
Cresen mencoba memikirkan jawaban yang tepat. Lalu membisikkan sesuatu pada papanya.
"Papa, tante ini hilang ingatan. Jadi dia mengira kalau, Aku adalah putranya," tutur Cresen.
Panthera Tigris menyipitkan matanya. Lalu berbisik pada Cresen.
"Hilang ingatan itu bagaimana? Apa bisa ingatan disimpan di balik batu? Lalu batunya tertendang anak gajah? Kemudian ingatan itu tertiup angin?" tanya Panthera Tigris. Sambil membayangkan kalau ingatan itu seperti sebuah mantra yang "ditulis" dengan cara khusus di daun lontar lalu disembunyikan di bawah batu.
"Tidak, bukan begitu. Tapi hilang ingatan itu karena tidak menyimpan ingatan di balik batu. Sehingga saat dia terantuk ingatannya keluar dan jadi hilang. Cara mengembalikan ingatannya adalah dengan memukul kepalanya. Agar ingatan itu mendengar suara ketukan dari tempatnya berasal."
Sambil menjawab Cresen membayangkan jika kepala wanita itu seperti lonceng di Taman Kanak-Kanak. Jika diketuk maka anak-anak yang bermain di luar, pada saat jam istirahat akan segera masuk ke kelas.
"Benarkah begitu?" tanya Panthera Tigris.
"Sepertinya begitu," jawab Cresen ragu-ragu.
"Tapi di dalam film-film memang harus dipukul kepalanya. Agar orang yang hilang ingatan bisa ingat lagi," sambungnya kemudian.
"Baiklah, kalau begitu kenapa tidak, Kamu pukul sejak awal?"
"Itu karena ada seorang laki-laki yang mencegahku. Dia bilang kalau, ia adalah putra kandung tante ini. Jadi, Aku gagal memukul kepalanya."
"Baiklah, kalau begitu ayo pukul kepalanya sekarang!" seru Panthera Tigris.
"Tapi ... tidak ada tongkatnya. Benda itu adanya di rumah tante ini."
"Memangnya tidak bisa kalau tanpa menggunakan tongkat?"
Cresen menggeleng.
Sekelebat kepala wanita itu terasa pusing. Akibat melihat mereka saling berbisik. Ia tidak paham dan mencoba menerka. Tapi justru membuatnya semakin bingung.
Wanita itu berteriak kesakitan. Sambil memegangi kepalaya. Sekilas ia mengingat saat suami dan putranya yang suka berbisik-bisik. Saat putranya melakukan sesuatu. Seperti mencuri kue di lemari.
Meminta papanya untuk mengajak sang mama pergi ke ruang tamu. Agar Aves bisa mengambil kue di atas lemari. Dan hasilnya mereka bagi dua. Mama Aves mendengar dengan jelas apa yang dibisikkan putranya.
__ADS_1
Sebenarnya kue itu masih panas, sehingga dengan sengaja di taruh di lemari pada bagian paling atas. Aves akan berusaha mengambil kue itu. Meski tangannya belum sampai.
Biasanya mama Aves akan berpura-pura tidak mendengar. Lalu memperlambat pekerjaannya di dapur. Agar putranya pusing sendiri. Sebab rencana mencuri kue yang baru matang gagal.
Meski begitu, pada akhirnya kebiasaan mencuri itu hilang, setelah Aves sadar ketika ia sudah lebih besar. Kalau kue yang disimpan itu akan diberikan padanya jika ia sabar menunggu. Dan tentu saja, ia selalu dapat bagian terbesar maupun terbanyak.
Lalu papanya akan meminta dari Aves sampai kue-kue itu habis. Sebab pada akhirnya Aves kecil hanya mampu menghabiskan sesuai dengan volume lambung kecilnya.
Dan kini ingatan itu semakin lama semakin cepat berputar-putar di pikiran wanita itu. Ia pun merasa pusing. Seiring dengan semakin jelas gambaran yang dia lihat.
"Dia kenapa?" tanya Panthera Tigris. Melihat wanita itu tersengal-sengal.
"Mama? Mama baik-baik saja...?" tanya Cresen khawatir. Sebelum menjawab papanya.
Wanita itu terlihat kesulitan bernafas. Sambil menyebutkan sebuah kata dan nama seperti orang yang sedang merancau.
"Suamiku... suamiku... putraku... putraku... Aves... Aves... di mana? Di mana...?"
Hingga suara teriakannya membuat orang-orang yang mengejar mereka, berhasil menemukan ketiganya. Sebuah senter menyoroti wajah mereka dari kejauhan.
