Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Tengah Laut


__ADS_3

Mendengar isak tangis Oryza Sativa, Cresen hanya menghela napas. Lalu mencoba mengalihkan pikirannya yang terasa berat dengan makan buah-buahan.


"Buah di pulau itu besar-besar. Jika ingin buat anggur, pasti bisa dapat banyak hanya dari satu pohon."


Tiba-tiba Cresen memikirkan sesuatu.


"Ah, aku ada ide. Aku akan meminta kakek untuk buka pabrik anggur. Atau pabrik jus. Kami bisa mengambil bibit buah dari pulau itu."


Cresen tersenyum dengan rencananya.


"Saat kembali ke kota, aku pasti akan terkenal. Karena menemukan pulau raksasa. Ini luar biasa."


Anak itu mulai berhayal.


"Hahaha, pasti lucu jika aku membawa wanita itu ke Mall. Dia akan heran setiap saat. Pintu yang terbuka sendiri. Tangga yang berjalan sendiri. Hahaha, pasti lucu sekali reaksinya."


Cresen mulai cekikikan sendiri.


"Ah, aku jadi ingin cepat pulang. Semoga ada kapal yang lewat. Dan membawaku ke kota," ujar Cresen penuh harap.


Kini ia telah jauh dari pulau.


"Kalian, tunggulah kedatanganku yang ke-dua kalinya. Aku akan bawa banyak kejutan buat kalian semua. Hahaha... seperti apa wajah anak-anak bodoh itu nantinya, jika aku berikan robot kucing yang bisa merekam suara mereka. Ya ampun... aku makin tidak sabar."


Cresen terlalu asik berhayal. Sampai-sampai ia tidak sadar kalau pulau itu sudah tidak terlihat lagi. Ia baru mengetahuinya saat ia berpaling.


"Sudah sejauh mana aku ini ya?" tanyanya.


Ia mulai bosan lalu ia pun berdiri dan melihat sekitarnya. Ia terkejut saat perahunya menabrak sesuatu.


"Kenapa tiba-tiba ada daratan di sini?"


Cresen mengambil kayu untuk mendorong daratan yang ia maksud agar kapalnya menjauh. Dan bisa bergerak lagi. Tapi baru saja ia ingin melakukannya daratan itu bergerak ke bawah dan tenggelam.


Cresen heran dan memperhatikan lebih jelas ke dalam air dan mencoba berdiri di tepi kapal. Alangkah terkejutnya dia. Daratan yang ia duga ternyata seekor ikan. Ikan yang telah hidup ribuan tahun dan berlumut.


"Paus!" Sontak Cresen mundur.

__ADS_1


Kini ia berdiri di tengah kapal dan memegangi tiang. Rasa takut membuat jantungnya kembali berdetak kencang. Ikan ikan justru semakin mendekati kapalnya.


"Bagaimana ini?" Cresen berkeringat dingin.


Sementara itu, seluruh penduduk sudah kembali ke perkampungan. Hanya Oryza Sativa dan Panthera Tigris serta Cenayang dan Pengasuh Cresen yang ada di tepi pantai.


"Sayang, ayo kita pulang," bujuk suami Kepala Suku.


Namun wanita itu enggan beranjak. Air matanya terus mengalir. Meskipun ia telah mencoba menerima kepergian putranya. Lalu ia menghela napas dan menyeka air matanya.


Kini kapal putranya sudah tidak terlihat lagi. Oryza Sativa berdiri dibantu suaminya. Dan menerima ajakan untuk pulang. Tapi jantungnya tiba-tiba berdebar.


"Cresen," gumamnya dan menoleh ke laut.


"Kepala Suku, anda harus iklas agar perjalanannya lancar," ucap Cenayang.


Cresen yang ketakukan kini semakin ketakutan. Ikan-ikan besar berkumpul di bawah kapalnya. Mereka menjadi tidak tenang. Jumlahnya makin bertambah tiap detiknya.


"Kakek, tolong datanglah. Dan temukan aku," ucap Cresen berulang-ulang penuh harap.


Tapi kemudian ia putus asa. Burung-burung mulai terbang ke atas perahunya. Mereka berusaha mematuk Cresen. Anak itu menggunakan kayu untuk mengusir burung yang mencoba menangkapnya. Lalu melempari mereka dengan buah.


