudian ia tercengang saat melihat dengan jelas manusia itu berlari dengan cepat dan memanjat dinding dengan posisi 45°.


"Para Manusia super... halangi benda rongsokan itu!" ujarnya mulai panik.


Sebab ia melihat Manusia Buatan berhasil melewati tembok. Lalu berlari ke arahnya.


"Jangan biarkan dia lolos!" ujar pemimpin bagian keamanan.


Tapi Manusia Super tidak bisa menandingi kecepatan Manusia Buatan. Apalagi saat senjata mereka kehabisan timah panas. Akibat tembakan yang terus meleset.


"Jangan sampai tersentuh olehnya. Benda itu memiliki virus dalam darahnya!" perintah ketua keamanan.


Ucapannya didengar oleh Manusia Buatan. Dengan segaja ia merobek kulit dengan kukunya lalu memerciki para Manusia Super dengan tetesan darahnya. Saat berhasil melakukan pertarungan jarak dekat.


Bukan hanya meneteskan darahnya pada kulit Manusia Super. Tapi ia juga menyerap darah mereka. Sehingga tubuh itu memulih lebih cepat. Bagian tubuhnya yang telah diambil terbentuk kembali setelah mendapat asupan darah para Manusia Super.

__ADS_1


"Semuanya cepat serang dia. Apapun terjadi jangan sampai lolos!" ujar ketua keamanan.


Pemimpin jahat itu memilih mundur dan melarikan diri dari tempatnya berdiri. Bersama beberapa orang pengawal.


__ADS_2