Satu orang maju ke depan dan berteriak.
Kemudian salah satu dari mereka berbisik. "Siapakah orang besar itu? Apa mungkin ia adalah hasil eksperimen dari anak-anak jenius yang kabur dari pulau?"
"Tidak tahu, tapi sepertinya mungkin saja. Dan itu berarti mereka sudah berhasil membuat spesies baru."
"Jadi bagaimana?"
"Kalau begitu kita jangan berbuat gegabah. Jangan menyerang secara tiba-tiba. Kita cukup melumpuhkan mereka saja. Kemudian membawanya kepada Bos Besar."
Lalu mereka memberikan tembakan ancaman.
Saat itu Panthera Tigris mengingat kejadian yang terjadi di Pulau tempatnya tinggal. Kemudian dia menggendong kedua orang itu dan berlari secepat mungkin.
Oleh karena ia berlari, maka orang-orang yang mengejar, mereka pun menjadi kalap, lalu mulai menembak ke arah kaki Panthera Tigris.
__ADS_1
Namun, karena tidak berhasil menembak, pada akhirnya mereka berbuat ceroboh dan melemparkan alat peledak. Terjadilah ledakan yang mengakibatkan Panthera Tigris terluka. Saat melindungi putranya dan wanita tersebut.
"Papa, papa.... Papa tidak apa-apa, kan?" tanya Cresen melihat Pantera Tigris berhenti bergerak.
Pantera Tigris menjawab, "Aku baik-baik saja." Tapi kemudian ia rubuh.
Saat melihat papanya rubuh Cresen pun menjadi marah. Lalu ia menggeser tubuh papanya yang menimpa ia dan mama Aves.
Pria-pria yang mengejar dan yang melempar bahan peledak kembali mendekat. Dan pada saat itu Cresen berteriak. Kemudian teriakannya membuat seluruh pulau berguncang. Semua orang yang berada di dalam bangunan keluar.
Dan orang-orang yang tadinya berperang pun berhenti sejenak. Menutup telinga dan menunda perang mereka.
Setelah Cresen menjadi tenang kembali, orang-orang yang berada jauh darinya mulai berpikir dan mencari penyebab terjadinya guncangan. Sedangkan para saksi yang melihat saat Cresen berteriak makin ketakutan.
"Cepat lempar!" ujar salah satu pria. Dan lainnya bersiap melempar alat peledak.
Tapi Cresen segera bertindak. Ia menghentikan pergerakan benda itu lalu mengembalikannya tanpa menyentuh. Ledakan terjadi. Pihak lawan kehilangan anggotanya.
Pada saat itu pemilik akun 011009 datang menggunakan pesawat. Bersama para pria bersenjata. Yang dikerahkan oleh kakek dan dipimpin oleh Musa Paradisiaca.
Cresen masih menangisi papanya yang kehilangan banyak darah. Lalu wanita itu mencoba menghiburnya. Kini tampak jelas baginya, kalau yang ada di hadapannya bukanlah Aves.
Meskipun tidak mengenal mereka, namun setelah beberapa kali di selamatkan, ia merasa bahwa mereka bukan orang jahat.
"Ayo kita bawa dia. Kita harus segera mengobatinya. Jangan sampai meninggal dunia seperti suamiku!" serunya.
Cresen mengikuti saran wanita itu, dan mencoba menggendong Panthera Tigris.
Sebuah kendaraan mendekat. Mereka mulai waspada. Sorotan cahaya menerpa wajah mereka. Membuat wanita itu khawatir kalau-kalau orang-orang itu adalah penculik suami dan putranya.
Ia maju ke depan. Menghalangi cahaya yang menyinari Cresen dan papanya.
"Aku tidak mengenal siapa kalian. Tapi kalian sudah beberapa kali menyelamatkanku. Jadi sekarang biar, Aku yang melindungi kalian. Pergilah, mereka akan melepas kalian kalau, Aku mau menyerahkan diri," ujar wanita itu yakin.
Cresen bimbang. Ia tahu kalau wanita itu akan menderita jika menyerahkan diri pada orang-orang tersebut. Jadi ia masih berpikir untuk membawa papanya dan wanita itu kabur.
__ADS_1
"Ayo, tunggu apa lagi? Cepat pergi!" Wanita tersebut menoleh ke belakang.
"Atau kita menyerah saja. Siapa tahu dengan cara ini, mereka berbelas kasih mau mengobati pria besar itu," cicitnya kemudian dengan nada memelas.