"Oryza Sativa!" teriak Cresen kemudian saat ia hampir terjatuh dari kapalnya ke laut.


Detak jantung Kepala Suku seketika berhenti bergerak. Wanita itu menoleh ke laut. Melihat ke langit. Burung-burung berterbangan menuju ke tempat Cresen.


"Panthera Leo!" Dengan cepat Kepala Suku menyadari hal buruk terjadi pada putranya.


Ia memanggil burung Rajawali dan segera menungganginya. Terbang ke atas laut dan mencari keberadaan Cresen. Burung Rajawali mengikuti arah suara detak jantung Cresen.


Saat keranjang buah telah kosong, Cresen memanfaatkannya sebagai tempat bersembunyi. Mengikat keranjang itu ke tiang. Untuk sementara ia aman dari burung-burung.


Lalu seekor ikan paus mengangkat kapal tersebut. Karena posisinya tidak stabil kapal itu oleng dan terbalik. Kini keranjang tempat Cresen bersembunyi berada di posisi bawah. Dan anak itu terpaksa keluar untuk mengambil udara.


Seekor ikan hiu yang mencium aroma darahnya akibat luka saat diserang burung datang. Cresen yang hampir kehabisan udara tidak sanggup lagi berenang. Akhirnya


"Selamat tinggal kakek," batinnya saat masuk perut ikan tersebut.

__ADS_1


Jantungnya yang berdetak terlalu kencang akhirnya pecah.


Oryza Sativa berhasil menemukan lokasi Cresen langsung melompat ke laut. Saat melihat putranya hampir ditelan ikan hiu, ia dengan cepat berenang dan memeluk Cresen.


Ikan hiu itu akhirnya menelan mereka berdua. Oriza Sativa tidak tinggal diam. Ia menikam bagian dalam perut ikan tersebut. Hewan air itu terluka, dan berdarah. Aromanya tercium oleh hiu lain. Serangan pun beralih. Hiu yang menelan Cresen di serang hiu-hiu lain itu.


Akibatnya hiu itu membuka mulutnya. Kesempatan itu dipergunakan Oryza Sativa untuk keluar. Dan membawa Cresen menjauh dari kumpulan hiu yang saling serang.


Burung Rajawali menghampiri mereka saat Kepala Suku memanggilnya. Wanita itu memegangi kaki burung tersebut dan mereka terbang menjauh dari tempat itu.


Detak jantung Cresen tidak lagi menarik perhatian para burung. Perlahan Oryza Sativa naik ke punggung burung itu. Mereka terbang ke tepi pantai.


Ternyata di sana Panthera Tigris, Cenayang dan putrinya sedang melihat mereka datang. Cresen segera diturunkan ke atas pasir.


"Panthera Leo! Buka matamu, Nak!" teriak Kepala Suku.


"Apa yang terjadi?!" tanya Panthera Tigris. Kepala Suku hanya menangis.


"Dia terlalu banyak minum air laut," ujar Cenayang saat menyentuh Cresen.


"Cenayang, tolong selamatkan putraku," pinta Oryza Sativa.


"Panthera Leo sudah tidak bernyawa," jawab Cenayang pelan.


"Tidak! Itu bohong!" tangis Oryza Sativa.


Kemudian wanita itu menekan perut Cresen agar anak itu memuntahkan air laut yang tertelan. Air itu berhasil dikeluarkan. Kepala Suku berharap jika anak itu sudah memuntahkannya semua, maka anak itu akan hidup.


"Kenapa? Kenapa tidak membuka matamu?"


Kepala Suku diam sejenak. Lalu menghisap udara sebanyak mungkin dan meniupkannya ke pada Cresen. Melalui mulut ke mulut.


"Orang hidup butuh udara. Aku akan memberikan seluruh udara yang ada di dunia ini. Asal kamu bisa hidup lagi," batin Kepala Suku.


"Jika aku tahu hal ini akan terjadi, sejak awal aku tidak akan membiarkanmu pergi," sesal Kepala Suku.


Dia menyesal mempercayai ucapan Cenayang. Tapi tidak ada waktu untuk marah-marah. Kepala Suku terus memberi Cresen napas buatan. Sementara itu jantung Cresen yang baru menggantikan jantung yang pecah mengalami masalah. Tidak berdetak dengan sempurna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2